Notulensi 29 Juni 2009
Pertemuan V
Mentor: Nuraini Juliastuti
Kelas mulai jam 19.30 WIB
Hadir : Rifki S, Agni, Dina, Monika, Widya, Irvan/Ipang, Linda, Rifki M
Ferial : dah, yuk! Kayaknya, dah banyak.
Ferial membagi sebagian foto kopi materi Kelas Aksara Sesi 3.
Ferial : oke. Pertemuan kelima bersama Nuning. Silahkan dimulai, Bu!
Nuning : oke. Malam ini cuma sebentar ya. Aku cuma akan menerangkan tugas-tugas dari pertemuan keenam sampai sepuluh. Jadi, gini. Latihan review. Nanti, kalian kuberi esai-esai. Aku sudah menyiapkan esai-esai yang akan di-review. Jadi, bentuknya review-nya gini. Kan kita pertemuannya Senin dan Jumat. Misalnya, untuk pertemuan ke-6 itu kan hari Jumat, jadi untuk hari Jumat aku memberi 2 esai yang di-review. Tapi untuk hari Senin kan pendek, jarak dari Jumat ke Senin, jadi aku memberi satu. Kayak gitu. Jadi, misalnya, pertemuan ke-6 ini bahannya. Nanti kalian nunggu foto kopiannya. Terus, pertemuan ke-7, bahannya ini. Delapan, ini. Maaf, ini berarti pertemuan ke-9, tanggal 13 Juli 2009.
Ferial : hari apa?
Nuning : itu hari Senin. Aturan nulisnya gini. Tulisannya pendek aja, 500-750 kata. Ya, nek nglewati itu, terserah. Paling nggak 500 kata lah. Itu kan pendek, paling cuma 1 halaman. Jadi, terdiri dari 2 bagian. Yang pertama, ditulis aja a, ceritakan gagasan dari penulis dengan menggunakan bahasa kalian sendiri. Terus, jika esainya lebih dari satu, misalnya untuk yang hari Jumat besok itu, kalian membandingkan gagasan keduanya. Misalnya ini (pertemuan ke-6). Misalnya tulisannya Chua Beng Huat kan ada 2 esai. Misalnya kalian membandingkan yang dikatakan di bab “Food, Ethnicity dan Nation” dengan yang “Napoleon Indicting Mac Donald” itu gimana. Aku memang sengaja nggak ini sih, nggak thak samain gitu. Terus, tema-temanya juga, karena ini untuk latihan, jadi aku sengaja tema-temanya yang agak random gitu. Tujuannya, ingin melatih yang kemarin kita bahas kerangka dan pertanyaan. Nah, itu yang bagian pertama. Terus, setelah itu, setelah menceritakan gagasan itu, yang b, bagian kedua, kalian harus bikin 3 pertanyaan. Apa saja. Pokoknya, pertanyaan sendiri. Bikin pertanyaan yang muncul setelah kalian membaca.
Dina : dari ini.
Nuning : he eh.
Dina : maksudnya, 1 artikel, 3 pertanyaan atau?
Nuning : enggak. Tiga pertanyaan dari 2 itu. Kan kamu misalnya membaca 2 artikel itu. Terus, kamu mungkin ada timbul apa ya, pertanyaan. Nah, itu. Kan kemarin kalian latihan membuat proposal kecil itu untuk penelitian kalian sendiri. Nah, ini latihan memunculkan pertanyaan dari orang lain. Coba. Anggap saja ini gini ya, anggap ini latihan dalam rangka latihan menulis. Ini bentuk review yang paling standard. Nah, terus, nanti di sela-sela itu, aku harap kalian tetap pelan-pelan mengasah tulisan untuk tugas kalian sendiri ya. Terus, untuk pertemuan ke-9, coba mengumpulkan referensi dari tulisan kalian sendiri. Coba, mulai sekarang kalian mencari sebanyak-banyaknya. Terus, aku pengen lihat gimana cara kalian mencari itu. Pertemuan ke-9 itu aku minta kalian mengumpulkan. Nggak ada batasan, dari jurnal, artikel Koran, buku, apa pun yang menurut kalian itu berhubungan dengan tulisan, coba aku pengen lihat. Mungkin, supaya lebih ini, Al disuruh mengirimkan ini ke semua ya.
