Notulensi 2 Juni 2009
Kelas A, Pertemuan X
Mentor: Gunawan Maryanto
Kelas mulai jam 19.35 WIB.
Hadir : Inggra, Ipang, Rifki S, Silvia, Joko, Dina, Agni, Gloria.
Cindhil : oke. Sekarang bisa kita mulai. Kita bahas punya siapa dulu?
Peserta : Rifki.
Cindhil menampilkan tulisan Rifki di layar LCD.
Cindhil : kita baca bareng-bareng. Seperti kemarin, kita cek dulu bagian-bagian yang mengganggu. Pertama kan kata karena itu yang paling dasar. Ketepatan dalam menulis kata. Entah kata dasar, enah itu kata bentukan ya.
Kelas membaca tulisan Rifki Sukma.
Cindhil : gimana tulisan Rifki ini?
Ferial : ancur berat (dengan nada becanda)
Forum tertawa keras.
Cindhil : gimana? Gimana, teman-teman? Ada comment secara umum dulu? Kalau nggak, kita akan masuk ke detilnya.
Rifki s : saya aja yang comment. Kayaknya, nggak focus. Jadi, ini sebenarnya terlalu meloncat. Jadi, saya sadar. Jadi, ada pada beberapa bagian itu kayak tidak selesai sebenarnya. Yang itu harus diselesaikan secara selesai, terus baru menginjak ke bab yang lain. Baru menginjak yang lain. Jadi, ini kayak belum selesai semua.
Inggra : ini menarik pas awal-awal. Ya, saya merasakan sangat menarik, tapi pas masuk ke bagian tengah, kayaknya Rifki terjebak pada suatu tulisan yang terlalu metodologis yang ilmiah gitu sehingga kehilangan suatu cirinya yang pas di awal-awal itu. Aku menyebut ciri dia sebab itu yang target awalnya dia.
Cindhil : jadi, dia lebih komunikatif ya di paragraph awal, tapi kemudian ketika masuk ke data-data kehilangan itu, ya?
Inggra : iya, ada suatu yang hilang.
Cindhil : oke, yang lain gimana tulisan Rifki?
Agni : terlalu berat.
Ferial : ini ya helaan napasnya jadi keburu semua itu lho, ngos-ngosan itu lho jadinya.
Joko : terlalu padat ya.
Cindhil : oke. Kesan-kesan umumnya udah muncul ya. Nanti, kita cek itu berasal dari mana. Misalnya, kata Ferial iramanya jadi sesak, kayak nggak ada ruang untuk bernapas. Yang dari Inggra kenapa ini jadi enak gitu kan? Sementara, paragraf berikutnya jadi agak kesusahan. Nanti, kita cari sebabnya. Kalau nggak ada, kita segera masuk ya. Kita cek dulu di paragraph awal yang menurut Inggra menarik itu ya. Sebagai suatu pembukaan, ini mungkin akan menjadikan tulisan yang kuat dan menarik, menurut Inggra ya. Oke, di paragraph pertama ada yang mengganggu, nggak, secara kata, secara kalimat? Kita focus ke paragraph pertama.
Joko : seorang Perancis itu lho.
Cindhil : ditebelin dulu.
Ipang : habis Kasongan…
Cindhil : habis Kasongan, kamu mengusulkan untuk ada kalimat baru ya? Oke, ditandai dulu. Terus, ada lagi?
Ipang : “di sela…” juga itu bisa dijadiin kalimat baru.
Joko : Italy.
Cindhil : ada lagi? Oke. Kita cek ya.
Silvia : banyak koma, koma gitu.
Cindhil : Soalnya seorang Perancis apa?
Joko : seorang Perancis, apa nggak pake warga Negara?
Cindhil : ya. Ini logika Bahasa Jawa ya: seorang Perancis, seorang Belanda. Wong Jawa, gitu. Makanya, aku juga melihat ini ada soal di sini. Sebenarnya, kita bisa “Seorang berwarga kenegaraan Perancis” atau “Seorang dari Perancis” gitu kan. Lebih jelas. Kalau “Seorang Perancis”, Perancis kan sebuah Negara. Kemudian, dia tiba-tiba diorangkan. Kayak kemudian perasaannya sebuah Perancis atau sosok Perancis. Itu hamper sama. Coba ditempatkan seperti itu. Jadi, ini harus dilengkapi entar. “Seorang dari Perancis”, bisa. Ini bisa dimaksud kalimat yang benar. Gitu kan. “Seorang berwarga Negara Perancis”, bisa. Terserahlah mana yang paling, tapi kalau “Seorang Perancis”, itu logikanya bahasa Jawa: wong Jawa, wong Londo, wong Perancis. Gitu kan. Seorang dari Perancis. Seorang atau seseorang. Aku sih ngusulin seseorang. Seorang kemudian dia harus menunjuk ya orang apa, “Seorang peminta-minta.” Menunjuk sosok yang jelas. Oke. Tulisan Perancis-nya terserah. Memang ada dua versi ya. Ada Perancis. Ada Prancis. Itu dua-duanya benar. Jadi, terserah aja karena ada yang ngikutin bahwa itu dilafalkan, ada yang kemudian mengikuti kata serapannya. Dua-duanya benar; Perancis atau Prancis. “…bertandang ke workshop saya di Kasongan…” nah, ini harus dijelaskan karena workshop itu juga berarti sebuah aktivitas, bukan sebuah ruang. Gitu kan. Maksudmu, bengkel kerja kan. Ini kan bisa disebut “…bengkel kerja di…”
Rifki S : di studio juga.
Cindhil : di studio, studio kerja. Ini juga bisa karena workshop itu menunjuk aktivitas juga. Latihan itu juga workshop. Gitu kan. Dicek. Apa kamu tadi apa?
Rifki S : studio.
Cindhil mengganti kata “workshop” menjadi “studio”.
Cindhil : oke. Nah, ini tadi, Ipang ya yang ngusulin ini di titik aja.
Joko : iya, terlalu panjang.
Cindhil : Ini mana titiknya (Cindhil memblok satu kalimat panjang). Ini satu kalimat, gitu kan. Nggak pa-pa sebenarnya. Bisa saja satu kalimat panjang. Ada satu novel dari Marques itu satu bab itu titiknya di belakang sendiri.
Duwe : nggak capek itu bacanya?
Cindhil : itu karena dia mengejar satu efek tertentu. Emang kemudian dia sedang menciptakan satu peristiwa yang sesak itu kan kejar-mengejar, sesak. Jadi, kayak nggak ada jedanya gitu kan. Terus. Pembaca sendiri merasa sesak, tapi secara bahasa sebenarnya dia bermain juga sehingga kemudian secara logika kalimat juga benar. Nah, ini yang tadi ada beberapa usulan karena sesungguhnya ini bisa dibagi sehingga kemudian katakanlah pembaca bisa ngambil jeda, ngambil napas karena membaca meskipun dalam hati tetap kemudian ada situasi itu ya. Situasi ketika di titik itu juga sebenarnya berhenti. Ketika koma, berhenti sebentar. Itu ada ketika kita baca. Jadi, diperhatikan gitu kan. “Kira-kira setengah tahun yang lalu seorang dari Perancis bertandang di Kasongan” titik. (Cindhil menambahkan titik setelah kata Kasongan).
Ipang : beliau
Cindhil : ya. “Beliau adalah seorang penghubung saya dengan pembeli…” Nanti kita efektifkan lagi kalimatnya. “di sela” ini dipisah ya. “Di sela perbincangan ia bercerita bahwa peneliti-peneliti Eropa…” Ini tadi soalnya?
Gloria : Itali pake i.
Cindhil : pake i ya. Dijadiin gini “Italia”. Ini terasa banyak pengulangan ya. Nanti kita akan efektifkan lagi, tapi dikejar dulu kebenaran. “Bentuknya Negara Italia…” Oke, secara kata udah nggak ada yang soal. Kita cek bareng efektivitasnya. Infonya gimana?
Cindhil membaca ulang paragraph 1.
Cindhil : “Beliau adalah penghubung saya dengan pembeli kerajinan dari manca Negara.” Ini sebenarnya nggak perlu ya. Tiba-tiba ada seorang penghubung dengan pembeli kerajinan. “Di sela perbincangan dia bercerita bahwa peneliti ekonomi di Eropa saat ini…” di sebenarnya yang paling tepat. Oke. “Menurutnya, Negara Italia terkena…” Oke, sampai sini dulu. Dia sudah menyebut Italia berapa kali?
