Notulensi 25 Mei 2009
Kelas B, Pertemuan VIII
Mentor: Kris Budiman
Kelas mulai jam 19.20wib
Hadir : Gugun, Widya, Monika, Aji
Kris : Aji jadi moderator. Yoh, silahkan! Saya akan mundur ke belakang.
Ferial : mau siapa duluan nih.
Gugun : Widya. Dibaca!
Widya : dibaca ya?
Kris : terserah. Hari ini saya nggak ikut-ikutan. Dikelola sendiri kelasnya.
Widya : (membacakan tulisannya pada kelas) kegelisahan social yang memicu kritik terhadap Pemerintah dalam wadah seni rupa.
Kris : tolong, Ji, dimoderatorin. Kamu yang ngatur. Waktunya berapa menit untuk tiap orang. Ini waktunya dikelola jadi cukup. Semuanya dapat jatah sama.
Aji : selamat malam, teman-teman!
Peserta : selamat malam!
Aji : hari ini kita presentasi tulisan. Yang pertama tulisan Widya “Kegelisahan Sosial yang Memicu Kritik terhadap Pemerintah dalam Wadah Seni Rupa.” Alokasi waktu 30 menit untuk setiap penulis. Terus, 15 menit pertama untuk presentasi. Eh, cukup ya? Apa 10 menit aja untuk presentasikan tulisannya. Terus, 20 menit berikutnya, kita bahas bersama. Oke. Silahkan, Widya, dimulai.
Widya membacakan tulisannya pada kelas yang berjudul” Kegelisahan Sosial yang Memicu Kritik terhadap Pemerintah dalam Wadah Seni Rupa” hingga selesai.
Aji : ini dibahas satu-persatu kayak kemarin, Mas? (kepada Kris Budiman)
Kris : silahkan saling menanggapi. Pernah datang seminar, nggak, sih? Ini seminar kecil. Silahkan dikelola. Moderatornya jangan bergantung pada saya.
Aji : oke, dibahas. Secara keseluruhan ada yang mau ditanggapi dari teman-teman.
Monika : saya melihat di paragraph kelima, kalimat ketiga ada pernyataan, “Karena apa yang terlihat itu belum tentu seperti yang tampak.” Itu maksudnya apa ya, Mbak?
Widya : ya, itu…
Aji : tanggapan yang lain dulu aja. Mas Gugun? Atau, sudah ada jawaban?
Widya : realitas yang ada itu belum tentu seperti yang ada.
Aji : sudah menjawab, Mbak Monik?
Monika : masih bingung. Kan, di sini berarti apa yang dilihat itu tidak berarti seperti yang ditampakkan?
Widya : iya.
Monika : bisa tolong dijelasin lagi? Soalnya kan, bukankah sesuatu yang terlihat itu adalah sesuatu yang ditampakan. Jadi, kita melihat sesuatu yang ditampakkan. Kalau yang di sini, aku belum ngerti.
Aji : gimana? Ya, dikasih contoh kongkret aja, Mbak. Gimana? Aku kembalikan ke teman-teman. Gimana kalau emang Widya nggak bisa jawab, apa mulai ke pertanyaan selanjutnya atau mau dibahas satu-persatu per-paragraf kayak kemarin? Gimana mau dibahas satu-persatu?
Gugun : ya, dibahas per-paragraf aja.
Aji : aku perlu maju ke depan?
Gugun : di sini aja nggak pa-pa.
Aji : ya, dari paragraph pertama disepakati. Dari Mbak Widya, gagasan utamanya yang mana?
Widya : kebutuhan dasar hidup itu.
Aji : “… terpenuhinya kebutuhan dasar tersebut akan menimbulkan perasaan was-was, gelisah, dan sebagainya”? Iya?
Widya : iya.
Aji : ada tanggapan? Mungkin, yang lain menangkap ada hal yang berbeda.
Widya : cocok, nggak, sih untuk permulaan ini… untuk judulnya? Gitu, nggak, teman-teman?
Aji : yo wes. Dari paragraph pertama ada masalah?
Widya : cocok, nggak, untuk dijadikan kalimat pembuka?
Monika : kalau aku tarik kesimpulannya, gini, bukan, Mbak. Berarti, ketika kebutuhan dasar hidup manusia itu tidak terpenuhi, maka eksistensinya akan menjadi terancam. Gitu?
Widya : iya.
Monika : yang menyebabkan eksistensi manusia terancam itu Cuma ketika kebutuhan dasar hidupnya tidak terpenuhi atau ada hal lain yang menyebabkan eksistensi manusia itu bisa terancam?
