Notulensi 10 Juli 2009
Pertemuan VII
Mentor: Nuraini Juliastuti
Kelas mulai jam 19.30 WIB
Hadir : Monika, Widya, Linda, Meita, Gita, Rifki M
Nuning : aku pertama mencari persamaan dari kedua esai itu. Sebenarnya, sama-sama bicara soal wacana komunisme, kiri gitu. Peristiwa 65 dan impact-nya ke gerakan politik kontemporer. Terus, sama-sama esai yang lahir setelah 98. Menurutku, ini menarik sebagai intro. Ini jenis esai yang kayaknya sulit didapat sebelum 98. Mungkin ada, tapi jarang banget. Setelah 98, ini jadi wacana umum setelah terbuka. Yang penting yang ketiga itu. Mereka ini kelompok penulis yang menuntut pembacaan kritis akan peristiwa 65. Bidang-bidang lain juga gitu. Film, seni rupa. Sebenarnya, yang bicara peristiwa 65 setelah 98. Di Indonesia kayak Dadang, FX Harsono. Meskipun sebelum 98 sudah ada, tapi masih fragmented. 98, 97 itu panas-panasnya. Karya-karyanya kenceng. Jadi, sudah dimulai pembacaan yang kritis. Ini yang menarik misalnya pembacaan esai ini kalau dimasukkan pengalaman pribadi. Teman-teman kan setelah 98. Itu penting membaca tulisan ini. Buat aku aja banyak yang nggak jelas. Kayak yang ditulis di Hadis; sebenarnya 65 itu yang mengkoordinir pembunuhan itu siapa? Itu kan nggak pernah dibahas. Apa lagi setelah itu… makin sulit mendapatkannya. Apalagi kayak yang Gita tulis, kurikulum sekolah tak pernah disesuaikan dengan ini. Yang kayak gitu-gitu bisa jadi intro. Kayak yang misalnya yang kamu tulis di akhir-akhir itu bisa jadi menarik. Kenapa itu jadi counter. Kalau aku menarik waktu aku membaca tulisan Pram yang “Nyanyi Sunyi” karena waktu aku sekolah di UGM itu masih baru terbit dan mendapatkannya dari tangan ke tangan. Itu jadi heroik untuk membacanya. Kalau aku di kuliah itu benar-benar kontra dengan yang sekarang ini ya. Itu menarik. Kalau gagasan, menurutku, sebenarnya ini awal-awalnya aku masih agak melayang. Budiawan berpendapat wacana anti-komunisme itu hal utama yang menyebabkan gagasan rekonsiliasi nasional itu hanya berhenti di tingkat gagasan tidak sampai ke praktis. Itu wacana komunisme yang sama dengan ateis. Kalau Hadis, itu wacana kiri yang berbahaya. Itu dianggap radikal, dianggap mengganggu Indonesia sebagai negara yang kapitalistik di bawah Orde Baru. Sebenarnya ada 2 hal. Kedua-duanya sama-sama ngomong soal kiri. Ada 2 poin yang kubikin: kiri dan rekonsiliasi. Bagi Budiawan, kiri itu awet sebagai wacana yang dibenci karena ia ditampilkan sebagai sesuatu yang mengerikan, senjata untuk menakut-nakuti. Kita belum sembuh dari trauma. Sebenarnya itu dibesar-besarkan. Ini juga dikatakan oleh Hadis. Bagi Budiawan, ini juga dipakai menjadi pembeda aku dan kamu. Sementara, bagi Hadis kiri itu dibuat. Hadis merinci aspek-aspek yang hilang selama Orde Baru. Wacana kelas itu hilang. Aku menangkapnya, kehidupan politik antara tahun 20-an sampai 60-an itu sangat sehat. Di situ ada perdebatan. Diskusi politik dari berbagai aturan itu terakomodir. Kalau sosialis, ngomong buruh. Wacana-wacana Islam itu juga tumbuh. Kalau Budiawan, itu sebagai ideologi. Yang terjadi setelah 60-an, setelah Orde Baru, wacana kiri itu dilemahkan. Buruh itu nggak ngomong soal kelas. Mereka