Silvia : 2 kali.
Joko : 2 kali.
Cindhil membaca lanjutan paragraph 1.
Joko : pake “hanya”, nggak itu?
Cindhil : nah, ini harus dikasih penekanan biar berlawanan sama yang 10%-mu ini. Kalau ini, kan datar aja ya. Dulu segini, sekarang segini. Gitu kan. “Sekarang hanya bisa…”, misalnya. Nah, ini kan kemudian melawankan 10 dengan 1 atau 2. Dikasih “hanya”, koma. Nah, “apalagi di sektor kerajinan” ini perlu, nggak? Karena saya sih sudah nangkap bahwa yang dibicarakan itu adalah kerajinan sejak awal kamu ngomong.
Rifki S : ya, mungkin dibuang ya. Saya juga ketika ini dibaca seorang pengrajin itu… jadi, dia itu mindset-nya ketika berbicara mebel itu bukan kerajinan.
Cindhil : oh.
Rifki S : hm mh. Jadi, ketika berbicara kerajinan berarti bukan mebel. Jadi, saya juga sebenarnya ada masalah dengan ini. Apa ya enaknya? Dari tadi thak utheg-utheg. Jadi, kalau mebel itu tinggi, otomatis nanti kerajinan nanti juga naik. Itu logikany.
Cindhil : nah, kamu harus ngasih itu. Ada…
Joko : informasinya.
Cindhil : katakanlah informasi itu bahwa ada yang disebut mebel, ada yang disebut kerajinan. Mebel yang kayak gini. Kerajinan yang kayak gini sehingga kemudian di sini agak terjadi kebingunan juga. Misalnya aku menghilangkan ini karena menurutku ini nggak perlu, tapi ternyata mebel sama kerajinan ini hal berbeda. Gitu kan?!
Joko : ditambah kalimat.
Cindhil : oke. “Hal ini juga terjadi pada sector kerajinan”, misalnya gitu. “Hal ini lebih-lebih terjadi pada sektor kerajinan“, misalnya gitu atau, “Pada sector kerajinan lebih parah lagi.” Itu kan kemudian bisa, “Oh, ada 2 hal ini.“
Joko : berate kalimat baru?
Cindhil : he eh, kalimat baru aja, menegaskan bahwa yang disebut mebel itu berbeda dengan kerajinan.
Rifki S : iya, “Hal ini juga terjadi di sector kerajinan.”
Cindhil : “Hal yang sama juga terjadi di sector kerajinan.” (mengetik revisi kalimat sesuai lontaran Rifki S)
Silvi : mungkin, karena di atas ada “mengakibatkan permintaan kerajinan merosot” itu. Kalau permintaan kerajinannya itu bukan di kerajinan, tapi mungkin permintaan barang merosot.
Cindhil : oke. Ini juga misalnya dengan pembeli mebel dan kerajinan. Kemudian, jadi tegas kan. Sejak awal dimunculkan bahwa ada 2 hal yang berbeda.
Ipang : berarti “kerajinan yang…” diganti barang aja.
Cindhil : nah, “permintaan barang”, misalnya. Jadi, kemudian kan kelihatan ada 2 hal. Ada mebel. Ada kerajinan. Oke, selanjutnya.
Cindhil membaca kalimat berikutnya.
Cindhil : ini kurang efektif. Kita bikin lebih efektif lagi kalimat ini ya. “Saat itu saya masih meragukan informasi dari dia. Saya berasumsi bahwa dia cuma menakut-nakuti…” Secara napas aja, sudah ngos-ngosan pembacanya. Ini bisa dipersingkat aja. “Saat itu saya masih meragukan informasi tersebut. Saya berasumsi bahwa dia cuma menakut-nakuti…” titik. Ini juga tidak penting gitu kan. Kita cek ya.
Silvia : “agar menjual produk dengan murah.”
Cindhil : “Santai-santai” ini juga bukan kata baku. “Saya masih tenang-tenang saja.” Oke, nggak pa-pa. Oke, sudah nggak ada soal ya di paragraph pertama ya. Dibaca lagi coba. Bedanya dengan yang tadi.
Peserta hening membaca ulang paragraph 1.
Cindhil : sudah lebih enak ya.
Ipang : kalau misalnya “saat itu saya masih meragukan informasi tersebut dan berasumsi”? Kayaknya mengurangi…
Cindhil : nah, itu juga bisa. Lebih efektif itu tadi. “… informasi tersebut dan berasumsi bahwa dia hanya menakut-nakuti saja agar saya menjual produk padanya dengan harga lebih murah.” (cindhil mengetik perbaikan kalimat) Oke. Yak.
Cindhil melanjutkan paragraph kedua yang panjang.
Cindhil : wah, ini berat.
Peserta tertawa. Cindhil membacakan paragraph kedua.
Ferial : aku mikirnya, “Satu bulan berlalu” titik. “Di berbagai media masa nasional maupun mancanegara banyak memberitakan tentang krisis ekonomi di negeri Paman Sam” titik. “Hal ini berimbas pada ekonomi di banyak Negara.”
Cindhil : oke. “Satu bulan berlalu” atau “Sebulan kemudian”. Kalau pengen mempertahankan yang ini, nggak pa-pa. “Satu bulan berlalu” kan titik. Oh ya, ini soal judul ya.
Ferial : hurufnya lho.
Cindhil : hurufnya di inikan ya.
Ferial : bold-nya dah oke.
Cindhil : Pake huruf besar. Oke, kita lanjutkan.
Ferial : “Di berbagai media massa nasional maupun mancanegara, banyak menceritakan krisis ekonomi di negri Paman Sam” titik.
Cindhil : nah, memberitakan atau pemberitaan?
Rifki S : oh, pemberitaan.
Silvia : harusnya pemberitaan.
Cindhil : kan banyak berita.
Ferial : berita aja deh.
Cindhil : tadi gimana?
Ferial : “Hal ini berimbas…”
Cindhil : “Hal ini berimbas terhadap ekonomi di banyak negara” titik. Oke.
Ferial : nggak usah pake “kurang lebih”, langsung “rangkuman pemberitaannya sebagai berikut”, piye?
Rifki S : nggak ah, aku pengennya pake kurang lebih.
Joko : ada pun?
Cindhil : nggak pa-pa. Jadi, “Kurang lebih rangkuman pemberitaannya sebagai berikut”
Rifki S : itu pake sama dengan atau nggak sih?
Ipang : titik dua, gimana?
Cindhil : titik dua juga nggak pa-pa.
Ferial : oh, boleh ya di dalam tulisan itu ada titik dua.
Cindhil : “Kurang lebih rangkuman pemberitaannya sebagai berikut:”
Joko : “kepada penerima kredit” titik, kayaknya.
Ferial : “… kepada penerima kredit” titik. Terus nggak uasah pake “dan” titik. “Jaminannya adalah”
Cindhil memperbaiki tulisan Rifki S sesuai masukan kelas.
Cindhil : “Jaminannya adalah rumah yang dibeli oleh penghutang dengan uang dari bank tersebut…”
Rifki S : titik.
Cindhil : “… setelah tagihan primer”
Cindhil : titik ya ini ya (merujuk pada setelah kata “tersebut”)
Silvia : iya.
Silvi : bukan, maksudnya setelah “tagihan primer” titik.
Cindhil : ini (“setelah tagihan primer”, not) nyambung dengan ini (“Jaminannya adalah…”, not).
Ferial : “dan tagihannya berbentuk kontak-kontak kredit yang berwujud kertas”
Rifki S : titik.
Cindhil : “Bentuk tagihannya adalah tagihan primer karena langsung dijamin oleh rumah atau barang nyata”
Joko : titik.
Ferial : titik, “dan”-nya ilangin.
Cindhil : “tagihannya berbentuk kontak kredit yang berwujud kertas. Bahasa sederhananya,…”
Ferial : “Bahasa sederhana”-nya, kalau jadi paragraph baru, piye, Mas? Nggak ya?
Cindhil : nggak karena dia mencoba menjelaskan.
Rifki S : “Bahasa sederhananya,” koma.
