Notulensi 3 Juli 2009

Pertemuan VI

Mentor: Nuraini Juliastuti

Kelas mulai jam 19.30 WIB

Hadir : Rifki M, Surya, Silvia, Joko, Irvan, Linda, Meita, Gita, Kiki, Hayu

Nuning : alasane opo ra nggarap?

Silvia : bahasa inggris butuh waktu lebih.

Surya : ada gawean jadi nggak bisa focus.

Ipang : dah baca, tapi nggak ngerti. Bahasa inggris juga nggak ngerti. Kuliahku kan di Psikologi, ada istilah-istilah yang beda. Nggak ngerti maksudnya.

Nuning : terus, selain itu apa? ini menarik karena orang-orangnya beragam dari disiplin ilmu sementara aku memasukkan dalam IVAA. Selain itu apa, Pang?

Ipang : dengan setengah ngerti, biasanya kalau tertarik berusaha menemukan istilah-istilah itu. Aku nggak termotivasi untuk itu. Aku malah tertarik dengan hal yang kecil-kecil. Misalnya masak ini bahan-bahannya apa.

Nuning : soal tema ya. Menurutmu itu karena kamu tidak biasa membaca teks yang seperti ini ya?

Ipang : iya juga.

Nuning : terus yang lain? Kesulitan itu termasuk kesulitan menyelesaikan bacaan dalam waktu cepat, nggak?

Ipang : iya. Kadang tuh kalau misalnya kita ngeliat sebentar, terus gantung itu. Kayaknya nggak enak karena kebiasaan baca harus sampai selesai. Terus ketika ngeliat lagi tuh udah…

Nuning : tapi kesulitan menyelesaikan bacaan sesuai waktu itu, artinya kan ini diberikan hari Senin. Terus, katakanlah harus diselesaikan sampai Rabu gitu. Ada kesulitan seandainya teks ini Bahasa Inggris nggak?

Ipang : iya. Pasti lebih lama lah Bahasa Inggris-nya sama Bahasa Indonesia. Maksudnya, seandainya pun tulisan dengan tema yang sama diterjemahin ke Bahasa Indonesia dengan terjemahan yang bagus pun, aku masih perlu waktu. Bukan seperti bacaan yang biasa kubaca kan. Masih butuh waktu untuk memahami term-term khususnya itu. Terus, memahami cara berpikirnya dia.

Nuning : yang lain apa sih kesulitannya? Aku sedang membicarakan kesulitan ini karena Silvia, Surya, Joko tidak mengumpulkan. Alasannya belum baca email, Joko. Surya banyak kerjaan, dia baru baca kemarin.

Gita : aku ngerjain, tapi masih tahap memahami gitu, kayak nulis ulang poin-poin. Gitu, nggak, sih caranya?

Nuning : makanya, aku lagi mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang muncul, yang dihadapi. Kalau kamu apa, Lin?

Linda : aku baru baca tadi sih. Kalau aku tuh bacanya, ya itu ngambil poin-poin yang ya alur gagasannya dia gimana. Terus habis itu, ya mungkin aku membahasakan ulang. Ya, mungkin, kadang membahasakan ulang dengan bahasaku sendiri itu agak kesulitan karena kadang ada istilah-istilah tertentu dari dianya yang ketika misalnya kita bahasakan ulang juga nggak selalu tepat.

Nuning : kalau tadi masukan dari Ipang itu, sebenarnya mungkin masuk akal ya karena kesulitan dia memahami term-term social budaya yang dipakai oleh penulis ini lho karena aku kan milihnya, ya karena latar belakangku juga, belajar sosial budaya ini dan ini di IVAA. Jadi, otomatis aku menempatkan kayak bacaan-bacaan yang diambil itu dan aku memang nggak mempertimbangkan bahwa ini banyak…

Linda : latar belakang.