Ferial : iya, nanti kukirim. Mereka harus ke sini juga kan, ngambil materinya.
Nuning : iya. Jangan dianggap berat ya. Pokok’e biasa wae, latihan gitu. Ya, aku sebenarnya tadi ragu-ragu karena gini, nanti di materi yang belum datang itu banyak Bahasa Inggris, tapi kuwi latihan juga. Ya, latihan juga.
Linda : masalahnya, jurnalnya juga jarang kan dalam Bahasa Indonesia.
Nuning : ya dan aku pikir lebih susah untuk nyari bahkan yang potongan-potongan itu lho, esai-esai yang dalam Bahasa Indonesia. Aku ini sengaja sampai pertemuan ke-9 materi yang kukasih karena kupikir materi pertemuan yang ke-10 itu masing-masing orang bisa mereview bahan-bahan yang lebih cocok dengan temanya. Iki latihan sek wae, tapi ada beberapa yang kayaknya cocok sih. Nah, coba ya, aturan penulisannya kan gini. Misalnya di bagian a itu, kan aku minta kalian untuk menceritakan ide utama dari penulis esai itu. Terus, kalau esainya lebih dari satu, dibandingkan gagasan keduanya. Nah, di bagian a itu kalian juga bisa membandingkan atau kalau mungkin kalian sudah membaca bahan-bahan lain yang kayaknya berhubungan dengan tulisan yang sedang diulas tuh boleh dituliskan di situ juga. Misalnya, baca tulisannya si Vegi Hadis atau Budiawan. Terus, kalian membaca buku-buku lain, atau Koran, atau apa, opo pengetahuan kalian sendiri tentang itu tuh boleh ditulis itu. Pokoknya, intinya, yang A itu menceritakan isi dari tulisan yang di-review itu dengan bahasa kalian sendiri. Usahakan dengan bahasa kalian sendiri. Tiga pertanyaan itu, tadi si Dina tanya itu, bisa lebih juga nggak pa-pa. Kalau kalian setelah membaca itu muncul pertanyaan lebih dari 3, nggak masalah, tapi aku pengen tahu aja cara kalian membuat pertanyaan dari setelah membaca satu atau dua artikel.
Linda : artinya, jawaban dari pertanyaan itu nggak ada di sini?
Nuning : enggak. Itu cuma pertanyaan. Misalnya, kamu merasa di artikel ini tuh ada yang kurang atau merasa, mungkin, dari tulisan yang kukasih kalian itu kamu nggak setuju. Pokokny, di situ tempat untuk, kayak, meng-counter argument dari penulis itu. Itu memang nggak usah dijawab juga, cuma aku minta kalian bikin pertanyaan.
Linda : kita presentasi akhirnya tanggal berapa ya?
Nuning : menurut tanggalanku sih 13 Juli 2009.
Ferial : belum ada kan di sini?
Nuning : aku bilang di awal.
Ferial : kok, 13 Juli 2009? Cepet banget.
Nuning : eh, enggak ding. Tanggal 20 Juli 2009.
Dina : kayaknya, tanggal 20 itu merah deh.
Ferial : iya, kemarin itu terakhir tanggal 24.
Nuning : ada pertanyaan, nggak, buat yang baru datang?
Rifki M : belum tahu.
Nuning : tadi tho, sik thak ulangi. Pertemuan ke-6. Pokoknya, ini mulai dari pertemuan minggu depan, Jumat, sampai ke pertemuan ke-10 itu review. Aku sudah menyiapkan beberapa artikel. Untuk yang hari Jumat itu aku minta me-review 2 artikel, tapi untuk hari Senin itu cuma 1. Bahan-bahannya sudah kupikirkan. Sengaja yang kupikirkan itu tema-tema yang agak umumlah dan sama semua mengerjakan.