ngomong kalau di Hadis itu Hak Asasi, kenaikan gaji. Itu bahasa-bahasa yang kapitalis. Dia melihat akhirnya efeknya penguatan gerakan yang… di seni visual juga itu terjadi. Kalau dulu ada Lekra, itu mereka lebih dilarang karena soal cara merepresentasikan masyarakat. Itu kan sangat khusus yang lama-lama nggak ada setelah tahun 60. Mereka ada turba, turun ke bawah, benar-benar ke masyarakat. Bahasa sederhananya riset. Itu kan paham-paham yang dianggap sosialisme. Akhirnya, turunan-turunannya jadi tidak boleh sama sekali. Terus kiri menurut Hadis itu memang tidak sesuai denga Orde Baru yang menggantungkan diri dengan modal asing. Makanya dia ngomong dengan konteks besar, dunia internasional bahwa dunia internasional itu sangat berperan besar dalam proses kehacuran sosialisme di Indonesia karena itu mengerikan. Sudah Presidennya Soekarno yang anti barat, negara Islam besar, dan partai komunismenya kuat. Itu kan mengerikan. Makanya ada banyak skenario. Kalau menurutku, kalau mencoba dihubungkan keduanya, yang pertama kan kiri. Yang kedua, menurutku, keduanya berhubungan dengan sikap rekonsiliasi. Hadis nggak ngomong rekonsiliasi. Bahasanya beda dengan Budiawan. Dia mengatakan masyarakt siap berhadapan dengan masa lalu. Itu sulit karena Indonesia belum sepenuhnya bebas dari Orba. Terus yang kedua, ini sebenarnya aku nggak setuju, aku agak nggak ngerti, itu kehadiran radikalisme bukan elemen yang dibutuhkan dalam komunisme. Itu dia mau ngomong karena Indonesia tidak punya basis radikalisme. Sementara, Budiawan itu cita-cita merombak wacana komunisme sama dengan ateis. Menurutku, Budiawan itu sama wacananya dengan scholar. Kalau menurut teman-teman, Hadis gimana? Kalau menurutku, Hadis menyediakan kerangka besar.
Gita : kayak bab III nya.
Nuning : Hadis itu wacana rekontruksi. Kalau Budiawan, masuk ke dalam. Dia caranya dengan wawancara. Sementara, Hadis kayak meneliti.
Linda : kayak berjarak gitu ya?
Nuning : iya, berjarak.
Rifki M : luar.
Nuning : wacana luar.
Linda : mungkin Budiawan melihat dari perpektif korban.
Nuning : lebih ke orang. Menurutku, hal-hal itu bisa dimasukkan di review. Walaupun pengantar, sudah bisa dibaca tulisan Budiawan itu. Saling melengkapi. Dia kan juga ngomong berhutang pada model analisa yang kayak dilakukan. Sebagai bahan bacaan, Budiawan itu kayak inside. Hadis itu dari luar. Terus yang pertanyaan. Pertanyaanku, seperti yang kita tahu juga disebutkan 2 tulisan itu, banyak orang menulis kesaksiannya. Kehadiran mereka itu kayak menguncang-guncang wacana yang selama ini tunggal tentang PKI dan komunisme. Tapi selain membuat wacana plural, dampaknya apa? Kalau aku membayangkan, kita kan selama ini nggak tahu tentang 65 itu apa. Tiba-tiba kita membaca buku Budiawan, Hesri, pledoynya Umar Dani, Abdul Latif. Terus, aku jadi nggak tahu seutuhnya. Aku Cuma tahu secuil-cuil gitu karena mereka kan bukan orang yang tahu semuanya. Mereka kan orang yang dari korban, militer, berkuasa. Mereka punya kepentingan sendiri-sendiri menulis itu. Aku nggak dapat jawaban yang utuh tentang itu.
Meita : saudaraku bilang, semakin banyak versi sejarah itu semakin bagus. Kita akan cenderung ke mana.