Cindhil : ini nggak benar juga, “Bahasa sederhananya, barang nyata…”
Ferial : atau “Sederhananya” aja. “Sederhananya, barang nyata berbentuk rumah diganti selembar kertas”
Cindhil : ini harus dikasih koma, “Sederhanya, barang nyata…” Kan kayak “Dengan kata lain” gitu kan?! “Kertas yang diciptakan ini…”
Joko : saya kira, nggak perlu lagi itu.
Ipang : penjelasan panjang itu…
Joko : “karena kertas diciptakan” itu nggak perlu lagi.
Cindhil : ini udah “sederhananya”, di sini ada “sederhana” lagi, ternyata.
Joko : “karena kertas” itu diilangin gimana?
Ferial : atau langsung “barang nyata“ nggak usah pakai “sederhananya“?
Joko : dah itu dihilangin satu ini, gimana? Terus, “Kertas ini disebut surat berharga“
Ferial : iya karena di atas sudah njelasin yang rumah.
Cindhil : jadi yang diilangin?
Ferial : dari “karena” sampai “lunas”
Joko : dari “karena” sampai “lunas”
Rifki S : “maka” juga dibuang.
Joko : “dan disebut surat berharga”
Cindhil : “menjadi selembar kertas yang disebut surat berharga.”
Cindhil memperbaiki tulisan Rifki sesuai masukan peserta.
Cindhil : “Aktivitas mengertaskan barang…” Ini bisa diganti, “Aktifitas ini disebut”
Ferial : aktivitas itu f atau v?
Cindhil : f
Ipang : harusnya v. Kalau aktif, f. Kalau aktivitas, v. Sama kayak “kreatif” dan “kreativitas”.
Ferial : udah “para” pake –nya itu enak, nggak, sih? Kata “Tagihan kepada para debiturnya” itu enak, nggak, sih?
Inggra : “kepada debiturnya”
Cindhil : nggak pa-pa.
Ipang : ini kredit, debit bikin pusing.
Ferial : iya.
Ipang : kontak kredit, tapi kepada debitur.
Joko : “debitur atau penghutang” titik di situ.
Cindhil : iya.
Cindhil melanjutkan membaca kalimat berikutnya pada paragraph 2.
Cindhil : ini soal titik-koma, titik-koma aja.
Ferial : sekunder itu memang pake e ya?
Cindhil : iya.
Ferial : Rifki tuh suka banget kata-kata “Bahasa sederhana”, ya.
Rifki S : karena ini kalau dijabarkan, akan lebih panjang lagi.
Ipang : karena beda surat berharga ini. Surat berharga itu, jaminannya asset. Ternyata, yang rumit itu sebenarnya dunia perekonomian.
Cindhil : tugas penulis adalah bagaimana pun rumitnya hal yang pengen disampaikan dia harus bisa menyampaikannya dengan jelas meskipun rumit. Gitu.
Joko : kalau ada tulisan tentang ini yang sama, dia menjelaskan dengan permainan kartu itu lho. Jadi, ketika kartu remi jatuh satu, semua jatuh. Jadi, orang main kartu susun itu, jatuh satu. Yang sana jatuh semua.
Ferial : pake analogy-analogi. Kamu coba main analogi-analogi. Berimajinasi sedikit.
Joko : yang itu sangat simple. Jadi, gampang banget, menurut aku. Jadi, dia bilang ini surat kedua. Nanti, dia bilang surat ketiganya apa. Sampai ke 27 tingkat.
Rifki S : jadi, kartu kedua itu minjam, jaminannya kartu pertama?
Joko : he eh.
Rifki S : kartu ketiga, jaminannya kartu ke…
Joko : kartu kedua. Ketika ini nggak bisa bayar hutang, udah, semua kartu hancur sudah.
Cindhil : nah, itu satu analogi yang coba menggambarkan ini, kana?! Memang itu salah satu cara membikin terang sebuah kerumitan ya. Sesuatunya rumit kan. Kita baca ini rumit kan?! Bukan bahasanya rumit atau kemudian Rifki menuliskannya dengan rumit, tapi memang kenyataannya sendiri udah rumit. Nah, kita nggak bisa kemudian membiarkan kerumitan itu menjadi tetap sebuah kerumitan dalam tulisan. Maka tadi ada analogi. Analogi itu kan kemudian menggambarkan. Dia digambarkan dengan sesuatu yang lain, yang dekat. Sesuatu ini dengan kartu tadi. Itu menarik karena kemudian kita melihat ada situasi yang sama. Satu rusak, rusak semua. Sebenarnya, dia ngomongin ini kan, tapi kita, karena analoginya pas gitu, kita segera bisa “Oh, iya.” Itu memudahkan pembaca memahami logika.Tapi, analogy yang nggak tepat juga kadang-kadang
Rifki S : menyesatkan.
Cindhil : he eh. Jadi, harus pintar-pintar juga memberi analogi. Kalau di fiksi kan ada metafora. Metafora kan juga sama dengan analogi; gimana kita menggambarkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Cuma kalau cek lagi, ada majas kan. Ada personifikasi. Kita menggambarkan gerak nyiur. Nyiur melambai. Melambai itu kan bukan dari nyiur. Melambai itu kan diambil dari orang; tangan yang melambai. Ini kan sebenarnya dipakai itu agar kemudian segera terang gambarannya. Nah, bagaimana kemudian, tugas Rifki adalah menerangkan memang logika yang rumit ini dengan satu gambaran yang katakanlah kalau Kwik kemudian kartu gitu kan. Orang langsung membayangkan langsung segera. Satu kartu jatuh, dia akan runtuh semuanya. Ada satu bangunan besar yang runtuh. Nah, ini yang belum ada itunya. Kamu lagi mendeskripsikan ceritanya. Gitu kan. Belum menggambarkan. Oke seperti ini. Kamu harus kemudian menggambarkannya. tapi, nggak pa-pa. Itu tingkatan untuk bagaimana kita bisa me… bukan menceritakan, tetapi menggambarkan sebagaimana di kelas kita awal. Bagaimana kita bukan menceritakan, tetapi menggambarkan sesuatu karena gambar itu yang kemudian dikenang. Karena begitu tadi, Joko langsung menyimpulkan tulisan Kwik kartu. Gitu kan. Itu yang keinget. Bahwa deskripsi ilmiah yang benar itu kayak apa, kita bisa ngecek lagi, tapi kemudian, “Oh, krisis global itu gara-gara itu ya, kayak kartu itu ya. Satu kartu macet, krisis semua.” Gitu kan. “Satu Negara kena, kemudian berimbas ke banyak Negara.” Itu kan logikanya sama. Satu hal terkait dengan hal yang lain. Begitu ada soal, kemudian dia akan berimbas. Di sini Rifki harus bisa kemudian katakanlah menggambarkan situasi ini, bukan menceritakan. Bagaimana kamu bisa menggambarkan sesuatu. Orang jadi kemudian paham. Ini kan kamu… ini harus dibaca dengan hati-hati. Pertama, ada barang nyata dikertaskan. Kemudian, ada kertas dikertaskan. Ada aktivitas mengertaskan kertas. Itu kan kita harus… ya, kemudian memaksa pembaca harus sabar dan teliti. Nggak pa-pa, tapi sebisa mungkin kan kita, katakanlah kamu sendiri juga berusaha sederhananya. Kamu sendiri kan kemudian pengen ini nggak missed gitu kan. Sederhanya kayak gini lho, tapi belum juga kemudian jadi sederhana. Baru niatanmu. Oke, sederhananya kayak gini, tapi sederhananya kayak gini isinya masih rumit lagi. Kayak gitu. Sederhananya, seperti sebuah apa. Itu kan kamu harus… dibawa ke luar logika ini. Selain ada soal irama titik-koma, titik-koma tadi; ada tugas bagaimana kamu menerangkan sehingga pembaca itu paham. Misalnya analogi. Coba memunculkan itu, memunculkan analogi, memunculkan perbandingannya. Yang kemudian perbandingan itu, analogi itu dicari yang dekat dengan pembacanya sehingga pembacanya tahu. Semua orang, begitu analoginya kartu, punya katakanlah kemudian referensi tentang kartu. Bisa juga tepat analoginya, tetapi analogi itu ketika jauh orang juga jadi soal juga. Misalnya itu digambarkan seperti atom. Itu agak susah lagi orang membayangkannya. Orang lebih dekat dengan kartu kan. Atom, mungkin, orang-orang fisika, orang kimia itu segera bisa membayangkannya, tetapi orang secara umum akan lebih enak dengan analogi kartu. Jadi, dalam memilih analogy pun kita harus tepat juga. Berarti analogi itu untuk menggampangkan, menyederhanakan, bukan menambah rumit. Oke, secara kalimat sudah tidak ada soal, tapi secara tulisan dia jadi tidak menarik karena tidak memunculkan itu tadi.