Nuning menunjukkan materi review untuk tiap pertemuan.
Nuning : ada yang umum, ada yang spesifik banget. Nah, ini aturannya. Panjangnya 1 halaman saja. Aku mengira-ngira sih karena aku bingung membatasi dengan spasi atau ini, tapi, kayaknya, 500 atau 750 kata. 500 yo ra pa-pa. Kayaknya 1 halaman. Kan tergantung kompleks, enggaknya tulisannya ya. Kalau benar-benar membaca, ini mungkin bisa lebih dari 500 kata. Itu 500 sih standar. Yang bagian pertama, kuwi sih. Pokokny, menceritakan artikel itu dengan bahasanya sendiri. Terus, coba dibandingkan. Kalau kalian sudah pernah membaca atau punya pengetahuan sendiri, pokoknya dituangke. Yang bagian kedua, kalian bikin 3 pertanyaan.
Ferial : tanpa harus menjawab.
Nuning : nggak, cuma pertanyaan aja. Bisa bebas. Bisa argument. Bisa meng-counter pandangan-pandangan penulis itu. Bisa, opo menurutmu, mereka itu saling melengkapi opo banyak kekurangan. Apakah mereka, menurutku, menawarkan hal-hal baru atau apa gitu. Terserah. Poko’e pertanyaan.
Ferial : minimal 3.
Nuning : nah, terus ini, yang untuk pertemuan ke-9 itu tanggal 13 Juli 2009. Itu mengumpulkan referensi dari… Kan, aku membayangkan, kalian di sela-sela ini pelan-pelan menulis tugas. Nah terus, untuk pertemuan ke-9, aku pengen lihat hasil referensi itu. Terserah. Sebanyak-banyaknya. Ya, mungkin, semuanya nanti nggak akan toh cuma 2000 kata. Buku atau artikel yang kalian kumpulkan yang berhubungan dengan temamu. Aku pengen lihat cara kalian mencari data. Di-list wae referensine.
Ferial : mengambil data? (sembari mengetikkannya)
Nuning : eh, bukan. Mencari sumber data.
Ferial : ini baru 3 ya. Masih ada 4 lagi. (foto kopi artikel yang diserahkan pada peserta, not)
Nuning : ditunggu aja. Ada pertanyaan, nggak, tentang tugas? Oh ya, untuk sementara nggak usah mempedulikan ini ya untuk tugas ini, cara menuliskan referensi kuwi lho. Sementara ini yang dipedulikan ngomongmu, nulismu.
Agni : terus, sebelum presentasi akhir esai itu berarti nanti ada meng-update-nya juga, nggak?
Nuning : nah nanti, aku membayangkan, di sela-sela membahas review itu ada waktu yang untuk klinik tulisanmu. Kan, mungkin kalian sudah opo, ono sing anyar. Presentasi akhir esainya itu yang lain-lain datang ya, Al? Guru-guru yang dulu itu datang?
Ferial : bisa datang semua.
Rifki M : yang dulu-dulu pada datang?
Ferial : termasuk Bloggers Club se-Jogja. Terus ada 2 penyidang, kan.
Nuning : oh, ono tho?
Ferial : guru-guru justru jadi pembimbing.
Ipang : siapa penyidangnya?
Ferial : rencananya sih Pak Nardi.
Ipang : terus, rencanya yang satu lagi?
Ferial : belum tahu gua, masih bingung. Kan soalnya mau dijadiin buku. Rencananya.