Nuning : he eh. Tapi sebenarnya memang kursus penulisan ini kan memang, terutama, dari tema-tema itu pasti kelihatan, kalau dia itu memang diletakkan di bawah itu sebenarnya. Sebenarnya, teman-teman bisa mengira-ngira, nggak, sih? Aku nggak tahu ya karena ini tuh baru kerasa ketika dipraktekkan. Tapi aku pengen tanya apakah kira-kira teman-teman tuh paham fungsi pentingnya ini untuk menulis yang namanya tulisan ilmiah itu lho? Karena, kalau review, kan sebenarnya itu pekerjaan yang… Kayak dulu waktu kuliah mungkin, nggak tahu kalau jamanku, ada dikasih tugas meringkas gitu kan, tapi meringkas itu kan, kalau pengalamanku, itu nggak ditempatkan dalam proses untuk bikin tulisan yang bagus gitu lho, yang akhirnya bisa… Itu suatu proses yang akhirnya bisa dipakai untuk menghasilkan tulisan kita yang bagus. Kan ringkas, ringkas aja. Bahkan dulu pengalamanku, SMP, SMA itu kalau disuruh meringkas itu kan kita menuliskan ulang semuanya gitu. Kayak nggak ada proses refleksi. Nah, sebenarnya, latihan utama menurutku satu, kalau dari review ini, memang membahasakan gagasan penulisnya itu dengan cara kita gitu lho. Di situ ada refleksi. Nah, itu, sebenarnya, bekal yang harus dimiliki untuk bisa menaikkan level tulisanmu itu jadi lebih teoritis gitu lho. Kayak misalnya kemarin pertemuan kedua atau ketiga ya, aku ngomong soal kelemahan utama penulis di sini itu kan selalu nggak bisa, lemah untuk mengaitkan tulisannya dengan konteks yang lebih besar. Itu kan, sebenarnya, kelemahan untuk melakukan philophisizing, untuk melakukan filosofisasi atas tulisannya, gagasannya. Nah, itu salah satu latihannya, menurutku, kayak gini, meringkas terus membahasakan lagi gagasan orang lain dengan bahasanya sendiri. Ada proses refleksi soalnya di situ. Nah, kalau proses refleksi itu diikuti benar-benar, itu pasti ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari situ. Nah, itu bekal untuk bisa bikin pertanyaan penelitian yang bagus. Itu sebenarnya. Nah, terus, proses refleksi itu sebenarnya ada kayak proses membandingkan. Kan sebenarnya apa sih tulisan ilmiah? Coba deh dibaca di situ. Itu kan sebenarnya dia itu menuliskan sesuatu, tapi di sela-sela menuliskan sesuatu itu dia juga membandingkan dengan orang lain yang juga sudah menulis hal yang sama. Ini kan, Chua Beng Huat melakukan itu waktu menuliskan “Food, Ethnicity” itu, tapi dia kan merefleksi lagi. Kan kayak gitu sebenarnyanya. Itu kesulitan. Aku maklumi memang itu sulit. Itu butuh latihan untuk membahasakan gagasan dengan kalimat sendiri itu butuh waktu. Terus kemusian, soal membaca dengan berapa halaman itu memang butuh disiplin waktu sendiri. Memang itu caranya harus dilatih sih. Kan di sini nggak ada yang sekolahnya lulusan seminari yang minimal baca 80 halaman sehari. Ya, itu memang butuh latihan juga sih. Membaca sendiri itu memang butuh latihan. Yang sudah membaca berapa orang ini berarti? Gita. Semuanya? Dua-duanya?

Gita : yang McDonald itu belum. Baca itu aku membayangkan makanan.

Nuning : rata-rata membaca yang mana?

Linda : yang “Food, Ethnicity.

Nuning : kamu juga sudah membaca kan?

Linda : sudah, cuma nggak sempat bikin review-nya.

Nuning : coba dibaca. Kalian membaca ini.

Gita : yang udah buat siapa?

Nuning : Rifki, Linda. Cuma 2.

Peserta membaca teks materi review pertemuan hari ini.

Nuning : bagi yang sudah pernah membaca, kesulitan nggak sih untuk menuliskannya? Aku pengen ngerti, soalnya. Menuliskan ulang gagasan orang ke dalam bahasa sendiri tuh susah, nggak, sih?

Gita : kalau Bahasa Inggris, lebih gampang sih. Kalau dalam Bahasa Indonesia, kan…

Nuning : kalau kamu, Lin, sulit, nggak?

Linda : kadang-kadang sulit sih. Soalnya aku kadang suka terpaku pada gagasan. Takutnya, misalnya, aku membahasakan ulang interpretasinya kurang pas gitu.

Nuning : jadi, misalnya tulisan ilmiah itu, ini kan juga latihan untuk mengurangi duplikasi karena itu dalam derajat tertentu bisa dianggap sebagai kayak plagiat gitu lho. Latihannya itu seperti ini. Bukan hanya membahasakan dengan bahasa kita sendiri, tapi, sebenarnya, ada yang aku bilang refleksi itu. Jadi, kamu menyambungkan, bisa memikirkannya dengan cara yang lain gitu lho membahasakan itu karena kan ada aturannya kalau misalnya tulisan ilmiah. Kalau benar-benar kutipan, itu harus dijelaskan bahwa ini kutipan, tapi, kalau kita membahasakan lagi konsep itu, nah itu kalau kita sama persis tapi kita nggak bilang bahwa ini kita sedang mengutip gitu, itu bisa jatuh ke plagiatisme. Ya ini memang agak tersamar karena ini kan dalam Bahasa Inggris, sementara kita menuliskannya dalam Bahasa Indonesia. Berarti, yang sudah baca “Food, Ethnicity, Nation” siapa? Meita, Linda, Gita, Ipang. Kiki sudah ya?

