Notulensi 26 Juni 2009

Pertemuan IV

Mentor: Nuraini Juliastuti

Kelas mulai jam 19.43 wib

Hadir : Rifki S, Kiki, Hayu, Gita, Dina, Monika, Linda, Ayu, Rifki M, Irvan, Agni

Nuning : oke. Selamat malam!

Peserta : malam.

Nuning : ini pertemuan ke-4. Jadi, sebenarnya, ini pertemuan terakhir yang kurancang untuk membongkar… jadi, aku menganggap tulisan-tulisan teman-teman kemarin itu proposal kecil untuk sampai dibikin jadi tugas akhir. Nah, pertemuan ke-4 ini aku membayangkan untuk evaluasi, sharing, membongkar proposal teman-teman. Setelah ini, 4 kali berikutnya, aku membayangkan kita akan mulai penugasan, tapi bukan penugasan yang secara langsung berkaitan dengan ini. Jadi, review-review itu adalah bagian dari metode yang kukembangkan. Review artikel di jurnal. Itu nanti kusamakan semua, nggak peduli nanti teman-teman menulis apa. Itu kusamakan me-review. Jadi, satu minggu paling nggak ada 2 tugas gitu. Nah, tapi di sela-sela itu proposal kecil teman-teman itu diperbaiki terus-menerus. Nah, tadi aku berdiskusi dengan Ferial dan Farah tentang metode yang kukembangkan ini. Aku merasa harus menegaskan bahwa pertanyaan penelitian itu hal yang paling penting di semua proposal penelitian, semua tugas esai, atau skripsi, atau apa pun. Penting karena dia itu yang memandu argument kita selanjutnya; satu. Argument itu berarti dia ikut memandu kerangka tulisan kita. Terus, juga dia yang akan berperang untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan, pertanyaan-pertanyaan yang lebih advance yang akan kita eksplorasi selanjutnya. Nah, memang, aku mengikuti program Aksara itu dari awal sekali, dari sejah tahun 2002 dan dari sejak dia namanya bukan Aksara, tapi Night Club. Dan, memang dulu itu, tujuan pertama dibuat program ini diharapkan mencetak penulis-penulis kritik seni. Nah, makanya, dulu sekali, bertahun-tahun yang lalu itu kurikulum yang dibuat isinya adalah tools yang kita bayangkan akan diperlukan oleh para calon peneliti atau para calon penulis kritik seni itu. Jadi, misalnya, dulu ada semiotika, ada sejarah seni. Semacam itu. Nah, tapi, kemudian, tahun 2004 saya rasa. Dan memang dulu itu pesertanya dipilih. Artinya, orang-orang yang memang sudah sering menulis di katalog atau apa. Tapi, terus kemudian, tahun 2004 kita tahu bahwa lama-lama komposisi peserta itu menjadi tidak berimbang. Artinya, yang diperlukan dan yang dihadapi adalah menulis yang baik. Itu masih persoalan sekali. Karena itu, sejak tahun 2004 itu mulai ada perubahan besar-besaran ke kurikulum sampai sekarang. Artinya, itu lebih ditekankan ke penulisan. Tapi sebenarnya, yang saya amati dari dulu sampai sekarang saya memegang kelas ini, persoalannya itu sama sebetulnya. Yang bikin macet itu lho, yang bikin orang menulis nggak bisa-bisa, misalnya diberi wadah sebesar apa pun. Misalnya menulis apa. Di sini ada media tersedia. Ada blog, ada newletter-nya, macam-macam, tapi semua itu, menurut saya, kelemahannya cuma satu, karena peserta itu tidak diajak untuk mengganggap core penting untuk menulis itu nggak dikenalkan dan memang nggak jadi tumpuan dari awal. Misalnya pertanyaan penelitian dan kerangka tulisan. Bukan kerangka tulisan biasa ya, tapi kerangka membuat esai atau riset. Nah, saya memang nggak percaya dengan pandangan bahwa untuk bisa menulis esai atau penelitian apa pun maka orang harus ikut metode penelitian social. Aku nggak percaya itu karena memang dari pengalamanku sendiri bahkan kuliah-kuliah metode penelitian social itu, yang kutahu ya, yang kuikuti, itu memang nggak member banyak ajaran sebenarnya. Karena yang diajarkan di situ apa? Oke, kalau kamu akan meneliti tentang soal A, mungkin dikenalkan metode kualitatif, kuantitaf. Hanya seperti itu, tapi dari situ aku nggak bisa benar-benar belajar cara membuat tulisan yang bagus itu lho. Misalnya pertanyaan penelitian itu kan dikenalkan sambil lalu, seolah-olah itu hal yang gampang. Kayak, “Oke, kamu tertarik dengan ini. Bikin pertanyaan penelitian.” Gitu aja. Padahal, itu tuh inti penting. Makanya aku di kelas ini saya memang sengaja nggak membebani diri saya dan teman-teman yang lain dengan metode macam-macam, metode penelitian sosial terutama karena skill yang terutama yang paling penting yang harus dimiliki oleh semua orang yang ingin jadi penulis, ya sebenarnya bukan jadi penulis sih, tapi belajar menulis yang baik, itu sebenarnya membuat pertanyaan penelitian yang baik dan bisa belajar membuat kerangka tulisan yang baik. Dua itu sebenarnya yang kupentingkan. Karena gini. Saya sebenarnya nggak masalah kalau, saya nggak terlalu ambisius juga dengan kelas ini, juga ini beberapa kali saya utarakan jaman-jaman saya ikut Night Club dan sebagainya itu, nggak terlalu ambisius, misalnya dari sini bisa mencetak siapa. Karena, ini pengalaman pribadi juga, mungkin justru saya merasa benar-benar bisa menulis itu mungkin bertahun-tahun setelah dikasih tahu sesuatu, setelah ternyata pertanyaan penelitian itu penting atau ternyata membuat review itu penting sekali. Itu tuh baru ketahuan bahwa itu bermanfaat, mungkin, setelah setahun atau dua tahun berikutnya gitu. Jadi, aku memilih memang di kelas ini; aku fokus ke dua itu saja. Aku nggak masalah. Makanya, aku di sini memilih untuk tidak memaksa teman-teman yang misalnya nggak ngumpulkan outline. Aku nggak memaksa itu karena ya mungkin memang: pertama, itu buang-buang waktu. Terus kedua, itu akan merepotkan. Coba bayangkan, kalau misalnya sebenarnya semacam proposal kecil ini misalnya dikumpulkan misalnya minggu depan atau 2 minggu lagi. Padahal, minggu depan, misalnya, saya sudah merancang membuat latihan review yang umum, yang semuanya, yang general. Nah, terus, sementara saya juga membayangkan bahwa sementara membuat review itu, teman-teman juga melakukan pembenahan terus-menerus ke calon tulisannya ini sehingga nanti, waktu kelas ini berakhir, itu bisa dikumpulkan yang 2000 kata. Makanya, saya memilih saya nggak akan memaksa mengumpulkan tulisan, tapi saya cuma mau bilang 2 hal itu yang saya kejar di kelas ini karena saya merasa itu yang paling penting yang harus dikuasai betul: membuat pertanyaan penelitian yang baik karena memang alasan-alasan belajar menulis ya. Misalnya kemarin pertemuan pertama saya nanya apa alasan belajar menulis, ikut kelas ini. Misalnya: ingin berusaha membuat skripsi yang lebih bagus. Itu menurut saya valid semua. Nggak masalah. Dan, memang, mungkin, itu jalannya panjang. Makanya saya merancang kelas ini nggak terlalu muluk-muluk, tapi cuma 2 pondasi itu yang saya siapkan. Nah, terus kembali ke pertanyaan penelitian itu, sebenarnya, kelemahan yang utama. Oke, yang pertama itu teman-teman tentu sudah paham semua: tema tulisa yang harus menarik perhatian. Yang kelemahan utama, sebenarnya, ada sih beberapa orang yang aku lihat sudah melakukan penelitian kecil-kecilan sebelum menuliskan sesuatu, tapi sebenarnya sebagian besar itu jalan tanpa diawali riset. Kan ada pra-riset. Jadi, sebenarnya, waktu saya bilang, “Baca buku ini, ini, ini. Kurang membaca buku.” Itu sebenarnya tujuannya bukan pertama-tama untuk memasukkan banyak nama di proposal kita sih, tapi untuk mengetes pemikiran kita. Kan orang perlu itu, menguji pemikiran awal itu lho. Misalnya nulis identitas. Ya, kita harus tahu dulu orang-orang yang menulis tentang identitas itu siapa aja dan aspek-aspek yang ditulis tentang identitas itu apa aja. Apakah yang kita teliti itu sudah diteliti orang lain? Kan seorang yang ingin menuliskan tentu harus ada kebaruan yang ditawarkan. Apa? gitu. Mungkin, ada pendekatan baru yang kita tawarkan. Nah, sebenarnya, gunanya tuh itu kita membaca banyak. Jadi, supaya nggak mengulang, nggak redundant, diulang terus-menerus. Kan banyak banget yang seperti itu. Nulis macam-macam. Sebenarnya itu sama semua dan nggak menawarkan kebaruan. Lebih baik kan karena ini belajar, kita berusaha lebih maksimal. Kan ini kesempatan eksplorasi. Aku sih ingin teman-teman membayangkan seperti itu. Karena ini kelas ya nggak ada nilai, nggak seketat kalau sekolah, sebaiknya ini tempat menguji macam-macam. Diusahakan dimaksimalkan. Terutama hal-hal ini. Makanya, nulis, pertama, ide itu… kemarin misalnya aku baca tulisannya Rifki atau Gita, itu kan banyak baca buku dulu, macam-macam, tapi bukan dengan tujuan untuk mengesankan orang denga buku-buku yang kita baca, tapi sebenarnya orang nulis arsitektur itu gimana sih, tahu argumentasi yang dibangun. Kenapa saya menunjukkan tulisannya Seno? Itu cara yang ampuh untuk belajar juga, cara membangun argumentasi orang-orang yang kita perlu belajar. Ini aku dapat bahan (menampilkan tulisan tentang syarat-syarat pertanyaan penelitian, not). Sebenarnya, tulisan-tulisan macam ini bisa didapat di internet. Kayak gitu. Nah, ini aku dapat bahan. Sebenarnya, tulisan-tulisan seperti ini, kalau teman-teman mau mencari, di internet itu banyak sekali. Ini salah satunya ya cara membuat