Ferial : iramanya ya?
Cindhil : iramanya juga jadi… karena sepanjang ini, isinya cerita bukan gambaran. Banyak hal yang bisa dipanjangkan lagi. (membuka paragraph ke-3) Ini masih kelanjutan lagi kan? Kamu berusaha untuk menerangkan logikanya. Gitu.
Ferial : mungkin, bisa diawali dari Si Lek Man atau Si Bertern itu lho. Analogi nama orang Si siapa, gitu. Dengan cerita “Pak ini mengambil kredit 5.”
Joko : Lek Man dan Lek Ben ngredit rumah.
Ferial : ya memang rumit nih.
Ipang : langsung nge-drop gitu ya.
Rifki s : ini merangkum dari surat kabar yang banyak.
Cindhil : ini, sebenarnya, Rifki mencoba merangkum, tapi, menurutku, ini bukan rangkuman karena terlalu panjang.
Ferial : atau kalau memang itu mengutip, caranya kan ada.
Cindhil : bagaimana kamu bisa se-simple mungkin menerangkan ini. Tiga paragraph ini dalam satu paragraph dengan terang, jelas.
Ferial : tapi, aku pikir, juga Rifki ngeliat ini juga mumet. Makanya, dia nerangkannya lagi juga mumet. Kamu pas baca itu sebenarnya juga mumet gitu.
Rifki S : hm mh karena banyak sekali kan. Ini kenapa. Ini kan sudah dipilah. Misalnya dari kasus yang pertama tadi. Ini kenapa bisa terjadi hal yang pertama? Hal yang pertama itu karena ada orang kredit kepada Birton dan banyak bank lagi. Kan ada bank Birton, bank apa lagi, bank apa lagi, banyak. Terus, ini kan ada misalnya Birton. Ini satu kasus aja yang diambil. Dari situ, dari Birton, ini dilempar ke Lekhman. Lekhman itu juga diambil lagi. Dia itu dari Birton, dia itu dijual lagi surat berharga ini dijual lagi ke Lekhman, ke mana, ke mana, sampai berapa bank.
Silvia : untuk dapat uang cash.
Rifki S : he eh, untuk dapat likuiditas itu. Dari ini, dia memegang surat ini, yang sekunder ini, ini dikelompokkan lagi sesuai dengan distrik-distrik ini kan. Nah, ini dikelompokkan. Ini dijual lagi ke bank yang lebih besar untuk mendapatkan likuiditas lagi. Gitu. Nah, dijual, jual, jual semua. Ini ada namanya istilah slice and dislice. Jadi, dipotong-potong semua. Dipotong-potong ini dan akhirnya akan mengakibatkan ketika satu bank saja, satu orang individu yang dia itu telah mencicil atau dia itu macet, nah ini akan banyak bank yang kena sampai yang besar. Gitu.
Cindhil : ini kan dengan sederhana muncul dengan kartu tadi.
Rifki S : iya.
Ipang : kalau aku, sebagai tulisan itu, selalu salah membuat skema. Kayak judul “Patahan Ranting yang Galau”, entah judul atau sub-judul. Ketika baru baca itu, kalau orang sering membuat skema gitu. Ini orang membuat apa sih? Ternyata tuh yang dibahas ya bukan sesuatu yang puitis sama sekali.
Rifki S : sebenarnya, sebagai apologi aja. Memasukkan itu kayak biar agak slow karena saya tahu ini isinya tuh sangat berat dan…
Ferial : bukan berat ya, rumit.
Rifki S : he eh. Jadi, ini kayak ada istilah-istilah di sini biar agak slow-slow.
Ipang : misalnya dari paragraph pertama itu, aku membuat skema, aku membayangkan bahwa aku adalah pengrajin. Kalau emang tujuannya itu untuk dibaca para pengrajin. Maksudnya, biar tahu ini kenapa sih jadi berkurang permintaan ekspor dan apa yang harus dipertimbangkan, apa yang harus dilakukan, menurutku, ini terlalu rumit untuk pengrajin itu untuk tahu segala macam soal yang mendetil, kecuali kalau mungkin ini ditujukan untuk orang ekonomi atau mahasiswa ekonomi. Itu oke.
Ferial : atau Rifki habis baca Tempo ya itu?
Rifki S : hmm mh.
Ferial : lu habis baca Tempo, terus ada pendapat apa di kepala lu. Pendapatnya dulu, terus di bawahnya baru mengutip dari yang Kompas, misalnya. Itu cuma tiga kalimat, misalnya. Pakai yang titik-titik itu lho. Udah. Cukup.
Joko : kalau aku sih, kalau pembacanya misalnya pengrajin yang dibayangkan atau orang umum gitu, penulisan ekonomi itu, ya kalau aku, favoritnya Kwik Kian Gie karena bahasanya selalu berusaha untuk memberikan bahasa yang sesimpel mungkin, tapi kena. Ini masalahnya. Itu benar. Fakta-faktanya ada, tapi secara general dia bisa memberikan kesimpulan dengan analogy-analogi ini sehingga kalau misalnya dia yang, banyak juga orang bilang, kalau Kwik yang nulis, pasti dibaca karena saya mendapatkan informasi dengan cepat. Jadi, dia selalu berusaha mempermudah.
Cindhil : yah, bagaimana kita sebagai penulis membikin semuanya terang agar jadi sederhana. Bukan menyederhanakan. Kalau menyederhanakan, kan kayak kemudian mengurangi bobotnya. Nggak, bobotnya tetap. Soalnya tetap. Halnya tetap, tetapi kemudian dia dibahasakan dengan terang, jernih, dengan kalimat-kalimat sederhana.
Ferial : mungkin, bisa dicontohin kayak tulisannya Rifki M. Itu kan dia banyak ngutip-ngutip tokoh-tokoh filsuf yang kalau kita baca bukunya tuh pusing. Nah, Rifki tuh sukses gitu ngejelasin itu tuh, kalau menurutku, itu jadi enak. Dia jelasinnya enak.
Cindhil : intinya adalah yang pertama, ini kan bukan sebagai kutipan, tapi sebagai rangkuman kan. Kalau kutipan sih, beda. Kamu tinggal ngutip aja. Kamu cari garis bawahnya, tinggal ngutip aja, tapi kalau sebuah rangkuman, kamu harus merangkumnya, membahasakannya dengan bahasamu. Istilahnya memparafrasekan kembali. Jadi, kemudian… oke, kamu baca banyak hal gitu. Sekarang kalau dengan bahasamu, gimana. Bukan dengan bahasa yang kamu rangkum itu. Kalau dengan bahasamu, mungkin akan jadi lain. Kamu menerangkan ini. Kemudian jadi muncul analogi-analogi yang sangat dekat dengan kamu dan pembacamu sehingga kamu bisa menerangkan kembali. Jadi, gimana kita kemudian dalam merangkum itu bukan hanya mengedit, mengambil gitu. Enggak, tapi kemudian bagaimana kita harus membahasakan kembali itu. Kalau kutipan, kan nggak. Kita mengambilnya, potong ambil. Kita kutip, tapi kalau ini, harusnya, ini kamu membahasakan kembali, memparafrasekan kembali dengan bahasamu yang mungkin akan lebih sederhana, tidak berbau ekonomi yang keras kayak gini. Itu ya. Jadi, ini, menurutku, bisa dibahasakan kembali dengan bahasamu dan itu akan lebih bisa diterima. Gitu.
Rifki S : lebih gampang gitu ya.
Cindhil : he eh. Karena kalau ini, ini ya tinggal baca yang kamu kutip itu aja. Katakanlah kemudian pembaca pingin tahu lebih jelas,
Ferial : baca Tempo.
