Notulensi 25 Mei 2009
Kelas B, Pertemuan VII
Mentor: Kris Budiman
Kelas mulai jam 19.20wib
Hadir: Gugun, Widya, Monika, Aji
Kris : kita mulai ya. Hari ini kita membaca kritis, menyimak hasil tulisan orang lain. Bukan pada temanya, tapi pada ketrampilannya. Paragraph pertama, gagasan utamanya apa?
Monika :
Kris : gagasan pendukungnya?… Gagasan berikutnya?
Gugun : pemanfaatan pencitraan lewat media masa.
Kris : (sembari menulis di papan) sesudah menang pun, SBY tetap memanfaatkan pencitraan. Oke. Coba. Paragraph pertama. Ada yang berkomentar, nggak? Coba tolong dilihat dengan jeli. Apakah gagasan utamanya, gagasan pokoknya berkaitan dengan gagasan-gagasan pendukungnya atau tidak?
Gugun : berkaitan.
Kris : jauh, tidak?
Gugun : nggak.
Kris : kehidupan masyarakat sekarang berdasarkan pencitraan. Kalau menurut Monik?
Monika : kehidupan pencitraan ini mencontohkan SBY.
Kris : antara kalimat pertama dengan kalimat kedua dan ketiga, punya hubungan langsung atau jauh?
Monika : kenapa kehidupan masa kini contohnya SBY? Apakah kehidupan masa kini Cuma SBY?
Kris : ya, oke. Kalau menurut Widya?
Widya diam.
Kris : kalau menurut Aji?
Aji : justru yang utama SBY-nya. Pencitraan masyarakat sekarang sebagai pendukung.
Kris : sebagai pembuka bisa nggak… bisa nggak langsung mengemukakan gagasan. Yang dibahas langsung pembedaan pencitraan antara SBY dan Megawati. Jauh nggak?
Aji : nggak.
Kris : kalau menurut Mas Aji, apa gagasan pokoknya?
Aji : SBY lebih unggul pencitraannya dari Megawati.
Kris : oke. Sebagai kalimat pembuka, jauh dari gagasan pokoknya. Sebenarnya, bisa langsung. Bisa ditambahkan dalam gagasan pendukung.
Kris membaca paragraph pertama dari teks yang dikaji kelas Aksara B.
Kris : kalau…, ngefek, nggak?
Aji : nggak.
Kris : ngefek. Coba kalau “Kehidupan masa kini memang tidak bisa lepas dari pencitraan.”
Gugun : “Salah satu contoh…”
Kris : apa kesimpulan berkaitan paragraph pertama? Kita terkecoh. Kita mengira gagasan utamanya adalah kalimat pertama. Padahal, kalimat pertama ini tidak punya arti. Fungsinya pun untuk apa disodorkan dalam kalimat pertama. Kalimat kedua lebih menarik jika disodorkan dalam kalimat pertama. Kalau toh memang benar ini gagasan utamanya, keunggulan SBY dari pada Megawati, ini ditaruh di kalimat pertama atau terakhir. Jangan ditaruh di tengah. Kita sebagai pembaca bagaimana merasakan paragraph ini? Kalau saya, merasa ada lompatan yang jauh dari kalimat pertama dengan kalimat kedua. Kalau kita lihat paragraph pertama ini, disusun dengan pola apa?
Widya : deduktif.
Kris : memang deduktif. Orang Indonesia nggak mampu membuat paragraph induktif. Coba polanya. Tadi, dah ada yang menyebut. Tadi Gugun.
Gugun : aku nggak tahu.
Kris : nggak perlu tahu. Kita lihat polanya. Nggak perlu teori. Dari umum lalu masuk ke khusus. Yang khusus itu di kalimat 2 dan 3 merupakan apa?
Widya : contoh.
Kris : oke. Ini merupakan contoh. Penulis harus sadar dengan itu. Nggak bisa menulis spontan atau intuitif. Coba paragraph berikutnya.