pertanyaan penelitian. Kurang-lebih semuanya sama lah resepnya itu. Ya, ini coba kita belajar sama-sama. Harus evocative (syarat pertama, not). Evocative itu sesuatu yang menarik perhatian orang, tapi gini juga. Pertanyaan penelitian itu memang yang paling krusial di semua tulisan kita dan memang butuh waktu untuk bikinnya, untuk merancang kata-katanya. Karena itu, butuh penelitian kecil itu untuk membikin itu. Itu sebenarnya, kalau aku baca di sini, yang dituntut itu sebenarnya kita itu harus melibatkan diri ke penelitian itu. Itu sebenarnya lawan dari tulisan memang seharusnya bukan dibuat dengan tujuan untuk mengimpresi orang, tapi untuk menunjukkan keterlibatan kita dengan topik itu apa sih. Karena itu, waktu awal pertemuan, waktu presentasi, ketika Monika presentasi itu lho, terus Monika berkali-kali bilang, “Ini persoalan pribadi.” Kalau nggak salah Mas Kris bilang, “Ya, nggak pa-pa persoalan pribadi.” Emang nggak masalah, malah justru bagus gitu kalau orang memulai dari ketertarikan pribadi, tapi yang ditunjukkan kemudian di tulisa itu harusnya keterlibatan kita dengan topik yang akan kita teliti. Terus (syarat kedua, not), ini sebenarnya untuk tema-tema yang besar. Buatlah pertanyaan penelitian itu yang sejelas mungkin dan awet. Yang kira-kira kalau orang membaca penelitianmu 2 atau 3 tahun lagi, orang itu akan bisa melihat relevansinya itu lho. Ini sebenarnya resep membuat pertanyaan penelitian yang seolah-olah berada dalam paradoks, tapi sebenarnya ini step yang menunjukkan sejauh dan sedalam apa sebenarnya kita mempelajari isi itu. Nah, kemarin kan pertanyaan- pertanyaan gini nih tentu saja belum muncul karena masing-masing yang ada di sini kan belum banyak melakukan penelitian kecil-kecilan itu tadi sebelum membuat sesuatu. Jadi, nggak mungkin juga membuat pertanyaan-pertanyaan yang rumit. Yang sederhana, tapi sebenarnya yang terkandung di situ itu kompleks. Ini sebenarnya (syarat ketiga, not), Gita apa ya yang nanya, waktu kamu nanya soal membaca buku itu sesuatu yang kita mencari jawaban, atau konfirmasi atas jawaban kita, atau apa? Kalau aku, cenderung semua tulisan dan harusnya pertanyaan penelitian itu yang membuka kemungkinan eksplorasi itu lho. Jadi, pertanyaan penelitian yang nggak definitif. Nah, ini sebenarnya komentar Mas Kris atau Cindhil. Aku sebetulnya juga menanyakan itu ke pertanyaan penelitiannya Meita, yang tentang drama itu. Itu kan seolah-olah Meita itu sudah membayangkan di pertanyaan penelitiannya bahwa drama itu pasti melukiskan perempuan itu dengan cara yang setimpang itu. Dari pertanyaan penelitiannya kan sudah mengarahkan ke situ. Nah, itu harusnya pertanyaan penelitian itu yang eksplorasi, yang kamu itu bisa menjawab dengan eksploratif. Itu pertanyaan penelitian yang bagus. Nah (syarat keempat, not), ini memang sulit, tapi seharusnya di pertanyaan penelitian itu sebenarnya sudah… Coba bayangkan gini. Membuat pertanyaan penelitian itu kita membayangkan design dari penelitian. Terus, di situ itu kan kamu itu sebenarnya sedang melakukan pendekatan tertentu, berusaha mendekati persoalan dengan cara tertentu. Nah, itu harus muncul juga di pertanyaan penelitianmu gitu. Jadi, nanti akan kelihatan. Nanti, aku mau pas ngomentari tulisannya Kiki. Nah (syrata kelima, not), ini harus relevan. Nah, yang relevan itu, aku menangkapnya sih, memang harus menunjukkan konteksnya antara tema yang kamu bikin ini dengan soal lain yang lebih besar. Ada kritik utama, misalnya dari Pak Nardi, itu diucapkan dia waktu KUNCI bikin kuliah umum tentang sejarah yang Perancis. Itu, sebenarnya, kritik itu nggak hanya dikatakan Pak Nardi ya, tapi banyak orang yang sebenarnya mengatakan. Kelemahan dari penulis apa pun di Indonesia itu adalah kesulitan untuk mengaitkan persoalan yang dia tulis itu dengan konteks yang lebih besar. Kelemahan untuk filosofi itu lho. Sebenarnya, ini kelemahan teoritis, tapi itu memang harus berlatih terus-menerus dan saya yakin itu bisa dicapai bahkan dengan menulis tema-tema yang kecil gitu lho. Harus pintar gitu. Kayak, misalnya kemarin, saya senang dengan ending-nya, mungkin nanti teman-teman yang nggak datang di pertemuan kedua bisa membaca tulisannya, yang tulisannya Seno yang komit itu. Misalnya dia mengaitkan ketergila-gilaannya orang Indonesia dengan komik. Komik Zaldi di antaranya. Itu kan roman percintaan gitu, sangat romantic gitu. Dia berusaha mengaitkan itu dengan kesukaan umum orang sini dengan segala macam tontonan: sinetron, telenovela, apa. Dia berusaha mengaitkan itu dengan kapitalisme yang semua. Itu memang agak mengada-ada, tapi saya senang dengan usahanya itu lah. Semacam itu lah. Jadi, dari hal yang kecil itu kamu bisa menarik ke hal lain yang lebih besar. Nah, gitu. itu tantangannya. Nah, ini sebenarnya yang saya katakan tadi (syarat keenam, not). Setiap kali membuat tulisan, seharusnya kita itu sedang memikirkan; kita itu sedang memberi tambahan apa ya ke tema yang akan kita tulis. Nah, makanya perlu membaca banyak dulu. Paling nggak, tahu lah, “Oh, kira-kira orang yang menulis tentang etnisitas itu ini ya. Gini caranya menulis itu. Pemikirannya seperti ini. Nah, saya berusaha apa ya?” Nah, ngono kudune. Karena harus ini lho; yang membedakan tulisan ilmiah, ya sebenarnya novel juga, apa pun ya, sebenarnya kan dia itu dianggap berarti ketika orang mengakui nilai pentingnya, apa pun itu. Entah dia menawarkan kebaruan atau apa pun. Nah, harusnya setiap kali orang itu bikin sesuatu itu gitu. Memang ini kelas yang kecil, tapi aku membayangkan sih harusnya justru di kelas yang nggak ada nilai yang ketat-ketat seperti di sekolah gitu. Kan nggak perlu takut-takut dapat nilai apa giu. Harusnya lebih uji coba lah, eksplorasi dengan tema macam-macam. Harus memikirkan ini. Ini sebenarnya penting (menunjukkan tulisan tentang cara membuat pertanyaan, not). Mungkin, teman-teman bisa membacanya nanti pelan-pelan. Cara membuat pertanyaan penelitian yang jernih. Bahasanya langsung, bersih, nggak ada jargon-jargon, tetapi bukan yang sederhana, tapi yang rumit-rumit itu nanti disimpan di analisa. Pertanyaan penelitian justru harus yang paling sederhana, tapi penting. Nah, untuk membuat itu, harus ada bagasi pengetahuan dulu tentang sesuatu itu. Coba baca, tulisan-tulisan buku apa, itu pertanyaannya kan sederhana banget. Pertanyaan awalnya, sebenarnya, dia itu pengen tahu hubungan antara perkembangan teknologi dan nasionaliseme di Indonesia dari mulai berabad-abad yang lalu, abad 18 sampai sekarang. Misalnya, dia menganalisa apa? Dia memulai dari jalan. Itu pintar sekali lah Mrazek itu. Jalan raya dari mulai yang fisik. Kan dia logikanya kemajuan itu dimulai dari sesuatu yang fisik sampai akhirnya menuju hal-hal yang, membangkitkan hal-hal yang sifatnya gagasan pembebasan, kemerdekaan. Kan gitu. Jalan raya, terus kemudian telepon, terus mulai lagi mesin-mesin. Terus, baru media massa, apa, apa. Dia kan banyak sekali dari contoh-contoh macam-macam. Kan mulai dari itu, tapi bahwa dia bisa menemukan hubungan antara hal-hal yang teknologi, radio dan sebagainya itu, dengan nasionalisme itu sesuatu. Nah, itu harus ditemukan. Nah, ini sebenarnya yang di sini ini hal-hal yang kemarin sudah saya ungkapkan waktu menganalisa proposalnya Gita dan Gondrong. Coba bikin pertanyaan penelitian, tapi kamu itu terus-menerus, perhatianm itu penuh ke obyek yang kamu teliti itu. Di situ dulu. Diotak-atik. Coba keluarkan pertanyaan-pertanyaanmu itu. Terus, pelan-pelan dianalisa lagi, membaca banyak buku lagi. Terus, dibaca lagi pertanyaan penelitianmu itu; masuk akal, nggak, ini? Mungkin, ra, digarap? Karena membikin pertanyaan penelitian itu masuk strategi, menurutku. Misalnya kemarin. Kan ini sedang akan menulis 2000 kata. Itu kan esai yang cukupan lah, nggak terlalu panjang sekali. Itu, kalau kamu bisa nulis, itu pendek sebenarnya. Nah, karena itu justru harus berstrategi gimana bikin pertanyaan penelitian yang cukup sederhana, tapi penting, tapi bisa dijawab dengan 2000 kata. Itu tantangan. Di beberapa sekolah, sebenarnya, itu benar-benar dihitung. Kalau di sini kan kita biasanya misalnya sekolah justru semakin banyak melewati itu, justru semakin bagus, tapi itu salah. Karena itu menunjukkan apa? Tulisan itu harus concise, harus rapi. Argumentasinya itu yang dihitung. Jadi, bukan dari jumlah kata-katanya. Latihan kayak gitu. Itu penting sebenarnya. Jadi, misalnya, di setiap kali tugas itu, dulu saya biasa nulis wordcount-nya berapa. Latihan lah ngono kuwi dengan tulisan yang pendek misalnya. Nah, ini sebenarnya yang saya katakan tadi, harus yang mungkin, tahu batas-batasnya, di antaranya batasan space. Ada pertanyaan, nggak, sebelum aku memulai dengan mengamati tulisan-tulisan yang masuk? Banyak ya. Ada pertanyaan dulu, nggak? Tapi, ini umum. Coba nanti ditelusuri ya dari link yang itu. Itu banyak sekali. Biasanya, ini digandengkan dengan penulisan academic writing.

