Notulensi 22 Juni 2009

Pertemuan III
Mentor: Nuraini Juliastuti

Kelas mulai jam 19.30 wib

Hadir : Surya, Gita, Inggra, Gugun, Joko, Ayu, Widya, Monika, Linda

Nuning    : oke. Hari ini masih membahas kerangka tulisan yang sudah masuk. Tugas pertama kemarin. Kemarin yang sudah dibahas Silvia dan Gugun. Hari ini, Rifki dan Brigita. Mungkin bisa dibaca dulu tulisannya Brigita. Judulnya “Perayaan 24 jam, Pertumbuhan Circle K di Jogjakarta”. Ini pertanyaan penelitiannya Gita. Perlu dibacakan, nggak sih?

Ferial    : sini aku bacain.

Nuning    : iya, kayaknya perlu dibacakan dulu deh.

Ferial    : judulnya “Perayaan 24 jam, Pertumbuhan Circle K di Jogjakarta”.

Nuning    : didengarkan ya, sambil direnungkan.
Ferial membacakan tulisan Gita.

Nuning    : itu tadi idenya Gita. Terus, ini adalah pertanyaan penelitian yang saya coba tuliskan kembali. Ada 5, kayaknya. Jadi satu, apakah perkembangan Circle K yang semakin menjamur di kota Jogja ada hubungannya dengan pertumbuhan kota di Jogja? Ini menurutku… Oke, nanti urusan kalimat-perkalimat itu nanti ya. Kemudian yang kedua, apakah kebiasaan seks bebas. Ini aku agak me-review sedikit. Apakah kebiasaan seks bebas, pesta-pesta dengan miras dan narkoba bisa dijadikan alasan mengapa semakin banyak Circle K di kota ini? Ketiga, apakah sebaliknya, kehadiran Circle K justru yang menjadikan kebiasaan-kebiasaan ala Barat itu sebagai gaya hidup baru kaum muda Yogyakarta? Kemudian yang keempat, bagaimana kita dapat memahami perubahan budaya yang begitu cepat di kota ini? Kemudian yang kelimat, dari manakah sesungguhnya kira-kira akar dari perubahan ini? Dari masyarakat Yogya sendiri atau dari pendatang? Ini saya berusaha tidak menghiraukan dulu struktur kalimat yang dipakai di pertanyaan-pertanyaan ini, tapi saya akan membahas asumsi-asumsinya Gita di tulisan itu. Pertama, Jogja adalah kota yang lugu. Gita tadi mencontohkan di situ yang dia bayangkan ketika pertama kali masuk ke Jogja, belum benar-benar hidup di sini sampai sekarang. Misalnya: becak yang lamban, logat Jawa yang medhok, dan sebagainya, dan sebagainya. Terus kemudian, Gita juga mengatakan bahwa kota ini mulai luntur keluguannya. Misalnya dia mengatakan seks bebas, pesta miras dan narkoba. Seperti itu. Kemudian, dia mulai masuk ke topic yang dia tuju, yaitu: Circle K. Ini toko yang menjual banyak benda-benda ringan yang menunjang kehidupan malam. Kehidupan malam itu diindikasikan dari penjualan barang-barang yang seperti tadi yang disebutkan ya, bir, dan kondom, dan test pack. Nah, komentar saya itu: satu, sebenarnya mungkin kalimat yang pertama itu bisa yang terakhir-terakhir, tapi yang pertama; apakah pembayangan Jogja sebagai sesuatu yang lugu itu valid, nggak? Valid itu maksudnya itu benar, nggak? Karena gini. Aku membayangkan; kamu membayangkan kota Jogja itu memang, ini kayak pandangan orang yang belum pernah datang ke suatu tempat, terus kemudian tinggal di sana. Terus, kamu udah menyimpan, punya bayangan-bayangan sendiri tentang kota itu. Entah apa pun itu. Entah yang dianggap itu lugu, atau indah, yang cantik. Kayak-kayak gitu. Itu pandangan-pandangan yang, menurutku, agak romantik. Terus kemudian, yang berikutnya fenomena yang kamu sebutkan tadi, yang minum bir dan narkoba itu. Aku kalau menangkap di situ kayaknya itu sesuatu hal yang benar-benar baru. Baru dan itu kayaknya baru kamu rasakan setelah kamu mencoba menghubungan dengan fenomena Circle K. Nah, kemudian, Circle K itu diasumsikan sebagai sesuatu yang berhubungan erat dengan perkembangan Jogja yang kamu anggap bergeraknya semakin permisif. Kan gitu. Logika pemikaranmu kan gitu. Benar, nggak?

Gita    : hm mmh.

Nuning    : nah, menurutku, asumsimu itu nggak ada bedanya dengan banyak… Ini sebenarnya teori-teori lama. Sebenarnya, dulu juga orang, terutama kalau yang studi komunikasi atau apa pun ya, itu orang mengenal teori jarum suntik itu lho. Jadi, kayak film porno atau apa pun itu ada hubungannya dengan meningkatnya seksualitas di kalangan remaja. Itu bisa dimodifikasi macam-macam, tapi, menurutku, pandangan seperti itu itu mirip-mirip dengan asumsi yang kamu buat. Jadi, kayak ada hubungan langsung gitu. Ini soal persepsi ke kemajuan, melihat ke hal baru. Sebenarnya yang penting ini, kan kamu ngomong tadi soal Jogja yang kamu anggap mulai luntur identitasnya. Jadi, kamu kayak membayangkan kota Jogja yang seperti itu. Kamu punya idealisasi sendiri yang itu juga belum sepenuhnya kamu eksplorasi di situ, tapi paling nggak yang tertangkap itu kamu membayangkan Jogja itu lugu dan ini sudah mulai terkotori dengan adanya perkembangan yang sekarang. Nah, kamu melihat perkembangan satu kota itu selalu datang dari faktor luar. Datangnya dipengaruhi dari faktor luar atau yang kamu sebut di situ term-nya pendatang dan, kalau di tulisanmu itu, asumsinya itu mengancam keaslian karakter kota. Nah, itu lagi-lagi sama asumsinya dengan pandangan lama orang tentang globalisasi, tentang modernitas. Ingat, nggak yang kalau lihat film-film Indonesia ya saya kira tahun ’70, ’80 ya. Film-filmnya, saya rasa, filmnya Benyamin itu paling banyak atau film-filmnya Warkop yang awal-awal ya. Kan mereka sebenarnya banyak ngomong soal modernitas gitu. Masuknya hal-hal yang menurut mereka modern dan sesuatu yang dianggap modern itu sesuatu yang kayaknya kontra dengan apa yang ada di sini. Atau, film-film remaja dulu.

Ferial    : atau fenomena itu lho yang pas buku “SeX in The Kost” yang baru muncul.

Nuning    : oh ya. Itu juga. Buku itu sebenarnya menarik menurutku karena oke itu memang fakta gitu ya, tapi cara melihat itu kayak kalau aku bilang di sini, aku kan mengatakan kamu normative turistik gitu ya. Kalau pandangannya, sebenarnya, itu pandangan/kaca mata yang sama yang dipake si? Siapa sih yang bikin “Sex in The Kost” itu?

Peserta    : Iid.

Nuning    : oh, ada lagi. Buku yang “Jakarta in The Cover”.
Ferial    : oh, itu beda lagi.

Peserta    : MK.

Nuning    : tapi, mirip lho kaca matanya. Dia itu ngelihat sesuatu itu kayak mengintip gitu lho. Ya ngintip kayak menari dan kemudian dia kayak pandangannya itu nggak sabar untuk ngasih tahu ke orang, “Eh, ini lho. Ada ini, ini, ini.”

Ferial    : terus itu lho yang efeknya jadi anak-anak nggak boleh sekolah di sini kan?

Nuning    : iya. Itu sebenarnya jauh sebelum Iid, dulu ada orang yang bikin angket seks di SMA itu lho, Eko Sulistyo. Dulu banget, tahun ’80-an. Ada semacam itu. Nah, ini menurutku apa ya. Karena ini dilakukan di Jogja dan Jogja itu kan kultur Jawa. Ini ada hubungannya dengan persepsi melihat kemajuan. Kalau, menurut saya, memang coba baca lagi buku-buku tentang Jawa ya. Kalau menurut saya, Jawa itu justru sebuah suku yang sangat relative gitu. Ngelihat apa-apa itu

Gita    : fleksibel.