Widya : ya, ada hal lain, tapi ini kan kebutuhan yang benar-benar dasar kan?! Kalau nggak dipenuhi, kan fatal. Gitu kan.
Aji : ya, kayak yang kemarin-kemarin kayaknya kita nggak membahas terlalu jauh tentang esensi, tentang detail aja.
Kris : lho, nggak pa-pa. Silahkan! Silahkan!
Aji : nggak pa-pa?
Kris : lho, nggak pa-pa, wong udah saya serahkan ke kamu kok. Terserah kamu. Mau diubeg-ubeg detailnya juga nggak pa-pa. Gagasannya juga nggak pa-pa. Kalau mau logikanya, ya dihancurkan sekalian.
Aji : ada masalah lain dari paragraph pertama? Sudah cukup menggambarkan maksud atau apa?
Gugun : kalau di paragraph pertama, menerangkan apa, Mbak? Kalau dihubungkan dengan judul, topic?
Widya : pembuka. Kalau itu tidak dipenuhi, kan jadi terancam kayak gitu. Dan itu menimbulkan…
Gugun : terancamnya di sini gara-gara pemerintah berarti ya? Atau, tidak tercukupnya gara-gara pemerintah yang nanti dikritik dalam seni rupa ini? Atau, gara-gara masyarakatnya yang nyantai? Seperti itukah?
Widya : masyarakat yang nyantai, maksudnya?
Gugun : ya, di sini kan kritik terhadap pemerintah, nantinya. Nah, ini kan gara-gara, mungkin, kebutuhan mereka tak terpenuhi gara-gara pemerintah atau ada sesuatu yang lain yang…?
Widya : ya, bisa juga. Karena kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada rakyat.
Gugun : berarti, di sini gara-gara pemerintah nih?
Widya : hem, mmh.
Aji : kok isa pemerintah tha?
Gugun : soale di sini kan sebab-akibat. Mereka kan terpenuhinya kebutuhan dasar, an nggak terpenuhi. Kalau dibandingkan dengan paragraph-paragraf awal, mengkritiknya gara-gara pemerintah. Awal ini kondisi perasaan gelisahnya diawali dari kondisi lain yang nggak diingin dari pemerintah.
Widya : pemerintah bisa menetapkan tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut.
Aji : aku nangkap tentang eksistensi manusia berupa memenuhi kebutuhan atau saat sudah terpenuhi, dia akan menjai eksis.
Monika : yang dimaksud eksistensi Mbak Widya di sini apa, Mbak?
Widya : tidak terpenuhinya itu.
Aji : justru tidak terpunihinya itu.
Gugun : yang mengancam apa?
Aji : justru yang tidak terpenuhinya mengancam?
Widya : iya.
Aji : ancamannya tidak terpenuhi, gelisahan-gelisahan itu. Eksistensi manusia selama hidup di dunia atau apa?
Gugun : kondisi terancamnya gimana? Terancam karena kebutuhannya tidak terpenuhi.
Monika : yang aku lihat dari paragraph ini kebutuhan fisik: sandang, papan, pangan akan mempengaruhi kodisi fisik manusia, kayak kebutuhan psikologi. Kalau boleh ditarik kesimpulan, kebutuhan manusia itu jika tidak terpenuhi, akan berpengaruh pada kondisi psikologi.
Aji : ada hal lain? Struktur sosialnya ada.
Kris : coba didiskusikan, nggak usah kaku gitu. Nggak usah ngomong kalimat, paragraph. Kalau kontennya amburadul, juga bisa. Biar tulisannya bermutu.
Aji : teman-teman di sini belum bisa menerima gagasan Mbak Wid.
Widya : secara keseluruhan, bukan?
Aji : mungkin, beberapa kata itu menjadi rancu. Awalnya, kebutuhan pokok. Ancamannya terkait masalah keamanan dan kenyamanan. Yang menarik justru ada kata-kata eksistensi manusia yang justru terancam. Eksistensinya dimana?
Widya : tidak terpenuhi kebutuhan itu.
Aji : menurutku, eksistensi itu kondisi pemetaan di dunia. Gimana, Pak Gun? Gimana? Masih ada paragraph-paragraf berikutnya yang mau dibahas untuk mencari benang merahnya. Gagasan paragraph berikutnya apa, Mbak?
Widya : kondisi psikis akibat tekanan eksternal.
Gugun : ada lagi eksistensi. Di sini hidup atau bermasyarakat?