Rifki M : aku tanya, Mbak. Dulu itu lho pas Pak Nardi ngasih Perancis di LIP itu, aku menangkapnya dia berbicara soal kelatahan intelektual muda atau orang-orang yang terlampau berani untuk mencuplik siapa gitu-gitu. Lalu, yang aku cerap dari Pak Nardi itu, oke orang ngomongkan Postmodernisme. Lalu kemudian, tidak melulu harus ditampilkan itu di dalam teks. Misalkan Foucolt-nya, nggak perlu muncul kan. Tapi, dalam tulisan-tulisan akademis kan punya tanggung jawab untuk mencantumkan itu ide siapa gitu. Komentarny Mbak, gimana?
Nuning : menurutku, memang ada tulisan-tulisan yang dengan banyak kutipan itu lho, tapi aku nggak tahu ya kalian. Ada sense yang, misalnya bisa tahu: ini kayaknya tulisan ini hanya sekadar comot gitu. Mencomot itu misalnya penuh gitu dari satu, berapa baris yang plek gitu. Jadi, dia hanya seolah-olah menggunakan nama itu tuh tanpa kita tuh tahu bahwa dia itu tidak berpikir seniri gitu. Jadi, kuwi memang koyo mencocokkan temuannya dia. Padahal, itu temuannya dia juga mungkin nggak sama dengan itu. Jadi, kayak ada klaim gitu. Jadi, nama itu hanya dipakai sebagai klaim atas kesimpulannya dia yang belum tentu juga. Kupikir, itu bisa diatasi kalau… Itu menurutku penyakit sih. Penyakit dari misalnya kalau merasa banyak baca, gitu. Terus, nulis sesuatu dan nyuplik, nyuplik, nyuplik dan merasa itu aman gitu lho. Padahal, sebenarnya, teks yang lain itu nggak diikuti dia, step yang harus kerja keras untuk bukan mencocokkan gagasan kan kalau menulis itu, tapi eksplorasi idemu itu. Kalau nulis itu, aku selalu membayangkan gampangnya gini, kita eksplorasi sesuatu. Terus, di sela-sela ekslporasi itu kita mungkin menemukan kesamaan dengan idenya siapa, siapa, siapa dan kemudian kita ngomong bahwa ini tuh bertentangan dengan idenya siapa, siapa, siapa. Terus, kita kan akan sampai di kesimpulan kita sendiri. Nek aku, memposisikan diri dengan itu. Kalau kita telaten dengan itu, kupikir, kita akan terhindar dari kayak gitu. Tapi, itu di sini aku menduga karena kita nggak pernah dilatih sih. Nggak pernah dilatih, nggak ada pendisiplinan untuk berpikir gitu lho, bekerja keras untuk menangkap, misalnya membaca esai seseoran, terus bekerja keras untuk menangkap gagasannya itu apa. Terus, dituliskan lagi. Nah, kita kan nggak berusaha melatih itu. Kita selalu jalan sendiri gitu. Paling kita, yang umum, setahuku kan kalau orang-orang di sini itu baru sangat rajin kalau ada tugas atau skripsi. Jadi, latihan sehari-harinya itu memang nggak ada. Review itu memang sesuatu kayaknya nggak penting. Padahal, kalau kita sudah menulis yang beneran, itu sangat berguna yang kayak gitu. Ngomong idenya ini. Terus, dibandingkan dengan orang lain yang menulis tema sama. Kuwi ki ada skill-nya. Jadi, merasa bisa menulis itu sesuatu, tapi menulis dengan, katakanlah, ilmiah, itu butuh berbeda, menurutku. Nah, kuwi cara melatih skill-nya ya dengan latihan.
Rifki M : tradisi penulisan referensi itu menarik menurutku. Kadang kita mencuplik siapa seperti itu. Ya, oke kita pakai referensi, tapi yang dalam tulisan kita, kita misalkan membaca referensi siapa gitu, kelihatan ada kata yang menarik yang sekiranya sesuai meskipun kita belum baca semua.
Nuning : nah, kuwi lho.
Rifki M : sering kali seperti itu. Apakah kemudian harus membaca semua?
Nuning : latihane kan ngeneke. Moco kabeh, terus dibahasakan lagi. Nggak boleh hanya satu bagian yang kayaknya wah, langsung dikutip kalimat yang cocok. Memang harus dibaca semua, terus coba dibahasakan lagi.