Nuning    : dia itu sangat fleksibel. Karena itu, banyak dikritik. Ada banyak buku-buku yang apa ya. Karena dia memang sangat relatif, melihat apa-apa itu selalu relatif, dan karena itu sebenarnya dia itu secara natural Jawa itu selalu dengan sigap menangkap hal-hal yang baru, sebenarnya. Kayak gitu. Jadi, dia dengan hal-hal yang baru itu memang nggak asing lagi. Apa ya. Kayak ditangkap dengan suka cita gitu kalau Jawa dan berusaha untuk dileburkan dengan kulturnya dia. Orang Jawa itu punya karakter yang kayak gitu. Itu mungkin perlu direnungkan kalau melihat perkembangan kota-kota Jawa. Perlu dilihat itu karakter orang-orang yang ada di dalamnya. Nah, terus, yang lebih penting lagi, Git, kalau dengan pertanyaan penelitianmu itu, apakah itu bisa dijawab dengan kerangka tulisan yang kamu rencanakanitu? Nah, kerangka tulisannya kan ini (menunjukkan selembar kertas berisi kerangka tulisan Gita)Ini pertanyaan penelitiannya. Nah, terus, ini apakah benar-benar bisa dijawab dengan: pertama, kamu melihat perbandingan tata ruang, interior ya, Circle K lokal dan yang berada di luar negeri. Terus, setelah itu, kamu bilang,  “Saya akan membahas sejak kapan Circle K berdiri di Jogja?” Ini, misalnya di sini kamu ngomong pertumbuhan toko, jumlah ya berarti, grafik penjualan. Nah, ini apakah bisa dijawab dengan ini. Nek menurutku, enggak. Terus, saranku, coba ada beberapa yang memang bukan kesalahan umum, tapi ya ini kesalahan umum penulis itu selalu berangkat dari tidak setia dengan melihat fakta itu lho. Jadi, interpretasimu itu dikotori oleh asumsi-asumsi yang sudah lebih dulu kamu bangun. Ngerti, nggak? Jadi, misalnya kamu punya asumsi-asumsi kayak gini: Jogja adalah ini, kota yang lugu. Terus, kamu punya bayangan sendiri tentang benda-benda yang menurutmu modern , yang menurutmu akan bisa mengotori Jogja. Kayak gitu. Tulisan itu kan memang macam-macam ya dan kebutuhannya juga macam-macam, tapi, menurutku, kalau untuk sebuah tulisan yang akademis, yang ada nilai ilmiahnya, usahakan untuk selalu melakukan interpretasi itu atas fenomena itu dari fakta yang kamu lihat. Oke, kamu tertarik dengan Circle K, tapi, sebenarnya, yang makin banyak itu nggak hanya Circle K. Toko semacam itu yang banyak juga nggak cuma Circle K. Ya dulu, mungkin, mall dan analisa tentang itu kan sudah banyak sekali, tapi yang banyak kan sebenarnya, yang menurutku menarik itu justru, kemunculan toko-toko kecil semacam itu. Kayak Indomaret. Itu kan gila, sampai di kampung-kampung gitu yang orang-orangnya bisa menyebarkan leafletnya itu dari rumah ke rumah. Nah, itu bisa dibaca apa? Artinya kan sebenarnya, kalau menurutku, kamu di sini sudah mencampuradukkan antara institusi komersial ini dengan hal-hal yang menurutmu merusak modernitas. Padahal, itu mungkin nggak ada hubungannya.
Gita    : kalau aku ini, Mbak, waktu awal aku nulis ini pun yang paragraph pertama itu, menurutku, kayak anggapan kebanyakan orang yang di luar Jogja itu lho. Selain anggapanku, jadi terus masudku, tulisan ini maksudnya bukan ingin mengatakan bahwa terus Circle K itu merusak budaya Jogja. Akhirnya juga aku malah mempertanyakan, sebenarnya, budayanya Jogja itu apa? Apa benar sesuai dengan yang distereotipkan atau enggak? Tapi, sebenarnya, yang aku paling penasaran itu kenapa bisa ada banyak banget Circle K dan di sana kan di Circle K itu banyak orang-orang yang suka nongkrong. Jadi, menurutku, tempat itu sudah jadi tempat gaya hidup baru. Kenapa orang lebih milih ke Circle K dari pada pergi ke Indomaret atau Super Indo? Dan di Circle K itu ada bir, ada barang-barang itu, sementara di Indomaret atau Super Indo, setahuku, tidak ada. Gitu.

Nuning    : mungkin, kalau ketertarikanmu seperti itu, mungkin, justru yang lebih menarik, ini bisa dirubah sama sekali. Mungkin bisa kayak kamu ingin melihat tempat nongkrong baru atau lotus hang out baru bagi remaja sekarang di depan toko yang itu sebenarnya, kalau nonton di film-film itu, mungkin orang nongkrong di Circle K itu juga ada kalau di luar negeri.

Gita    : katanya itu, Circle K jadi ramai sejak ada Kuldesak ya? Kuldesak kan ada Circle K. Pertama kalinya.

Nuning    : karena di situ ada ditunjukkan nongkrong di situ, di Jakarta.

Ferial    : tapi, pas film Kuldesak itu dah ada emang Circle K? Belum ada lagi. Baru I & TN dan emang tempat nongkrong di tengah Menteng.

Gita    : film itu ada Circle K-nya. Maksudku, mungkin itu nggak nyambung ya. Maaf banget.

Ferial    : seru sih kalau mempertanyakan Circle K-nya ya dengan barang-barang yang dijual di dalamnya. Ya itu seru.

Nuning    : artinya kan, kamu baru saja ngomong tentang hal yang mungkin menarik untuk dieksplorasi. Kan nggak ada di sini.

Gita    : aku nggak bermaksud untuk menjadi mengatakan bahwa kehadiran Circle K itu merusak ini, Jawa karena ya aku tahu banyak banget yang ngomong gitu dan nggak tahu benar atau enggak?

Nuning    : tapi, kalau di tulisanmu?

Gita    : maaf ya, Mbak. Ya, Mbak, maksudnya gitu, Mbak.

Nuning    : menurutku, kalau kamu tertarik, ada beberapa poin yang mungkin menarik dari…

Gita    : tuturan ini.

Nuning    : iya, dari tuturanmu. Misalnya soal yang kamu bilang tadi; bisa ngomong soal Circle-K-nya sebagai institusi komersil.

Gita    : makanya sistematikaku kan malah nanyain sejarah.

Nuning    : iya. Ini nggak ada hubungannya dengan pertanyaan penelitianmu kerangkanya. Harusnya kan kerangka tulisan itu menjawab pertanyaan penelitian. Itu sistematika yang kita bangun untuk menjawab pertanyaan penelitian kita.

Ferial    : kalau ini misalnya dibandingin antara Circle K sama Angkringan. Sama-sama tempat nongkrong.

Joko    : jangan angkringan. Burjo aja.

Nuning    : banyak sih tempat-tempat nongkrong baru.

Ferial    : banyak kan. Burjo, Circle K, angkringan.

Nuning    : yang baru-baru misalnya yang di Kota Baru itu, yang dekat jembatan.

Gita    : ini ya jembatan yang sebelahnya Mac D?

Nuning    : iya. Nah, dari situ kemudian pertanyaan lanjutannya yang kamu lihat apa? Oke, itu memang tempat nongkrong, tapi yang nongkrong di situ siapa? Bisa, nggak, kamu membedakan antara anak-anak yang nongkrong di Circle K dengan yang di jembatan itu? Terus misalnya yang di Alun-alun. Maksudnya, harus dilanjutkan sampai ke situ. Oke ini tempat nongkrong baru, tapi terus apa yang bisa dilihat? Kenapa misalnya ada nggak hubungannya dengan barang-barang yang dijual di sana yang ditawarkan di masing-masing tempat itu? Kalau McD, aku cukup bisa mengerti ya karena dia 24 jam. Kalau misalnya Circle K tuh, siapa sih yang suka nongkrong di situ tuh? Karakternya. Mereka biasanya beli apa?

Ferial    : dan biasanya yang nongkrong Circle K tuh menengah ke atas karena minumannya harganya juga di atas gitu kan.

Joko    : apa nggak Circle K itu karena azas manfaat aja 24 jam.

Ferial    : jadi bukan kebutuhan 24 jam lagi sih kata gua. Itu udah masuk gengsi.

Joko    : gengsi?

Ferial    : yo i.

Joko    : tapi kan bagi yang nongkrong gitu ya. Tapi, bagi sebagian orang kan.

Nuning    : ya, makanya itu juga pertanyaanku ke Gita. Kalau di sini kan, kalau dari kerangka tulisannya Gita itu kan seolah-olah Circle K itu ditempatkan di posisi yang kayaknya penting gitu dan ada hubungannya dengan perubahan kota Jogja. Padahal menurutku, ya Circle K kalau kayak gitu aku sih melihat dia nggak ada bedanya dengan toko-toko kecil yang ada banyak, yang benar-benar pesat sekali. Indomaret itu sampai mau menyetop pertumbuhannya karena dia sudah sampai ke kampung-kampung, sudah di mana-mana aja.