Aji : hidup secara individu atau bermasyarakat? Ukuran eksistensi.
Widya : secara individu kemudian meluas ke masyarakat.
Gugun : orang itu eksis di tengah-tengah. Sebenarnya, yang terus apa ini… eksistensi di tengah masyarakat yang disetujui dan tidak. Terus, kegelisahannya seperti apa?
Aji : aku nangkapnya di paragraph pertama eksistensi untuk hidup social. Di paragraph kedua eksistensi hidup social. Dan ancaman-ancamannya pemerintah.
Gugun : intinya sama paragraph 1 dan 2. Kegelisahan social dari sandang pangan terus ke pemerintah. Yang paragraph 2 juga pemerintah.
Aji : paragraf2 juga disebut pemerintah.
Widya : tiak terpenuhinya kebutuhan dasar itu.
Gugun : yang ingin disampaikan diterangin supaya tahu.
Kris : dah berapa menit? Moderator perhatikan waktu. Apalagi diskusinya membosankan.
Aji : diterangin kegelisahan, konflik, dan kegelisahan social.
Wiya : itu bisa menimbulkan kegelisahan social dan masalah hidup. Pemerintah bisa menjelaskan kebutuhan dasar itu tidak terpenuhi. Seniman menangkap kegelisahan social itu dalam karya-karya mereka.
Gugun : kegelisahan social seniman yang positif. Yang paragraph 3 negatif untuk perang. Kalau yang positif, kegelisahan social untukberkarya.
Widya : nggak, dia mewakili kegelisahan social untuk berkarya.
Ferial : berarti senimannya tidak gelisah? Itu pertanyaan Gugun. Tadi katamu tidak.
Widya : kalau seniman baik sih…
Gugun : paragraph 4 ada seniman mengalami kegelisahan social. Terus seniman berkomunikasi. Paragraph 3, awalnya seniman gelisah dan mengambil dalam karya-karyanya.
Widya : kan seniman mengambil dalam proses berkaryanya.
Monika : berarti Mbak Wid memposisikan seniman sebagai bagian masyarakat atau di luar masyarakatnya.
Widya : seniman melihat kegelisahan masyarakatnya. Yang baik kan seniman melihat kegelisahan masyarakatnya.
Aji : sorry, aku harus menghintikan karena waktu habis. Aku mencoba menarik kesimpulan. Kita masih bertanya-tanya gagasan Widya sendir. Kalau aku sendiri menangkapnya, kegelisahan social terhadap pemerintah yang ditangkap seniman dalam karyanya. mungkin, kalau menyentuh masalah eksistensi, tekanan, ya begitulah. Ya, presenter berikutnya. Silahkan, Mbak Monika!
Monika : selamat malam. Pertama, berangkat pengalaman kenapa menulis tentang parfum. Aku tulis di sini judul “Parum (yang) Menjai Pria dan Wanita”. Siapa sih yang nggak kenal parfum. Dari pengalaman SMP, teman pernah membawa parfum. Waktu itu mencoba menyemprotkan parfum di pergelangan tangan. Semula, wanginya menusuk hidup. Kemudian, menjadi segar. Di situ aku mengenal parfum. Setelah mencari-cari, menemukan beberapa pengalaman, parfum di Indonesia dibedakan berdasarkan kadar ethanol atau alkoholnya. Semakin besar, ia kan semakin nyegrak baunya. Kalau sedikit, akan berbau parfum. Parfum cenderung manis dan feminine. Merk dagang parfum di Indonesia tertentu. Biasanya feminine, seperti Master, Direct. Parfum di Perancis menjadi beberapa kategori. Adda Master, Toillet yang lebih segar. Kategori parfum ini memiliki banyak kategori. Aku menemukan parfum impor dalam beberapa kategori. Yang kulihat dari buku Seno Gumira Ajidarma dia membawa parfum Calvin Klein. Kemudian, parfum yang dibagi menjadi female dan male. Salah satunya, parfum Clinic Happy Women. Seroang teman menceritakannya bahwa parfum ini manis dan agak menyegat. Parfum yang sebelumnya pernah ia gunakan bukan parfum manis. Kemudian beberapa teman yang saya temui parfum dengan logo male. Mereka memilih itu karena suka dan baunya seperti cendana. Aku menemani teman ke took refill parfum untuk membeli merk I Love Mocchino. Dia suda beberapa kali mengisi ulang parfum di situ. Biasanya merka bisa punya kartu untuk bisa mengisi ulang secara gratis jika mengisi ulang lebih dari Rp 20.000,00 dengan stempel. Setelah beberapa stempel dikumpulkan, dia mendapat refill 200 mm secara gratis. Dari pengalaman-pengalaman orang, menurut saya, jelas selera parfum itu berbeda berdasarkan pengguna parfum. Jika segmentasi Male dan Female ditentukan untuk segmentasi parfum terbatas, ia akan membentuk selera perempuan cantik. Menurut saya, itu sia-sia karena selera parfum kembali pada penggunanya.