Kris membaca paragraph kedua dengan suara pelan.
Kris : berapa kalimat?
Monika : 3
Kris menghitung jumlah kalimat.
Kris : coba kita periksa struktur gagasannya. Gagasan utamanya apa?
Kris menuliskan gagasan-gagasan paragraph 2 di papan tulis.
Monika : penayangan gebrakan 100 tahun sang presiden.
Kris : Ini gagasan pokoknya ya. Terus, gagasan pendukungnya?
Monika : kristalisasi
Kris : penayangan secara berulang itu berperan penting dalam, apa?
Monika : mengkristalisasikan citra SBY.
Kris : lalu, gagasan berikutnya?
Monika : sudah menyiratkan makna luar biasa.
Kris : gimana, kalau kita bandingkan dengan paragraph 1, paragraph 2 ini bagaimana kondisinya? Lebih baik atau lebih buruk?
Aji : kalau aku nangkepnya, gagasan utamanya justru kristalisasi citra SBY dengan penayangan berulang kali.
Kris : jadi kalimatnya dibalik ya? Kalimat kedua jadi kalimat pertama. Kalau menurut Widya, gimana?
Widya diam.
Kris : terlalu lama. Kalau menurut Gugun?
Gugun : ngomongin pencitraan media. Yang kedua, penayangan berulang kali.
Kris : jadi, gagasan utamanya dimana, Gun?
Gugun : kalimat pertama.
Kris : kalau begitu, nggak menyimpang dong.
Gugun : yang aku itu, ngomongin gebrakannya. Kedua, penayangan media yang berulang-ulang. Ketiga, nggak ada hubungannya dengan media.
Kris : di kalimat pertama itu pencitraan media. Kalimat kedua masih melanjutkan itu. Kalimat ketiga di paragraph kedua… coba kita baca lagi. Flow-nya ada jumping nggak? Kalimatnya jumping nggak? Seperti kita buat film, episode ke episode-nya jumping nggak?
Gugun : jumping.
Kris : kalau menurut Monika?
Monika : kalau begini, jumping. Kalau kalimat kedua jadi kalimat pertama, enggak.
Kris : jadi seperti usulan Aji.
Aji : kata gebrakan pun masih untuk menerangkan kristalisasi citra, kan?
Kris : kalau menurut Aji tadi, kita bisa gunakan untuk memperbaiki paragraph ini. Sekarang di polanya. Apa adanya kita baca.
Kelas hening; membaca paragraph 2.
Kris : ada yang bisa melihat polanya? Sama ya umum-khusus juga. Khusus ke umum? Mana mungkin.
Kris membaca lagi kalimat per kalimat dalam paragraph 2.
Kris : nggak mungkin khusus ke umum karena kalimat utamanya di kalimat 1 kalau menurut paragraph ini apa adanya, kecuali gagasan utamanya ditaruh di kalimat ketiga. Nah, yang menarik apa dari paragraph ini, lepas dari kesalahannya?
Kelas hening.
Kris : munculnya kalimat tanya. Fungsinya apa?
Monika : retoris.
Kris : nggak butuh jawaban. Tujuannya apa?
Monika : mempertegas.
Kris : selain itu, apa? mempersuasi pembaca. Mengarahka pembaca supaya setuju. Kita digiring supaya setuju. Kalau kita jawab, jawaban yang muncul apa? “Iya. Betul. Setuju.” Coba paragraph berikutnya. Coba ada yang bisa tolong saya membacakannya?
Ferial membacakan paragraph 3 pada kelas.
Kris : ada berapa kalimat?
Gugun : 4.
Kris : lebih panjang ya. Gagasan pokoknya dimana?
Gugun : kalimat ke-4.
Monika : iya.
Widya : sama.
Aji : sama.
