Notulensi 26 Mei 2009
Kelas A, Pertemuan VII
Mentor: Gunawan Maryanto a.k.a Cindhil
Kelas mulai jam 19.38 wib.
Hadir : Ayu, Indra, Ivan/Ipang, Rifki Muh, Rifki
Cindhil : oke. Bisa kita mulai ya. Hari ini ada 3 orang yang datang dan mengumpul (mengumpulkan tugas, not). Yang belum numpuk tulisan jadi pendengar ya. Sebelum masuk ke tulisan, kemarin ada proses menulis, problem yang muncul apa selama proses penulisan kemarin? Sambil nunggu itu difoto kopi, kita bisa mengedit tulisan yang sudah ada. Sharing dulu. Yang memberatkan apa? yang meringankan apa?
Ivan : aku ganti tema tulisan karena merasa terlalu agak sulit untuk ditulisin. Kedua, waktu mas Cindhil bilang bahwa untuk lebih optimalnya pake wawancara, aku kebayang kuliah. Kenapa lagi-lagi harus wawancara. Sementara ini, biarlah itu di perkuliahan. Pengennya di sini menulis dengan cara atau hal yang baru. Dengar kata wawancara langsung terbebani. Ketiga, belum biasa pake kerangka. Waktu bikin itu, aku nggak pake kerangka karena keburu-buru, nggak sempat. Jadi, belum tahu, sebenarnya kerangka itu membantu atau mengurangi spontanitas? Belum membuktikan.
Cindhil : jadi, nulis ini tanpa kerangka? Bebas aja ya?
Ivan : kerangkanya dalam pikiran.
Rifki M : menulis dengan kerangka. Konsekwensi pake kerangka, kita kekurangan data dan kita mensensor apa yang ada di pikiran karena tidak sesuai dengan kerangka. Itu memiskinkan munculnya ide lagi.
Ayu : kalau aku, masih berkutat dengan kesibukan skripsi. Mau ngerjain itu bingung mana yang harus dikerjain karena dikejar deadline semua. Aku ngerjain ini terburu-buru tadi.
Ferial : kerasa nggak ini ngebantu skripsi, dengan kerangka?
Ayu : lumayan. Tapi, aku nulis masih nggak ikut kerangka, masih keluar-keluar.
Cindhil : perihal kerangka itu soal kebiasaan. Yang penting tulisan. Kerangka itu alat bantu. Yang paling besar kita tahu apa yang kita tulis dan punya kerangkanya. Pake kerangka atau tidak itu terserah. Kenapa pake kerangka? Itu bisa membantu dan memindahkan apa yang ada di pikiran supaya lebih luas. Kita bisa mengedit. Tapi, enggak juga nggak pa-pa. Sebenarnya, membantu aja apa yang ada di pikiran bisa keluar. Kalau sudah bener apa yang ada di kepala, nggak perlu lagi. Sekali lagi, kerangka itu alat bantu bukan penjara. Jadi, jangan sampai terpenjara. Kita bisa tetap bermain. Kita tahu habis ini, nulis ini. Jangan menjadi penjara sendiri dan kita nggak bisa asik menulis. Kerangka itu alat bantu. Selama kita bisa memindahkan gagasan-gagasan kita dalam tulisan dengan lancer, itu aja. Kalau tadi ada persoalan kerangka justru membatasi spontanitas, aku pikir, jangan sampai seperti itu. Kalau itu terjadi, ditinggalin aja kerangkanya.
Ferial : kalau tulisan dulu, baru kerangka?
Rifki M : bisa. Aku pernah bikin itu. Tulisan dulu. Lalu, aku buat kerangka. Kemudian, aku cut-paste tulisanku berdasarkan kerangka.
Cindhil : itu bukan kerangka. Itu untuk editing. Editing itu bukan hanya memeriksa tulisan udah benar atau belum, bahkan bisa memotong 1 bab, menambah bab atau paragraph. Ini proses editing. Jadi, proses editing tidak sekedar memeriksa aksaranya, tapi juga mengubah apa yang ada. Nanti, kita akan masuk ke situ. Pertama, kita akan memeriksa gagasan-gagasannya, enak dibaca atau enggak. Nanti, kita masuk ke proses editing itu termasuk mengganti kata, kalimat supaya lebih enak. Ini lebih ke diksi. Yang tadi itu lebih ke proses editing. Kalau sudah ada kerangkanya, kita bisa enak memeriksanya. Kalau nggak ada kerangkanya, kita bikin dulu. Terus, problem yang lain? Ivan berapa?