Linda : tadi kan Mbak bilang pertanyaan penelitian yang bagus itu harus eksploratif, tapi kan kadang ketika misalnya kita bikin kayak pertanyaan penelitian gitu, kadang kan seenggaknya kita udah punya gambaran kira-kira nanti dia tuh jawabannya akan seperti apa. Gitu kan. Jadi, gimana Mbak dikaitkan sama definitif tadi?

Nuning : eksploratif itu gitu. Aku memang selalu membayangkan ada jawaban ya. Mungkin lho, jawabannya itu seperti ini, tapi kadang-kadang jawaban yang kita bayangkan itu, kalau pengalamanku, nggak selalu begitu, nggak selalu se-saklek itu. Kadang-kadang ada hal-hal lain yang mungkin kita lewatkan. Nah, itu, kalau pengalamanku, baru akan kelihatan kalau kita menulis, ketika kita menulis. Oke, kita sudah membayangkan: habis ini, nulis ini; tapi sebenarnya ada banyak. Begitu kita menulis itu, ternyata, ada isu-isu lain yang menurut kita wah, ini juga penting ya. Misalnya ini pengalamanku yang terakhir itu aku nulis tentang pendidikan seni. Argumenku adalah kultur otodidak itu penting. Bukan penting, tapi itu dominan di sini. Awalnya aku berpikiran bahwa banyak para seniman yang punya pandangan negative tentang sekolah, di antaranya gitu; tapi, ternyata, logikaku itu kan nggak benar juga. Oke, memang kultur otodidak itu, aku lebih sering, akhirnya aku mengatakan, itu kultur alternative. Itu memang kuat di sini. Kultur belajar sendiri itu lho, tapi kan, ternyata, di sini orang itu itu justru… kultur alternative itu berkembang karena orang sangat haus akan ilmu pengetahuan, tapi di sini ada banyak hal-hal yang membatasi akses ke pengetahuan itu. Jadi, akhirnya, aku memilih untuk lebih berhati-hati untuk mengatakan bahwa kultur alternative sama dengan pandangan yang negative terhadap institusi pendidikan. Mungkin memang selalu ada kritik ke sekolah, tapi itu tidak selalu berarti bahwa orang itu nggak suka terhadap apa yang ditawarkan oleh itu. Yang berkembang itu orang kan mencari sendiri. Kaya ngono kuwi-lah kira-kira. Artinya, mungkin membuka kemungkinan-kemungkinan baru bahkan saat kita menuliskan sesuatu karena, aku yakin sih, orang ketika menulis itu kan semakin banyak bahan-bahan yang kita baca itu… Misalnya kualitatif ya. Wawancara orang, terus banyak baca ini, baca novel yang berhubungan dengan ini mungkin, banyak baca media ini kan kita semakin ada fakta-fakta, ada hal-hal baru, data-data baru yang mungkin asumsi-asumsi awal kita itu digoncang-goncang gitu.

Ferial : meragukan gitu?

Nuning : he eh. Jadi diragukan. Kan proses menulis selalu gitu. Bener, nggak, sih kayak gini? Oh, ternyata enggak. Ternyata ada hal baru. Nah, itu kan sebenarnya harus hati-hati gitu lho. Makanya, baiknya memang research question itu yang agak… pertanyaan yang ingin kita jawab, yang ingin kita lontarkan itu harusnya lebih luwes.

Ferial : untuk bisa mendapatkan pertanyaan yang luwes, itu gimana?

Rifki : tergantung jam terbang.

Nuning : aku merasa iya. Latihan. Pengalamanku sih, aku memerlukan waktu berbulan-bulan untuk menemukan pertanyaan penelitian, tapi itu dengan kita sudah melakukan banyak hal. Misalnya yang sudah bikin tesis atau apa di sini kan tentu tahu. Baca macam-macam.

Ferial : kamu tadi kan mencari pertanyaan berbulan-bulan, sifat penelitiannya juga kayak apa. Kan gitu. Mungkin, kalau misalnya mengingat waktunya sempit, mungkin penelitiannya juga dicari yang sederhana gitu, tapi caranya?

Nuning : mungkin caranya ya salah satunya memang jam terbang. Aku kan tadi bilang, aku memang nggak terlalu ambisius karena mungkin orang itu baru benar-benar merasa menulis itu mungkin bertahun-tahun setelah ini. Aku juga mengalami seperti itu, tapi mungkin untuk kelas yang sependek ini, kamu harus tidur dengan penelitian ini, harus memikirkan terus-menerus

Linda : ya, manageable-lah. Intinya gitu.

Nuning : he eh, harus manageable, ya harus dipikirkan terus.

Ferial : kalau aku dapat pilihan kayak gitu, aku nggak mau susah dengan mencari hal-hal yang terlalu jauh. Aku punya ribuan ketertarikan nih di kepalaku, tapi ya cari yang memang akrab.

Nuning : itu kan kenapa sejak awal pertemuan aku bilang tema yang lama itu nggak pa-pa, tapi sebenarnya ganti-ganti juga nggak pa-pa karena aku paham orang itu kan punya ketertarikan macam-macam dan kan orang mungkin menulis itu lebih gampang kalau hal yang dia senangi gitu. Nggak masalah. Justru aku sangat paham dengan waktu yang sangat pendek. Makanya, fokusnya itu harusnya ke bikin pertanyaan, terus gimana ya caranya biar bisa buat yang oke. Dimulai dari Kiki ya. Ada pertanyaan lagi, nggak?

Ferial menampilkan tulisan proposal ringkas Kiki.

Nuning : dibaca dulu. Ini ya menanggapi komentarnya Rifki jam terbang itu bukan berkaitan lama atau tidaknya sih, tapi latihannya ini lho. Coba, coba dibaca.

Forum membaca tulisan Kiki.

Nuning : kesanku, sebenarnya ini pemikiran yang menurutku menarik. Hal yang dituliskan Kiki atau yang dipersoalkan adalah apa yang di frontstage dan backstage, yang di atas panggung dan di belakang, yang di permukaan dan tersembunyi. Nah, ini pemikiran yang menarik, tapi, menurutku, harusnya di sini sudah mulai disebutkan persoalan-persoalan yang ditimbulkan dari ini lho, Ki, usaha yang kuat untuk menampilkan yang permukaan ini lho. Persoalan yang mengganggumu waktu melihat peta yang ditampilkan itu lho. Apa misalnya? Aku sih membayangkan yang teridentifikasikan di situ itu kan ini, di pertanyaan penelitianmu itu, misalnya, bagaimana peta Yogyakarta yang terdapat di jalanan kota menghadirkan identitas kota Yogyakarta. Kan, artinya, kamu mempersoalkan identitas kota seperti yang ditampilkan peta itu dengan yang seharusnya, menurutmu, itu nggak ditampilkan padahal nyata. Ho oh, ra? Iya, nggak? Kayak gitu, nggak? Nah sementara di sini harusnya kamu mulai menunjukkan yang mana menurutmu perlu ditampilkan, tapi tersembunyi. Nah, terus, pertanyaanku selanjutnya, apakah kamu sudah membayangkan cara untuk mendekati atau menganalisa dua level itu? Dua level yang di permukaan dan yang dibaliknya. Kuwi piye carane? (Itu gimana caranya?, not) Apakah kamu akan membuat perbadingan antara peta bikinan otoritas, ya otoritas bisa apa pun, atau peta yang ada di jalanan gitu ya yang muncul dengan peta alternative, misalnya? Tapi, bahkan yang itu pun kamu belum mencari tho, belum menjelaskan gitu. Yang menurutmu, kayaknya, ini bisa jadi contoh. Gitu.

Rifki M : yang lebih baik dari…?

Nuning : ya, yang menurut dia bisa menunjukkan ukuran yang tersembunyi itu lho. Kan itu belum muncul di sini atau kamu akan membuat peta sendiri. Gitu misalnya. Aku membayangkan gitu.

Rifki M : aku mencoba memahami, bukan logika dipertandingkan antara yang dimunculkan dan yang tidak dimunculkan.

Nuning : tapi?

Rifki M : tapi, kota Yogya itu kan luas. Dalam memunculkannya dalam peta itu, mengalami reduksi skala ruang-ruang dan yang di peta itu dimunculkan beberapa. Bagaimana logika pereduksian itu lho yang mau ditulis? Bukan mana yang seharusnya dimunculkan dan mana yang seharusnya tidak dimunculkan, tapi bagaimana logika pembuatan itu? Kenapa ini yang dipilih? Dan, kenapa itu yang dipilih? Ya sebagai sebuah peta, itu pasti punya logika kenapa Yogya ditampilkan dalam skala sekian dan dengan ruang-ruang yang ditonjolkan itu hanya ini, ini, ini. Hanya proses memahami itu saja.

Nuning : soalnya gini. Aku membayangkan hal yang, sebenarnya, ada beberapa hal yang menarik tentang peta yang seingatku, setahukulah itu belum banyak yang menulis. Karena itu, aku langsung ngomong ini. Peta itu kan memang selalu politis gitu. Benar ini. Memang logika sederhanya Kiki itu oke lah. Selalu ada hal-hal yang memang sengaja tidak ditampilkan. Misalnya penunjukan Timor Timur dan Australia. Indonesia gitu. Waktu itu, pernah ada yang menulis tentang itu. Bagaimana cara kita membayangkan Australia? Karena kita selalu berada dalam pertentangan dengan Australia maka kadang-kadang Australia itu lenyap. Kan ngomong peta berarti apa yang dibayangkan. Aku, makanya, langsung ngomong, langsung terpikir karena kamu bicara ada yang muncul dan ada yang tidak aku berusaha menarik lebih dalam bahwa mungkin kamu sedang berbicara atau sedang mempersoalkan bahwa ada tampil dan ada yang disembunyikan di situ. Gimana?

Kiki : aku membayangkannya gini; seandainya aku seorang wisatawan yang baru pertama kali datang ke Jogja, atau siapa pun, maka cara yang paling gampang untuk mengorganisasi pengetahuan tentang ruang dan tempat itu adalah melihat peta. Karena peta itu politis, berarti pada saat kita mengorganisasikannya dengan gambar peta tertentu, pada saat itu juga pengetahuan kita tentang kota itu menjadi seperti apa yang dibilang peta itu. Awalnya, pertanyaannya sederhana waktu ketemu peta itu. Jojga kan punya identitas macam-macam: kota pelajar, kota budaya, kota Jawa, wisata kota, entah apa lagi. Tapi, sepertinya waktu saya melihat peta itu, yang hadir malah yang lain.

Nuning : apa misalnya “Yang hadir yang lain” itu?

Kiki : misalnya tempat makan. Semuanya tempat makan modern. Restoran yang modern. Penginapan, ya yang masuk Hotel Ibis, kayak gitulah. Terus, organisasi jalan yang digambarkan di kota itu juga bukan jaringan jalan yang tanda kutip sesungguhnya, tapi jalan yang digambarkan di situ sebenarnya semacam argumentasi untuk sampai pada kesimpulan tertentu. Jadi, jalan yang dibuat di situ untuk menunjukkan bahwa dengan jalan ini kamu bisa ke sini lho. Terus, saya cuma terpikir itu aja waktu melihat. Kalau gitu, sebenarnya, peta ini mau menghadirkan identitas Yogya yang seperti apa? Apakah dia mau bilang Yogya ini kota wisata atau apa? Awalnya, memang pertanyaannya banyak, terus saya teringat 2000 kata itu kan. Ini, sebenarnya, pikiran proposal yang kedua karena tadinya malah saya mau bicara soal ideologi di balik kenapa peta itu muncul, tapi terus kayaknya saya nggak sanggup. Terus akhirnya, kira-kira mau membaca secara sederhana peta itu aja dia mau menghadirkan Yogya seperti apa. Karena dengan begitu, kan orang yang membaca itu akan melihat, “Oh, Yogya itu kira-kira kota yang seperti ini”, dengan melihat hotel ini di situ, hotel ini di sini, terus stasiun kereta dan lain-lain, bandara. Terminal, kenapa cuma Giwangan? Kenapa cuma satu yang masuk di situ dan lain-lain. Itu aja sih. Sesederhana itu. Kesan umum sebelum melakukan penelitian bahwa peta itu, menurut saya, tapi ini termasuk yang mau saya teliti, peta itu seolah-olah mau bilang Yogya itu kota yang sangat modern karena itu hilangkan kesan Yogya itu klasik dan lain-lain. Kayak misalnya, soal terminal ini. Kalau saya nggak keliru, terminal yang masuk cuma Giwangan. Sementara citra Terminal Giwangan kan memang terminal modern. Salah satu yang terbaik di Indonesia. Kenapa Concat nggak masuk? Jombor kayaknya juga nggak masuk karena dia masih terminal model lama yang Angkudes masuk situ.