Aji : ada yang mau menanggapi? Dari isinya sudah mau diterima.
Gugun : aku terjebak di nama-nama merknya.
Monika : mengganggu ya.
Gugun : kemarin tulisan Man dan women. Terus, mengganggu atau tidak.
Monika : yang kemarin coba aku bedah, sebenarnya, penting nggak parfum diberi ketererangan untuk laki-laki, women, girl. Apakah parfum dengan keterangan Man selalu digunakan laki-laki? Parfum women hanya digunakan wanita? Yang aku temukan begini.
Widya : apa beda parfum Indonesia dengan luar negeri?
Monika : apanya?
Widya : apa pun.
Monika : merk berbeda.
Widya : kadarnya.
Gugun : ethanol.
Monika : ethanol itu lebih punya efek pada aromanya yang nyegrak.
Widya : berarti parfum Indonesia dibedakan 2 jenis.
Monika : parfum Indonesia dibedakn menjadi parfum dan cologne. Itu berdasarkan campuran ethanol. Ada juga yang tidak dicampuran ethanol. Ada parfum, misalnya Putri Rose, campurannya bunga mawar. Parfum Jasmine, mengandung melati. Di Indonesia tidak ada kadar ethanol.
Gugun : aku terjebak di merk-merknya walaupun itu Cuma ngomong, Calvin dikasih tulisan Male. Ketika dikasih merk itu jadi terbantu untuk memahami. Di sini, fungsi parfum nggak ada. Di sini kamu ngomong segmentasi yang tidak lepas dari merek.
Monika : setiap mereka berkaitan dengan segementasi. Segmentasi ini untuk membatasi. Missal Male, segmentasinya laki-laki. Women untuk wanita.
Gugun : terus, membuat segmentasi wanita cantik itu?
Monika : ya, segmentasi wanita cantik itu. Kalau di sini merk-nya laki-laki. Segmentasi wanita cantik berarti perempuan tidak cantik nggak boleh. Atau terganggu dengan kata segmentasi?
Gugun : iya. Kalau kamu ngomong segementasi remaja, umur segini. Di sini women dan man, untuk seseorang. Aku nanya gitu, ada sesuatu nggak? Ketika aku menggunakan parfum women, aku menjadi wanita atau putrid.
Monika : justru itu yang aku pertanyakan.
Ferial : di sini nggak ada.
Monika : yang ingin aku sampaikan nggak ada di sini.
Gugun : aku hanya melihat merk-merk.
Widya : berarti di sini sia-sia. Terus, apa efeknya.
Monika : dari sisi marketing aku nggak tahu. Yang mau kulihat tanggapan dari pengguna.
Widya : ada wawancara atau gimana.
Monika : segmentasi yang bikin merk dagangnya. Yang aku bikin tidak berangkat dari merk dagang, pemilik modal parfum. Aku mencoba melihat bagaimana si pengguna menanggapi keterangan itu.
Aji : aku melihatnya, merk-merk itu membentu wanita cantik di seluruh dunia. Berarti juga membentuk pria tampan di seluruh dunia.
Monika : nangkapnya teman-teman apa dari kalimat yang aku kemukakan di sini. Membaca itu responnya apa?
Gugun : bagian yang mana.
Monika : paragraph terakhir kalimat ketiga.
Aji : tujuan marketing dari merk ternteu, ketika memakai merk tertentu. Ada perempuan yang memakai parum untuk segmen cowok. Tapi, merk-merk itu membentuk mindset pada konsumen. Karena ada wanita cantik, dia memakai merk tertentu.
Monika : analogiku kejauhan ya. Bisa kugambarkan di papan?
Peserta : boleh.
Monika maju ke papan dan menuliskan alur logika berpikir tulisannya.
Monika : ada selera dibagi menjadi segmentasi. Segmentasi itu ada cantik dan tampan. Selera itu ada wanita dan pria.
Gugun : selera itu membentuk segmentasi dalam periklanan.
Monika : Hubungannya sama wanita muda tadi apa?
Gugun : segmentasi Putir menurutmu apa?
Monika : segmentasi Putir untuk wanita 18-23.