Ivan : 700-an.
Cindhil : Rifki ngepas ya, 1000-an. Ayu berapa? Pas juga.
Rifki : akhirnya, saya merasa manfaat kerangka itu di proses editing. Kalau di penulisan, nggak banyak bantu, menghambat.
Ferial : gimana nih? Mau dibaca?
Cindhil : oke. Kita scan aja, dibaca tiga-tiganya. Kemudian, kita melakukan proses editing. Oke.
Kelas membaca tulisan Ayu. Setelah selesai, Ferial membagikan foto kopi tulisan peserta yang telah terkumpul.
Cindhil : tulisan yang udah dibagi itu kita cek. Pertama, hal yang paling dasar adalah kata. Kata yang penulisannya belum benar, tolong ditandai. Tiga tulisan aja dulu. Tulisan Rifki, Ivan, dan Ayu. Yang lain buat dibaca-baca di rumah.
Peserta membaca dan mengerjakan permintaan Cindhil.
Cindhil : kalau sudah, dihitung; di tiap tulisan ada berapa kesalahan kata yang kalian dapatkan. Satu kesalahan kalau diulang-ulang, tetap dihitung ya.
Break jam 20.30 – 20.41 wib
Cindhil : kita mulai proses editing. Dari yang paling mudah, kata. Nanti kita periksa kalimat. Dari 3 tulisan, pemegang rekor kesalahan terbanyak?
Ayu : aku.
Cindhil : berapa menurut catatanmu sendiri?
Ayu : 12.
Cindhil : yang berapa hitungannya?
Indra : 12.
Rifki M : Cuma 6.
Rifki : 7.
Cindhil : aku 19. Kita cek yang salah ya. Dari tulisan Ayu, kalimat pertama sudah ada yang menandai?
Rifki : sudah. Kurang WIB.
Cindhil : oke. Terus, Y-nya huruf besar. Terus, penulisan “adik’e” dengan tanda koma di atas, benar nggak?
Rifki : mungkin, adine ya.
Cindhil : itu udah benar, tapi nggak pake koma di atas.
Indra : setelah kata alas, itu ada koma, nggak?
Cindhil : ada. Terus, pemakaian tanda pentung (tanda seru, not) satu saja. Jangan berlebihan ya. Kata lain di paragraph 2, ada yang nambahin?
Rifki : di tepian, di-nya dipisah. Terus satunya disambung.
Cindhil : kalau menunjukkan tempat, dipisah.
Ferial : ibu itu, i-nya huruf besar?
Cindhil : terserah aja. Kalau sebagai nama, huruf besar. Terus, paragraph ketiga ada yang nandai? 30 cm, dipisah.
Rifki M : lebih pun itu?
Cindhil : pun itu artinya juga. Dihapus aja. Selanjutnya, paragraph 3 ada yang mau nambahin?
Ayu : bergelut itu bener, nggak, sih?
Cindhil : nggak masalah. Baris ketiga, di sanalah, di-nya dipisah. Kemudian, “…supermarket di belakang”, di-nya dipisah. Ke depan, ke-nya dipisah. Terus, “… pemberhentian bis tepat di samping sekolah…”, di-nya dipisah. Masih ada lagi di paragraph ini? “Kita main di mana?” di-nya dipisah. Ya, paragraph selanjutnya.
Ayu : di tempat.
Cindhil : terus, ada lagi? Paragraph selanjutnya. Setelah “kost” titiknya dua.
Ayu : apotik atau apotek?
Cindhil : pake e ya.
Ferial : perumahan itu udah jamak ya?
Cindhil : ya.
Inggra : “… dan betapa mengejutkannya…” itu aneh, nggak?
Cindhil : itu kalimat. Nanti ya. Terus. Public. Space dimiringin. “…ruang public di sini…” di-nya dipisah. Lanjut. Ada lagi yang sudah ditandai? Kalau nggak ada, paragraph selanjutnya. Ada nggak?
Ayu : UU, nggak usah dipanjangin?
Cindhil : kalau sudah cukup jelas, di atas sudah disebutkan, nggak pa-pa.
Ferial : “di sini”.
Cindhil : ya.
Ferial : Yogya itu Yogyakarta, nggak?
Cindhil : nggak pa-pa. Lanjut. Penulisan rupiah-nya dah benar nggak?
Inggra : Rp terus titik.
Ferial : nggak. Nggak usah pake titik. Ini benar, nggak?