Nuning : sebenarnya, itu menarik kalau pertanyaannya semacam ingin menganalisa Yogya seperti yang dibayangkan di peta-peta itu, tapi peta-peta yang kamu baca, yang kamu lihat itu apakah yakin bahwa itu adalah peta-peta untuk turis?

Kiki : tangkapan sementara itu karena dari segi penempatan aja, yang paling utara cuma ada di Kridosono, paling selatan Kantor Pos Besar, paling timur nggak sampai di Pakualaman, paling barat itu saya belum tahu. Makanya tadi saya bilang, kenapa, selain yang digambarkan juga cuma pusat dan penempatannya pun cuma di pusat. Pusat apa? pusat aktivitas pariwisata kota, menurut saya. Itu juga yang akan saya teliti nanti; apa benar atau enggak?

Nuning : itu sebenarnya menarik, tapi gini. Mungkin lho, ini agak mirip dengan logikamu di tulisan awal-awal. Bacaanku yang berusaha ditampilkan dip eta-peta itu adalah citra Yogya yang modern dan sebagainya. Gitu kan?! Dan, berusaha menghilangkan tempat-tempat yang menurut para pembuat peta ini tidak masuk dalam kategori modern. Kan gitu kan menurut tulisanmu tadi. Nah, tetapi sebenarnya, masih dengan logika para penyelenggara turis itu, itu sebenarnya mereka itu juga memakai logika yang sebaliknya kan dengan menampilkan sebanyak mungkin tempat-tempat yang paling genuine, paling otentik, dan sebenarnya ini kalau dibaca yang paling ndeso. Itu kan jualan juga. Nah, itu gimana itu kalau dihadapkan dengan argumentasi itu?

Kiki : lha itu termasuk yang kubayangkan. Kalau memang peta ini mau jualan wisata, kok yang dijual tempat makan yang di Jakarta sudah ada, di Bali sudah ada? Gitu. Terus, peta ini sebenarnya mau bilang apa. Kalau dari segi penempatan dan tempat yang dia gambarkan di situ dalam bayanganku dia mau untuk wisatawan, tapi kok nggak khas yang dia tunjukkin? Kenapa Ambarukmo? Kita kan bisa ke Plaza Senayan yang orang Jakarta. Kenapa Ambarukmo yang muncul? Kenapa bukan apa yang lain? Ya, ini semua kesimpulan yang masih di awal. Makanya, saya bilang, peta itu mau bicara kota pendidikan. Nggak, yang masuk cuma budaya kalau misalnya representasi dari pendidikan itu kampus. Kota itu mau bilang Kota Tradisi Jawa. Enggak, yang masuk cuma Kraton. Terus, mau bilang Kota Jawa yang sangat Kuno. Yang masuk cuma Prambanan, Borobbudur. Mendut aja nggak masuk. Boko nggak masuk. Terus, mau dibilang Kota Wisata Tradisional. Enggak, tempat-tempat yang menurutku wisata tradisional nggak masuk. Terus, peta ini sebenarnya mau ngomong apa sih?

Nuning : sebenarnya dengan pemikiran kayak gitu, sebenarnya itu kamu yang lebih dalam lagi sedang membicarakan atau mempersoalkan ideology konsep pariwisata yang dikembangkan oleh orang-orang yang berwenang di bidang itu di sini atau para actor yang di situ, artinya nggak hanya pemerintah, tapi orang-orang lain. Macam-macam gitu asumsinya.

Kiki : mungkin juga. Soalnya gini, setelah belakangan, ini baru banget. Setelah melihat peta itu, ya lagi-lagi tentative, jangan-jangan A Mild yang bikin peta ini, itu cuma mau nunjukin citra A Mild dalam peta. Jadi, dia mau bilang A Mild itu gini lho, tapi lewat peta. Itu baru belakangan juga. Setelah wisata dan lain-lain muncul di kepala kayaknya bukan, kayaknya bukan. Jangan-jangan A Mild itu mau promosi, tapi pakai peta karena memang setiap tempat yang ditunjuk itu ada lambang A Mild. Semua tempat itu ada lambang A Mild, kecuali candi. Nggak ada lambang A Mild-nya. Yang lain, Ibis, ini, tempat makan ini, tempat makan itu, semua ada lambang A Mild-nya.

Rifki M : menurutku, itu menjadi persoalan kalau kita berada dalam mitos bahwa Yogya harus menampilkan ketradisionalannya. Menggambarkan kondisi yang dilihat sekarang itu yang ada Mall dan macam-macam itu dan menggambarkan apa yang seharusnya Yogya dalam pikiran kita itu kan beda. Yogya dalam pikiran kita yang seharusnya itu yang seharusnya ditulis di sini itu kan yang ada candinya, yang ada macam-macamnya yang tradisional itu lah, tetapi jangan-jangan itu hanya ingin menggambarkan kondisi sekarang saja, tidak punya pretensi apa-apa. Ya, Yogya memang sekarang ada banyak. Buktinya candi pun ditampilkan. Keraton pun ditampilkan. Hotel apa juga ditampilkan.

Nuning : mungkin, aku curiganya yang berusaha ditampilkan di peta-peta itu dari bacaanmu sementara itu adalah posisi yang harmonis antara Yogya yang semakin bergerak maju, tapi tidak meninggalkan akar-akar tradisinya. Jadi, misalnya mall-mall dan candi. Mungkin lho. Mungkin kuwi ideologine pariwisata. Mungkin. Nggak tahu kamu, saranku… Nggak ngerti ya.

Kiki : mungkin, agak terbantukan seandainya dibandingkan sama petanya Mirota, terus sama petanya Dinas Pariwisata.

Nuning : sama petanya Green Map.

Ferial : petanya Kedai Kebun, tapi cuma tempat-tempat space kontemporer. Kalau orang ke sini terus mau ke galeri, pasti mintanya peta Kedai Kebun karena semua galeri se-Yogya kecuali sama mereka masih diragukan; apakah kontemporer atau enggak, karena itu petanya peta Contemporer Art. Dan itu, kamu bisa ngobrol lho sama mereka. Maksudnya, mereka bikin peta itu.

Kiki : nah, kayaknya, kalau melihat 3 peta itu (Mirota, Dinas Pariwisata, sama yang di jalan-jalan itu), galeri nggak ada.

Nuning : ya, tapi aku yang paling familiar sih dengan petanya Mirota dan di situ memang nggak ada. Ya, mungkin itu masuk akal juga sebagai pemikiran bahwa galeri, ruang seni –seni yang dibayangkan oleh Dinas Pariwisata- itu nggak dianggap bagian. Mungkin, kamu, kalau memperbaiki ini, itu benar-benar menunjukkan peta-peta yang sedang kamu obrolkan ini. Dipaparkan di tulisanmu. Jadi, biar jelas.

Kiki : kemarin itu, browsing di internet ada kerangka teori untuk pemikiran ini. Jadi, dia nulis tentang mapping, tourism, sama identity.

Nuning : buku-buku tentang landscape itu menarik dibaca. Kamu sebenarnya sedang ngomong identitas yang dibayangkan oleh Dinas Pariwisata. Ini pemikiran, tapi sebenarnya yang menarik juga, aku membayangkan, barang-barang yang dijual di Mirota. Itu ada hubungannya dengan peta, dengan konsep pariwisata. Oke, yang lain. Kamu nggak ada visualnya Yoga ya?

Agni : ada katalognya.

Nuning : di sini ada, nggak?

Agni : nggak dibawa, Mbak. Kemarin sih dibawa.

Ferial : ini menarik. Soalnya, pas Yoga presentasi karya sebelumnya itu orang jadi lama ngebahasnya.

Ferial menampilkan proposal penelitian Agni.

Nuning : kamu nggak punya bukunya Astari Rasyid?

Agni : ada. Iya, itu Astari juga recommended untuk dibaca.

Nuning : aku belum nonton sih ini-nya Yoga, tapi, kalau baca ini, menurutku ini Astari banget.

Ferial : pasti ada di sini.

Ferial membuka web Cemeti untuk mencari foto karya-karya Yoga, kemudian ke google.

Ferial : yang mana karya yang kamu maksudkan yang isu konsumerisme itu?

Agni : yang mobil, tapi itu bukan yang Elvi.

Nuning : tapi kira-kira kayak gini lah.

Ferial : yang kamu maksud yang mana?

Agni : ke pas di google tadi itu kayaknya ada. Yang Liv Feetong.

Nuning : kalau menurutku, membicarakan soal… Eh, tadi belum dibaca ya?

Peserta : belum.

Nuning : dibaca dulu.

Ferial menampilkan tulisan Agni. Peserta membacanya.

Ferial : Bali malah nggak dibahas?

Agni : aku mikirnya yang lebih dekat ke industry.

Ferial : lho, Bali itu industry pariwisatanya edan lho.

Agni : iya ya. Soalnya, aku juga nggak terlalu ngerti seni rupa di Bali itu kayak apa.

Ferial : lho kan menulis isu konsumerisme pada karya?

Nuning : dah baca ya teman-teman. Aku nanya, Agni kenapa berpikiran bahwa… Berarti, menurutmu Tanti itu tidak berdialog?

Agni : pembacaanku sih karena dia visualnya tuh barang-barang yang dikonotasikan dengan kotor, jelek, seperti sampah. Aku mengasumsikan dia lebih resisten terhadap konsumerisme.