Kiki : yang itu belum.

Nuning : yang udah mana? Singaporean?

Kiki : yang modernism itu.

Nuning : gagasannya apa menurut kalian? Gagasan utama di “Food, Ethnicity, Nation” itu? Yang paling menarik.

Gita : aku teringat yang mbak bilang kemarin, tidak ada yang benar-benar asli karena semuanya udah mengalami proses vibradasi itu. Nggak tahu dilemma atau bukan, tapi vibradasi itu antara mencampur A sama B terus menghasilkan AB atau A dan B menghasilkan C.

Nuning : tapi, sebenarnya, di tulisan itu, itu kan dibayangkan dalam kasus peranakan itu Cina, Melayu. Itu dibayangkan kan pencampuran yang sempurna itu sama-sama mengandung unsur Cina, Melayu; tapi di tulisan ini kan masing-masing itu punya satu ada yang lebih tinggi pengaruhnya, ada yang nggak, bahkan nggak ada sama sekali gitu lho. Kayak gitu, tapi sebagian besar kan, sebenarnya, makanan peranakan itu tetap dianggap makanan Cina karena dia menggunakan banyak bahan-bahan yang haram menurut Islam. Kayak gitu. Cuma namanya saja yang pakai nama-nama Melayu. Yang lain? Apa, Lin?

Linda : kalau aku sih itu yang terakhir ya, yang kata si Chua itu masakan yang benar-benar murni secara etnis itu cuma dibayangkan. Sama seperti halnya etnis itu sendiri gitu kan. Jadi, misalnya, masakan yang pure Chinese, kayak misalnya di Singapura, dia juga ditandai dengan rasa pedas. Mungkin, kalau aslinya di Cina sana, tidak ada rasa pedas itu. Jadi, dia juga minjam unsur-unsur yang sebenarnya cuma ada di masakan Melayu.

Nuning : itu kayaknya gagasan yang paling penting sih di tulisan itu. Hanya dibayangkan itu lho. Nah, tapi sebenarnya… Oh ya, sebelum itu, aku menuliskan di sini, aku tertarik dengan ini lho: bayangan, karena, menurutku, itu hanya muncul di negara yang, terutama yang thak amati Singapura dan Malaysia ya, kayak antara etnis dan agama itu, jadi etnis itu kayak sudah diberi warisan agama tertentu gitu lho. Jadi, orang Melayu itu pasti Islam. Orang Cina itu pasti Budha atau yang lain. Terus, orang India juga gitu dan masing-masingnya itu kayak harus mengkonsumsi sesuatu yang sesuai dengan itu. Jadi, mereka itu juga tidak toleran dengan perpindahan agama kalau tidak dianggap yang sesuai, kecuali kalau dia, kalau untuk kasus Malaysia, masuk ke agama yang mayoritas. Islam itu pasti diterima gitu, tapi, kalau enggak, itu susah sekali. Itu bahkan ada kasus di Malaysia yang warga India. Oh, sorry. Dia itu Melayu. Terus, suaminya India. Dia ikut agama suaminya. Terus, suaminya meninggal. Nah, dia itu dipermasalahkan oleh Pengadilan Malaysia soal keagamaannya ini. Jadi, dia kayak di situ itu tuh nggak boleh untuk pindah. Sekaku itu. Makanya, sebenarnya, aku nggak menuliskan di sini, pertanyaan yang menarik itu, apakah dari segragasi yang tampak di sini itu ya, makanan itu juga merembes ke segragasi yang lebih luas.

Linda : kalau di Singapura itu sendiri, yang aku tahu, mereka pun sampai alat makan itu pisah. Jadi, untuk muslim dan non-muslim. Terus, pernah ada kejadian, aku sama temanku yang dia kebetulan pakai kerudung orang Indonesia dan mukanya Jawa-jawa gitu kan 2 orang, kita di kantor pos, kebetulan yang melayani kita itu orang Melayu. Mereka kaget melihat interaksi kita itu tuh sangat cair gitu. Jadi, yang aku ngomong bahasa Melayu padahal kan aku kelihatan Chinese. Sementara, mungkin, kalau di sana, dia bilang, “Kamu cakap Malay?” “Iya”, saya bilang, “Saya bisa bahasa Melayu.” “Kalau di sini, kita pakai bahasa masing-masing, tapi kebanyakan sekarang generasi muda yang sudah terpelajar mereka sudah tidak mau menggunakan bahasa ibunya sendiri.” Jadi, orang India lebih suka Bahasa Inggris. Orang Cina, India, Melayu semuanya lebih suka, yang terpelajar, karena ada kesan lebih modern dibandingin kalau mereka masih pakai bahasa ibunya.

Nuning : jadi, artinya, sifat makanan itu bawaan dari konteks itu sebenarnya. Rifki apa?