Gugun : terus, aktif. Apalagi?
Aji : justru selera tersegmentasi sama pasar, dari dulu, seperti ayam sama telor.
Gugun : selera membentuk segmentasi.
Monika : kalau umur wanita diluar sekian, gimana? Menurutku, antara selera dan segmentasi itu saling berinteralisasi.
Gugun : missal, Mbak Wawa yang sudah tua suka dengan Putri.
Monika : berarti, segementasi itu berguna nggak dari sisi pengguna.
Aji : kalau aku nangkapnya, selera itu tidak memperngaruhi segmentasi yang tidak berpengaruh pada pemilihan parfum dengan cap Man atau Women. Tapi, konsumen tetap dipengaruhi sama yang dihadapkan produsen.
Ferial : kalau saya melihat, tulisannya tergesa-gesa. Ada penjelasan yang tidak diselaikan. Kayak, “Parum Clinic Happy Women…” Nah, Clinic Happy Man-nya terhenti. Sebenarnya, bisa dijelaskan lagi fungsinya ke yang mau dia cari. Nggak tergesa-gesa untuk mengemukakan sebuah kisah pengguna.
Aji : mungkin, tulisanmu berbeda jika tulisanmu dilihat dari pilihat pengguna kategorinya. Meskipun bisa ngeles orang periklanannya. Kan, belum tentu juga saat dihadapkan selera konsumen itu seleraku atau tidak.
Ferial : terus larinya ke pemilik modal karena tulisannya banyak tentang ekonomi. Masih ada waktu?
Aji : sudah.
Ferial : kita break 10 menit.
Break jam 20.37 – 21.00 WIB
Aji : dimulai lagi. Monggo Mas Gugun!
Gugun : pengen menulis scenario yang menuliskannya dengan kesendirian. Sebuah tayangan itu ketika didukung cerita adalah tayang itu sendiri. Saya mengambil Sony Set. Saya menulis awal periode… Paragraf berikutnya menulis penulisan scenario berdasarkan riset untuk pendataan dan penulisan cerita juga lokasi, tingkat pencahayaan. Terus, menulis pentingnya rapat produksi sebelum produksi program. Yang biasanya, di sini tidak saya tulis, segitiga prosuksi: produksi, paska produksi. Scenario berdasarkan keterbatasan visual. Dalam penulisannya, scenario harus simple hingga bisa ditangkap penontonya. Sony memakai riset kebutuhan cerita dan penonton. Paragraph berikutnya, kesenderian penulian Toni Set tidak begitu banyak. Kesendirian di sini untuk konsentrasi penulisan. Tapi, dia juga mengatakan kebutuhan tim. Lalu, TV sebagai penyuguh cerita harus didukung timnya. Sekarang jarang sekali tayang TV yang bagus dan ditayangkan TV. Sumber saya penulisan scenario Toni Set. Begitu saja. terima kasih.
Aji : ada yang mau berpendapan? Macam-macam resensi?
Farah : terlalu banyak, Gun. Bingung mau yang mana?
Gugun : satu-satu. Saran aja.
Widya : dikembangkan menjadi treatment itu gimana?
Gugun : treatmen penjabaran scenario menjai adegan.
Aji : mungkin ini untuk pembaca yang udah tahu proses, bukan pembaca yang belum tahu scenario TV.
Farah : yang hari ini siapa aja?
Ferial : Monika, Gugun, Widya.
Kris : Aji nanti. Kan dilotre setiap pertemuan.
Gugun : ayo dong. Dari pilihan kata-kata, kalimat. Jangan dari esensinya dulu.
Monika : kamu setuju dengan penulisan scenario yang bagaimana? Kamu setuju dengan Toni Set. Menurutmu sendiri, apakah setuju dengan penulisan scenario yang seperti ini.
Gugun : aku tadi bilang, kesusksesan scenario juga didukung tim produksi yang baik.
Farah : itu nggak baru. Sesuatu harus didukung dengan ini yang baik. Itu sesuatu yang…
Kris : public opinion. Klise.