Nuning : bukannya sebenarnya harusnya yang dikembangkan oleh perupa itu sikap kritis? Aku nulis komentar ya. Menurutku, itu tema yang menarik. Maksudnya, menghubungkan antara isu konsumerisme dalam karya seni. Menarik karena, menurutku, belum ada sebenarnya yang benar-benar nulis khusus tentang itu. Jadi, menurutku, itu celah yang menarik untuk dikerjakan, tapi di sini menurutku kelemahan klasiknya adalah ngak ada riset awal. Sebenarnya, gagasan untuk mengkritisi konsumerisme atau menyerap itu jadi inspirasi itu kan sebenarnya sudah dimulai dari tahun ’70-an dengan Gerakan Seni Rupa Baru itu lho. Mungkin teman-teman kalau sudah paham dengan itu. Misalnya, orang-orang kayak Jim Supangkat, Agus Darmawan T, dan lain-lain isu-isunya banyak mengangkat tentang itu karena itu sangat kontekstual dengan jaman itu. Awal-awal’70-an, ’80-an itu kan isu-isu Indonesia sedang membuka diri seluas-luasnya terhadap investasi asing dan sebagainya itu. Jadi, isu itu relevan bagi mereka. Sebenarnya, sama relevannya dengan sekarang, cuma kan jamannya aja yang berbeda. Persoalan-persoalan yang dihadapi berbeda. Nah, terus, masuk ke generasi berikutnya, menurutku, tetap selalu ada orang-orang, para seniman yang mengangkat tema ini. Kayak misalnya Astari Rasyid, Ade Darmawan dulu kan sering sekali ngomong tentang ini. Yang terakhir malah menurutku menarik di Biennale di Jakarta yang terakhir itu yang ada karyanya Yoga karena itu kan benar-benar, memang nggak lagi ngomong konsumerisme, tapi bahwa seni yang ditempatkan di ruang konsumsi public. Itu kan sesuatu juga. Nah itu kan sesuatu yang perlu diperiksa juga kalau mau nulis tentang itu. Menurutku, ini tema yang mungkin untuk dikerjakan, tapi usulku pertanyaan penelitiannya… Aku mau tanya, kamu membayangkan apa waktu membuat pertanyaan penelitian itu? Karena itu kayak dibuat kamu nggak lihat sejarah yang dulu-dulu atau gimana misalnya para seniman atau dunia seni rupa itu menampilkan konsumerisme itu. Menurutku, itu mungkin bisa dirubah sedikit. Jadi, pertanyaan penelitiannya mungkin cuma satu, tapi bisa dirubah kayak semacam bagaimana konsumerisme ditampilkan dalam karya seni. Jadi, ngomong soal perkembangan itu. Jadi, di situ kamu bisa terbuka kemungkinan untuk meneliti gagasan-gagasan. Mungkin bisa dilihat, aku juga pengen tahu, dari tulisanmu; apakah sikap terhadap konsumerisme itu sama, nggak, sih antara generasi misalnya kayak Wiyoga, Tanti itu dengan orang-orang kayak angkatan ’70-an dulu, Gerakan Seni Rupa Baru. Karena, menurutku, mereka itu, Gerakan Seni Rupa Baru itu cukup penting karena itu jaman eksplorasi gagasan dan bentu habis-habisan. Instalasi macam-macam, terus performance macam-macam itu liar sekali dulu jaman ’70-an. Dan, seingatku, pandangan-pandangan mereka tentang konsumerisme, modernisme itu menarik. Mungkin, kamu perlu itu. Nah, kalau kamu membuat pertanyaan penelitian kayak gitu, itu terbuka untuk itu. Jadi, kamu nggak membatasi ini, tapi kamu ambil aja, aku membayangkan, sampel-sampel.

Agni : iya. Aku pas nyoba ngangkat ini sih pas memang nggak kepikiran mau nengok ke sejarah. Aku juga nggak terlalu tahu apakah ini pernah ada.

Nuning : tapi itu penting kalau mau ngomong ini. Bisa dilihat perbandingannya. Aku punya catatan juga tentang kerangkamu. Kerangka itu, menurutku, masih terlalu besar, terutama bagian yang pertama. Bagian yang ngomong tentang aktivitas gaya hidup konsumtif di Negara berkembang. Itu, menurutku, nggak usah karena itu jadi, aku membayangkan, kamu pasti akan mengulang sekian banyak buku-buku teks tentang konsumerisme dan macam-macam yang sangat banyak itu. Jadi, menurutku, ini nggak usah, tapi mungkin langsung ngomong tentang konsumsi dan seni rupa. Jadi, kayak sejarah ringkas, kayak pengantar. Ngomong bahwa ini tema yang dari dulu diangkat, menarik perhatian. Kamu ngomong konteks. Terus, baru masuk ke seniman-seniman yang akan ambil contoh.

Agni : soalnya, kan aku merasa jenis konsumsi itu bermacam-macam. Apakah konsumsi produk atau konsumsi ini?

Ferial : nah, itu kan bisa ketahuan setelah dari karya si senimannya. Kamu mau memperhatikan konsumsinya atau senimannya? Gitu lho.

Agni : mencoba merelevansikan antara konsumsi sama karya.

Nuning : menurutku, yang menarik kalau di sini kan kamu sudah ngomong tentang isu konsumerisme-nya sendiri; bagaimana itu ditampilkan dari masa ke masa oleh seniman. Itu memang tema klasik. Terus, Inggra.

Agni : bentar. Terus, apakah Bali perlu dipilih sebagai sampel?

Nuning : menurutku, mungkin bisa menelusuri dari katalog 1970-an, Gerakan Seni Rupa Baru itu. Nah, ini salah satu resep juga kalau menulis. Dari salah satu sumber utama gitu, kita kayak bola bergulir untuk menelusuri referensi lain dari situ. Mungkin nama-nama lain, apa, apa yang perlu ditelusuri. Mungkin bisa dimulai dari situ.

Gita : berarti, tulisannya Agni jadi nggak di masalah geografisnya ya, masalah hubungan seniman kotanya; tapi membandingkan.

Nuning : iya. Ini kan kamu ngomong tentang Tanting dan itu. Itu, menurutku, ada banyak asumsi. Itu kan sama kayak tulisan yang diributkan banyak orang itu. Dari pada kamu merepotkan diri dengan itu, sebaiknya focus ke bagaimana itu ditampilkan di karya sini. Itu sudah pilihan yang cukup masuk akal.

Rifki M : kenapa tahun ‘70-an? Sedangkan tadi kita kan ngomong, tahun ’70-an adalah era pembangunan. Nah, kerangka yang digunakan adalah skala produksi. Wilayah-wilayah konsumerisme, kalau pun itu ada, kayaknya nggak banyak disinggung kalau melihat tahun itu sebagai sebuah tahun produksi Indonesia.

Nuning : memang enggak, tapi kelompok itu kan juga kelompok yang nggak besar juga, Gerakan Seni Rupa Baru, tapi itu termasuk kelompok yang penting karena suara-suara yang paling menonjol karena tahun itu, generasi itu di Yogya, terus akhirnya di Jakarta, Bandung. Belajar konteksnya dulu. Tahun itu kan orang itu sedang jenuh dengan pertama yang akan dikritik karya-karya seni yang Moi Indie dan sebagainya itu. Jadi, orang pengen keluar dari itu, dari penampilan Indonesia yang indah, ingin cara lain. Tapi karena, sebenarnya, percobaan-percobaan seni itu kan selalu dilakukan, ‘60-an kan juga sebenarnya dengan Turba itu. Itu paling kenceng kan, tapi karena tahun ‘70-an itu orang masih, para senimannya juga sebenarnya takut, masih sangat takut karena masih sangat baru. Takut untuk bersuara yang berbeda karena stigmanya tahun ‘60-an itu kan masih kental banget. Karena itu, mereka mencari cara lain, menurutku. Karena itu, karya-karyanya Gerakan Seni Rupa Baru itu kritik, tapi halus gitu lho. Mereka itu sengaja nggak mau ngomong tentang yang politis. Itu enggak ngomong kayak gitu, tapi justru ngomong hal-hal yang kayak gini; konsumerisme, generasi tua-generasi muda. Nah, itu kan menarik sebagai landasan. Aku membayangkan orang-orang kayak Wiyoga itu, mungkin, mendekati ini agak beda. Mungkin, tidak se-ideologis generasi yang itu. Oke ya. Inggra, Inggra (meminta ditampilkan tulisan Inggra, not).

Berikutnya, ditampilkan tulisan Inggra.

Nuning : coba dibaca. Satu halaman ya.

Peserta membaca.

Nuning : sebenarnya, dari awal-awal, menurutku menarik, cuma malah pertanyaannya yang nggak karena, menurutku, Inggra itu sebenarnya di pertanyaan-pertanyaan yang di awal-awal itu sudah lebih punya pikiran untuk eksplorasi game, terus semua aspek-aspek yang ada di dalamnya. Terus, ternyata pertanyaan utamanya seperti itu. Itu malah kayak hanya ingin menunjukkan kesetaraan perempuan, tapi dengan cara yang sekuno itu. Hanya ingin menunjukkan bahwa perempuan itu eksis, misalnya, jadi apa, apa. Kalau menurutku, malah justru mungkin yang menarik kalau lihat awal teksnya itu, misalnya, melihat bagaimana perempuan ditampilkan di game karena sangat bisa jadi, kalau ini kan dia punya pandangan bahwa dengan banyak ditampilkan perempuan di game itu sesuatu yang menurut Inggra itu tanda kesetaraan. Terus, sebenarnya satu kalimat itu menarik lho, “Perkembangan karakter wanita di game”, tapi itu justru yang malah menarik untuk diteliti di sini.

Ferial : kalau di Mortal Combat, Tekken, Virtual Fighter semua cewek-ceweknya susu thok. Itu jaman PS dulu. Tekken kan terkenal banget dan pasti cewek-ceweknya itu bajunya ngablak-ngablak, susu thok.

Nuning : tapi petarung gitu?

Ferial : petarung. Kalau udah menang, itu centhil-centhil.

Nuning : di semua game itu kayak gitu ditampilkannya?

Ferial : iya.

Gita : tapi lucu lho kalau laki-laki milih karakter Cun Li untuk dipakai.

Ferial : tapi aku nggak pernah ketemu lawan main cowok yang makai karakter cewek.

Gita : kalau Inggra bilang, game identik dengan laki-laki. Itu benar, nggak, sih?

Ferial : nggak. Karena mungkin di tempat game-game itu nggak ada cewek.

Nuning : itu juga pertanyaanku. Kayaknya, ini dia lihat dari permukaan, tempat PS itu lho. Kan itu memang laki-laki semua.

Ferial : tapi kenapa di tempat-tempat itu nggak ada perempuannya?

Gita : karena dia nggak nyebut game-nya itu game apa. Aku mainnya game cewek, game perempuan.

Nuning : ini masih ada 3.

Ferial : mau break dulu atau terus ke 3 yang lain?

Irvan : punyaku nggak ada.

Ferial : udah ngirim? Nggak ada.

Irvan : jangan-jangan aku salah kirim.

Ferial membuka email-nya mencari kiriman dari Irvan.

Irvan : berarti belum kekirim.

Ferial : atau lu kirim sekarang? Kan masih ada di draft lu. Entar aja. Ini kan masih ada 3 yang lain. Ini gimana nih, mau break dulu atau langsung terus ke 3 yang lain?

Peserta : break dulu.

Break jam 21.22 – 21.43 WIB

Nuning : mulai dengan Monika.

Ferial menampilkan proposal tulisan Monika. Peserta membacanya.

Nuning : apa, Mon, komentarmu yang kamu bilang ke aku?

Monika : jatuhnya jadi kayak penelitian buat ilmu alam.

Nuning : sebelum sampai ke pertanyaan penelitian sih, tadi Momon komentarnya ini jadinya jadi tulisan sains gitu ya. Gimana caranya membuatnya jadi penelitian kebudayaan? Mungkin, karena pertama kamu terkonsentrasi ke feromon itu dan nggak mengaitkan ke soal bau sendiri, kan padahal kamu tertarik dengan bau itu. Coba diluaskan pandangan tentang, mungkin, konsep orang tentang bau. Aku nggak tahu sih kalau di sini, tapi, setahuku, orang itu punya pandangan sendiri tentang bau. Mungkin hampir sama kayak pandangan yang rasis sih. Kayak ini lho, orang kulit hitam itu baunya nggak enak. Suka komentar ini, nggak, sih? Orang India itu bau. Itu sebenarnya, komentar-komentar yang agak sembarangan, tapi sebenarnya, kalau kamu tertarik meneliti itu, itu bisa ditelusuri. Itu ada hubungannya dengan konsep ngelihat orang dari etnik, macam-macama, dan satu buku yang memang langka banget, judulny “Aroma”.