Nuning : memang itu bagus. Plural itu memberikan tawaran lebih banyak ke mana. Aku membayangkan kita hanya di pinggir-pinggir. Untuk ke tengah itu nggak nyampe-nyampe. Aku membayangkan generasi sekarang, setelah 70-an, itu untuk ke tengah juga muter-muter. Kita kan diatur oleh bacaan-bacaan itu. Baca Hesri, Abdul Latif. Dari banyak perspektif, tapi berkabut. Nggak pernah benar-benar terang. Kalau filsafat sejarah, mungkin memang nggak ada yang benar-benar pasti. Jalannya itu muter-muter-muter. Kayak secuil-secuil. Terus pertanyaanku yang kedua mungkin bisa disambungkan dengan pertanyaan Gita yang kurikulum. Bagaimana supaya wacana-wacana dekonstruksi itu bisa merembes sampai ke yang praksis. Itu beberapa kali dicoba dan gagal. Itu menarik sebenarnya soal itu. Itu kayaknya belum banyak yang nulis soal uji coba yang gagal dan gagal itu. Aku juga nggak tahu yang bikin gagal itu apa.
Linda : yang G 30 S PKI…
Gita : kalau kita nanya ke gurunya, nggak bisa jelasin bahwa itu PKI. Cuma dalam buku putih ceritanya itu, tapi kita nggak dikasih PKI itu apa.
Meita : yang ironis, ketika anak-anak TK di Lubang Buaya itu diceritakan tentang PKI sebagai orang jahat, militer orang baik.
Linda : nggak ada perubahan wacana itu.
Nuning : dimunculkan di review itu. Misalnya upaya yang kalau aku baca di tulisan-tulisan ini, itu level yang intelektual, diskusi-diskusi yang tinggi. Gimana tembus ke praksis itu penting.
Meita : mungkin karena budaya kita religi. PKI sama dengan ateis. Itu jadi dimusuhkan.
Nuning : intinya, dia pengen mengatakan Islam itu secara tradisi dan ideology punya hubungan yang kuat dengan komunis. Itu semakin dilenyapkan karena Negara kita kan berkembang ke Islam yang kanan. Terus, pertanyaanku yang ketiga. Ini bukan focus dengan tulisan ini. Sedikit di catatan kaki, gimana upaya-upaya rekonsiliasi yang digugat oleh masyarakat sendiri. Itu kan menarik. Wacana anti-komunisme itu kan sudah mengakar banget. Jadi, hambatannya bagi orang-orang yang ingin membongkar itu berat banget. Selain membongkar yang atas kayak yang dilakukan Gus Dur, juga membongkar masyarakat yang ordinary. Itu yang paling susah sebenarnya.
Rifki M : kalau habis membaca ini, aku sebenarnya agak bingung mencari kesamaannya. Oke, sama-sama ngomong PKI. Itu nggak usah diomongkan. Sama-sama ngomong PKI buruk itu terbentuk. Karena selain ini, buku lain juga ngomong sama. Aku tertarik dengan wacana kiri itu. Itu yang membedaka. Hal lain apa, Mbak?
Nuning : selain itu juga ngomong tentang lupa. Sebenarnya, itu amnesia. Dia menggugat untuk orang Indonesia yang lupa. Sebenarnya sengaja lupa.
Linda : sengaja dilupakan.
Nuning : iya. Masih diingat terus tapi sengaja dilupakan sehingga traumatis. Ini menghindari hal-hal kayak gitu. Ramai-ramai kayak pawai itu. PKI kan dulu menggunakan cara-cara itu. Kesenian yang melibatkan orang banyak. Agama itu memang yang ampuh. Indonesia itu memang tradisi yang agamis. Komunis menjadi ateis itu yang menarik bagi Budiawan.
Gita : … sekarang kan karena nggak jelas siapa pelakunya. Semuanya kabur. Ya, udah nggak usah diungkit karena nggak jelas. Terlalu kabur untuk diceritakan ulang. Praktis aja.
Nuning : mungkin. Menarik karena PKI selalu menarik. Ini menarik karena orang-orang yang ngomong tentang ini menyediakan banyak penjelasan tentang hal-hal yang kompleks di Indonesia. Menyediakan jawaban karena ketidakjelasan tahun 65 itu.
Gita : misalnya, Mbak?