Cindhil : he eh. Misalkan ini kamu taruh di belakang daftar pustaka gitu kan, sumbermu dari mana aja gitu kan. Ya udah tinggal baca itu. Menurutku, ini lebih parafrasekan aja agar kemudian memunculkan analogy yang pas tadi. Kayak usulannya Ferial tadi, kalau temanya diganti, itu kan salah satu cara untuk membahasakan kembali.
Joko : Jadi, Pak D punya rumah. Rumahnya digadaikan sama bank ini.
Ferial : bank itu dijadikan orang, misalnya.
Rifki S : atau mungkin saya ini ya… terlalu mengejar 1500 kata itu.
Ferial : menurutku, kamu salah wilayah.
Joko : sebenarnya ada 2. Sekarang ini ada juga penulis ekonomi bisa menulis itu. Itu juga bagus karena dia memberikan analogi tentang neoliberal. Itu juga menarik. Maksudnya, bagaimana dia menjelaskan neoliberal dengan sangat simple.
Ferial : tapi, background-nya dia kan emang ekonomi. Mungkin, kamu bisa tentang justru pengalaman… nggak tahu ya. Mungkin milih temanya itu ya, kali. Ada yang kamu lebih akrab yang kalau di pelajaran awal-awal itu pengalaman itu lho.
Rifki S : sebenarnya, juga memulai dari itu sih, mulai dari kenapa aku menulis tentang krisis global? Karena di antara beberapa bab ini, itu yang paling dekat dengan aku masalah ini. Itu yang aku terlibat secara langsung gitu.
Cindhil : iya, sebenarnya dekat. Itu ketahuan dari ini (paragraph 1, not). Sebenarnya dia dekat. Ini kemudian tinggal dibahasakan lagi.
Rifki S : sebenarnya ini yang menjadi masalah ketika aku mencoba menari ini…
Joko : terlalu terlena di paragraph yang tengah ini, menurutku.
Rifki S : hmmm mh. Jadi, aku mencoba…
Cindhil : terlalu ingin menerangkan literasinya.
Joko : kalau misalnya simple gitu ya, dengan analogi kasus itu, jadi efeknya pembelian buyer-buyer saya di luar negeri dia membeli barang itu jadi berkurang. Kayak gitu. Misalnya nggak bisa bayar.
Rifki S : iya. Memang itu akan diterangkan di paragraf berikutnya.
Ferial : oh, gitu.
Rifki S : jadi, semut di balik gelas, mata siapa yang tahu. Di situ banyak bercerita tentang itu. Jadi, di sini ni aku Cuma menjelaskan krisis global itu seperti apa…
Joko : aku kira juga gitu. Kadang orang bertanya, “Krisis global kok efeknya ke kita? Apa sih masalahnya?” Ini kan mencoba menjelaskan itu, tapi analoginya terlalu panjang. Akhirnya, orang jadi lelah.
Cindhil : kelelahan dulu sebelum masuk ke intinya.
Ipang : walaupun sepintas lalu, aku melihat sub-judulnya ini yang susah. Maksudnya, yang agak berat dibaca. Kalau yang di belakang itu, agak mudah dimengerti.
Cindhil : iya. Mulai ini lagi, dah mulai enak ya. Nah, ini menurutku salah satu soalmu adalah bagaimana membahasakan ini agar dia tidak terlalu melompat, beda banget dengan karaktermu di bab-bab yang lain. Cara merangkum ya. Membahasakannya. Karena emang iya, begitu masuk ke sini (paragraph terakhir, not), ini jadi dekat lagi kan.
Ferial : tapi, kalau judulnya, itu oke sih. Bikin orang pengen baca. Aku malah senang.
Rifki S : memang di satu poin ini, di sub-judul “Patah Ranting, Jiwa yang Galau” itu kan isinya adalah kegalauan-kegalauan saya yang harus bermasalah ketika ada krisis saya harus apa… masalah PHK, banyak orang yang ini. Intinya itu sebenarnya di masalahnya. Terus kemudian di bawah saya melihat bahwa ini adalah peran media massa juga untuk menghembus-hembuskan ini. Sebenarnya gitu aja.
Ipang : mulai enak lagi yang “di berita” itu ya. Mulai terkonteks lagi.
Cindhil : iya. Udah ke kamu lagi. Udah masuk ke bahasamu lagi, tapi soalnya adalah kemudian bagaimana kamu memecah-mecah ini ke beberapa paragraph karena ini juga terlalu panjang kan. Ini persoalan kenyamanan membaca.
Ferial : iya. Apakah terus pembeli saya kebanyakan dari Eropa. Terus, apakah jadinya hutang-hutangan dan kontrak-kontrak? Di bawahnya. Yang berhubungan dengan kehidupanmu. Kan di tadi yang sebelumnya, yang rumit itu, kan kamu nyeritain masalahmu tentang hutang sini, hutang sana. Nah, terus, di bawahnya apakah itu jadi kisah yang apa ya… apa juga usahamu jadi hutang sana, hutang sini?
Rifki S : nggak.
Ferial : itu enggak kan? Nggak nyambung juga.
Rifki S : tapi kan, sebenarnya, bukan masalah nyambung atau nggak nyambung. Bagaimana pun juga ketika aku menuliskan ini tuh aku bercerita bahwa aku ini seorang korban. Jadi, aku tuh tidak tahu apa-apa, tiba-tiba kok begini? Ini sebenarnya sebabnya tuh apa? Aku kan mencari itu. Sebenarnya itu dampaknya itu kenapa bisa terjadi aku di ujung lapangan sana, yang kena krisis di Amerika sana, tiba-tiba… di sana krisis, satu hari kemudian di tempatku sudah kena. Orang-orang belum rebut. Belum ada berita di Kompas dan mana-mana, aku sudah kena gitu lho. Kenapa cepat sekali. Jadi, aku pengen bercerita itu. Jadi, ini terus di bagian ini memang rumit gitu. Sama mungkin aku ada permasalahan di aku bahwa harus mem-PHK-kan banyak orang. Bagaimana kalau di PHK efeknya? Terus aku mencari-cari sebenarnya apa yang terjadi?
Ipang : kita break dulu nggak? Mumet nih.
Ferial : ya, kita break dulu.
Break jam 21.00-21.15 WIB
Cindhil : kita lanjut atau kita lompat ke tulisan yang lain?
Silvi : lompat.
Cindhil : masukan untuk Rifki, kalau aku sih merekomendasikan: pertama, coba bahasakan dengan lebih sederhana bukan hanya menggunakan kata sederhana. Benar-benar gimana ini menjadi satu hal yang bisa dipahami dengan mudah. Kemudian, paragraf-paragraf yang panjang ini coba kamu pecah sehingga orang juga enak, dilihat juga enak. Jadi nggak menekan dengan paragraph-paragraf yang panjang. Coba ini kamu pecah paragaraf-paragraf yang panjang sebisa mungkin dipecah jadi 2, jadi 3 gitu. Karena kalau lihat paragraf pertamamu, sudah nyaman. Segini kurang-lebihnya. Coba dipertahankan irama yang sudah kamu bangun di awal itu. Di belakang juga sudah nyaman lagi sebenarnya. Kamu tiba-tiba ngomong tentang kemiskinan. Sebenarnya ngefek nggak sih? Gitu kan. Mungkin, jadi satu temuan yang menarik, tapi ini, aku pikir, dilengkapi juga dengan beberapa kasus, ilustrasi. Jadi, bukan asumsi. Ini kan masih asumsi kan. Kamu mungkin bisa ngambil sampel satu orang yang kamu anggap miskin siapa. Ditanya aja. Jadi, kamu juga punya datanya di sini. Mungkin, satu, dua orang kamu temui. Kamu tanya “Ngaruh, nggak?” karena ini juga jadi hal yang menarik. Oke, itu PR buat Rifki ya. Gimana menyederhanakan. Secara tematik, menarik. Yang dimunculkan itu menarik. Kemudian, ini jadi dalam soal pembahasaannya yang punya problem. Kita lompat ke satu tulisan lagi. Siapa ya?
Forum : Inggra.
Cindhil : (membacakan judul tulisan Inggra, not) “Pesan dari Planetnya Adam”
Cindhil menampilkan tulisan Inggra pada layar LCD.