Rifki M : menariknya adalah kalau kita membaca semua. Misalnya ngobrolkan Raymond William. Nah, itu kan jarang tulisan di sini. Yang ada, tulisan orang menginterpretasikan itu. Kalau saya baca semua, itu menjadi kabur.
Nuning : makanya, baca teks asli.
Ipang : baca teks aslinya, kalau dalam beberapa tokoh ya, aku beberapa bisa, tapi beberapa yang lain aku harus belajar intelektualnya dia. Itu sulit sekali. Piye?
Nuning : benar. Angel tho. Yo ngana pancen karena kan sering kali kita terbiasa dengan interpretasi orang tentang itu, tentang orang lain. Nggak biasa baca teks asli tho. Nah, kalau di sini kan, kalau nulis itu kan nggak ketahuan kita baca teks asli atau tulis aja kutipan orang seolah-olah kita sudah membaca itu, tapi itu kelihatan sih sebenarnya kamu beneran baca atau enggak. Kalau menurutku, kok, latihannya ya ngene-ngene ki sih.
Ipang : ini kok Bahasa Inggris semua ya?
Nuning : ho oh e. Aku tadi juga cerita, aku tadi dilema juga.
Ferial : sambil belajar Bahasa Inggris.
Linda : Mbak, urutannya diulang lagi dong.
Nuning menampilkan urutan tulisan yang harus direview di layar LCD.
Nuning : kalau Jumat, 2. Senin, satu.
Ferial : soalnya jaraknya dekat.
Ferial kembali menampilkan urutan review tulisan dan dicatat peserta.
Nuning : pokoknya, curahkan semua pikiranmu, pendapatmu tentang yang kamu baca. Opo wae. Menurutmu, nggak penting sih ini, kenapa.
Ferial : nggak usah khawatir ngomentarinya.
Nuning : kayaknya, yang Chua Ben Huat itu cocok sama Rifki kalau jadi nulis tentang yang makanan. Laksmi itu juga mirip-mirip lah.
Linda : ada bukunya juga kan ya, kalau nggak salah, tentang yang kuliner itu?
Nuning : iya.
Linda : mungkin, bukunya lebih panjang.
Nuning : iya, benar. Oke, ada pertanyaan, nggak, sebelum aku …? Gampang tho tugase? Piye? Macane yo sing angel? Menurutku, yo angel sih. Cobalah.
Forum tertawa pelan.
Nuning : mau lihat barang aslinya, nggak?
Nuning menunjukkan sebuah buku yang merupakan bahan sumber esai yang digunakan sebagai materi review.
Nuning : sebenarnya, yang di jurnal-jurnal ini banyak banget yang menarik.
Peserta melihat-lihat jurnal-jurnal yang merupakan sumber materi esai.
Ipang : ini sudah diseleksi, Mbak, ya? Terus, difoto kopi.
Nuning : iya.
Forum becanda sejenak tentang materi bacaan.