Gita    : ada yang 24 jam. Belum semua.

Nuning    : artinya, itu kan jadi kayak yang diomongin Joko tadi. Ya,ini bisa juga dilihat sebagai institusi perdagangan biasa, kecuali kalau memang kamu pengen melihat yang lebih dalam dari itu. Misalnya apa? Tempat nongkrong. Oke, itu menarik, tapi harus dibandingkan dengan yang lain apa?

Gita    : maksudnya, membandingkan tempat nongkrong lain itu.

Nuning    : iya, harus melihat tempat nongkrong lain yang semacam ini.

Ferial    : maksudnya, aku tertarik sama ini sih kayak budaya ngangkring. Jogja itu terkenal banget dengan ngangkring gitu lho, tempat jaman-jaman belum ada Circle K kayak sekarang ini. Ngopi, ya kan? Dari belum ramai kayak sekarang deh. Kalau sekarang kan di Jakal itu ada depan-depanan sama Circle K, Neng Ratri.

Nuning    : tapi sebenarnya juga ini ya, aku sih berpikir, tema itu yang penting harus bisa ditelusuri dalam-dalamnya gitu. Oke, itu memang tempat nongkrong baru, tapi ya itu tadi yang bisa kamu lihat apa?

Joko    : harus diwawancarai juga.

Nuning    : iya.

Inggra    : maksudku nanti agak beda juga antara tempat nongkrong yang angkringan tadi dengan konsep Circle K yang tempat tongkrongan. Kan sebenarnya kecil-kecil itu yang lebih menyebar karena tempat belanja cepat. Kayak fastfood. Itu yang ditonjolkan di sini tuh beda kalau topiknya disamain dengan angkringan itu beda karena yang diulas di sini kayaknya sih ingin nonjolin Circle K-nya ketimbang tempat nongkrongnya.

Gita    : mending ini aja kali, mempertanyakan fungsi Circle K bagi orang-orang di sini. Orang lebih menggunakan sebagai tempat belanja cepat atau tempat nongkrong?

Nuning    : ya mungkin ini. Bisa juga dikerucutkan ke fungsi Circle K terutama ke anak muda. Terus, misalnya ngomong bagaimana Circle K itu membentuk dan dibentuk oleh sekitarnya. Membentuk dirinya, oke dia memang institusi perdagangan biasa, tapi akhirnya memaknai dirinya sendiri jadi tempat nongkrong, lain-lain karena masyarakat sekitarnya memaknai dia untuk itu. Mungkin, bisa lihat itu.

Ferial    : tapi yang anehnya, Circle K di sini itu tidak terdorong untuk mengkondisikan itu jadi tempat nongkrong. Circle K Bali itu sampai disediain kan kursi. Di Bandung yang di Dago Plaza itu disediain kursi.

Nuning    : ya itu kayak gitu memang membentuk dan dibentuk.

Ferial    : dia mengkondisikan memang.

Gita    : tapi katanya Circle K di Godean nyediain laundry yang kayak di film-film itu. Baru. Ada. Aku belum lihat sih. Baru ada itu doing.

Nuning    : nah, mungkin itu menarik.

Ferial    : dan Circle K yang di depan Pura Wisata itu nggak laku. Itu tutup karena nggak ada yang belanja.

Gita    : terus kayak kenapa penempatan Circle K di sini. Kalau misalnya di sini, terus nggak laku. Terus, di sini laku.
Nuning    : tapi, mungkin, lebih menarik yang itu: membentuk dan dibentuk. Akhirnya, dia jadi kayak mengakomodir, kayak, mungkin, jadi sesuatu yang organik. Dia akhirnya mulai melengkapi dirinya dengan apa, laundry.

Ferial    : terus, disesuain kayak yang Bali itu tuh juga jualan minuman keras lain. Ada Smirnof.

Gita    : tapi bisa ya? Tadinya, aku pikir, kalau Circle K, barangnya harus sama semua karena ada franchise. Maksudnya, kayak Mc D gitu lho

Nuning    : bukannya, agak lazim hotdog.

Ferial    : tapi, bentuknya bukan kafe. Kalau Circle K Bali, itu kafe. Di dalam Circle K dan itu franchise-nya Circle K. Terus ada mirasnya itu lho. Nah, kalau yang aku perhatiin, kalau kamu bandingin sama yang luar, Seven Eleven yang gitu-gitu, mereka emang jualin kayak sandwich-sandwich-an dan sekarang itu mulai ada sandwich-sandwich-an.

Gita    : kayak AMPM ya?

Nuning    : iya.

Gita    : di sini ada AMPM, nggak, sih? Ada?

Ferial    : di mana AMPM? Di Jakarta?

Gita    : di Jogja ada AMPM? Nggak ada kan.

Ferial    : tapi, ada 7 11.

Forum tertawa.

Nuning    : mungkin, baca ini, Git, yang menarik Studi “McDonald of Society” ini, tapi, sebenarnya, dia itu ngomong McDonald sebagai sebuah institusi ya. Jadi, dia mengotak-atik metode yang dikembangkan McDonald itu. Mulai cara pelayanannya ke orang.

Gita    : tapi, Circle K juga petugas-petugasnya kasihan-kasihan. Nggak boleh pake jaket, nggak boleh duduk.

Ferial    : kok, jadi ke situ.

Gita    : tapi, maksud gua, ada hubungannya.

Nuning    : demi efisiensi.

Gita    : ya, kasihan kan, kalau nggak ada kerjaan, nggak boleh duduk.

Ferial    : tapi, mereka sering tidur lho.

Nuning    : coba dieksplorasi dulu Circle K. Jadi, Circle K-nya. Kamu berangkat dari situ. Cari, eksplorasi apa yang menarik dari situ, dari apa yang kita omongin. Ada pertanyaan lain, nggak? Komentar ke ininya Gita. Mungkin, kajian Circle K itu menarik.

Gita    : itu, Mbak, bayanganku. Kan mirip, Mbak, sama yang membentuk dan dibentuk. Maksudnya, kerangkanya itu mirip, Mbak.

Nuning    : kerangkamu itu cuma ini kok.

Gita    : ora, ora, pertanyaan, pertanyaan. Misalnya, kan gini, Mbak. Kehadiran Circle K justru menjadikan, yang kebiasaan malam itu diganti ya, Mbak. Itu jadi mirip sama membentuk dan dibentuk. Tapi, menurut Mbak, yang paling… Maksudku, kalau penelitiannya yang misalnya masalah membentuk dan dibentuk community itu, metodenya jadinya seperti apa?

Nuning    : sebenarnya, juga mungkin bisa dari ini. Artinya kan itu berarti kamu nggak hanya mempertanyakan tentang Circle K sebagai sebuah toko, tapi juga kamu sebenarnya sedang mengeksplorasi fungsinya dia sebagai sebuah ruang. Ruang itu kan hidup. Nah, coba dibaca-baca lagi nanti space dan place. Kan berkembang, sangat lentur sesuai dengan fungsi-fungsi yang dikenakan orang kepada dia. Tiba-tiba jadi tempat nongkrong. Mungkin, dia memang nggak punya bayangan bahwa dia akan jadi tempat nongkrong, tapi orang itu kan selalu membentuk. Kayak yang kaki lima itu lho. Pedagang kaki lima itu kan selalu punya cara untuk ya dia memposisikan dirinya di situ. Kayak intervensi ruang. Jadi, dia tiba-tiba memasang. Oke, ada got. “Oh, saya nggak bisa menyerah ini. Saya harus memasang, misalnya, kayu.” Ada fungsi-fungsi kayak gitu. Aku yakin, logika yang kurang-lebih sama itu juga ada ketika orang pengen nongkrong di Circle K. Nggak duduk-duduk, ya udah deh duduk di didepannya, misalnya di depan toko, atau yang kayak aku lihat di sini itu kan (di Jalan Paris, not) di seberangnya, di emperan toko-toko yang udah tutup. Kayak gitu. Fungsi-fungsi kayak gitu.

Gita    : mempertanyakan fungsi.

Nuning    : hm mmh. Ya, mungkin, bisa ngomong, kalau ngomong lebih luas lagi, bisa ngomong soal apa ya… Aku percaya tempat nongkrong itu juga bisa dipetakan; kenapa orang suka di situ dan nggak di tempat yang lain. Itu, mungkin, ada hubungannya dengan macam-macam. Bisa kelas. Bisa fungsi.

Ferial    : bisa gengsi.

Inggra    : nyaman.

Ferial    : gaya.

Nuning    : kan gengsi itu mengikuti. Mungkin, bisa jadi gengsi itu belakangan ya.