Nuning : kenapa orang jadi takut ngomong tentang rakyat. Di seni rupa itu ada. Itu kan dihancurkan di seni rupa dan seni pertunjukkan. Gerakan Indonesia Baru tahun 70 itu juga nggak radikal banget. Mereka ngomong Moi Indie. Cuma untuk ngomong dengan kelas itu masih takut. Nggak ada organisasi masyarakat yang partisipatori. Sekarang-sekarang aja baru ngomong itu. Karena kalau orang waktu orde baru ngomong itu dianggap mobilisasi massa. Yang di daerah-daerah itu lebih ngeri. Aku di Sumatra. Apa bedanya jadi Nagari? Waktu Orba nggak gitu. Kelompok-kelompok silat itu tumbuh. Dulu orang takut berkumpul karena mobilisasi massa. Ancamannya di desa itu lebih ngeri. Tentu saja, orang-orang Orba nggak ngomong itu tapi…
Rifki M : stabilitas
Nuning : ya, mengganggu stabilitas. Itu memang jadi turunannya lentur banget. Nggak ada kejelasan soal itu. Apa-apa yang dianggap berbahaya, yang kayaknya punya potensi ini, nggak boleh. Kalau aku membaca 2 review ini, Gita dan Linda. Linda oke, lumayan. Yang Gita masih perlu membandingkan, tapi ini kelemahan umum, kayak tehnik membandingkan keduanya. Kayak baca ini, terus baca yang lain. Kalau baca tulisanmu, kamu baca satu, nulis. Baca yang lain, nulis. Yang perlu dilatih itu membuat perbandingannya. Apa yang menyamakannya? Terus yang membedakannya. Mungkin caranya cari persamaannya dulu. Kalau Febi itu ngomong komunisme apa. Budiawan apa. gampangnya cari hal-hal yang terus-menerus diulang-ulang di tulisan itu. Soal perspektif. Sama-sama ngomong kiri, tapi ketahuan bedanya. Budiawan itu ngomong biografi… bagaimana komunisme itu dibuat oleh orang-orangnya. Sementara, Hedi Hadis ngomong yang besar. Kerangka internasional. Kenapa itu harus dihancurkan di Orde Baru. Budiawan ngomong ini penting rekonsiliasi, tapi kenapa selalu gagal. Dia menelusuri. Sebenarnya nggak benar. Secara tradisi, Islam itu dekat dengan… Bahkan anak-anak muda sekarang yang belum tercerahkan dengan bacaan-bacaan ini tidak menduga bahwa dia muslim, tapi komunis. Wacana ini sengaja dihilangkan. Tahun 65 ada organisasi muslim yang ikut dalam PKI. Itu yang jadi merumitkan.
Rifki M : aku pernah membaca tentang PKI. Tulisannya cukup menjelaskan kenapa PKI dikaitkan dengan ateis. PKI itu sosialis. Tidak ada pemilikan tanah. Di Indonesia tanah dimiliki Kyai dan kebanyakan orang beragama sehingga banyak orang menyangka PKI akan menyerang Kyai bukan karena dia punya tanah, tapi karena Islam-nya. Itu agak rancu, menurutku. Yang satu dia berbicara Islam, kajian teoritis yang sangat tafsir banget. Yang satu dia berbicara tentang praksis. Oke, ketersinggungan itu hanya karena tanah aja. Tapi karena dia Islam, agak kontradiktif itu lho.
Nuning : menurutmu gimana tentang kesulitanmu dengan membaca itu.
Gita : benar sih. Aku baca sat uterus menuliskanna. Baca satunya.