Joko : kurang sensitif gender, judulnya. Adam and Eve lah.
Cindhil : yang lebih nyaman baca di kertas, baca di kertas.
Peserta membaca tulisan Inggra.
Cindhil : ada komentar?
Rifki S : bagus.
Ipang : kamu tuh bikin sama kerangkamu nggak?
Inggra : ya.
Ipang : mungkin menarik kalau kita lihat. Karena aku nggak ngerasa nulis dari kerangka gitu. Pengen ngeliat aja. Kerangkanya masih ada nggak? Maksudnya, mau lihat gimana jadi dari kerangka?
Ferial : ngembangin kerangka jadi sebuah tulisan?
Ipang : nah, iya. Jadi sebuah tulisan yang ternyata, menurut aku, kok nggak seperti bayangannya si Rifki gondrong itu yang kehilangan spontanitas ketika pakai kerangka.
Ferial : kerangkanya masih ada kok di flashdisk.
Cindhil : aku juga ingat kerangkanya Inggar waktu mbaca ini.
Inggra : ada.
Cindhil membukakan file kerangka karangan Inggra.
Cindhil : iya. Ada beberapa penyesuaian ya, tapi sebenarnya masih menurut kerangka sih. Walau kemudian ketika kerangka ini coba ditubuhkan, dibentuk, ada beberapa yang disesuaikan juga, tapi masih sesuai dengan apa yang mau kamu bicarakan di sini poin-poinnya. Itu kesan umum ya. Kita jelas apa yang mau disampaikan, tapi secara detil, coba kita lihat. “Pesan dari Planetnya Adam” Planetnya atau planet?
Rifki S : Planet saja.
Cindhil : Planetnya Adam itu juga bahasa Jawa banget gitu kan: omahe, planete. “Pesan dari Planet Adam”
Ferial : dari-nya hurug besar atau kecil?
Gloria : kecil.
Cindhil : Oke, paragraf pertama kita cek.
Kelas membaca seksama paragraph 1 tulisan Inggra.
Cindhil : ada soal di paragraf pertama?
Inggra : mungkin, postcard diganti kartu pos.
Cindhil : oh ya.
Cindhil memperbaiki kata yang dimaksudkan Inggra.
Cindhil : oke. Cuma aku agak soal di ini “Foto itu terpajang di sana, tersusun rapi bersama beberapa kartu pos…” Ini belum segera menunjuk bahwa itu adalah fotonya.
Silvia : kok, tiba-tiba Jogja.
Ferial : mungkin, “beberapa kartu pos” apa nih? Mungkin nggak pakai “itu” ya? “itu”-nya diganti “foto suasana Jogja tahun berapa”
Cindhil : sebenarnya bisa diterangkan di sini.
Ferial : di bawah juga ya?
Cindhil : he eh. “Foto itu terpajang di sana.” Nggak pa-pa. Ini kayak ngasih tanda tanya kan.
Ferial : bikin orang penasaran.
Cindhil : he eh. Sampai sini lalu menerangkan ramah. “Jogja masih nampak begitu ramah dalam kartu pos itu.” Bisa kemudian lebih tegas lagi. Ini ya, setelah ini harus dikasih keterangan (menunjuk bagian kalimat “Jogja dalam kartu pos itu”). (sembari mengetik revisi kalimat) “Jogja masih begitu di dalam kartu pos itu.” “Pohon-pohon rindang berjejer.” Ini kan kamu nggambarin kartu pos-nya kan. “Bagai barisan pagar ayu di sepanjang jalan…” Nah, K dobel (pada kata menyeletukkan, not) “menyeletukkan”.
Cindhil melanjutkan membaca paragraph 1 sampai selesai. Kemudian dilanjutkan paragraph 2.
Ferial : ibu.
Cindhil : nggak pa-pa.
Ferial : tapi, ini kan sifatnya nama panggilan?
Cindhil : kan tidak memanggil.
Joko : ibu-nya siapa nggak diterangkan.
Inggra : itu dijelaskan di kalimat selanjutnya.
Cindhil : oke, kita masuk kalimat ini ya.
Ferial : kalau ibuku?
Ipang : menurutku, nggak masalah. Nggak tahu ya, kalau aku sih, secara kultural, dimengerti. Ketika menyebut ibu doang berarti ibuku.
Cindhil : oke ya.
Cindhil melanjutkan membaca satu kalimat di paragraph 2.
Cindhil : “di print”. Ini bisa “dicetak” aja. “Awalnya aku mendengarkan sebagai bentuk…” Benar kalimatnya, cuma masih kurang enak.
Joko : -ku nya diilangin.
Ipang : itu terlalu panjang sebagai satu frase.
Rifki S : “padaku ini” dihilangin.
Cindhil : -ku yang ini (… padaku…)?
Joko : iya,–ku yang pertama.
Silvia : ini-nya ilangin.
Ferial : iya, ini-nya ilangin.
Cindhil : ini-nya ilangin?
Ferial : hm mh.
Cindhil : Sebenarnya, nggak soal sih pakai ini-nya. “… padaku ini. Awalnya aku mendengarkan sebagai bentuk hormat kepada…” Ada pada, ada kepada. Ini harus teman-teman cek nanti; kapan harus menggunakan pada, kapan harus kepada. Kalau kepada, itu kan ditujukan. Artinya, dia sedang menuju ke kamu kan, “padaku”. Kalau pada, itu kemudian… eh…
Ipang : pada malam hari.
Cindhil : pada malam. Hal-hal yang lebih abstrak, sebenarnya. Pada malam, pada hari Minggu. Tapi, kepada itu lebih menunjuk. Pada jadi kemudian dia jeneral.
Inggra : pada orang gitu?
Cindhil : he eh, pada orang.
Cindhil melanjutkan membaca kalimat berikutnya sembari merevisi beberapa penulisan yang kurang tepat.
Ferial : g, Al Gore.
Gloria : khilaf.
Joko : itu “membuatku” ya? Bukan?
Cindhil : “… cukup membuatku…” ya?
Ferial : mungkin, ini nggak cuma untuk dia sih. Banyak orang yang terhenyak juga.
Cindhil melanjutkan membaca kalimat berikutnya.
Cindhil : oh. Oke.
Ipang : aku mau nanya. Itu kalau naruh tanda footnote di tengah kalimat, nggak pa-pa? Atau, sebaiknya di akhir kalimat?
Cindhil : nggak harus di akhir kalimat. Dia langsung ditunjuk pada bagian yang dimaksudkan. Jadi, ini tengah nggak pa-pa. Kita bisa ngasih tanda kutipan ini dimana-mana. Oke, kita lanjut.
Cindhil membacakan paragraph 3. Peserta turut memperhatikan.
Cindhil : nah, protocol (pada frase protokol Kyoto, not), kamu kasih huruf besar. Sebenarnya, kalau cuma ngasih keterangan kayak gini, footnote-nya kalau bisa kamu masukkan ke dalam kalimat utamanya, lebih enak.
Inggra : langsung menjelaskan.
Cindhil : he eh, dari pada orang harus nengok ke bawah, “Oh, Protokol Kyoto itu ini toh.” Jadi, ini lebih singkatan aja, mana yang kemudian lebih enak ya. Protokol Kyoto. Kamu mungkin lebih bisa menerangkannya dalam kalimat, kenapa enggak? Gitu kan. Kenapa dia harus dilempar ke bawah? Itu aja. Bisa kamu terangkan di sini, Protokol Kyoto apa. Bisa dalam kurung, bisa.
Inggra : catatan perut ya?
Cindhil : hmm mh, catatan perut. Dari pada di lempar ke bawah, tapi kalau misalnya dalam paragraph terlalu banyak catatan perut juga jadi soal. Jadi, ditimbang aja enaknya nanti aja orang baru ngecek atau kemudian sekalian diterangkan ke sini. Menurutku, akan segera, ketika orang baca Protokol Kyoto, kemudian ada keterangan bahwa persetujuan internasional tentang pemanasan global, orang akan segera tahu isinya karena di paragraf berikutnya kamu nggak ngomongin ini lagi. Gitu kan. Ini udah nggak ngomongin ini (menunjukkan paragraph berikutnya, not). “merubah” ini mengubah ya. Kalau merubah, itu menjadi rubah karena kata dasarnya kan ubah. Jangan bingung dengan perubahan. Perubahan itu karena per-an gitu ya. Jadi, per-ubah-an. Bukan pe-rubah-an. Itu karena kata dasarnya ubah.