Ferial    : kan ada yang gaya gitu. Gaya dong nongkrong di Circle K.

Nuning    : masak sih? Itu mungkin perlu diperiksa ya, perlu ditanya, tapi itu lagi-lagi kan asumsi. Jadi, memang lebih baik kamu berangkat dari, kamu mengotak-ngatik Circle K itu. Jadi, tadi kan hal yang menarik itu, oke dia sebagai ruang. Kamu melihat itu. Terus, kamu melihat bagaimana itu dijalankan. Circle K sebagai sebuah, kayak, organisasi gitu. Orang-orangnya yang jaga toko, berapa orang. Kamu bisa mulai dari situ.

Gita    : tapi, kalau yang tadi itu, sebagai organisasi itu, terus nyambung sama yang jadinya komunitas itu gimana? Hubungannya apa?

Nuning    : itu sebagai tempat.

Gita    : jadi, tapi, pertanyaan pertamanya fungsi Circle K sebagai…

Nuning    : mungkin sebagai ruang. Iya, sebagai ruang dulu.

Gita    : pertanyaan pertamanya, dia sebagai yang Joko bilang tadi, jangan-jangan dia untuk belanja cepat

Nuning    : iya, aku juga berpikir seperti itu, tapi kan lama-lama dia berkembang.

Gita    : atau tempat nongkrong. Pertanyaan pertamanya berarti itu.

Ipang    : kalau masalah banyak-banyakan, kalau menurutku ya, di Jogja itu masih banyak tempat belanja, cuma kan, walaupun cuma sedikit gitu, tetap ada yang nongkrong.

Gita    : masalahnya, kalau cuma buat tempat belanja itu, kenapa sebanyak itu dan saling berdekatan, mahal gitu.

Nuning    : ya itu, sebenarnya, pertanyaan yang sama bisa kita ajukan kenapa mall semakin lama, semakin banyak. Kan gitu. Misalnya, kenapa ini ada pasar yang begitu bagus dan besar, pasar tradisional, tapi kenapa orang tetap memaksa bikin mall banyak. Kalau itu kan kajiannya udah banyak. Kalau aku sih, ya itu udah agak biasa gitu tema seperti itu. Mungkin, akan agak lebih menarik, aku sih lebih tertarik dengan tulisan yang cerita tentang sebenarnya gimana sih sebuah institusi ini dikelola. Kayak model Circle K. Makanya dia bisa jadi ya tempat nongkrongan gitu.

Gita    : di luar negeri gitu juga, nggak, sih?

Nuning    : kayaknya, iya. Kalau di Belanda, Albert Hain. Artinya, selalu ada tempat-tempat yang memang itu tempat nongkrong di depan gitu. Aku yakin nggak di semua Circle K gitu.

Gita    : kalau di film-film, kan di mobil.

Nuning    : jadi, ada yang baru yang ditawarkan gitu lho.

Rifki M    : aku coba komentar ya. Sepertinya akan mempertautkan banyak hal. Kalau ngomong soal Circle K, misalnya, Circle
K kan hadir, ya dia tidak untuk membentuk. Saya yakin, Circle K hadir tidak untuk membentuk budaya. Circle K hadir hanya karena faktor ekonomi. Lalu kemudian, ada orang-orang yang tiba-tiba nongkrong di sana tidak memaknai itu sebagai imbas dari ekonomi, tetapi dia sebagai orang yang punya, sebagai kelompok yang punya kultur sendiri ya yang tidak ada hubungannya dengan Circle K yang berbasis ekonomi. Padahal, dia nongkrong di sana dan nyari apa-apa di sana. Nggak tahu ini hubungannya di mana, saya kesulitan. Lalu, apalagi dihubungkan dengan tradisi nongkrong yang sebenarnya ada di Jogja. Di Jogja, mungkin, angkringan ya, tapi angkringan itu penjualnya juga tidak murni finansial karena dia punya kebutuhan untuk ngobrol. Dia menyediakan itu, tetapi Circle K tidak. Nggak tahu. Saya mempertautkan itu. Itu gimana?

Nuning    : kalau logikamu yang pertama itu, memang iya. Itu kan tadi kita mendiskusikan itu. Jadi, memang aku yakin setiap produk kebudayaan apa pun itu, toko, atau buku, atau apa pun, memang waktu dia awal itu ya memang gitu aja. Cuma kan memang nantinya dia akan mendapatkan makna-makna baru dari orang-orang lain yang menggunakan itu, yang mengkonsumsi dia. Begitu juga dengan Circle K. Nah, makanya tadi, aku menyarankan, akan lebih menarik kalau mempelajari Circle K sebagai sebuah space yang terus-menerus berkembang, yang lentur. Dia juga punya kebutuhan sendiri, punya tujuan sendiri, jualan gitu, tapi dia juga mengikuti apa pun yang dilakukan orang-orang lain padanya. Jadi, ada tukar-menukar makna gitu antara Circle K dengan orang-orang lain yang mengkonsumsi dia, yang datang ke situ. Itu satu. Terus, yang kedua soal yang nongkrong itu kalau memang ini topiknya ya ke nongkrong gitu. Memang dulu itu di Balairung kayaknya ada tulisan yang cukup panjang tentang angkringan. Mungkin, bisa ditelusuri di Kompas, kayaknya pernah tentang angkringan sebagai institusi nongkrong yang kayaknya klasik ya. Aku yang tertarik, mungkin, sebenarnya, sama aja sih. Cuma memang kalau di angkringan itu kan kayak ada ruang atau kesempatan untuk berkomunikasi dengan penjual. Itu lebih terbuka. Iya tho? Atau di warung lah yang face to face. Ya, sebenarnya, sama kalau kita bilang orang yang suka nongkrong Circle K sama McD yang 24 jam. Itu kan juga, orang itu nggak begitu memanfaatkan orang yang ada di situ, tapi orang datang dengan membawa perangkatnya sendiri, teman-teman. Pernah lihat nggak sih, orang belajar di McDonald.

Gita    : ada.

Ferial    : belajar gitu?

Nuning    : he eh. Ya, belajar.

Gita    : aku pernah menemui seorang anak di KFC yang belajar.

Ferial    : tapi, itu masalah budaya deh kayaknya. Maksudnya, budaya kita kan nggak belajar di tempat-tempat gitu.

Nuning    : kayaknya, kita harus lebih hati-hati dengan ngomong budaya deh karena itu soal fungsi yang itu, ya karena memang nggak banyak tempat nongkrong. Tempat nongkrong yang tersedia ya di McDonald, yang aman, yang kamu hanya bisa beli, ya udah beli aja Coca cola, misalnya, kamu nggak akan diapa-apin. Kamu bisa terus belajar.

Inggra    : tempat nongkrong malam hari ya?

Nuning    : iya dan karena kan dia sampai malam, sampai 24 jam kalau misalnya McD.

Inggra    : yang nongkrong-nongkrong itu kan misalnya bentuknya, wujudnya Circle K. Baru hasilnya itu adalah tongkrongan itu kan. Lebih ke situ. Berarti, ini membentuk satu budaya baru dong.
Nuning    : sebenarnya, kalau nongkrongnya sendiri kan bukan baru, cuma memang dia pindah tempat sebenarnya menurutku

Gita    : tapi, Mbak, kalau Circle K yang di Indonesia itu tetap bisa bilang yang membentuk dan dibentuk itu, nggak? Karena, jangan-jangan, orang yang nongkrong di Circle K misalnya mengkopi keadaan yang dia lihat di film, ternyata bisa nongkrong di Circle K gitu.

Nuning    : itu harus diperiksa. Harus kamu lihat dulu. Kayak ada pra-observasi gitu. Karena, menurutku, ini kan jadi gini, kalau ngomong tentang nongkrong di Circle K, sebenarnya, kita nggak bedanya dengan ngomong  kalau nongkrong di McDonald, ada mana, mana, mana. Nah, karena itu, mungkin, lebih menarik kalau melihat Circle K itu kayak, kamu berangkat dari Circle K-nya gitu lho sebagai sebuah institusi.

Gita    : bahwa dia sebenarnya bukan tempat nongkrong?

Nuning    : he eh. Ya dilihat. Ditelusuri dari situ. Circle K, franchise, terus jual apa. Baru dari situ bisa masuk pelan-pelan ke, dia sukanya berada di jalan-jalan apa, lokasi. Itu lebih… Memang berangkat dari faktanya. Itu lebih aman, menurutku, dan nggak main asumsi.

Ferial    : kalau tempat belajar tuh, aku ingat di Bandung pernah musim kafe dan library. Itu mulainya dari forlap, dari yang gitu-gitu. Terus itu tuh banyak banget yang datang ke sana buat belajar. Terus, jadi gaya baca buku di kafe-kafe. Itu bergaya gitu lho dan menjamur. Banyak emang kafe dan library jadi satu.