Kris : coba kita lihat. Jadi, polanya berkebalikan dari pola yang tadi. Dari khusus ke umum. Kalau yang tadi, umum ke khusus. Gagasan pokoknya apa?
Kris menuliskan gagasan-gagasan paragraph 3 di papan.
Aji : citra dan kenyataan adalah 2 hal yang berbeda.
Kris : untuk mendukung ini, butuh argumentasi. Coba kita lihat dari kalimat pertama. Apa?
Gugun : pemanfaatan teknologi pencitraan telah menjadi kewajaran.
Kris : lalu, apa?
Monika : pencitraan tidak mewakili kenyataan.
Kris : lalu, apa?
Gugun : citra-citra yang bertebaran itu bukan kenyataan.
Kris : kesimpulannya, citra dan kenyataan adalah hal yang berbeda. Jadi, ini pola berpikir induktif tadi sampai pada sebuah kesimpulan. Ini lebih sulit menyusunnya karena butuh argumentasi. Argumentasi, argumentasi, lalu kesimpulannya. Ada komentar tentang paragraph 3 ini secara umum?
Gugun : cukup kuat.
Kris : hati-hati dengan kata “cukup”, “sangat”.
Gugun : kuat, Mas.
Kris : kalau bilang “cukup”, kamu bisa menyusun lebih baik dari paragraph ini.
Monika : aku melihat kalimat pertama dan kedua, sebenarnya, 1 pernyataan tapi dibalik aja.
Kris : oke. Memang ada pengulangan gagasan di kalimat pertama dan kedua. Aji?
Aji : sama dengan Monika. Merasa itu nggak perlu diulang lagi.
Kris : sebenarnya, bisa ditulis dengan 3 kalimat ya? Nggak perlu 4. Menghilangkan kalimat yang redundan.
Gugun : kalau jadi pertanyaan, gimana, Mas?
Kris : bagusnya membaca itu. Gugun masuk ke wilayah konten gagasan.
Gugun : apa penulisnya udah menangkap bahwa yang palsu itu dianggap kewajaran?
Kris : siapa tahu begitu. Itu kalau kita membaca secara kritis isi gagasan ini. Saya kira apa yang ditanyakan Gugun itu adalah contoh kita membaca secara kritis apa yang dikatakan si penulis sebagai konten paragraph itu ya. Oke, kita ke paragraph ke 4.
Ferial membacakan paragraph ke-4.
Kris : ini “sudah selesaikah…”
Ferial : “…sudah selesaikan…” juga bisa.
Kris : kalau “… sudah selesaikan…”, dipisah antara selesai dan kan. Ini salah ketik.
Monika : jawabannya di kalimat berikutnya.
Kris : iya. Coba kita lihat paragraph ini. Panjang-panjang ya kalimatnya. Gagasan pokoknya di kalimat 1 atau ke-3?
Kris menuliskan gagasan-gagasan yang diusulkan peserta.
Gugun : pertama.
Kris : apa itu?
Monika : efek pencitraan cenderung mengelabui.
Kris : yaitu menyamakan citra dan kenyataan. Gagasan pendukungnya? Hanya ada 2.
Monika : yang dicitrakan tidak sama dengan kenyataan.
Kris : lalu, gagasan pendukung yang kedua?
Gugun : pertanyaan.
Kris : iya. Gagasannya apa?
Gugun : sudah selesaikah kehidupan ini ketika persepsi manusia…
Kris : telah terarahkan untuk menyamakan citra dan kenyataan. Oke, ini kembali kita menemukan pertanyaan retoris. Kalau tadi, tidak dijawab. Ini dijawab. Gimana struktur paragraph ke-4 ini?
Aji : umum ke khusus.
Kris : bandingkan dengan paragraph 2, ada sesuatu, nggak, yang membedakan? Yang membedakan apa ini antara paragraph 2 dan 4? Sama-sama ada kalimat tanyanya. Lalu deduktif. Apa yang khas? Perhatikan kalimat penghubungnya “meski”. Itu membuat kita berpikir secara apa?