Peserta : benar.
Irvan : permeter, gimana? Dipisah, nggak?
Cindhil : sementara gini dulu. Nanti, diperiksa lagi. Lanjut. Paragraph berikutnya.
Ayu : kalimat “Seperti yang terjadi…” Itu nggak pa-pa? Singkat gitu?
Cindhil : ya, nanti dicek di berikutnya. Lanjut.
Ferial : “… mempengaruhi perilaku…” seseorang, bukan sih?
Cindhil : orang nggak pa-pa.
Irvan : kalau mengutip kalimat orang, kalimatnya udah salah, gimana?
Cindhil : itu terserah kita.
Inggra : titik dulu, baru tutup atau sebaliknya.
Cindhil : titik dulu. Berikutnya. “…ke arah”, dipisah.
Ferial : seiring. Kurang i itu.
Cindhil : ideology. Pake e, bukan i. Terus, pesepeda benar nggak? Pesepeda atau penyepeda? Paling aman pengendara sepeda.
Ayu : pengendara itu identik dengan yang bermesing, nggak, Mas?
Cindhil : nggak selalu.
Ferial : ini nggak konsisten. Global warming yang atas miring, yang bawah nggak.
Cindhil : iya, itu.
Ferial : kalau nama, nggak perlu miring.
Rifki M : meminimalisir, nggak ada imbuhan itu. Adanya meminimalisasi.
Cindhil : benar. Oke. “… paru-paru kota…”, tanda kutipnya ya. Tanda kutip itu untuk kalimat langsung atau mengutip kalimat. Kalau mau menggarisbawahi, digaris bawah aja atau dimiringin atau teba. Oke, lanjut.
Ayu : Psikis, nggak ada koma atasnya.
Cindhil : kalau pengen menegaskan, dimiringin aja atau digaris bawah.
Rifki M : pelbagai dengan berbagai itu?
Cindhil : dua-duanya dipakai. Terus, landskap kota ya.
Irvan : itu baris kedua, pemukiman atau permukiman, Mas?
Cindhil : pemukiman. Sebenarnya, tidak terlalu jelas juga. Ada perkotaan. Tapi, nggak ada perdesaan. Adanya pedesaan. Yang paling umum dipakai aja; pemukiman. Terus. Di atas, ya. Ada lagi?
Ayu : itu “… permukaan bumi.” Dikasih tanda tanya. Ruang public sama areal public sama, nggak?
Cindhil : sama.
Ferial : “ruang public sebagai…” satu kalimat.
Cindhil : seusuatu, itu. Oke. Ada lagi?
Rifki M : “Jika…” koma.
Cindhil : iya. Sudah. Kita lompat ke Ipang dulu yang pendek. Paling banyak kesalahannya penulisan kata “Tuhan”. T-nya gede.
Rifki M : tuhan dengan huruf kecil itu bisa, tapi untuk makna yang lain.
Cindhil : iya. Di sini menunjuk pada yang di atas. Terus. Ada lagi?
Ferial : ini “Hanya saja, menurut saya,…” itu komanya satu kali aja setelah menurut saya.
Cindhil : itu udah benar.
Rifki : “… saling mencintai –atau …” bisa nggak pake tanda sambung?
Cinhil : nggak pa-pa. Itu untuk menekankan.
Ferial : “ketidakakuran”, disambung benar?
Cindhil : benar karena 2 kata diberi awalan dan akhiran. Sama dengan pertanggungjawaban. Lanjut. “Penghinaan…” tanda kutipnya dihilangkan. Terus, ke bawah lagi. “… berprilaku…”, perilaku, bukan prilaku. Terus. Bawah. Oh, “… sekedar…”?
Ferial : sekadar.
Cindhil : dari kata dasar kadar. Ada lagi? Terus, bawah lagi. Itu masih ada lagi. Paragraph kedua dari terakhir, “… sekedarnya…” menjadi sekadarnya. “… bayangin nggak usah…”, nggak-nya dimiringin karena bukan bahasa lazim.
Ayu : bayangin?
Cindhil : itu juga. Atheis itu pake h atau nggak?
Irvan : pake, kalau bahasa Inggris.
Rifki M : kalau penulisan begitu, itu judul buku. Harusnya, nggak.
Cindhil : dicek lagi di kamus ya. Oke, berikutnya.
Ferial : “… penciptanya…”, -nya huruf besar nggak?
Indra : itu bukan Tuhan, tapi orang.
Cindhil : iya. Oke, selanjutnya. Rifki.