Nuning    : terus ini, perbanyak baca buku. Oke. Sekarang Rifki M. Rifki tuh ada 2 esai. Aku yang pertama dulu ya. Judulnya ini (“Menjamah Kolase Imagine Identity di Resto-resto Kuliner”, not). Mungkin, kamu cerita dulu idenya.

Rifki M    : begini. Sebetulnya, berbicara tentang Jogja dan berbicara tentang Indonesia, soal makanan itu kan sebetulnya sudah menjadi entitas tersendiri dari wilayah kultural. Misalnya: di Jogja ada apa, di Malang ada apa. Maka itu bisa didefinisikan bahwa makanan adalah bentuk identitas kultural. Lalu, kemudian, di Jogja, saya menemui banyak sekali ruang-ruang kuliner yang tidak hanya makanan dari daerah-daerah di Indonesia, tetapi juga dari mancanegara. Nah, karena orang sudah menganggap bahwa makanan kuliner adalah representasi dari budaya, maka ketika orang makan sate, misalkan, maka dia akan menganggap ini makanan Madura. Kalau orang makan, ya di Purwokerto, kalau orang makan di KFC, misalnya, dia sedang berada di mana. Dari situ, kemudian, saya ingin mendefinisikan, saya melihat lain. Ada orang Jawa, misalkan, yang suka makan sate, misalkan. Karena makanan adalah bentuk identitas dan ada orang Jawa, saya nggak tahu ini, saya menganggap ada kros identitas dalam dirinya. Sama ketika orang makan makanan Jepang, misalnya, atau makanan-makanan Amerika, misalnya. Ya, saya ingin menghantarkan itu saja.

Nuning    : terus, pertanyaan penelitianmu?

Rifki M    : bagaimana mendefinisikan identitas orang berdasarkan makanan yang disukainya… yang dikonsumsinya lah?
Nuning mengetik pertanyaan-pertanyaan penelitian Rifki M diketik.

Gita    : yang disukai atau dikonsumsi?

Rifki M    : eh… (bingung)

Nuning    : piye iki?

Rifki M    : komentarnya dulu aja, Mbak?

Nuning    : sudah baca itu, nggak? (pada kelas) komentarku, si Rifki itu, kayak ini. Misalnya dia mencontohkan, dia berangkat dari asumsi bahwa Jogja itu punya keaslian makanan. Ini lagi-lagi ngomong soal keaslian. Terus, dia ngomong makanan-makanan yang bukan asli. Aku setuju, sebenarnya, kalau di makanan itu ada identitasnya, tapi, nah, kalau pertanyaanmu itu, mungkin, kita perlu berhati-hati ya. Identitas seseorang yang, kayaknya, tergambar dari makanan-makanan yang dia konsumsi.

Rifki M    : begini. Saya melihat, ketika makan di…

Nuning    : restoran Jepang. Kowe merasa sebagai orang Jepang?

Rifki M    : hm mmh. Ya, benar. Itu mempengaruhi logika saya, attitude/sikap saya, lalu apa-apa yang sebelumnya ada dalam diri saya, saya akan hilangin. Ya, nggak tahu. Itu mendeskripsikannya gimana, ya?

Ipang    : aku pendapat personal banget. Jadi, aku tuh suka banget masakan Padang dan sering banget mengkonsumsi, tapi kalau misalnya dibilang aku melekatkan diri identitas Padang, itu ya, kayaknya, yo ora terima tho.

Linda    : sama. Aku suka makanan Italy, tapi terus aku tidak merasa sebagian diriku hilang ketika aku makan di restoran Italy, misalnya. Ya, kayak gitu. Jadi, aku cuma senang memakannya.

Rifki M    : bahkan penolakan seperti itu pun, itu menunjukkan inkonsistensi identitas dirinya. Saya tetap tidak mau dikatakan sebagai orang Jepang, meskipun menikmati gaya hidup Jepang ketika saya makan. Saya tetap tidak mau dikatakan orang Minang, meskipun saya suka makanan pedas.

Ferial    : atau yang opposite. Orang makan Padang, biasanya orang protes; makanan Padang di sini tuh bukan masakan Padang lagi, udah Jawa, udah manis. Makanan Jepang, udah ada rasa.

Nuning    : kalau aku, justru lain. Di tulisanmu itu aku cukup terganggu dengan bahwa kamu menganggap seolah-olah keaslian itu, menurutku, itu agak terlalu sederhana. Oke, yang menurutmu tidak asli itu adalah makanan Jepang, Italy,terus apa lagi yang kamu tulis di sini. Terus, yang asli itu misalnya yang kayak makanan di sini. Misalnya: Gudeg dan macam-macam. Nah, menurutku, bahkan untuk memeriksa yang asli dan yang tidak, terutama soal makanan ya, itu kita perlu eksplorasi lagi karena gini. Aku sudah pernah menulis tentang makanan sedikit dan ini aku banyak dibantu dari buku, kalau sudah pernah membaca, bukunya Danis Lombart. Itu buku yang “Nusa Jawa Silang Budaya” yang seri 1. Yang di sini terutama sih (menunjukkan jilid buku satu, not). Bahan-bahan bahkan sampai, di sini misalnya Si Lombart itu ngomong soal bahkan nggak hanya bahan-bahan makanan; bumbu, tumbuh-tumbuhan, sampai teknik memasak itu kita perlu berhati-hati mengatakan ini asli atau enggak karena kayak teknik goreng itu semuanya bukan dari sini, itu dari Cina. Begitu, misalnya. Terus, soal apa ya misalnya aku mencontohkan di sini, padi, itu tanaman asli Indonesia, nggak? Kalau Lombart bilang, jelas enggak. Kayak gitu juga dengan teh dan kopi kan. Terus, di sini dia cerita banyak tentang bagaimana, sebenarnya, Belanda dan Cina itu bergantian untuk memasukkan hal-hal baru dalam hal makanan sampai yang olahan-olahan gitu, bakso, mie ayam, terus gorengan karena gorengan itu teknik menggorengnya itu bukan dari sini. Terus, sampai ke, misalnya yang menarik di sini, sampai ke peralatan yang dipakai untuk menggoreng itu. Wajan itu memang bukan dari sini. Memang, bisa sampai luas banget. Jadi, memang harus hati-hati dengan kayak gitu, ngomong bahwa ini adalah asli dan yang bukan. Ini panjang banget. Sampai teknologi pertaniannya ya. Soal bahwa kacang tanah bisa dipakai untuk minyak. Terus, soal tebu itu bisa dipakai untuk gula, misalnya. Macam-macam. Olah-olahan kayak gitu itu. Itu semua memang bukan dari kita. Itu semua dari luar. Kalau ngomong soal yang tadi kamu ngomongin kait-mengait yang macam-macam itu, sangat kompleks kalau ngomong soal makanan. Bahan-bahan yang yang kita semua kenal, itu bukan dari sini. Kayak-kayak gitu misalnya. Serumit itu, misalnya. Sampai ke alat-alatnya.

Joko    : masakan Sumatra itu juga dipengaruhi oleh India, kebanyakan.

Nuning    : sangat. Iya. Nah, makanya, tadi aku nanya di sini apakah ada katalognya pameran Krisna Mukti. Itu lama banget, tahun 2000. Iya, tahun 2000 itu bikin pameran “Makanan tidak mengenal Ras”. Itu di Rumah Seni Cemeti. Itu pameran, menurutku, bagus banget karena itu menunjukkan makanan-makanan yang menurut kita asli, kayak martabak, itu bukan gitu. Menunjukkan saling kait-mengait itu lho. Ya, memang kita nggak ngomosng soal globalisasi, tapi ngomong soal politik makanan. Misalnya yang di sini, kalau ngomong soal makanan, yang menarik lagi kan misalnya babi. Itu kan selalu dianggap sebagai kayak the other food dan selalu ada persoalan dari tahun ke tahun soal babi itu karena kita punya MUI yang lembaga Islam, tapi kayak jadi corongnya pemerintah dan itu fungsinya kayak menunjukkan siapa yang paling dominan kan gitu dengan cara menunjukkan makanan ini boleh. Padahal, kan jelas-jelas untuk Negara seplural ini ya pasti ada yang makan babi. Hal-hal yang kentara kayak gitu. Kalau ngomong soal makanan, eksplorasinya bisa sampai gitu. Nah, jadi, persoalan identitas itu, kalau yang kamu sebutkan itu, itu dengan mudah bisa dipatahkan oleh penelitiannya Lombart itu karena memang dari hal yang sekecil-kecil itu, soal makanan, itu memang nggak ada yang baru.