Farah : yang menarik, opinimu yang terakhir yang jarang ditemukan. Menurutku, ini bisa jadi perdebatan orang yang membaca tulisanmu. Jika ditempatkan sebagai topic atau ditempatkan di awal. “Sekarang ini jarang ada tayangan yang menarik”. Kenapa? Kamu menjabarkan penulisan scenario ini secara umum yang jadi nggak menarik. Pengalaman-pengalaman Toni Set, kesendirian, oke. Misalkan berangkat dari opini kamu jarang ada tayangan yang baik. Kamu berangkat dari Toni Set. Missal, saya ditekan produksi sehingga menjadi itu. Itu tidak ada. Yang kulihat di artikel ini seperti kiat-kiat membuat itu. Nggak pa-pa juga kalau membuat kiat-kiat pembuatan scenario berdasarkan narasumber Toni Set. Tapi, kamu memberikan opini ini di belakang, “Sayangnya jarang sekali…” Ini menjadi kabur. Sayangnya itu. Aku nggak pa-pa kamu menuliskan penulisan scenario berdasarkan toni Set. Kamu punya opini di bagian terakhir. Kamu mengkontradiktifkan sendiri info-info yang telah diberikan narasumber.
Kris : tulisan itu untuk apa kalau dikaitkan dengan opinimu yang menarik itu.
Farah : atau, ya memang kalau buat scenario yang bagus ya harus bagus. Maksudku, yang bagus itu seperti apa. kenyataan yang terjadi itu jelek sekali. Ini lho jabarannya. Produsen itu seperti ini. Makan Cuma nasi bungkus. Kamera murahan. Itu dijabar. Itu yang aku tangkap opinimu ini di sini. Itu yang ingin kamu sampaikan. Ini yang kamu sampaikan instruksional itu. Itu nggak pa-pa.
Ferial : kalau tulisan ini jadi nggak ada bedanya dengan buku-buku petunjuk tentan itu.
Farah : aku nggak masalah. Sebuah tulisan pun untuk menunjukkan proses produksi, nggak pa-pa. Kalau instruksional kan untuk orang lain yang belum sadar.
Kris : nggak pa-pa bikin tulisan instruksional, tapi yang bagus.
Gugun : kalau yang Mbak Farah bilang, kalau tulisan instruksional. Kalau gagasan gimana?
Farah : kalau kamu nulis kiat-kiat produksi. Aku di sini Cuma, nggak mau nyalahi, benerin kamu. Itu kan tulisan kiat-kiat, tapi harus bagus. Itu harus kritis. Aku senangnya, kamu mempertahankan pendapatmu. Kamu bikin tulisan kiat-kiat yang bisa di-share di facebook. Kalau di Aksara, kamu bikin tulisan yang kritis terhadap program televise yang sudah ada, termasuk situasi dibelakan produksi. Misalnya penulisan scenario. Yang aku sebut, di highlight Toni Set-nya itu sehingga bisa nulis program TV sekarang jelek-jelek. Dengar aja penulis skenarionya ngomong apa.
Gugun : banyak bohong.
Ferial : itu menarik.
Farah : kamu bisa memasukkan nama samaran Toni Set.
Ferial : kalau melihat tulisannya yang dulu, itu pendapatnya muncul banget. Kalau yang ini, muncul di terakhir. Jangan takut memasukkan pendapatanmu sendiri.
Gugun : awalnya, pengen nulis kesendirian penulisan scenario. Terus dibahas ini, jadi gimana. Kalau yang terakhir itu maksa banget. Aku nggak tahu. Masalah kepura-puraan penulis itu gimana.
Farah : yang paling interest itu apa. kamau membahas masalah kesenderian penulisan scenario itu apa atau kritisi tayang program TV sekarang.
Kris : melenceng.
Ferial : yang di sini, kesendirian penulisan scenario yang tidak mungkin karena adanya kerja tim produksi. Ini jadi melenceng. Kan bisa menulis scenario yang sendiri. Terus, kemudian adanya keterlibatan tim produksi.
Aji : aku memandangnya sebuat referensi. Teman-teman yang lain, gimana? Apakah ini jadi referensi pembuatan scenario produksi? Yang lain lihatnya gimana?
Monika : aku ngebacanya, prosensi buku dan pendapatmu di sini Gugun menceritkan Soni Set yang sedang bercerita. Sekadar baca buku. Terus, dari buku itu nulis. Pendapatnya, jadi ada menurut dia cara-cara seperti ini itu memang apakah ada alternative lain untuk membuat scenario. Aku nggak melihat dialog dia ketika membaca Soni Set. Seperti nggak ada dialog antara Gugun dengan apa yang disampaikan Soni Set.