Gugun : kebalikan.
Kris : bertentangan antara citra presiden dan sesungguhnya. Kata hubung ini macam ini berfungsi untuk mempertentangkan. Kata hubung macam ini yang lainnya apa?
Gugun : akan tetapi, selain itu.
Kris : ada kata penghubung “lalu” fungsinya apa? pengaruhnya apa pada pembaca?
Gugun : diarahkan.
Kris : diarahkan kemana? Anak kecil aja selalu menggunakan kata penghubung macam itu: “terus. Kemudian”. Ini ada X. Ada Y. Ada kata hubung antara X dan Y, berupa “lalu”. Di sini menghubungkan apa? Gagasan, konsekwensi. Kalau kita belum baca paragraph 5, jawaban kita atas pertanyaan ini apa? “Sudah selesaikah kehidupan ini?”
Gugun : belum.
Kris : jawabannya Cuma belum. Ini pertanyaan retoris juga. Fungsinya apa? persuasive. Ini untuk mempengaruhi pembaca supaya menerima gagasan dia. Ini kita diajak mempertentangkan. Berikutnya, kita digiring konsekwensinya dengan pertanyaan retoris. Itu jahat dalam tanda kutip. Penulis dengan strategi. Paragraph berikutnya.
Ferial membacakan paragraph ke-5.
Kris : kita abaikan jawabannya “Sama sekali belum”. Kita masuk ke kalimat 2: kehidupan terlalu kompleks. Itu gagasan utamanya atau bukan?
Kris menuliskan gagasan-gagasan paragraph 5 di papan.
Monika : iya, itu.
Kris : kehidupan terlalu kompleks…?
Gugun : untuk sekadar diakhiri dengan… Sekadar itu apa?
Kris : sama dengan sehelai.
Gugun : yang umum, sekedar.
Kris : itu salah penguapan. Terus, proses pencitraan. Kata semacam sekadar itu bisa dinalar mana yang benar. Kata dasarnya apa? sebagai penulis, itu harus diperhatikan. Oke. Kita lanjutkan ini. Berapa kalimat?
Gugun : 3.
Kris : kalimat kedua apa?
Ferial : kalimat ketiga kan ini? Kan yang “Sama sekali belum”?
Kris : oh ya. Sorry. Berarti sekarang kalimat ke-3.
Widya : ….
Kris : kalimat terakhir?
Aji : seorang pemimpin…
Kris : yoh. Coba.
Gugun : ketika seorang pemimpin berhasil dicitrakan, mekarlah…
Kris : sebagai tokoh perubahan, apa?
Gugun : mekarlah harapan-harapan akan perubahan.
Kris : oke. Jadi, paragraph ini dari umum ke khusus ya. Mulai dari umum “Kehidupan…” Kalimat kedua masuk ke yang “Sukses menyemai pengharapan”. Apa ini hubungannya dengan kalimat sebelumnya?
Ferial : saling mendukung.
Kris : ada penekanan. Selain penekanan, apa lagi? Apa hubungannya antara kalimat “Kehidupan terlalu kompleks…” dan kalimat “pencitraan yang sukses akan menyemai…”. Hubungannya apa? ini pake “justru” itu penekanan. Selain itu, apa lagi?
Monika : ada dampak.
Kris : dampak. Hubungannya sebab-akibat. Masih dihubungkan lagi dengan kata “lalu” pada kalimat berikutnya. Ada sebab, lalu ada akibat. Hubungannya kausal. Kalimat berikutnya?
Gugun : sama, sebab-akibat.
Kris : jadi, pada dasarnya paragraph ini disusun berdasarkan penalaran kausal. Sulit ini. Penalaran sebab-akibat ini harus dilatih. Kadang yang kita sebab, bukan sebab. Hati-hati kalau menyusun relasi kausal ini. Itu sama dengan menyusun argumentasi. Ada komentar lagi di paragraph ke-5 ini?