Rifki M    : kalau saya ingin membandingkan dengan konsep hak paten tentang pusat-pusat budaya, nggak tahu, itu kan sebetulnya bisa dipatahkan dengan ini. Itu berlaku di Barat dan seakan tidak berlaku di Timur karena di Timur selalu dipertanyakan hal-hal seperti ini.

Nuning    : itu memang sulit karena memang konsep hak paten sendiri, copyright dan turunan-turunannya, itu memang, menurutku, suatu konsep sudah bergerak dulu. Itu memang dia diciptakan di awal-awal itu untuk mengatur perdagangan, tapi memang dia akhirnya berkembang semakin lama, semakin lama menjadi alat yang politis karena dia dilekatkan dengan organisasi-oraganisasi lain yang besar itu, seperti WTO, ya alat dagang untuk menekan Negara lain akhirnya. Nah, orang-orang yang lebih aware dan Negara-negara yang kayaknya bisa menangkap ini itu yang bisa mematenkannya sehingga pertanyaan-pertanyaan soal keaslian, siapa yang sebenarnya melahirkan ini, konteks apa, itu jadi kabur. Apalagi, untuk konteks Negara-negara di sini, Asia yang memang, wah ini kan soal persilangan budayanya itu sangat intens gitu. Jadi, soal mempertanyakan ini yang asli mana nih alat music ini? Punya Malaysia atau punya kita? Karena masing-masing punya dan memang, menurutku, perjalanan yang dialami oleh alat music itu, atau lagu itu, atau makanan-makanan itu kan ulang-alik. Kita bisa ngomong banyak soal perjalanan dari jaman dulu ya. Memang itu jadi rumit. Nah, sementara, tiba-tiba ada konsep ini. Konsep ini kan sangat definitive. Ya memang hukum. Ini jadi punyaku. Ya, sudah sesuai ini. Padahal, kalau ngomong konteks di luar itu, lain lagi ceritanya, bisa ngomong yang lain gitu.

Rifki M    : pada waktu buat itu, memang saya agak menyadari ini, sebetulnya, tapi saya coba menanggalkannya karena, saya kira, anggapan itu dikontruksi memang. Awal, kita dikonstruksi oleh konsep hak paten. Lalu, lamat-lamat kita mengaku beberapa produk budaya dari luar bahwa itu asli dari sana. Lalu, pada perjalanannya, banyak kajian tentang budaya kita yang ingin coba disematkan asli, tetapi kemudian dipertanyakan banyak hal tentang itunya. Nggak tahu ini. Konsep ini pun belum selesai. Saya bisa menggunakan konsepsi hak paten untuk memperkuat saya, argumen-argumen di situ, meskipun secara kontroversi bisa dipatahkan oleh hal-hal yang begini. Lalu, mengkonsepsikannya gimana, kira-kira?

Nuning    : kalau menurutku, di situ, bahkan, kamu nggak ngomong soal hak paten dan sebagainya. Jadi, memang harus diperiksa lagi gagasan-gagasan yang ada di sini karena nanti, kalau ini dilanjutkan, bikin tulisannya nanti susah. Yakin. Mungkin, kamu perlu memikirkan apa ya… aku membayangkan, kamu merenungkannya lagi. Coba mengeksplorasi lagi. Misalnya kamu tertarik dengan makanan, dengan sejarahnya yang seperti itu. Kamu coba eksplorasi lagi kira-kira yang kayaknya menarik dan kayaknya cukup bisa untuk dikerjakan. Coba renungkan lagi pertanyaan-pertanyaanmu yang muncul dari situ. Diperiksa. Kalau misalnya kamu tertarik soal makanan dan identitas itu, banyak baca buku ini lho, buku yang kuceritakan (Beng-Huat, Chua, Life is Not Complete) ada satu bab di situ yang mengupas makanan dan identitas. Mungkin, kamu perlu baca ini karena misalnya dia ngomong soal makanan India, terus makanan Melayu, dan makanan Cina, dan soal tradisi orang Singapura dan Malaysia tentang mencampuradukkan semuanya. Dia juga memeriksa soal identitas, keaslian. Coba baca-baca lagi.

Rifki M    : tapi, sebenarnya, makanan hanyalah salah satu di sini. Poin yang ingin saya eksplor itu bukan soal makanan, bukan identitas karena saya melihat bahwa antara makanan dan arsitektur. Itu media bagi saya untuk menjelaskan banyak kekaburan itu. Ini yang ingin saya bahas.

Nuning    : kalau arsitektur, beda lagi. Ini makanan dulu.

Kiki : kalau nggak keliru baca, mungkin dengar keterangan Rifki, kalau boleh kasih saran, mungkin, kalau bisa jangan memulainya dari asumsi yang dilematis karena mau bicara hal yang kris-kros, tapi mau menetapkan definisi yang tetap. Kayak misalnya, tadi juga dibilang soal keaslian. Mau bicara soal yang kris-kros, tapi asumsinya asli. Itu sulit sekali. Kedua, misalnya tetap membuka argument dengan menggunakan hak paten. Makanan, kelestarian, dan lain-lain yang diklaim banyak orang. Terus, kita klaim balik bahwa itu milik kita dan lain-lain. Itu kan karena kita melihat artefak budaya dalam kerangka nation, dalam kerangka Negara, “Oh, Reog punya Indonesia.” Itu kan karena kita melihatnya dalam kerangka itu. Padahal, budaya kan tidak berlalu lintas melulu dalam kerangka geografis itu termasuk dalam soal makanan. Terus, di uraian paragraph pertama tadi, misalnya, Rifki bicara bahwa dengan dia makan di restoran Jepang, makanan Jepang, dia merasa bahwa totally jadi orang Jepang. Padahal, saya nggak yakin itu terjadi, termasuk sebenarnya juga orang yang senang makan di restoran Padang dan sama sekali tidak merasa identitas Padang. Itu juga sangat dilematis karena selalu ada wilayah dialog, selalu ada permainan, perlawanan, ada siasat. Karena itu, untuk bicara tema yang seperti itu, kalau bisa, jangan memulai dari asumsi yang dilematis. Makanya, saya sangat bermasalah dengan kata definisi tadi. Definisi itu kan definit. Definit itu kan tetap, tidak berubah. Jadinya harus memilih. Identitas itu paradok, sementara definisi itu definit. Jadi, mending kata definisinya diganti, termasuk dalam hal konseptualnya.

Linda : mungkin, kalau misalnya masih tertarik pada topik makanan, salah satu fenomena yang sekarang bisa kita di Jogja itu adalah bermunculannya banyak warung masakan yang pedas. Itu kan sekarang banyak banget. Mungkin, apakah fenomena itu bisa dibaca sebagai satu gejala ada perubahan rasa. Maksudnya, perubahan cara orang menikmati makanan dengan rasa yang pedas yang dulunya, mungkin, kalau di Jogja kan orang tahunya makanan yang manis-manis.

Ferial : atau strategi dagang.

Linda : ya mungkin karena mungkin ada juga, semakin banyak konsumen yang menyukai rasa pedas.

Nuning : tapi ini lho. Ini kan kayak bagaimana penelitian-penelitian lain, soal fashion itu kan sering sekali dan orang sering mengkaitkan dengan, misalnya berdandan punk, dan orang sering mengkaitkannya dengan kita kayaknya mengharapkan bahwa dia akan sepenuhnya bisa berlaku seperti punk yang ya punk, real punk, yang kayak ia baca di… jadi ideology. Dia mengharapkan seorang anak itu akan membaca majalah-majalah tertentu, terus mendengarkan music-musik tertentu, terus menonton film-film tertentu. Padahal kan dalam tiap fenomena budaya itu memang benar, kalau menurutku, selalu ada unsur kayak playfull gitu, kayak unsur ya main-main aja. Selalu ada unsur itu yang kita mungkin sering lupa, bahkan peneliti sendiri bahwa ada kayak gitu, gitu. Selain ada kegunaan, ya itu tadi pake karena senang aja. Itu juga sesuatu gitu. Kayak ini lho. itu kan sama kayak orang yang mengecat rambutnya menjadi merah atau blonde yang seolah-olah salah tempat gitu. Itu kan orang bisa menganalisanya dari macam-macam. Pertama, orang bisa nganalisisnya, “Wah, ini kayak pengen jadi bule, tapi nggak jadi.” Menurutku, justru di dalam yang nggak jadi itu, itu ada sesuatu karena dia memang ya nggak pengen benar-benar tampak seperti real blonde, nggak pengen benar-benar tampak kayak orang bule. Yang ditunjukkan memang justru keterbelahannya itu. Ya, memang orang kulit hitam yang kulitku berwarna, yang aku memang sesekali terlihat rambutku jadi pirang. Maksudnya, yang kayak gitu, gitu itu tuh harus diperiksa juga.