Rifki S : kalau dirubah itu, jadi diubah?
Cindhil : diubah.
Rifki S : oh. Saya baru tahu.
Cindhil : dicek kata dasarnya apa.
Joko : itu pengrajin atau perajin?
Ferial : peng- Pengrajin itu tukang rajin.
Cindhil : sebenarnya, sama aja. Oke ya. Ini kesalahan umum. Banyak orang menuliskan merubah, dirubah karena rancu dengan perubahan. Seolah-olah kata dasarnya rubah. Oke.
Cindhil meneruskan membaca kalimat berikutnya sembari memperbaiki beberapa penulisan yang kurang tepat.
Cindhil : ini nggak usah pake koma ya? Pake koma, nggak? (merujuk pada tulisan “… pada tahun 2043” dan “penduduk dunia…”, not).
Ferial : setelah tidak koma.
Cindhil merevisi bagian yang dimaksudkan Ferial, “Prediksi para ilmuwan ini entah kebetulan atau tidak, mirip dengan…”
Cindhil : Ini agak melompat ya. Kok tiba-tiba “…secara drastis” koma “terdapat sekitar 80% penduduk tewas dalam bencana.”
Silvia : maksudnya kan “berkurang secara drastis karena…”
Ferial : penjelasannya ada yang jomplang nih.
Joko : he eh jomplang.
Cindhil : kamu memunculkan ini kan, “turun secara drastis” terus “terdapat sekitar 80%”. Karena dia turun drastis, jumlah 80%-nya berkurang karena bencana. Sementara turun drastis-nya juga karena ini kan?
Inggra : he eh.
Cindhil : Kenapa nggak pake karena?
Ferial : “akan berkurang secara drastis karena 80% tewas dalam bencana.”
Inggra : oh, iya.
Cindhil memperbaiki tulisan Inggra menjadi “… akan berkurang secara drastic karena sekitar 80% penduduk…” Kemudian, melanjutkan ke kalimat berikutnya.
Gloria : “pria Brasil” sama kayak “orang Perancis” tadi.
Cindhil : pria asal, pria dari
Cindhil melanjutkan membaca berikutnya.
Cindhil : detil ya (tulisan “detail”, not)
Cindhil melanjutkan membaca berikutnya.
Cindhil : ini dari mana kalimat ini? Ini pendapatmu?
Inggra : iya.
Cindhil : oke.
Ipang : itu mengulang nggak sih? Kan “pria Brasil ini juga menjelaskan secara detil…” sama kalimat sebelumnya tuh kayaknya ininya tuh nggak jauh-jauh banget.
Ferial : iya. Ngulang.
Cindhil : ini ya. Bisa langsung ya.
Silvia : kan sama perkiraan waktunya ramalan?
Ferial : nggak, kalau ini kan, perhitungan para ahli yang melakukan riset bertahun-tahun.
Silvia : kalau yang di atasnya kan sudah ada “kurun waktu”.
Cindhil : he eh, mirip ya.
Silvia : Ada “dalam kurun waktu 50 tahun”
Ferial : oh iya.
Silvia : hitungan akademik-nya kan sebenarnya…
Cindhil : oke ya.
Cindhil menghapus kalimat yang mengulang.
Ipang : masih bahas yang paragraf itu boleh nggak?
Cindhil : boleh, boleh.
Ipang : kalau menurutku, itu hubungan sama paragraf sebelumnya agak jumping karena sebelumnya kan ngebahas ramalan. Tiba-tiba langsung ngebahas isu Global Warming. Sementara, ramalannya baru dijelaskan setelahnya. Apa,menurutku, nggak kebalik? Harusnya di paragraph itu tuh yang diterangin ramalannya Jocelino dulu, baru fakta Global Warming. Karena di paragraf sebelumnya tuh…
Ferial : mencocokkan ramalannya dengan fakta. Berarti ramalan…
Ipang : iya. Kalau nggak salah, “ramalan tersebut mengingatkanku pada masa awal-awal kuliah dimana isu Global Warming kembali mencuat” Isu Global Warming-nya kenapa kamu tiba-tiba teringat itu? Apa karena baca ramalan bahwa Algor ini…
Ferial : akan jadi Wakil Presiden.
Ipang : akan jadi Wakil Presiden.
Inggra : maksudnya, ramalannya itu yang disesuaikan sama isu Global Warming itu?
Ferial : jadi, yang Jocelino, ramalannya Jocelino itu ditaruh di atas…
Ipang : ini hubungan antar paragrafnya itu lho.
Cindhil : sebenarnya, bisa nambah kalimat. Ini kan Al Gore. Kamu bisa masuk yang, “Ada juga ramalan Jocelino tentang bumi.”
Inggra : itu berhubungan ya?
Cindhil : he eh. Kemudian, “Membaca ramalan tersebut mengingatkanku…” jadi nyambung lagi. Bisa di sini (akhir paragraph 2, not). Bukan hanya… kan kalau di sini seolah-olah ramalannya hanya tentang ini gitu kan. Nah, di sini (awal paragraph 3, not) kamu harus nyebut tentang Jocelino dulu, “Ada juga ramalan Jocelino tentang bumi. Membaca ramalan tersebut mengingatkanku…” Bisa di sini atau bisa di sini. Terserah. Jadi, di sini kamu mengawalinya dengan Jocelino atau di sini.
Cindhil menambahkan kalimat di awal paragraph ketiga “Adapula ramalan Jocelino tentang keadaan bumi di masa mendatang.”
Cindhil : ya. Oke. Memang, aku juga Al Gore tiba-tiba ke Global Warming. Ya.
Kelas membaca paragraph 4.
Cindhil : “masuk nalar” ini aku masih agak terganggu ya. Kan kamu pengen ngomong bahwa ini logis. Kehancuran ini logis. Kelihatannya lebih enak gitu, “Proses kehancuran ini sangat logis. Berkembang dengan gini, gini, gini, gini.” Karena yang ilmiah itu juga sudah jelas masuk nalar kan?
Inggra : oh iya.
Cindhil mengubah kalimat menjadi “Sebenarnya, proses kehancuran planet kita sangat logis.”
Ferial : jangan dibenerin semua. Ntar, dia nggak ngedit sendiri. Maksudnya, biar dia lebih ingat.
Cindhil : oke. Kita lanjut. Aku nggak mau benerin lagi.
Peserta tertawa.
Cindhil : O2 ini…
Ferial : oksigen kenapa? Jangan dibenerin lho.
Forum tertawa.
Rifki S : ditandai aja.
Gloria : biar ilmiah.
Joko : O2-nya juga nggak gitu nulisnya. 2-nya di bawah.
Cindhil : kaitannya dengan Protokol ini kan antar Negara ya. Kenapa nggak Negara? Kamu langsung menunjuk ke manusianya. Sementara, protocol ini sendiri kan Negara.
Joko : bukan antar manusia.
Inggra : itu negaranya kan pemimpin kan? Perwakilannya yang setuju, tapi masyarakatnya kan enggak melaksanakan.
Cindhil : kebijakan negaranya?
Inggra : iya.
Ipang : mungkin, masalahnya tuh masalah satuan, Nggra.
Cindhil : he eh. Tiba-tiba lompat. Gitu kan.
Ipang : kamu mau jual tanah satu hektar, tiba-tiba ngomongnya “Yang di sini subur lho”
Cindhil : harus dijembatanin dulu, dari Protokol Kyoto kesepakatannya antar siapa karena, kalau di sini, Protokol Kyoto ini kesepakatan antar manusia gitu kan. Ini dilengkapi gimana nasib negaranya biar kemudian nyampe ke manusianya gitu. Dari ini ke Negara. Negara ke warganya.
Inggra : oh iya.
Cindhil : ini kamu bisa ngasih data-data, berapa penjualan motor.
Ferial : ada di catatan kaki.
Cindhil : terlalu jauh, padahal ini lebih menarik untuk meyakinkan. Catatan kaki itu sebenarnya nggak terlalu penting. Dia cuma penting ngasih tanda bahwa ini gimana. Ini dikutip dari sini. Kalau data-data, ini penting untuk dimasukkan di sini karena dia akan memperkuat kalimatmu, paragrafmu.