Aji : tuntutan dengan harapan. Apa yang dimaksudkan.
Kris : kalau menurut kalimat ini, beda nggak?
Gugun : beda.
Kris : harapan kemudian menjelma menjadi tuntutan. Ayo ada lagi. Ada yang lebay. Ada pemborosan kata. Lebay itu maksudnya menggunakan kata tidak perlu.
Monika : “… mekarlah harapan. Harapan akan perubahan”.
Kris : bisa dipersingkat.
Ferial : aku merasa kalimat yang “justru” sama “ketika” itu sama.
Kris : sama. Bedanya apa? Yang satu lebih khusus, “Justru,…”, pencitraan seseorang. Kalimat berikutnya pencitraan pemimpin yang sukses.
Ferial : berarti, bisa aja “… pencitraan pemimpin yang sukses…”
Kris : iya. Apa lagi? Ini kebiasaan orang Indonesia. Coba.
Kris membaca kalimat kedua.
Monika : diselesaikan atau diakhiri.
Kris : ya. Mengapa harus ada 2 kata ini.
Aji : kalau untuk penegasan?
Kris : nggak perlu. Kita pembaca bukan orang bodoh. Ini kata umum. Kecuali, memang jargon, kata-kata yang tidak umum. Sering kali kita nggak sadar karena kebiasaan di kampus menulis panjang sekian halaman. Tuntutannya bukan kalimat, tapi halaman. Kita jadi berpanjang-panjang, basa-basi, tidak ekonomis. Oke. Kita udah menemukan beberapa kelemahan ya. Ada kalimat tidak perlu, overlapping. Paragraph 6. Selesaikan ini dulu, lalu kita break.
Kris membaca paragraph 6.
Kris : gagasan pokoknya apa?
Gugun : tanggung jawab pasca pencitraan yang sukses, tapi.
Kris : berikutnya?
Gugun : pengharapan-pengharapan.
Kris : oke. Pertanyaan lagi. “Apa jadinya…”
Gugun : di sini pengharapan dan tuntutan disejajarkan.
Kris : dibedakan. Kalau disamakan, dia pake atau. Terus? Apa jadinya kalau harapanmu tidak terpenuhi?
Monika : berontak, kecewa, marah. Negative pokoknya.
Ferial : cari lagi pemimpin yang cocok dong.
Kris : ternyata, apa jawaban di sini? Kita lihat lagi. Apa jadinya? “Yang terjadi adalah transformasi otomatis dan revolusi kesadaran.” Nah, ini. Hati-hati menuliskan hal-hal besar. Kita lihat “transformasi otomatis”. Ada nggak transformasi yang otomatis?
Widya : nggak ada.
Kris : nggak ada karena berkaitan dengan manusia. Bahkan robot transformer pun, ada programnya kan. Ini rakyat, manusia, otomatis. Masuk akal nggak ini?
Ferial : nggak.
Kris : “… dan revolusi kesadaran” Bukan evolusi lho. Hati-hati menggunakan kata-kata dengan konsep besar. Berikutnya.
Ferial membacakan kalimat berikutnya.
Kris : setelah tadi yang muluk-muluk, balik lagi terakhirnya seperti yang tadi kita katakana.
Ferial : mungkin, maksudnya…
Kris : kita nggak berurusan dengan maksud penulis. Kita berhubungan dengan artefak. Coba lagi.
Kris membacakan kata-kata berikutnya.
Kris : hubungan kalimat kedua dengan kalimat pertama apa? Ada kata “lantas.” Kausal. Sudah keren-keren, balik lagi ke yang kita tadi.
Ferial : kalau ini dicoret, langsung masuk ke paragraph berikutnya, nggak pa-pa kan?