Rifki M : aku juga sempat membandingkan dengan fashion. Nggak tahu, kalau untuk gabungan sejarah, sejarah Barat itu kan fashion ini sangat bertentangan dengan yang lain. Punk, misalnya, hadir sebagai sebuah pertentangan dengan kelas apa, sedangkan di sini tidak. Ya, itu berarti nggak sesuai dengan makanan. Nggak tahu, saya tidak sedang mengatakan makanan sebagai sebuah identitas kelas yang tidak berawal dari kelas tertentu, tapi sebagai produk yang lazim dalam wilayah tertentu.

Nuning : ya, tapi coba ceritakan idemu tentang yang arsitektur.

Ferial : aku bacakan.

Ferial membaca tulisan Rifki M berjudul “Imajinasi kerangka Arsitektur di Kota Budaya”.

Inggra : berarti itu tentang ini ya; kenapa Jalan Malioboro itu beda sendiri dari paa bangunan lain?

Nuning : pertanyaan penelitiannya thak tulis ya.

Nuning menuliskan pertanyaan penelitian di komputer yang ditampilkan pada layar.

Nuning : ini pertanyaan penelitiannya Rifki.

Rifki M : pertanyaan penelitian ini dilatarbelakangi oleh 2 hal. Pertama, Jogja selalu menekankan bahwa dia kota budaya, dan itu, saya kira, akan mempengaruhi terhadap situs-situs yang ada. Salah satu situs adalah Malioboro. Malioboro sebagai situs Jogja sebagai kota budaya yang Jawa, saya kira, tentu menyematkan beberapa produk-produk budaya, entitas-entitas budaya, misalnya, dalam bidang arsitektur, teknik rumahnya, bentuknya seperti apa gitu. Karena dia situs kota budaya, kota Jawa begitu sehingga mustinya arsitektur yang ada di sana pun mendukung identitas Jogja sebagai kota budaya, kota Jawa begitu, tapi anggapan itu kabur setelah melihat komplek pertokoan di sana. Secara politik dan budaya, Jogja menjaga Jawa-nya, tetapi di sana terlihat tidak. Itu yang pertama. Lalu, yang kedua adalah Jogja, Indonesia secara umum sebagai Negara yang bekas terjajah. Persilangan antara arsitektur kolonial dengan koloni itu menarik. Kolonial itu sempat menyematkan banyak hal, system, kebudayaan, di Indonesia mulai dari pemerintah sampai hal yang sifatnya makanan, sampai arsitektur dan di Malioboro saya kira, salah satunya, kalau dilihat dari bentuknya, itu produk arsitektur kolonial dan di Jogja, menariknya, karena saya berangkat dari asumsi bahwa itu adalah produk arsitektur kolonial, di Malioboro itu malah bangunan yang seperti itu dan jalan itu yang dijadikan situs budaya, situs identitas Jogja. Malioboro, saya kira, di sana bukan semata Malioboro yang Jogja, yang Jawa, tetapi Malioboro yang juga Jogja, yang juga Barat, kolonial dari arsitekturnya, yang juga banyak hal.

Nuning : sebenarnya, ada beberapa hal yang kucatat. Misalnya: oke, Malioboro bisa dipakai sebagai penanda kultural kota Jogja, tetapi, sebenarnya, juga ada banyak tempat yang, menurutku, bisa juga dikatakan sebagai penanda kultural kota Jogja: Alun-alun atau apa, tapi itu nggak pa-pa. Itu arbitrer. Artinya, kamu bisa mencomot begitu saja. Nah, tapi, sebenarnya, asumsimu itu yang perlu diperiksa. Misalnya yang ini; Jogja sebagai kota kolonial. Kan kamu berangkat dari situ. Nah, kalau menurutku, itu sangat perlu diperiksa lagi karena gini. Sebenarnya, ada banyak bahan yang menunjukkan betapa berbedanya Jogja itu dengan kota-kota yang lain. Kalau kita melihat dari sisi ini ya, siapa sebenarnya yang membangun kota ini. Kan kayak gitu. Oke, Malioboro, mungkin, bisa dikatakan sebagai penanda kultural kota Jogja, tapi, kalau kamu melihat Malioboro sebagai representasi, contoh dari suatu jalan yang menurutmu menunjukkan ciri-ciri kolonial di situ, nah itu, menurutku, perlu dipertanyakan lagi karena siapa sebenarnya yang membangun kota ini? Karena apakah Belanda atau apakah? Karena di sini selalu ada Keraton yang dari dulu itu sebenarnya, menurutku, Belanda itu nggak pernah benar-benar dominan di sini. Secara kekuasaan, terus caranya mengatur kota ini Belanda tuh nggak pernah benar-benar dominan. Di sini tuh selalu ada Keraton yang kayak selalu berkompetisi gitu. Ya paling kan ruangannya itu cuma di Benteng.

Joko : Kidul Loji.

Nuning : ya, atau di Kidul Loji. Paling cuma di situ tempatnya itu. Oke, memang kayak di kota-kota Semarang, Jakarta, Surabaya, Bandung. Itu memang kita menemukan bahwa ada arsitek-arsitek Belanda yang memang disewa untuk membangun kota itu dari mulai pasar dan lain-lain. Itu memang kelihatan, sangat visible/kelihatan ke-Belanda-annya itu. Kalau di sini, kan enggak, tapi justru itu yang menarik, menurutku, memeriksa ini sebenarnyanya, dari kamu tadi yang kayaknya compang-camping itu, yang membangun kota ini siapa sih dari jaman dulu sampai sekarang gitu lho. Kalau dari pertanyaanmu itu kan, coba lihat, kamu kayak sudah punya anggapan bahwa kota ini tuh memang kota bikinan Belanda. Padahal, dari situ pun, sebenarnya, masih bisa dipertanyakan lagi. Itu satu. Nah, terus karena kayak gitu, menurutku, pertanyaan-pertanyaan yang lainnya itu jadi lemah. Aku cuma melihat, membayangkan seberapa banyak sih sebetulnya di sini areal-areal yang menunjukkan ciri-ciri Belanda. Nah, itu kan harusnya kita paham dengan itu.

Joko : BI.

Nuning : ya, paling itu kan, situs-situs itu yang gede-gede: BI, Benteng, Kotabaru.

Rifki M : atau gini, Jogja dari dulu sulit dijamah oleh Belanda. Salah satunya adalah dengan menjaga budayanya. Jogja sebagai kota budaya. Dari dulu, kebijakan politik dan kebijakan budaya, baik yang strategis maupun yang kultural, Jogja adalah kota budaya. Termasuk dalam arsitektur pun, saya kira, seharusnya menunjukkan budayanya seperti apa, gitu. Kalau distro, ya distro. Lalu, di Malioboro, tidak itu yang saya lihat. Lalu, saya meneliti kembali. Kenapa tidak itu? Kenapa begitu bangunan di Malioboro? Oh ya, dulu Indonesia pernah dijajah. Belanda sempat menyematkan entitas produk-produk budayanya di Indonesia termasuk Jogja dan di Malioboro, saya kira, itu bentuk peredam budaya kolonial yang disematkan di Jogja. Lalu, Malioboro sebagai salah satu situs-situs penanda Jogja, di sana juga ada identitas Jogja yang disematkan, juga ada produk kolonial yang sekarang masih ada karena bentuk bangunan di sana ya cukup jauh dari produk arsitektural Jawa karena itu terbentuk sudah lama. Logikanya, oke bangunan modern sekarang banyak yang tidak Jawa, tetapi itu terbentuknya sudah lama sekali. Saya menganggap bahwa ada ya tidak murni Jogja sebagai kota Jawa yang ada di Malioboro.

Joko : akulturasi?

Rifki M : he eh.

Nuning : tapi, sebenarnya, kalau kamu tertarik ke situ, sebenarnya kamu bisa mengacukannya tidak hanya ke Malioboro, tetapi juga, kalau kamu tertarik dengan lagi-lagi percampuran berbagai faktor yang kamu lihat tampak di satu bangunan, itu berarti kamu bisa mengatakannya juga di Kota Gede atau apa karena, aku yakin, itu nggak ada yang baru juga. Artinya, mana yang asli? Gitu lho. Kan lagi-lagi kamu main-main dengan yang kayak gitu.

Kiki : aku mau mengingatkan yang kita dapat dari Cindhil di sesi 2, di sesi yang saya tidak masuk itu, tapi dengar dari teman-teman. Itu kayaknya sangat penting. Cindhil kan bilang jangan terlalu banyak pakai kata sifat dalam menulis. Nah, di dalam pengantar ini, kalau kita bayangkan ini sebagai pendahuluan, yang bermasalah karena sudah terlalu banyak kata sifat. Misalnya: kota Jawa, kota kolonial. Jadi, apalagi kalau mau dibayangkan itu hanya sebagai gambaran. Lain soal, kalau sudah menetapkan kerangka pikir, landasan teori-lah. Kalau landasan teori, kan kita sudah menetapkan saya berangkat dari sini, tapi dalam penggambaran sudah menggunakan Kota Jawa, Kota Kolonial. Masalahnya di situ.