Monika : aku udah baca.

Nuning : kalau udah baca buku itu, harusnya sampai ke pertanyaan-pertanyaan itu. Itu kan menarik sekali. Misalnya, kenapa eksis pandangan-pandangan itu? Tapi, kalau di sini, kamu mesti cari contohnya, menurutku. Tapi, itu kan cuma contoh salah satu tema tentang bau. Yang itu kan, kebetulan di situ, yang ada hubungannya dengan etnik. Kamu harus cari sendiri, misalnya bau wangi yang sekarang dominan. Ya, wanginya parfum-parfum itu. Aku membayangkan sih, sebenarnya, dari konsepmu yang kemarin yang laki-laki dan perempuan, sebenarnya, kalau kamu menulis dengan cara kayak gitu, bisa mengundang komentar, “Terus apa?“ Kayak gitu kan. Kayak komentarnya Kris Budiman gitu, tapi sebenarnya, kalau kamu bisa sampai jauh menelusuri pemakaian kosmetika ke laki-laki, itu kan sebenarnya bisa menarik.

Gita : parfum itu sebenarnya masuk kosmetik juga.

Nuning : aku dulu pernah mengamati sejak kapan majalah Hai itu mulai ada rubrik-rubrik yang member tips-tips perawatan tubuh laki-laki itu lho. Itu kan menarik. Menurutku, konsep tentang keindahan itu kan berkembang, ternyata, antara laki-laki dan perempuan bahkan media yang Hai itu kan selalu wajah-wajah cowok mulai ada rubrik fashion. Itu kan cukup menarik. Misalnya kalau kamu menariknya sampai ke situ, tapi, kalau bau, usulku kamu harus nyari contoh di luar itu. Kayaknya, kita nggak punya konsep sekuat itu tentang bau, yang ada hubungannya dengan itu.

Gita : kalau bau dan image? Kalau baca Seno yang tentang bau, itu kan dia banyak menghubungkan parfum dan image perempuan. Jadi, kalau perempuan pakai parfum ini, terus dia mendeskripsikan perempuan itu sebagai ini.

Nuning : ini sebenarnya, yang buku itu menarik karena dia kan bisa menelusuri sampai jauh ke soal rasis itu lho. Aku membayangkan, mungkin, kalau menemukan contoh yang pas.

Linda : kayak misalnya, kadang kita berhubungan dengan orang yang asing kayak orang Papua gitu kan. Kita kan tidak terlalu banyak kontak dengan mereka. Jadi, kita itu selalu menganggap mereka itu bau, lebih bau dibandingkan orang-orang yang kita temui sehari-hari.

Nuning : aku memang terbayang orang Papua. Ya, orang kulit hitam lah. Orang India.

Ferial : bule itu bau keju.

Linda : karena makanannya, sebenarnya. Kan kayak orang India juga karena makanan.

Gita : tapi kalau orang Asia?

Ferial : lho, ya kita kalau menurut mereka juga bau.

Nuning : bagi mereka, kita bau.

Gita : apalagi makanan kita, kayak ikan asin. Ada orang bule yang nggak mau tinggal sama orang Asia karena dapurnya bau.

Nuning : kalau kamu bisa menganalisa yang kayak gitu, itu akan memperkuat tulisanmu.

Linda : aku pernah baca tulisan di Jakarta Post, tapi lupa judulnya apa, ngomongin bau tubuh orang asing yang jarang kita kontak.

Nuning : tapi, kupikir, itu jadi agak membatasi dirimu karena kamu membayangkan bau itu ke tubuh itu lho. Mungkin lho. Jadi, itu cuma salah satunya. Jadi, aku membayangkan, mungkin tulisanmu bisa perbagian-perbagian juga ke hal yang lain, soal tempat. Gitu.

Monika : kayak misalnya munculnya kata wangi. Bau wangi kan itu, wangi itu, kan untuk bau yang enak.

Nuning : ya, itu juga beda-beda kan konsep harum. Mungkin itu, perbedaan konsep.

Ferial : terus, ada juga tulisan yang ketertarikan orang itu dari baunya juga.

Gita : iya, yang itu.

Nuning : itu berlaku sebaliknya juga kali ya dari contoh-contohmu. Gimana, Mon, tulisanmu?

Gita : kalau deodorant, itu gimana, Mbak?

Ferial : itu lho yang paling nggak nyambung itu iklan Axe Dart, “Karena wanita suka coklat”, what?!

Nuning : tapi sebagai iklan yang mempromosikan parfum laki-laki, itu oke banget, konsisten.

Ferial : pokoknya, dia image-nya cowok yang dikejar-kejar cewek.

Nuning : karena wangi, kan. Saranku ya, mungkin, soal contoh kamu harus cari kalau nggak bisa dari data sekunder, mungkin dari pengalaman pribadi itu, wawancara itu lho tentang bau. Misalnya mungkin wawancara dengan bule, pengalaman mereka tentang bau di sini. Coba kamu wawancara mendahului itu. Itu bisa, aku percaya sih, cara-cara kayak gitu bisa membuat step-nya lebih maju. Cara untuk mengetes pertanyaanmu dulu kan kalau kamu wawancara ke orang. Mungkin, kamu wawancara orang bule.

Linda : orang Arab.

Monika : bau itu karena terbaca ya. Bau itu karena konsep, bukan?

Nuning : konsep juga.

Linda : Yang konflik Dayak sama Madura itu kan juga tentang bau. Ada bau Dayak, bau Madura.

Nuning : banyak lagi tulisan-tulisan yang ngomong soal itu.

Irvan : tapi, aku belum pernah dengar ada bau Dayak. Kalau orang Dayak nyium bau Madura, itu ada.

Forum becanda sejenak tentang bau.

Feral : oke, siapa nih selanjutnya?

Nuning : Rifki.

Ferial menampilkan tulisan Linda.

Nuning : kamu wawancara deh. Perbanyak referensi yang tentang gini, gini.

Monika : pengalaman tentang bau.

Kiki : aku membayangkan kalau bau itu kan statis gitu ya. Kalau orang kimia bilang, pasti itu karena unsure kimia. Jadi, kalau bau kecut, ya selamanya kecut, tapi kenapa dia pada satu waktu itu bisa diterima dan dianggap enak; dan pada saat yang lain tidak? Menurutku, itu juga ada pengaruhnya terhadap persepsi atau penemuan orang tentang hidung dan penyakit, misalnya. Coba cium obat nyamuk semprot atau yang elektrik. Pada saat orang berpikir bahwa penyakit yang paling gampang didapat itu datang dari kulit, misalnya nyamuk, orang nggak bermasalah dengan obat nyamuk yang bau, tapi, setelah orang punya penemuan baru bahwa penyakit yang paling berbahaya bisa datang dari hidung, terus semua obat nyamuk jadi pasang iklan, “Kami tidak bau.” Maksudku, persepsi orang, penemuan orang yang selalu baru tentang itu. Kayak misalnya, sekarang kan lagi banyak tentang flu-flu itu: flu babi atau flu apa. Terus, banyak orang juga punya persepsi baru tentang hidung dan akhirnya menyeleksi bau yang sebaiknya tidak kita cium. Kayak misalnya, wewangiannya body shop yang alami. Itu kan karena penemuan kita yang agak baru tentang hidung bahwa kalau kita mencium bau yang alami, itu juga pengaruh dengan ketahanan tubuh, kesehatan, dan lain-lain.

Ferial : Encarta juga mbahas itu. Temanku pernah bikin wadahnya aroma terapi terus dicantelin di kuping kayak earphone. Itu untuk PMS. Kita tuh nemu ada kelenjar di otak yang menurunkan hormon yang menyebabkan PMS. Nah, itu bisa dibantu dengan bau-bauan. Itu cuma untuk TA, design produk. Bisa untuk kalung.

Monika : isinya apa?

Ferial : sama dia ditaruh aroma terapi itu. Kalau dia sih, ngebahas alatnya. Alatnya tuh bisa mengaktifkan si aroma terapi yang ditaruh di situ, tapi, intinya, dari bau itu mengurangi, secara hormonal, kepala.

Nuning : mungin itu ya, meluaskan konsepmu tentang bau itu. Jadi, kamu sudah bergeser dari parfum. Itu, mungkin, kamu akan lebih terbuka.

Rifki M : pilihan yang dijelaskan Kiki, sebetulnya, lebih menarik dari pada soal etnis. Nanti, soalnya, jatuh ke wilayah citra orang.

Nuning : itu contoh sih. Aku makanya mendorong perbanyak cerita-cerita aja dulu. Maksudnya, bau itu di tempat yang macam-macam itu lho. Bau yang alami dan tidak.

Ferial : tapi itu bukan hubungannya sama bau yang alami dan tidak sih, cuma dia nggak pakai yang bikin nyegrek itu lho.

Nuning : iya, maksudnya kan konstruksinya itu lho.

Kiki : mungkin sebelum parfum bodyshop muncul, orang mungkin menganggap bau sayuran dan bau buah itu nggak semuanya enak, tapi begitu penemuan baru tentang kesehatan terus hidung. Akhirnya, orang yang tadinya nggak suka bau peach malah senang.

Ferial menampilkan tulisan Linda dan forum membacanya.

Nuning : itu bahannya ada ya?

Linda : ada sih. Bukunya yang Nyai Dasima itu ada. Kalau film, kan agak susah. Nggak ketemu.

Nuning : kalau yang cerita versi lama ini? Yang buku G. Francis itu ada juga?

Linda : ada, di “Tempo Doeloe”-nya Pram.

Kiki : ada sinetron-nya juga kan?

Linda : ada. Itu yang sinema popular itu.

Nuning : ini berarti kamu fokus ke teks, kan?

Linda : iya.

Nuning : yang membandingkan dua ini.

Linda : kayaknya, rumusan masalahnya mesti dibetulin.

Nuning : kalau aku, oke yang topik pertama itu. Menurutku… sebentar ya. (nuning menjawab telepon) . Kalau yang tentang ini, menurutku, itu masih mungkin dilakukan. Yang Nyai Dasimah itu kalau kamu mau membandingkan dua teks ini. Oke lah. Nah ini, kebetulan kemarin aku baru menonton filmnya Etin yang babi buta pengen terbang itu lho. Sebelumnya, kan aku sudah pernah nonton film-film lain di generasi itu tentang Kecinaan dan pertanyaanku adalah mungkin, nggak, sih kita membicarakan kecinaan itu, identitas Cina tanpa merujuk ke persoalan ’98 karena aku melihat banyak produk-produk budaya film atau apa, novel gitu, yang ada dan membahas tentang itu selalu merujuk tentang itu, peristiwa ‘98. Itu satu. Terus, yang kedua, hampir semua karya-karya yang kutonton itu, baik yang dibuat Cina atau bukan, kayak selalu marah. Itu lanjutan dari ’98 itu. Ketiga, itu seolah-olah persoalan tentang Cina dan lain-lain yang berkaitan denganitu tuh sebelum itu tuh nggak ada.