Aji : mungkin, Gugun…
Farah : aku tetap menghargai proses penulisan it. Kita tetap perlu tahu prosesnya. Di sini ada usaha untuk menulis proses penulisan scenario walapun hanya 2 paragraf. Skenario yang baik seperti ini, ini. Kemudian ditabrakkan dengan Soni Set yang menulis dengan proses kesendirian. Yang kamu kontraskan dengan kebutuhan riset dan butuh data. Itu kamu kontraskan dengan Soni Set. Nah, mau nggak si narasumber dijelek-jelekkan seperti itu. Makanya, aku mengusulkan nama samarannya. Dia menjabarkan menulis scenario itu butuh riset dan pengolahan data. Dikontraskan dengan Soni set yang autis itu. Di sini sudah ada. Tapi, kurang greget.
Aji : Gugun ingin menyampaikan sesutatu, tapi menempatkan di posisi yang aman.
Farah : iya. Kayak nonton film, ditanya opiniku tentang film itu. Aku bilang apa yang bagus dan apa yang kurang. Ketika ditanyain apa, aku melarikan diri. Cari selamat. Bisa aja nama samara, sebut saja namanya Joko. Di bagian ini bisa diringkas. Nggak pa-pa ada penjabaran penulisan scenario yang baik itu seperti ini untuk pembaca. Habis itu yang jelek-jeleknya. Kesendirian Soni Set itu autis. Dia tinggal browsing di YouTube, ngayal-ngayal. Jadi, penulisan scenario.
Kris : oke. Saya ambil waktunya karena Aji nggak berani menghentikan Farah dan Al. Saya mau ngomong sebentar. Untuk Gugun, udah banyak dan beruntung mendapat masukan. Saya mau member 2 masukan. Pertama, dia sudan bikin kerangka karangan, tapi melencengnya. Melencengnya sampai ke tingkat topic yang berbahaya. Ternyata, yang ngomong kesendirian Toni Set menulis naskah melenceng. Dan kesimpulannya melenceng. Yang paling parah, kalau buat kalimat dibaca lagi. Masak ada 2 kalimat dijadikan 1. Tiga kalimat dijadikan satu. Ada dalam tulisan ini dari paragraph satu. Coba kalau menulis sambil dibaca, diartikulasikan. Pake feeling aja, nggak usah pake teori. Untuk Widya, problem-nya hamper sama dengan Gugun, tapi beda. Kalau Gugun kalimatnya mbulet, berpanjang-panjang, ditumpuk menunjukkan logikanya yang amburadul. Jadi, jangan main-main dengan bahasa. Dalam Widya, saya akan mencapaikan 3 hal aja. Pertama, setiap kalimat ada tanda baca yang salah. Lalu, yang dimaksud tanda baca termasuk tulisan huruf besar dan huruf kecil. Ini kemampuan analitis untuk membedakan hal-hal. Hal-hal kecil nggak bisa, apalagi hal-hal besar. Lalu, tentang kegelisahan social. Mendefiniskan ini sendiri atau bantuan orang lain. Kalau mengutip, ada etikanya bagaimana mengutip. Kalau sendiri, harus hati-hati. Kegelisahan social kok kondisi psikologis. Itu bertentangan. Poin terakhir untuk Widya, pada paragraph penutupnya. Setelah saya selidiki, ternyata di sini gagasan utamanya ada 3 yang dimuat pertama susul-menyusul. Judulnya, saya kira tidak menarik. Coba kreatif dikit member judul. Lalu, untuk Monika, judul “Parfum (yang) Menjadi Pria dan Wanita” ini penanda khusus. Dalam tanda kurung itu kan optional. Kalau dihilangkan, jadi aneh.
Ferial : atau “Parfum Pria dan Wanita”.
Kris : nah, yang dikurung itu yang menjadi. Lalu, masalah tanda baca itu sudah banyak dibahas tadi. Lalu, masalah mengutip pendapat orang tadi, Seno Gumira Ajidarma, yang ditulis itu nama belakangnya. Di Indonesia pun begitu. Ada yang sudah disampaikan Ferial itu, saya ingin menyampaikan lagi. Ada di paragraph kedua dari bawah, “Meskipun saya ….” mau ngapain kalimat ini. Lalu kalimat kedua, paragraph terakhir, “Bila selera dipertemukan… seperti membuat segmentasi wanita cantik di seluruh dunia.” Ini nggak nyambung. Ada hal yang nggak nyambung lagi. Di kalimat kedua, paragraph ke-2, “Merk dagang parfum local…” Ini nggak nyambung. Gitu. Banyak coretan saya. Kalau mau diambil, silahkan. Wawa mau nambahin? Kelas ditutup.