Ferial : mendendangkan.
Cindhil : ya. Terus, paragraph kedua. Hamper. Kalau judul boleh pake tanda kutip.
Ferial : ini kata arab [timur], A dan T-nya huruf besar karena nama tempat.
Cindhil : ya. Tuhan dan seks-nya kalau mau ditekankan, nggak pa-pa ditebalin. Terus, paragraph selanjutnya.
Rifki M : area lomba, bukan loumba.
Cindhil : oke. Terus, blasteran, bukan belasteran. Terus. “… pandangan umum sedang menujuk…”, harusnya menunjuk. Nah, mengendalikan sama menggarap nggak pake tanda kutip. Kalau itu mau ditekankan, ditebalin aja.
Rifki M : ditebalin aja.
Cindhil : lanjut. “… disatu sisi…”, di-nya dipisah ya. Terus. Kesepakan atau kesepakatan?
Ferial : kesepakatan, ya. Sama domestifikasi?
Cindhil : itu domestikasi.
Ferial : binary opposition kan udah ada Bahasa Indonesia-nya; oposisi biner. Ganti ya.
Cindhil : ya. Terus.
Ayu : ke arah, nyambung nggak Mas?
Cindhil : di pisah. Terus, lanjut.
Ferial : diskursif itu dari diskursus, nggak?
Cindhil : iya.
Rifki M : postfeminisme itu e-nya dihapus aja.
Ferial : mau di-Inggris-in aja? Kan, Indonesia-nya ada. Jadinya posfeminisme.
Cindhil : masih ada lagi nggak?
Inggra : kalau udah ada Bahasa Indonesia-nya, perlu dalam kurung Bahasa Inggris-nya nggak sih?
Cindhil : kalau Cuma terjemahan secara harafiah, nggak perlu. Kalau menunjukkan ruang, itu baru bisa. Ruang kan ada place dan space. Itu beda.
Ferial : posstrukturalisme itu s-nya satu atau dua?
Rifki : kan strukturalisme ditambahin pos.
Cindhil : oke. Itu dicek ya. Aku juga nggak yakin. Habis itu, kalau aku Cuma tanda kutip, tanda kutip aja.
Ferial : ini gimana? Tanda kutipnya mau diganti bold?
Rifki M : iya.
Ferial : opresi itu apa sih?
Rifki M : diganti represi.
Cindhil : opresi ada. Sementara, dibiarin dulu. Ya, lanjut.
Rifki M : diatas itu di-nya dipisah, nggak, Mas?
Cindhil : iya. Di bawahnya pelbagai karena atasnya dah make itu. Terus. Buletin Sastra UGM itu huruf besar yak arena nama.
Rifki M : sejanah itu harusnya sejenak.
Cindhil : terus ke bawah.
Rifki M : muncullah itu benar, l-nya 2?
Cindhil : benar. Ada soal di sini?
Ayu : ini pelengap.
Ferial : pelengkap, harusnya.
Ayu : ibu lah itu dipisah?
Cindhil : disambung. Kalau pengen menekankan, pake tanda setrip aja. Ada lagi?
Rifki M : dimana. Harusnya dipisah. Di paragraph itu, kalimat paling atas.
Cindhil : ya. Terus. “… mengalami komplek Oedipus…” Aku agak lucu. Oedipus complex aja.
Ferial : Sigmun Freud-nya juga huruf kecil. Harusnya nama huruf besar.
Cindhil : iya. Terus. Oke, “…dipihak lain…”, “… disinilah…” harusnya dipisah.
Rifki M : paragraph ketiga dari bawah Hukum Ayah itu istilah.
Cindhil : terus, berikutnya. Nggak ada kata yang soal di paragraph terakhir?
Indra : itu objek atau obyek?
Cindhil : kalau Indonesia, obyek. Pake y. “Ups,…” itu dimiringin. Kalau pengen mengejutkan lagi, kasih tanda pentung.
Rifki M : kasih tanda pentung aja, Mas.
Cindhil : oke, sementara kita baru sampai pada membetulkan kata. Sebagai PR, ada beberapa tulisan coba ditandai kata-nya. Terus, tandai kalimatnya. Kalau ada kalimat yang nggak jelas, digarisbawahi aja ya. Kita ketemu lagi Jumat ya. Yang belum tulisannya gimana? Jumat. Sudah ada contoh-contoh yang dah jadi, bisa buat perbandingan.
Kelas selesai jam 22.00 WIB.