Nuning : mungkin ini, kayak tadi saranku. Kamu memang sebaiknya berangkat dari, memang menulusuri dari hal yang kamu tertarik. Oke, tadi makanan. Terus, tadi kamu tertarik juga dengan bangunan. Kamu coba eksplorasi habis-habisan di situ gitu. Yang menurutmu menarik itu apa dari situ. Kamu berangkat dari situ. Interpretasinya di situ. Pertanyaan-pertanyaannya dari situ, dari hal yang kamu lihat. Misalnya Malioboro. Coba diluaskan sedikit pandanganmu ke Malioboro satu jalan. Kiri-kanan itu memang satu jalan yang perdagangan, tapi yang ada di belakang-belakangnya apa? Itu kampungnya kampong siapa sih yang ada di situ? Cina. Terus, itu dulunya berfungsi sebagai apa? Malioboro itu lho. Mungkin, aku membayangkan, bisa studi juga dan itu gampang. Coba baca buku Jawa ini lho, kan sudah cukup menjelaskan fungsinya, bentuknya dulu seperti apa.

Rifki M : sebetulnya, ketertarikan saya pada identitas budaya. Yang sempat saya tangkap untuk menjelaskan itu adalah arsitektur dan makanan. Nggak tahu nanti mana yang memungkinkan untuk membahas soal itu?

Nuning : kan makanan kita sudah membahas. Kalau arsitektur, bukunya lebih banyak. Jadi, saranku sih, kamu membaca. Kalau mau dengan tema itu, sebenarnya masih bisa, tapi aku minta lebih rapi argumentasimu. Misalnya Malioboro, tapi coba lebih teliti lagi melihat itu.

Ferial : atau jangan-jangan sudah ada yang nulis soal itu.

Nuning : ya, mungkin. Mungkin. Makanya, harus ditelusuri dulu. Juga tata kota ya. Aku yakin banyak yang sudah menulis itu. Ada komentar, nggak?

Joko : kalau aku sih ngelihat gini juga, Belanda itu, misalnya kalau kita membahas tentang Belanda ya, kan 350 tahun di sini. Belanda sendiri juga mengalami pergeseran sebenarnya. Jadi, dia dari jaman VOC kan mereka juga mengalami pergeseran. Nah, kemudian, yang tidak kalah penting dari arsitektur itu adalah perkembangan teknologi, materialnya. Misalnya pabrik semen pertama kali dibikin di Indonesia itu tahun 1910. PT Semen Padang itu. Kalau kita lihat arsitektur Belanda yang ada di sini, itu kan batu bata yang disusun aja. Batu bata yang disusun, terus kemudian ada namanya semen itu. Itu kan juga jadi pembahasan arsitektur; kenapa bangunan itu dibangun tidak mengikuti kehendak pembuatnya, tetapi juga mengikuti kehendak materialnya. Itu juga jadi persoalan lain.

Nuning : sebenarnya, yang menarik, kalau kamu melihat pertautan identitas yang ada di sini, kamu juga harus melihat gimana itu terjadi di level Belanda. Memang benar. Dan itu memang banyak sekali. Misalnya ada buku Budaya Indische. Itu bagus sekali. Yang bikin Sejarah UGM. Coba bayangkan mereka datang ke sini, dari satu Negara dan iklim yang sama sekali berbeda. Mereka harus banyak melakukan penyesuaikan. Bentuk kamar mandi. Terus kemudian, makanan-makanan itu ada perubahan. Mereka mulai mengkonsumsi macam-macam didatangkan dari luar negeri. Terus, bentuk pakaian yang mereka pakai juga perubahan. Para perempuannya akhirnya menggunakan pakaian kayak ibu-ibu yang ada di sini, menggunakan jarik dan pakaian nyonya itu karena menurut mereka itu lebih nyaman dan cocok dengan cuaca tropis. Terus, bentuk rumahnya juga mengalami perubahan. Terus, mulai mengimpor es batu dari mana karena di sini panas sekali. Hal-hal kayak gitu lho. Itu memang bisa juga dibaca sebagai satu hal yang fungsional, tetapi juga bisa dibaca sebagai sesuatu yang lebih besar. Kalau misalnya di Mrazek, itu kan dia banyak ngomong tentang Kromo Belanda. Buku tentang Kromo Belanda itu buku yang dipopulerkan oleh orang Belanda, namanya Tilema itu. Itu kayak buku how to, bagaimana cara hidup, seharusnya hidup di Indische. Jadi dia itu, misalnya, harus minum air putih yang dimasak, minumnya harus pakai gelas, harus mandi pakai sabun. Artinya, dia punya mindset tertentu bahwa oh, orang-orang di sini itu punya pandangan tertentu tentang kebersihan. Nah, itu kan konsep tentang kebersihan itu berarti kan beda. Maksudku, bisa sampai sejauh itu soal pertautan identitas yang rumit. Nah, tapi, untuk semuanya juga yang ada di sini, karena ini kan esainya 2000 kata. Jadi, juga harus dilihat, disesuaikan antara pertanyaan penelitiannya dengan panjang tulisan itu karena mungkin memang pertanyaan-pertanyaanmu, itu mungkin terlalu besar untuk bisa diwadahi oleh tulisan yang sepanjang itu. Jadi, harus dilihat lagi yang tepat, harus eksplorasi lagi.

Ferial : rata-rata pas masuk ke pertanyaan, jadi melenceng lagi. Strukturalnya itu harus diiniin lagi. Kita tuh kayak belajar menulis yang baik.

Nuning : aku bahkan belum mengotak-ngatik soal cara bikin pertanyaan penelitiannya ya karena, misalnya, aku belum ngomongin soal bahasa, tapi itu nanti. Karena, menurutku, esensi dari pertanyaan penelitiannya aja, kita harus banyak perbaiki. Misalnya pakai kalimat apa. cara bikin kalimat yang rapi.

Ferial : iya, masih belum kalimat yang rapi, tapi pertanyaannya nyambung sama paragrafnya.

Nuning : iya, nyambung dengan idemu. Itu nyambung lagi dengan kerangka tulisanmu. Cara njawabnya itu lho. Sebenarnya, aku sih membahasakan kerangka tulisan itu cara menjawab pertanyaan penelitian. Diatur dari ngomong ini dulu, terus ngomong ini, ngomong ini. Itu cara menjawabnya.

Ferial : mungkin, dipakai lagi kayak mengumpulkan satu kata, satu kata yang kalian tertarik. Itu coba dipakai lagi.

Nuning : itu siapa?

Ferial : Cindhil. Itu ada di pertemuan awal-awal tuh Cindhil sempat kayak, “Kalian nggak usah mikir apa-apa, lihat keluar, jalan keluar, kumpulkan 30 kata. Terus, di-cut jadi 15. Terus jadiin kalimat. Terus, jadiin paragraph.” Nah, menurutku, itu belajar menulis kerangka paling jernih. Jadi, nggak numplek-numplek. Kalau dalam paragraph, itu nggak numpuk-numpuk jadinya ke mana-mana.

Nuning : ini kan pertemuan ke-3. Aku pengennya, hari Jumat, kita sudah membahas semuanya. Jadi, tolong dikirim yang belum. Jadi, hari Jumat itu aku bisa membahas semuanya. Terus, aku bisa mulai dengan tugas-tugas gitu karena aku sudah akan memulai dengan tugas review.

Ferial : yang belum ngumpulin siapa aja sih?

Sebagian peserta mengangkat tangan.

Ferial : aku menawarkan poin-poin yang mau diangkat jangan terlalu berat. Yang sehari-hari kamu gitu lho.

Linda : boleh tulisan yang otobiografi gitu lho?

Nuning : boleh. Aku lebih memeriksa soal kamu tertarik apa dan gimana kamu menurunkan ketertarikanmu itu ke pertanyaan penelitian. Aku lebih concern dengan itu. Terus, bikin outline-nya.

Ferial : Meta, nulis tentang film itu lho.

Nuning : Oke ya.

Kelas selesai jam 21.15 WIB

 

Comments: 2

Leave a reply »

 
 
 

Waduh… artikelnya kepotong… tidak ada lanjutannya kah? Menarik nih yang dibahas…

 

Terima kasih telah membaca. Artikel sudah di-update kembali

 

Leave a Reply

 
(will not be published)
 
 
Comment