Nuning : menurutku itu kesalahan umum. Mencari poinnya. Orang ini ngomong apa ya. Orang yang ini ngomong apa. terus kita mengkritisinya dengan bahasa sendiri. Budiawan itu bagus. Itu contoh nanti kalau teman-teman bikin skripsi. Tinjauan pustaka itu sangat bagus. Soalnya dia ngomong: pertama, mengelompokkan. Bikin kategori. Ada 4 di sini. Bagian selanjutnya, dia ngasih penjelasan masin-masing kategori. Dirunut lagi. Dirinci. Pokoknya wacana umum dalam konteks Indonesia. Kalau Siegel itu kan agak lain. Dia kan melihat wacana komunis ini untuk melainkan yang lain. Ini bisa dipakai teman-teman ketika menulis esai atau gimana. Ngasih konteks ini dituliskan. Terus dia mengulas lagi tentang komunis, komunisme. Yang penting itu membahasakan kayak halaman 18. Good Fellow melihat wacana komunisme sebagai orang materialis. Ini yang bagus. Pas di Tinjauan Pustaka itu kamu membahasakan sendiri tulisan yang kamu baca itu. Kayak apa sih dia itu sebenarnya. Baru setelah itu, Budiawan mencari kesamaan. Kan selalu begitu. Kayaknya aku bukan ini atau ini, tapi aku agak mirip dengan ini. Mencari kesamaan dengan yang mau ditulis. Menulis itu bukan ide baru. Kamu pinjam. Kesempatan ngomongnya di sini. Dia ngomong rekonsiliasi. Dia bilang itu memang bukan hal baru, tapi yang nulis tentang itu belum banyak. Ini standard, tapi okelah. Maksudnya, bisa ditiru cara nulis step-stepnya. Kemudian dia bilang untuk mendekonstruksi itu dia perlu tahu tentang sejarah masa lalu. Makanya dia ngomong tentang buku putih. Wacana di Bab III tentang awal-awal pembentukan PKI. Terus ngomong upaya-upaya rekonsiliasi meskipun gagal di praktis, sebenarnya anak muda NU itu mencoba itu. Itu cara lah. Jadi, sebenarnya, aku sih percaya kalau init uh memang nggak ada rumusannya. Itu bisa dipelajari dengan cara melihat. Kalau secara tulisan, aku lebh suka tulisannya Budiawan dari pada Heidi. Itu sistematis banget. Kalau Heidi, nggak rapih. Teman-teman nanti bisa membandingkan, kalau mereview Laksmi, cara nulisnya beda. Kan sama-sama ngomong tentang makanan kayak Beng Chua. Sekarang yang masih aktif kuliah, siapa? Kamu skripsi?
Meita : iya.
Nuning : aku mau men-try out dengan membikin tugas-tugas itu. Kok nggak ada yang bikin pertanyaan.
Gita : aku bikin.
Nuning : satu.
Gita : dua.
Nuning : tapi, susah nggak sih sebenarnya mereview membandingkan dua?
Rifki M : bisa, tapi sulit.
Ferial : masih bisa dikerjain. Kok kliniknya nggak jalan-jalan sih?
Linda : bingung mau nulis apa?
Ferial : makanya datang ke klinik.
Nuning : yang mau diklinikin apa?
Ferial : dia bingung berari ada pilihan.
Meita : dosenku sudah ngasih tulisannya, tapi katanya itu masih bahasa buku bukan bahasaku sendiri.
Nuning : makanya, Budiawan itu bisa dicontoh. Nggak hanya ngomong ini, ngomong itu, tapi direfleksikan.
Rifki M : ngomong apa gitu.
Nuning : maksudku direfleksikan gitu. Budiawan ngomong otobiografi.
Linda : buatku susah menyimpulkan orang ini alirannya apa.
Nuning : bukan menyimpulkan. Ilmu social itu berubah. Itu yang menarik.
Lina : kayak menginterpretasikan sendiri.
Nuning : ya interpretasi itu yang harus dilatih. Kalau sejarah itu, ngomong ini. Kalau ilmu sosial itu bermain-main di interpretasi. Itu mungkin kata-katanya sendiri, „materialis“. Itu butuh dilatih.
Linda : kalau kayak gitu, kita diandaikan tahu peta besarnya. Jadi, meraba-raba.
Nuning : amannya, baca dari tingkat yang paling genuine itu baca dari kita. Misal kalian lahir tahun 80-an. Kalian baca ini itu dikerahkan yang kalian punya. Mungkin beda kayak Budiawan membaca ini atau aku membaca ini. Jadi, nggak harus punya pengetahuan yang macam-macam. Kan aku juga nggak bisa membaca semua tulisan komunisme. Jadi, mengerahkan interpretasi itu.
Rifki M : tapi, agak riskan kecenderungan untuk mengada-ada. Misal aku pernah nulis tentang pertanian tela. Tanya ke petani tela. Dia bilang menanam tela langkah-langkahnya begini. Oh, ada langkah-langkahnya. Pertama, aku membaca petani tela hidup di desa yang… menanam tela ada langkah-langkahnya. Itu sudah ada struktur kapitalisme. Itu kan ngawur banget bisa ditarik ke sini, ditarik ke sana.