Ipang : tapi, kalau menurutku, kalau untuk yang ketiga ini, memang pasnya di sini ya (catatan kaki, not) soalnya dia kan kendaraan itu berkurang bukan karena global warming, tapi karena krisis ekonomi yang secara kebetulan itu sejalan, tapi bukan sebab-akibat atas yang di ini.
Cindhil : oh ya, oke.
Ferial : atau tetap dikasih catatan kaki, tapi dimasukin yang penjualan motor di tahun 2009 menurun drastic. Jadi, dari penjualan sampai 50% itu tetap dimasukin ke atas, tapi tetap jadi ada catatan kakinya tentang di mana nemuinnya gitu lho.
Cindhil : yang catatan kaki kan sebenarnya ini, tempatnya ini. Kalau ininya, kan bisa masuk kalimat. Kan kemudian kamu bisa ngasih perbandingan. Tahun sebelumnya berapa, gitu kan, dalam satu tahun penjualan motor. Oke. Perubahan benar ya, bukan jadi pengubahan. Perubahan karena per-.
Kelas melanjutkan membaca dan membahas tulisan Inggra berikutnya.
Cindhil : “… masih dipenuhi pepohonan.” Ini kan pengennya ngomongin banyak pohon ya?
Joko : pohon-pohon.
Cindhil : pohon-pohon, tapi bisa juga pakai ini. Cuma ini kan dobel. Pepohon itu sudah jamak. Pohonan itu juga jamak. Jadi, berlebihan. “dipenuhi pohonan” itu… pohonan aja sudah jamak atau “dipenuhi pepohon.” Itu bisa juga. Kan sering kita dengar dedaunan. Sebenarnya, kita nyebutnya daunan aja sudah benar. Kalau dedaunan, malah berlebihan. Dedaun itu sudah jamak. Daunan juga.
Joko : kalau daun-daun, gimana?
Cindhil : Lebih aman lagi daun-daun atau pohon-pohon.
Ferial : tetapi, kenapa ada imbuhan pe-an?
Cindhil : ini bukan soal imbuhan. Makanya aku bilang dobel itu karena yang bener kan nggak ada pepohonan.
Joko : bukan kata kerja ya.
Ferial : tapi kalau perumah, perumahan juga salah?
Cindhil : perumahan benar.
Ferial : perumahan benar ya? Nggak pa-pa. Bingung deh aku bedainnya.
Cindhil : ini bukan soal imbuhan.
Ipang : pe- ini pengulangan dari po-. Iya karena daun, dedaun.
Cindhil : iya. Itu untuk menunjukkan jamak gitu lho; daun, pohon. Banyak kan.
Rifki S : kalau gigi, itu gerigi ya?
Gloria : geligi.
Rifki S : mungkin hampir sama.
Cindhil : hampir sama, tapi kalau jemari itu kan sisipan m-nya. Ya, ini yang dipake salah satu saja; pohonan, atau pepohon, atau pohon-pohon.
Kelas melanjutkan mengulas tulisan Inggra.
Ferial : ini prediksi Marx yang mana lagi?
Inggra : ya, itu kapitalisme itu dijelaskan oleh Marx. Kan dia meramalkan bahwa kapitalisme itu akan mati, tapi kan malah justru berkembang.
Ferial : nggak, nggak. Tetap.
Inggra : harus dijelaskan ya?
Cindhil : hmm mh. “Prediksi Marx bahwa kapitalisme mati itu…” ini ada lompatan ke Marx-nya. Coba dijelaskan ke sana. “Ini yang berada di sana adalah showroom“?
Ferial : Showroom emang sudah jadi Indonesia? Sudah diserap apa?
Cindhil : belum.
Inggra : gerai.
Cindhil : Gerai motor.
Cindhil membaca kalimat berikutnya
Cindhil “menyejukan” ini k-nya 2.
Joko : itu juga “windows berformat dos” itu 2 hal yang berbeda.
Inggra : iya.
Joko : Soalnya windows dengan dos berbeda.
Ferial : mungkin, di jaman komputer masih berformat dos.
Kelas mengulas tulisan Inggra selanjutnya.
Cindhil : tanda kutip ya (kata “kutu-kutu”, not). Yang, nggak?
Inggra : yang.
Cindhil menambahi kata “yang” setelah kata “kutu-kutu”. Lalu, melanjutkan mengulas tulisan Inggra berikutnya.
Cindhil : perlahan ini ada 2 juga. Ada perlahan. Ada pelahan. Ini bukan awalan juga. Memang kata dasarnya itu perlahan atau pelahan.
Cindhil membaca kalimat berikutnya.
Ipang : kalau slogan, harusnya huruf besar? Nggak?
Cindhil : ini ya.
Cindhil membaca berikutnya.
Cindhil : sambungannya kurang enak ya, “… gerakan Greenpeace ini muncul…” bisa dibalik, “Gerakan Greenpeace muncul…” jadi, tahunnya yang dibalik biar nyambung dengan Greenpeace yang kamu munculkan di akhir paragraf itu.
Ferial : Mas Cindhil cepetan. Waktunya sudah habis.
Cindhil : iya. Ini udah akhir, “Aku basah di bulan Juni.” Kita baru dapat 2 tulisan.
Ferial : tanggal 11 dari sore jam setengah 4 sampai setengah 9 ada preview. Preview itu kayak presentasi sebelum di final. Jadi, akan ada 3 orang yang dipilih dari masing-masing kelas untuk membicarakan tulisannya pada tanggal 11 itu.
Joko : tulisan mana?
Ferial : yang ini. Makanya, aku menunggu editan kalian selesai untuk dikumpulkan. Makanya, tadi dia (Cinhil, not) nggak boleh diedit. Jadi, dia (Inggra, not) nggak ngerjain entar. Aku kan dah dikasih file sofcopy-nya dari yang belum diedit. Nanti, kirimin lagi ke aku yang sudah kalian edit. Jadi, judulnya di atasnya itu ditambahin. Misalnya: “Pesan dari Planetnya Adam edit”. Tambahin kata edit. Jadi, bira ketahuan, ke-gap gitu perkembangannya.
Inggra : judulnya aja?
Ferial : he eh.
Rifki S : tanggal berapa itu terakhir ngumpulinnya?
Ferial : kita terakhir Selasa ya?
Cindhil : Selasa minggu depan.
Ferial : tadinya kan Jumat, jadi Selasa minggu depan. Jadi, itu harus dikumpulin, kalau bisa sih, hari Sabtu atau Minggu udah dikumpulin. Kan tinggal ngedit-ngedit.
Cindhil : ya mungkin yang belum terbahas kan bisa belajar dari beberapa kesalahan yang sudah ada.
Ferial : belajar dari temannya. Itu tuh sama kayak itu lho yang tadi kayak Marx-mu itu. Itu kan yang kemarin Wawa bilang yang Rifki, mungkin bisa dianggap si pembacanya sudah tahu Marx. Kamu kan menganggap pembacanya sudah tahu. Nah, yang kayak gitu-gitu lho. Itu bisa jadi flashback, apa… bisa untuk kamu juga gitu lho. Kalau mungkin dijelasin.
Ipang : nggak harus, tapi tergantung pemilihanmu kira-kira pembaca itu ngerti nggak.
Ferial : jadi, kayaknya Kamis setengah 4. Terus, sesi tiga itu akan dimulai tanggal 15, hari Senin ya. Pasti akan gua email, gua sms. Takutnya kan kamu punya jadwal. Nah, dari sekarang kamu sudah ngatur jadwal karena sesi 3 akan setiap Senin dan Jumat.
Ipang : sesi 3 itu mulai tanggal?
Ferial : 15.
Cindhil : dan kelasnya menyatu ya?
Ferial : kelasnya menyatu.
Cindhil : A dan B. Tulisannya juga di cc ke aku ya.
Kelas selesai jam 22.13 WIB


maaf, mungkin sebaiknya saya ikut kelas ini, daripada yang mana..hehe! Tapi seperti apakah jadwalnya kemudian? maafkan kalu ternyata sudah disebutkan di bagian lain dr sini dan saya tidak ngecek, hehehe!