Nuning : nah, ini. Sebenarnya, aku sudah menduga sih. Oke, mungkin nanti ada yang nggak mengumpulkan atau apa. Tapi, karena ini les, aku sadarlah. Kan kalau les, seberapa pun berat tugasnya, kan tetap ada pilihan untuk tidak mengerjakan. Jadi, aku mengambil resiko kuwi lah. Pokoknya, niatnya aku memang sengaja latihan ini. Ini digawe latihan wae. Dianggap gitu. Oke lah. Makanya, aku sengaja ini untuk latihan. Sebenarnya, ada yang tentang peta, tapi nggak kufoto kopi. Maksudku, yang latihan pertemuan ke-9 kan biasanya gini. Kalau bikin karya tulis, apa pun itu kan, itu sebenarnya ada proses penyortiran sendiri sih sebenarnya di situ. Kan biasanya orang suka lari ke mana-mana nyari bahan itu. Dipikir ini berguna, berguna, berguna. Padahal, itu nggak ada hubungannya sama sekali sama yang mau ditulis. Jadi, semakin lama, semakin jauh, jauh, jauh. Jadi, itu maksud dari latihannya. Pernah ngalami nggak, misalnya, bab 1 skripsi, yang udah pernah, biasanya lama sekali? Nah, itu biasanya karena kayak gitu. Misalnya, punya ide ini, tapi terus bacaan-bacaan dia itu nggak semakin membuat idenya itu mengerucut dan jernih, tapi malah membikin wah. Terus, ganti tema, ganti fokus. Aku sebenarnya, di sini masih kurang jurnal sih sebetulnya. Karena misalnya di UGM itu, yang dilanggan itu, juga nggak terlalu banyak. Karena jurnal itu kan sebenarnya pergerakannya lebih cepat dari pada buku. Kalau buku kan biasanya lama. Jadi, sebenarnya, bahan-bahan yang penting-penting itu kebanyakan, mungkin, dari jurnal.
Ipang : tapi, per-fakultas bisa beda kan di UGM.
Nuning : tapi tetap nggak banyak jumlah yang dilanggan.
Linda : yang di Kopertis kan udah langganan dan itu bisa diakses.
Nuning : tapi memang di sini, problem utamanya itu, menurutku, memang akses sih dan itu memang menentukan mutu tulisan sih. Malah banyak Singapura sih. Yang bisa kuambil kalau misalnya ngetik keyword apa pun ada. Itu memang mewah banget. Maksudnya, kamu bisa sekolah di suatu tempat yang semuanya ada itu lho. Itu kan mewah banget. Ini jurnal yang Bahasa Indonesia berapa? Ngalami kesulitan dan mati-hidup juga.
Linda : Prisma dulu ya bagus ya.
Nuning : iya.
Rifki M : misalkan ngomong Jurnal dalam Bahasa Indonesia, selain Prisma, apa sekarang?
Nuning : Jurnal Perempuan ada beberapa.
Nuning : Aku dulu berharap dengan jurnal Antropologi-UI, tapi itu kan nggak setiap kali muncul. Jadi, nggak kontinyu. Susah untuk melacak pemikiran orang-orang Indonesia. Oke ya. Tapi, jangan lupa tugas tulisannya ya di sela-sela mengerjakan ini.
Ferial : tadi gimana soal klinik. Gimana kalau sejam sebelum? Terserah sih gimana enaknya. Maksudnya, klinik yang untuk kalian ngomongin perkembangannya itu, misalnya, sejam sebelum kelas di sini buat khusus membahas tulisan kalian. Jadi, nggak kemaleman.
Linda : jadi, jam 6?
Ferial : iya.
Rifki M : kenapa ngambil yang ini, “Singapore…”?
Nuning : thak kecocokan dengan sebelumnya. Pokoknya, thak cari yang makanan dan identitas. Dari situ banyak sih. Bab itu banyak yang membicarakan soal makanan. Ada 4.
Rifki M : dari beberapa, kayaknya ada yang lebih menarik dari ini.
Nuning : iya. Tapi kalian di sela-sela menulis gagasan itu, yang bagian a itu, apa pun pengetahuan kalian tentang tema itu dituliske yo. Tes ya Jumat.
Ferial : klinik mulai Jumat bisa mulai.
Linda : termasuk boleh ini, Mbak, konsultasi misalnya kalau kita kesulitan cari bahan?
Nuning : bisa. Ya, itu termasuk konsultasi bahan.
Ferial : oh ya. Tanggal 2 ada Open House, Launching Archaive, di antaranya ada web library serta member. Terus, sama arsip selama 10 tahun terakhir.
Nuning : dah, baca itu. Nanti dikumpulin hari Jumat.
Ferial : ya, silahkan datang tanggal 2 Juli 2009.
Nuning : selamat membaca ya.
Kelas selesai jam 20.35 WIB