Nuning : harus dilogika kalimat yang kita tulis. Ada lobang nggak. Itu perlu dilatih juga. Pikiranmu itu bayangkan kayak ngasih ke orang dan itu kadang-kadang nggak lengkap strukturnya. Itu kamu harus lengkap strukturnya.
Ferial : interpretasi itu nggak harus nyomot sana, nyomot sini.
Nuning : enggak. Interpretasi itu pembacaan dari kamu sendiri. Aku nggak suka beberapa karya tulisan yang nggak genuine membaca dari kamu sendiri. Itu jadi bergantung. Misal: ngomong apa, tiba-tiba Foucoult ngomong begini. Itu mungkin sama dengan yang kamu omongkan, tapi caramu untuk ke sana itu aku pengen tahu.
Monika : copy paste teori, bukan?
Nuning : iya. Penulis itu ada usaha untuk pembacaan. Kalau dia kan enggak. Dia bahkan nggak membaca itu. Dia kayak nyoco-nyocokin.
Meita : kalau me-review teori itu gimana?
Nuning : sama. Menurutku, itu review teori yang dibagian Budiawan. Itu cara bagus untuk review teori.
Linda : kan desertasi, Mbak. Jadi, lebih canggih.
Nuning : bisa dicontoh lah. Ini ngomong apa, ngomong apa. kalau skripsi kita harus menentukan dulu yang kita rujuk apa, terus ada hal baru yang kita tawarkan apa. ini bisa dijadikan contoh.
Linda : ini kajian-kajian yang
Nuning : itu kenapa dosen selalu menanyakan ketersediaan bahan untuk setiap karya tulis. Itu untuk melihat ketersediaan rujukan.
Gita : kalau ingatan pribadi untuk karya tulisan, bisa nggak Mbak?
Nuning : bisa. Kalau di buku sejarah, itu digunakan. Sebenarnya ada buku sejarah yang sering dipakai anak-anak etnografi. Apa ya? Isinya tentang kasus. Oke ya.
Ferial : rencananya kan bakal dimasukin 5 orang. 5 tulisan bakal masuk ke Surat. Nuning juga milih 5 tulisan yang masuk ke Surat. Jadi, kalau nggak ada tulisannya. Kita masuk terakhir tanggal 27. Review ini tugas di sini. Tugas utama kalian itu bikin tulisan yang 2000 kata itu. Dari tulisan 2000 kata itu akan dipilih 5 tulisan untuk masuk ke Surat. 27 pertemuan terakhir dengan Nuning.
Linda : itu dipresentasikan kapan?
Ferial : belum. Ini ngejar Surat dulu. Aku masih bingung. Agustus mulai masuk Aksara kelas berikutnya. Kayaknya bisa diselip. Makanya tulisannya dikerjakan. Sebenarnya, kita nggak akan ngejar. Itu kesadaran sendiri aja.
Linda : buat Surat itu review-nya atau tulisan 2000 kata?
Ferial : tulisan 2000 kata.
Linda : kalau topiknya nggak berhubungan?
Ferial : topik itu bisa berhubungan. Pokoknya, tulisan. Jadi Agustus itu Surat disebarkan di Jakarta, bersamaan Open House di Galeri Nasional. Masih ada 4 pertemuan lagi. Jadi, maksimal tanggal 17 udah harus dikerjakan tulisannya dan dikonsultasikan ke klinik.
Gita : ini nggak ada lagi Public Lecture?
Ferail : public lecture tanggal 16. Jadi, tanggal 17 usahakan tulisannya sudah jadi supaya bisa diedit di pertemuan tanggal 24 dan 27. Tolong dikerjakan.
Gita : aku nggak terbayang nulis dengan 5 buku. Kita jadi takut duluan karena nggak punya teori.
Nuning : nggak. Itu yang salah. Kamu nulis dulu kerangkanya. Teori itu alat untuk membaca.
Ferial : tanggal 17 tulisannya udah jadi ya. Buat Widya sama Gugun, ngumpulin revisi sesi 2. Kalau nggak, nggak dinilai.
Selesai jam 21.10 WIB