Linda : mungkin, sebenarnya ada, tapi karena direpresi gitu ya.

Nuning : he eh karena nggak muncul gitu lho di semua produk itu. Nah, kalau menurutku, yang ada sekarang itu justru kayak ngasih panggung entar para pembuat film itu, macam-macam, novel itu. Hanya menyediakan panggung bagi tema itu, tapi tanpa benar-benar… Jadi, harus terus-menerus ngomong membuat distingsi antara yang Cina dan yang lain itu lho. Kayak selalu diulang. Cina, dan terus kami begini karena Cina. Gitu, gitu. Nah, sementara, aku membandingkan dengan misalnya film-film, aku nggak terlalu banyak tahu film-film Singapura ya, tapi aku menunjuk 3 negara yang ras utamanya itu Cina, Melayu, dan India, itu film-film Indie kebanyakan, yang Malaysia itu, yang bikin sutradara-sutradara Cina, itu mereka sudah nggak ada lagi pertanyaan tentang Cina. Jadi, filmnya ya udah gitu aja. Kita tahu bahwa itu tuh masuk di situ, tanpa harus terus-menerus, bahkan nggak ngomong. Ya, udah kayak memang sedang membicarakan persoalan mereka kan, tapi ketika mereka membicarakan persoalan itu kan kita tahu bahwa itu persoalan mereka, ya tentu saja mereka Cina, terus tentu saja mereka berhubungan dengan kayak gitu, gitu. Tanpa harus cerewet lagi ngomongin. Itu hal lain ya, tapi perlu direnungkan lagi kalau kamu mau ngomong kayak gini.

Linda : justru, ini sih, Mbak. Ini berangkat dari pengalaman pribadi bahwa aku sendiri selalu dicinakan oleh orang lain karena aku merasa dari dulu tidak pernah ingin membuat perbedaan. Justru orang lain, “Kamu Cina kan?” “ Kamu Cina kan?” selalu dicinakan. Jadi, aku menyadari kecinaanku itu ketika aku berhadapan dengan orang lain dan orang lain itu yang membuat aku menyadari bahwa aku berbeda dengan mereka. Sementara aku sendiri tidak pernah merasa bahwa aku berbeda dengan mereka.

Ferial : mau nanya nih. Caranya? Aku suka dengan cara yang ini ya. Maksudnya, kayak dikasih pembandingnya itu yang sikap kayak… Soalnya, aku punya teman. Nah, itu sama keluarganya, dia nggak boleh main sama yang bukan Cina. Nah, terus, kalau main sama yang bukan Cina itu, benar-benar dianggap kayak pasti nyolong, pasti apa. Maksudnya, ini terjadi di turunan Arab juga. Ini aku pernah ngobrol serius sama masalah keturunan ini. Jadi, nggak melulu orang yang di luar yang yang ngatain kamu Cina gitu, tapi nggak pernah ada kenyataan yang diangkat di keluarga Cina, atau keluarga yang multiras itu atau, misalnya, yang bule-bule nih sekarang. Keluarga yang campuran bule, orang tuanya juga kayak gitu. Maksudku sih, mempertanyakan kecinaan sebagai sebuah identitas. Di situ kamu bisa mewawancara si ibu-ibu yang kayak gini atau keluarga yang begini; kenapa mereka bisa sangat kencang sama itunya dan juga dileburin sama pengalamanmu, dicinakan oleh orang lain. Ribet, nggak, sih?

Linda : jadi ribet. Makanya, aku juga bingung.

Gita : maksudmu itu gini, nggak, sih, Mbak. Kalau aku coba bandingin sama orang Singapura gitu, kalau kita masih memperbincangkan soal identitas, mereka udah, untuk memperbincangkan soal identitas, jadi membicarakan rumah.

Nuning : ngomong tentang mereka, tetapi udah nggak terus-menerus membedakan tentang diri mereka.

Gita : permasalahan Cina, tapi identitasnya udah selesai. Kita bukan masalah di identitasnya, tapi berbeda cara hidup.

Irvan : yang penah kutonton itu film Mad.

Nuning : Rain Dog.

Irvan : ya itu.

Nuning : kayak gitu kan.

Irvan : jadi, beda cara menampilkan.

Nuning : itu sebetulnya banyak, tapi itu contoh yang baguslah.

Linda : kemarin itu, aku gara-gara baca Ian A tentang yang bahwa dia menuliskan pengalaman biografi pengalaman dia dan juga pengalaman orang lain yang dia telisik. Jadi, ya tiba-tiba aja.

Ferial : seru juga sih kalau yang kayak tadi. Misalnya ngebahas, di sini kan ada Pecinan. Terus, kemarin ada festivalnya. Tapi nggak seru ya kalau membahas tentang itu?

Nuning : terlalu kecil.

Ferial : maksudnya, yang ngebahas bagaimana di rumah, atau orang tua, atau yang di atas-atasnya membedakan yang pribumi.

Nuning : penurunan konsep Kecinaan di keluarga.

Linda : kadang, jadi posisi nilai-nilai yang diturunkan, misalnya di keluargaku, itu selalu penuh ambivalensi gitu lho. Jadi, kadang misalnya mereka bilang begini, begini; tapi pada satu saat yang lain kadang misalnya orang yang ini begini, begini. Misalnya, orang dari suku tertentu seperti ini, seperti ini, tapi di sisi lain mereka juga sangat bergaul akrab, bahkan ya udah benar-benar seperti saudara sendiri, tapi kadang-kadang ya ada sikap ambivalensi saat tertentu dia merasa terhadap orang pribumi secara ke seluruhan.

Ferial : itu lho. dari si Cina-nya yang member jarak.

Nuning : tapi itu sikap yang agak umum, sebenarnya.

Gita : semua ras punya itu.

Nuning : iya. Jawa juga gitu.

Linda : soalnya kalau di Palembang, mereka bilang apa, terus tiba-tiba, “Kalau wong kami…” Wong kami itu maksudnya pribumi. Terus, wong kamu itu orang Cina. Nah, itu selalu dibedakan. Padahal, kami sendiri tidak membuat perbedaan.

Nuning : tapi itu sama ya reaksinya.

Kiki : tapi di Yogya banyak tuh kos-kos Cina yang rasis. Nggak nerima kalau dia bukan Cina.

Ferial : jadi ini gimana?

Linda : pertanyaan yang pertama gimana? Yang social mobility.

Nuning : he eh. Kayak ada kesadaran menjadi Nyai. Itu kan jarang diperiksa tho.

Linda : kalau yang dicerita ini nggak terlalu tampak ya, tapi ada cerita lain yang ditulis oleh Tirto Adi Suryo. Itu dengan gamplang, maksudnya, dijelaskan bahwa menjadi seorang Nyai itu menaikkan status social dan member banyak keuntungan materi.

Nuning : buku yang khusus tentang Nyai ada, nggak?

Linda : belum. Paling penelitian mahasiswa di Australia.

Nuning : itu aa. Kamu menjadikan novelnya Pram sebagai acuan?

Linda : nggak juga sih karena Pram kan, buatku, itu kan udah jelas membongkar. Udah punya semangat dengan kesadaran. Aku bingung, maksudnya, apa ini mau difokusin pada persoalan jender. Maksudku, aku punya asumsi dua orang ini menulis dengan perspektif yang berbeda karena Adan itu memang berangkat dari kesadaran ingin mengubah nuansa anti-pribumi dan colonial yang ada di cerita yang asli. Nah, tapi aku punya asumsi bahwa tetap aja keduanya itu membuat suatu, ya mungkin, stereotype-nya itu tidak bergerak jauh dari yang kolonial dan yang patriarkal.

Nuning : kalau Nyai Dasima, iya. Mungkin, yang lebih dieksplorasi ke soal kelas itu ya.

Linda : kalau kelas itu, agak susah untuk cerita Nyai Dasima.

Nuning : iya, nggak begitu kelihatan.

Linda : mungkin, hubungan rasnya.

Nuning : iya, ras dan pengawetan sikap gender itu ya, sikap yang sangat patriarki itu. Itu yang kelihatan lebih tampak. Kamu caranya menganalisa gimana? Kamu tunjukkan ini?

Linda : kutipan.

Nuning : kutipan-kutipan, iya. Ya, Rifki.

Ferial menampilkan tulisan Rifki S.

Nuning : cerita, Ki?

Rifki S : jadi, selama ini aku lihat di Yogya itu nggak ada sebuah acara yang benar-benar bisa merepresentasikan yang Yogya gitu lho. Jadi, membuat apa pun kayaknya selalu gagal. Misalnya kayak FKY, terus ada Textcraft. Textcraft ini jadi acara yang bikin ini benar-benar standard internasional gitu lho. Dia mendatangkan beberapa pembeli dari luar. Acara-acara yang ini standarnya udah gila-gilaan, ternyata tidak berhasil. Yang datang tuh paling bule-bule dari Prawirotaman dan itu juga tidak ini. Dilihat nah ini Yogya seperti apa? Gitu lho. Kerajinan seperti apa? Yang baik itu.

Nuning : jadi ketertarikanmu itu ke peristiwanya ya? Ke event-nya? Misalnya basar.

Ferial : karena basar itu tidak sekadar even menurut dia.

Rifki S : jadi, ketika menyelenggarakan basar itu juga banyak factor yang misalkan ada di sini itu jelas sekali. Di Yogya itu, posisinya itu, kerajinan itu menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat di Yogya, terutama di daerah-daerah selatan, daerah Sleman, daerah-daerah pelosok itu lho. Itu merupakan sumber aset Negara yang luar biasa banyaknya, tapi di Yogya sendiri itu tidak ada satu acara pun yang itu sanggup untuk…

Nuning : mewadahi mereka.

Rifki S : he eh. Mewadahi mereka dan pembeli itu lebih suka, misalnya, beli di Jakarta dari pada di Yogya. Itu kan beberapa factor. Jadi, saya berpikir bahwa sebenarnya gampang sekali untuk menyelenggarakan event itu karena di sini itu juga sumber daya manusia itu banyak, tapi kok tidak bisa.

Nuning : aku menangkapnya gini. Kegelisahan utamamu kan ke nasib para pengrajin ini? Iya, nggak, sih?

Rifki S : enggak. Sebenarnya, saya tuh melihat ini tuh ketika mengurusi FKY ini lho. Jadi, FKY ternyata ya diurusin sedemikian rupa, tetap jelek gitu lho. Ini sebenarnya ada apa di sini? Kenapa di Yogya itu nggak pernah berhasil? Ini factor-faktor apa? Jadi, membuat di mall, misalkan Galeria mall, Malioboro Mall, Ambarukmo Plaza, JEC, dengan standard apa pun, itu ternyata tidak bisa gitu lho. Misalkan ada beberapa contoh itu. Misalkan pameran yang kemarin itu Festival Betawi ya. Ternyata di Jakarta kok bisa. Di sini itu kok nggak bisa.

Irvan : indikator keberhasilannya apa?