Kris : iya. Manusia pada mulanya berharap, jadi menuntut, lalu kecewa, marah. So, kalimat keren yang transformasi otomatis dan revolusi kesadaran bisa dicoret karena nggak ada gunanya. Balik lagi ke kecewa dan marah.
Ferial : yang ini juga ada pengulangan kecewa.
Kris : ya. Bisa berhemat satu kalimat. Lalu, paragraph ke-8 diawali dengan pertanyaan.
Ferial membacakan.
Kris : nah, ini lebih gampang kalau menyusun paragraph seperti ini. Diawali dengan pertanyaan, kemudian dijawab. Kalau tadi, pernyataan dulu baru pertanyaan. Biasanya pertanyaan retoris.
Gugun : kalau yang ini?
Kris : ini pertanyaan disusul penjelasan. “Tidak senantiasa buruk.” Perhatikan ini hubungan kausalnya. “Karena kemarahan bisa dijadikan energy…” gimana paragraph ini? Tadi udah. Relasinya kausal. Kalimat ke-4 ini panjang. Coba disimak pola penalarannya. Gimana, Ji? Apa komentarmu? Kalimat ini disebut apa penalarannya? Bukan sebab-akibat, tapi apa?
Aji : kesimpulan.
Kris : memang kesimpulan. Coba perhatikan lagi pola penalarannya. Apa? When di sini fungsinya apa? keterangan waktu?
Widya : jika.
Kris : kondisional tho? Jadi, ini kalimat dengan penalaran kondisional. Akan terjadi begini kalau syaratnya terpenuhi. “…menjulang, namun…” Ada kontras lagi, pake kata “namun”. Gagasan pokoknya apa kalimat ini? Manusia marah tidak demikian buruk. Tapi, sesudah itu dia giring lagi. Oke, paragraph terakhir ini. Cuma ada 2 kalimat. Kalimat pertama harapan. Kalimat kedua harapan juga. Gagasan pokok yang mana?
Gugun : kalimat pertama.
Kris : pertama atau kedua? Kalimat kedua. Kok bisa?
Aji : kalimat pertama menyambung sebelumnya.
Kris : kalimat pertama jembatan penghubung gagasan sebelumnya dengan kata ganti itu. Kalimat kedua gagasan pokoknya. Hati-hati dengan kata ganti ini nih “kita semua berharap…”. Mengklaim yang licik. Klaim yang mengeneralisasi. Penulis merasa dirinya bisa mewakili yang lain. Hati-hati. Kita sebagai pembaca sadar. Kata-kata kecil seperti tadi itu: lalu, dan, namun, ada kata ganti kita. Ini semua menunjukkan bagaimana penulis mempersuasi. Kita istirahat dulu.
Break jam 20.54 – 21.05 wib. Kris menuliskan nama-nama peserta yang hadir malam ini.
Kris : Cuma 4 orang yang hadir. Coba sekarang kita kasih nilai tulisan ini. Aji ngasih nilai berapa antara 10 sampai 6. 10 bagus. 6 lumayan. Kamu berapa?
Aji : 8.
Widya : 7.
Monika : 7,25.
Gugun : 7.
Kris : oke. Tambahin 1. Ferial berapa?
Ferial : 6.
Kris : kris.
Gugun : saya yang nanya. Mas Kris berapa nilainya?
Kris : saya 8,5. Apa implikasi penilaian ini di luar 2 orang ini; Ferial dan Kris. Kalau dikonversi, antara 7 dan 8 ini, apa? B kan? Berarti kalian bisa menulis lebih bagus dari Wimar ini. Minimal B+. Minimal 8,5. Kemampuan kalian harus di atas ini. Kalau tidak, apa artinya? Artinya, anda tidak konsekwen. Arogansinya terlalu tinggi. Minimal seperti kemampuan saya, 8,5. Berarti, minimal seperti kemampuan tulisan saya karena besok sudah dikumpulkan tulisannya. Rabu presentasi. Menurut skedul, tugas kedua esai dikumpulkan besok, 26 Mei 2009. Besok dikumpulkan, ayo disepakati diberi batas sampai jam berapa, Al?