Farah : aku mau mengucapkan terima kasih bagi yang bertahan sampai babak ini. Kita butuh masukan. Aku mengamati kelas aksara yang berjalan di dua kelas. Yang kita lakukan ini lebih banyak manfaatnya. Kalau untuk kelas ini untuk pelatihan intens penulisan. Jadi, tidak hanya mengandalkan dari gurunya aja. Misalnya: Mas Kris yang mengajarkan detail banget. Dibutuhkan juga proaktif dari masing-masing peserta. Ini kurikulum yang sesuai dengan yang kita pengen. Kita menyebutnya bukan murid, tapi peserta. Butuh masukan. Pengalaman training penulisan itu yang kita pengen total. Hasil ini akan diterbitkan. Kalau dulu-dulu, ada pertanyaan dari pesertanya. Ada yang jadi semangat, ada juga yang jiper. Kami mengharapkan nggak jiper. Standard kami, ada buku kecil, bunga rampai dari kelas ini. Kami bisa merekomendasikan juga dari aku dan Mas Kris untuk menulis sesuatu. Biasanya kami merekomendasikan dari alumni kelas aksara. Aku melihat banyak fluktuasi; rame atau nggak. Aku lihat ada yang sibuk dan ini bukan akademi yang literature. Terima kasih banget bagi yang mengikuti terus sampai akhir. Salah satu yang aku tawarkan. Rencanya mau mempertemukan kedua kelas.
Ferial : setelah sesi selesai. Nanti, pertemuan ke-12 dan 13, sebelum sesi Nuning, akan dipertemukan. Nantinya, juga bakal dipertemukan lagi di sesi Nuning.
Farah : kita mempresentasikan hasil tulisan yang sudah dibuat.
Kris : bisa diedit bagi yang udah presentasi.
Farah : aku menawarkan, ini yang sudah presentasi bisa diedit. Sebelum mini sidang itu, akan dipresentasikan lagi secara benar. Ada aku, Mas Kris, Mas Gun, tentor satu lagi, Mbak Nuning. Santai aja. Masalah mencela itu bercanda aja. Kritik yang baik itu, mengutup Gugun, itu harus tim. Sebelum 2 forum presentasi setelah melewati ini, aku menawarkan iri sebagai konsultan.
Kris : sebenarnya, dari dulu udah boleh. Saya, Farah, Ferial.
Farah : aku nggak bisa janji. Bisa datang ke sini seminggu sekali, atau via email, atau facebook.
Gugun : lewat email aja. Ditulis di situ, Mbak.
Farah maju dan menuliskan alamat kontaknya: Farah Wardany, HP: 081908712900, YM: farahwawah, email: program@ivaa-online.com, farahwawa.multiply.com, facebook: farah wardany.
Kris maju dan menuliskan kontaknya: kristologie@yahoo.com, 08164262907
Ferial : besok kamis jangan lupa datang untuk presentasi seniman residensi dari Philipine.
Farah : di email juga nggak pa-pa. Atau, kalau mau datang ke sini, aku setiap hari di sini kecuali Minggu, janjian dulu. Komentar satu lagi, secara general, tulisannya belum lepas.
Kris : daya kritisnya belum ada sama sekali.
Farah : mencoba. Cuma belum keluar, nggak lepas. Kayak gini (tulisannya Aji, not), tulisan ini asalnya dari SMP, SMA. Kayak penutupnya, “Kreatifitas yang telah turun-menurut…” Kamu bisa mengeditnya. Sejarah bisa mengeluarkan statemen seperti ini. Ini masih sloganistis yang didapat dari pelajaran mengarang Bahasa Indonesia. Tapi, itu bukan kamu. Kamu mau ngomong industry kreatif dan hubungannya dengan krisis global. Kamu mau ngomong industry kreatif kita sebenarnya keren. Kamu bisa aja ngomong itu. Nggak usah ngomong kebanggaan bangsa.
Kris : bahasanya terlalu slogan.
Farah : memang ada tekniknya, gimana nulis dengan bahasa yang santai, tapi tetap formal. Kompas sering begitu. Kompas hari ini berjudul “Alex Fergusson”. Paragraph pertama seperti ngobrol. Kalimat ini (“Tapi yang keren Cuma Sir Fergusson”) ini sangat menarik. Ini banyak sampel-sampelnya juga. Terus merelate ke kamu. Jadi, nggak perlu membawa-bawa “… kekayaan yang perlu dijaga nilainya.” Itu Cuma contoh. Tip dariku aja. Itu masih sloganistis.
Kris : berani menulis dengan santai, dengan style.
Farah : salah nggak pa-pa. Nanti, kan dibenerin.
Kelas berakhir jam 22.03 WIB