Rifki S : indicator keberhasilan itu ketika dilihat dari ekonomi itu ya pengunjung banyak, transaksi banyak. Dari budaya, itu jelas masyarakat di sekitar acara tersebut, itu akan ikut berperan dalam acara tersebut.

Nuning : berarti, ini, nggak? Kesulitan menjual produk seni budaya untuk kota kayak Yogya, gitu. Iya, nggak? Tapi, sebenarnya, kalau FKY tahun lalu, itu lebih sukses, nggak, dari pada yang sekarang?

Rifki S : iya.

Nuning : nggak, aku membayangkan, mungkin, ini ada hubungannya dengan soal kebijakan seni yang lebih luas itu lho. Kayak setahuku, FKY ini kan, ini pertama kalinya diambil lagi oleh Pemerintah. Setelah dulu kan sempat diserahkan ke public. Nah, itu mungkin ada hubungannya dengan itu. Konsep menjual seni yang diyakini pemerintah itu lho. kayak aku sih melihatnya, pemerintah itu kan selalu, ini kalau kita ngomong cultural policy yang lebih besar, pemerintah itu kan selalu nggak mau kalah gitu lho. Maksudnya, selalu mengira, oke, kalau melihat FKY dulu itu gaungnya lebih kenceng, terus uangnya lebih banyak, terus mereka itu pengen untuk mereka gitu. Jadinya, itu salah satu alasan yang bikin, “Oke, ini sebaiknya kita tangani sendiri aja lagi.” Dan, akhirnya, dengan ditangani sendiri itu, sebenarnya mereka sambil menutup diri terhadap kerjasama-kerjasama dengan yang udah dibangun itu. Ini kan kebijakan di sini kan selalu gitu. Nggak ada kontinyuitas itu lho dengan upaya-upaya seni yang dulu dengan yang sekarang itu lho. Menurutku, ada hubungane karo kuwi e.

Rifki S : iya, tapi aku kan lebih menyorot ke basar seninya. Kalau basar seni dari kemarin, aku melihat itu dari 2004 itu ya, setelah 2005 itu sebenarnya memang menurun gitu lho. dan kalau misalkan FKY itu dianggap bagus gitu ya, tetapi basar seni itu tidak bagus. Saya lebih melihat basar seni kerajinan karena bagi warga Yogya itu ini sangat krusial gitu.

Nuning : makanya tadi aku nanya, berarti kan kamu sebenarnya pedulinya pada nasib kerajinan ini tho? Terhadap para pengrajin ini sebenarnya.

Ferial : ketika menampilkan barang-barang mereka.

Nuning : iya karena kan sebenarnya, kalau kamu berpendapat bahwa basar seni yang ada, yang sudah bertahun-tahun dilakukan itu tidak, kurang memuaskan untukmu dan tidak memberikan keuntungan yang maksimal ke dunia kerajinan kan termasuk pengrajin di dalamnya, berarti kan kamu memedulikan mereka, sebenarnya.

Ferial : mungkin kayak ini. Kalau di Jakarta itu kan, nata, pas basarnya, itu lebih serius ya natanya dibanding di sini?

Rifki S : tapi ketika itu konsep itu dibawa ke sini, itu juga tidak berhasil. Seperti di Textcraft itu. Itu sangat Jakarta banget. Ternyata, sampai di sini itu juga nggak laku gitu lho. Jadi, buyer/pembeli itu juga tidak mau datang ke sini gitu lho. Ada apa sebenarnya?

Gita : buyer-nya, targetnya bule?

Rifki S : sebenarnya, buyer itu kan ada local. Ketika misalnya dibandingkan buyer/pembeli di Jakarta, ketika ada satu event namanya Ina Craft itu juga ramai banget. Kenapa di sini? Mungkin, masalah daya beli ya akhirnya.

Gita : menurutku ini deh, kalau di Jakarta itu, hal-hal yang kayak gitu jadi kayak kerinduan, jadi eksotis. Kalau di Jojga, kamu bisa beli di Malioboro, nggak perlu ke basar yang mungkin harganya malah lebih mahal.

Nuning : mungkin, kamu harus menemukan problem utamanya. Oke, memang pengrajin itu craft gitu ya. Itu kan kalau di sini memang penting ya, di Yogya itu. Itu salah satu sumber penghasilan utama, tapi kamu harus menemukan pembahasaan yang tepat sebenarnya problem utamanya ada dimana gitu.

Rifki S : mungkin kan orang sini ngelihat itu eneg ya. Maksudnya, soal kerajinan itu.

Gita : tapi kan, kerajinan memang buat konsumsi ekspor. Mereka membuat banyak untuk ekspor. Kalau di Yogya-nya sendiri, bukan…

Rifki S : iya, mungkin eneg itu juga dengan setiap hari melihat.

Gita : itu bukan jadi sesuatu yang spesial.

Nuning : mungkin, kamu perlu menemukan, kalau usulku sih, itu tema yang mungkin bisa dilakukan: kerajinan. Aku menyarankan kamu lebih eksplorasi ke temanya ini. Kalau misalnya kamu sudah akrab dengan tema ini, aku menganggap mungkin ada banyak persoalan-persoalan lain di entah pengrajinnya, entah kerajinannya sendiri, semua aspek yang berkaitan dengan itu apa yang… Karena kalau lihat dari sini itu, ini kurang memadai untuk sesuatu yang bisa diteliti itu lho. Ini hal lain, tapi aku dulu sempat tertarik dengan yang berhubungan dengan kerajinan. Aku dulu sempat tertarik dengan lalu lintas benda-benda kerajinan di banyak tempat karena, misalnya, aku pikir benda-benda kerajinan itu saling mempengaruhi gitu lho. Bali, Yogya, atau Sumatra, dan lain-lain. Memang, misalnya waktu aku ke Bali, aku menemukan banyak sekali barang-barang dari Yogya gitu lho. Di Padang juga kayak gitu. Dan bentuk-bentuk kaos itu sangat… Kita itu, misalnya, sudah tinggal di sini lama sekali ya, terus di sana pasti akan lihat, “Ini Yogya sekali.” Saling pengaruh. Nah, sebenarnya, pertanyaan utamanya itu adalah keaslian itu lho. Jadi, kalau kita mengatakan barang ini asli Yogya, itu sebenarnya nggak juga karena ini juga kamu sebenarnya sendang mengeksplor skill membuat ini ke tempat lain. Jadi, nanti lama-lama, kalau kita main ke tempat wisata di mana pun itu mirip-mirip gitu lho. Misale. Aku mbayangke ini sih kalau kerajinan.

Ferial : tapi ini juga seruh nih yang paragraf keduanya, “Pengunjung dan pengrajin kurang berminat untuk berjualan di arena ini.” Mungkin, kalau pengrajinnya berminat untuk berjualan, tapi terus nggak ada yang beli. Atau karena pengalaman-pengalaman sebelumnya nggak ada yang beli, terus jadi nggak berminat.

Nuning : misalnya persoalan di sini kan yang setahuku misalnya perak. Itu kan, mungkin ya, persoalan di Yogya itu kan istribusi dan pasar, tapi di sini memang skill-nya bagus. Makanya mereka menjual itu ke tempat lain. Misalnya ke Bali. Dan barang yang sama itu, itu punya orang Yogya semua perak-perak yang di Bali itu, tapi dijual dengan harga lebih mahal dan laku. Apa ya? Mungkin, aspek-aspek lain dari kerajinan itu lho.

Rifki S : apa ya?

Nuning : okeh sing menarik. Kalau aku dari dulu, memikirkan yang itu, tapi belum berkesempatan.

Ferial : jadi, nggak sekadar basarnya itu lho. Kamu bongkar lagi si pengrajinnya, terus yang lebih dalam lagi.

Nuning : bisa pengrajinnya, atau barang-barang yang dijual, atau distribusinya. Coba didelok.

Ferial menampilkan tulisan Irvan.

Nuning : piye, Pang? Analisa teks?

Irvan : mungkin kalau kayak gini, harus dapatin naskahnya.

Nuning : iya soalnya pertanyaan pertama itu kayaknya harus punya teks dan ini kan berarti teks yang ada di sini berarti teks adalah adaptasi tho. Kalau aku ya, menurutku, teks dari Gary Baba itu, nanti coba teman-teman lihat sendiri deh, ini tuh agak kuno. Jadi, tentang mempertentangkan antara kebaikan dan kejahatan, manusia yang penuh akal muslihat, kelicikan, mozo-mozo ini yang tampaknya brutal, tapi sebenarnya mereka lugu, dan tulus. Makanya aku bilang masih sederhana dan dari segi cerita itu agak biasa, klasik.

Irvan : aku juga berpikir kayak gitu sih karena kan juga ini terinspirasi dari Keraton. Maksudnya, aku berpikir, kok ini masih dipentasin ya.

Nuning : itu sebenarnya pertanyaan banyak orang habis nonton itu.

Gita : lucu kan.

Nuning : memang lucu. Dari segi temanya itu lugu banget. Itu kalau anak-anak yang sudah ikut teater dari SMA itu, kayak “Dunia Para Setan”. Naskah-naskah teater lama-lama.

Gita : mungkin, mengeksplorasi bentuk, kostum.

Irvan : makanya pertanyaan keduaku itu relevansinya.

Nuning : ini, menurutku, lebih mungkin dikerjakan. Pertanyaan yang kedua itu lho. Mungkin, kamu sekalian mengkritik pendekatan klasik dari yang ditawarkan di naskah ini, tapi kamu harus tetap punya naskahnya. Jadi, saranku mungkin ini sedikit diubah pertanyaan yang kedua itu. Tetap kayak gini, tentang relevansi. Ya, mungkin, kamu bisa ngomong relevansi, tapi sambil mengkritik pendekatan klasik yang dibawa: tentang kebaikan dan nilai-nilai itu lho. Itu masih cocok, nggak, sih? Kan dia kayaknya ya masih agak definitive juga sih.

Gita : kalau dari target penontonnya?

Nuning : yang jelas bukan anak-anak, tapi sebagai sebuah pementasan sih menyenangkan sekali, menarik. Kostumnya bagus banget.

Irvan : sebelumnya itu aku pernah baca buku yang “Menunggu Godot”. Itu kan kalau dari segi visual aku ngebayangin bakal mirip kayak gini gitu.

Nuning : ya, mirip-mirip. Mungkin kalau kamu ngomong yang kedua ini, sekalian kamu ngomong konteks kelahiran naskah ini dulu gitu. Terus, sekarang.

Gita : kalau misalnya membandingkan sama teater-teater sekarang? Maksudnya untuk menunjukkan bahwa ini klasik banget.

Nuning : aku nggak menemukan teater yang seperti ini. Wis ya. Untuk yang minggu depan, aku baru membayangkan satu tulisan. Tulisannya Melanie yang tentang memandang dan dipandang.

Ferial : yang belum dapat Zaldi kemarin siapa aja? Kiki, Hayu, Rifki S, Rifki M, Monika.

Ferial mengambil teks Zaldi dan membagikannya pada peserta yang belum mendapatkan.

Nuning : terima kasih ya.

Kelas selesai jam 22.55 WIB

 

Comments

No comments so far.

Leave a Reply

 
(will not be published)
 
 
Comment