Ferial : rabu sebelum jam 10 pagi.
Kris : di atas itu, melewati jam 10 pagi, nggak diterima.
Ferial : berarti aku harus ngasih tahu yang lain?
Kris : sebenarnya, nggak dikasih tahu nggak pa-pa. Itu konsekwensi nggak masuk. Sekarang, tidak dikasih skedul siapa yang presentasi. Rabu dilotre siapa yang presentasi.
Aji : yang terakhir, udah lupa.
Kris : lupa bukan alasan. Itu urusanmu. Jadi, dikumpulkan tanggal 26 atau paling lambat tanggal 27 sebelum jam 10 pagi. Setelah jam 10 pagi, ditolak. Nanti akan diemail dan diprint. Ini diingat. Awas, hasilnya nggak boleh lebih jelek dari Wiman Sutanto. Sekarang 4. Siapa yang mau maju?
Gugun : yang datang terakhir maju dulu.
Kris : Ji, maju.
Aji maju ke depan.
Kris : Ambil spidol tulis 1 kalimat.
Aji menuliskan 1 kalimat sederhana berisi 3 kata.
Kris : yang lebih baguslah. Kualifikasimu sebagai mahasiswa Geografi UGM, masak Cuma menulis “Saya belum mandi.” Sembarang.
Aji menghapus kalimat yang tadi dituliskannya dan mengganti dengan kalimat baru.
Kris : udah. “Kualitas pencitraan ditentukan oleh visualisasi yang dicitrakan media.” Lanjutkan. Widya. Tulis di sampingnya. Kalimat kedua. Belajar spontan.
Widya maju dan menuliskan kalimatnya.
Kris : itu udah selesai, belum?
Widya : udah.
Kris : kok, nggak ada titiknya?
Widya maju dan menambahkan titik di akhir kalimatnya.
Kris : ya, Monika.
Monika maju dan menuliskan kalimat ketiga. Setelah Monika selesai, Gugun maju dan menuliskan kalimatnya.
Kris : coba kita perhatikan.
Kris membaca kalimat-kalimat yang dituliskan peserta. Pada kalimat kedua…
Ferial : belum selesai.
Kris :Media itu subjek. “…sebagai…” itu keterangan subjek kan. Predikatnya mana? Kalimatnya selesai belum? Bahkan ini bukan kalimat.
Kris melanjutkan ke kalimat ke-3.
Kris : bisa nggak dibuat dengan lebih ekonomis? “Semakin besar visualisasi yang diberikan oleh media, semakin besar pula…”?
Ferial : semakin besar pula informasi yang berupa kualitas pencitraan yang diterima penonton dan pembaca.
Kris : “Media yang…” apa ini?
Gugun : banyak.
Kris : ini koma?
Gugun : koma.
Kris : perlu ada koma nggak? Dinilai berapa paragraph ini? Keutuhannya. Kesatuannya. Ayo, sepakat 4 orang dinilai berapa?
Setelah terdiam sejenak, peserta mendiskusikan nilai yang diberikan.
Peserta : 7.
Kris : berarti kualitasnya sama dengan Wiman Sutanto. Apa yang kita pelajari hari ini? Menyusun gagasan supaya sistematik, logis. Ketika dia menjadi paragraph, ada hubungannya dengan kesatuan. Ada yang mau tanya? Ini tulisan Wiman Sutanto berapa paragraph?
Monika : 9.
Kris : kurang lebih esai yang kita buat segini. Oke. Kita tutup. Nanti kerangka karangannya diberi daging.
Gugun : mengisi.
Kris : mengisi menjadi paragraph-paragraf. Selamat malam! Sampai ketemu besok Rabu.
Kelas selesai jam 21.35wib