Rifki M : tertulis di situ.

Forum membaca tulisan Rifki yang ditampilkan di layar.

Nuning : itu, sebenarnya, yang tidak diolah oleh Chua Ben Huat itu di konteks ini lho. Aku sebenarnya selalu penasaran, kalau di Malaysia dan Singapura, kenapa… Eh, itu kan sampai segragasi itu tampak di tempat makanan. Jadi, nggak akan ada, sangat jarang ditemui orang Melayu, misalnya, yang mau makan di Chinese Food gitu kan. Kalau orang Cina dan lainnya, kan lebih bisa masuk ke mana-mana. Nah, di sini kan ditulis sama Chua sampai tahun ’60-an itu, sebenarnya, itu terjadi gitu lho, tapi kenapa itu akhirnya luruh, sebenarnya, factor yang tidak dieksplorasi sama dia. Aku juga nggak tahu konteks yang dialami sama Singapura tahun-tahun itu ya, tahun ’60, ’70, itu ada apa di Singapura.

Linda : bukannya mereka baru merdeka ya?

Nuning : tahun ’65 ya. Kenapa independensi itu membuat mereka jadi tersegragasi kalau menurut logikanya di sini? Yang aku bilang kan, sebelum ’60, sampai tahun ’60-an itu masih bisa dijumpai orang berbagai macam etnis itu makan bersama itu lho. Itu hal yang, menurutku, di Malaysia dan Singapura itu sudah nggak ada lagi, jarang banget. Kalau di Malaysia, kan mereka mengalami tahun ’69 kayak ada kerusuhan besar yang jadi semuanya itu kayak pemerintahnya itu memang ada politik sangat ini, kayak politik SARA itu lho kalau di kita. Artinya, nggak boleh ada pembicaraan yang agama, ras karena takut, untuk menghindari potensi konflik.

Gita : itu karena yang logika multiras itu justru malah membawa mereka pada lebih individu-individu.

Nuning : ya, itu karena logika, aku curiga, logika pengakuan multiras itu, kayak yang selama ini digembar-gemborkan oleh Malaysia dan Singapura itu, cuma di atas kertas.

Gita : berarti malah membuat perbedaan?

Nuning : iya. Sebenarnya, mereka malah membuat perbedaan yang tegas. Ya, sebenarnya kayak Bhinneka Tunggal Ika sih. Sama kayak gitu, sebenarnya.

Joko : kalau aku melihat untuk Malaysia dan Singapura, satu hal yang menarik itu mereka selalu bilang; mereka butuh pendatang, selalu butuh orang dari negeri jiran kalau mereka bilang karena sebenarnya gini. Kalau dibaca dari buku-buku lama, kemerdekaan Malaysia itu kan sebenarnya… Mereka kan bekas jajahan Inggris. Kemudian, satu lagi yang tak kalah penting, sebenarnya, potensi konflik itu sangat luar biasa di Malaysia, apalagi mereka tidak punya bahasa nasional. Perbedaannya di Indonesia kan ada Sumpah Pemuda. Itu yang menyelamatkan bangsa Indonesia. Nah, kemudian, potensi konflik itu sebenarnya diredam dengan pengiriman TKI. Benar. Itu alasan dasar pertama kenapa orang-orang Indonesia itu diekspansi ke Malaysia dan Singapura.

Nuning : kayak ada kesamaan kebutuhan gitu ya?

Joko : karena mereka ingin Indonesia itu menjadi perekat bagi masalah etnis itu. Kalau nggak, potensi konfliknya besar karena ras Melayu ini mayoritas, tetapi mereka minoritas dari segi ekonomi di Malaysia kan. Kalau ini tidak diredam maka konflik itu akan semakin besar dan bisa terjadi perpecahan di Malaysia. Nah, makanya, pada awalnya tujuan pengiriman TKI itu sebenarnya tujuan mulia: mengabdi pada saudara serumpun. Kalau sekarang, kan udah lain ceritanya. Cuma kan banyak orang Indonesia yang kemudian diambil untuk menjadi Warga Negara Singapura atau Warga Negara Malaysia karena atas dasar itu. Jadi, ada politik regional. Itu juga bagian penting.

Silvia : kalau Malaysia, nggak terlalu. Singapura yang warga Negaranya. Perekrutan warga Negara.

Joko : iya, Singapura. Malaysia juga sama. Malaysia membutuhkan orang-orang Indonesia juga.

Nuning : itu sekarang memang Malaysia tujuan utama. Menurut laporan di Depnaker, sekarang itu memang Malaysia jadi tujuan utama, bukan lagi Timur Tengah, dan memang paling banyak di sana.

Joko : ketika kemarin di stop, mereka langsung datang kok, “Jangan” karena mereka ketakutan sebenarnya. Orang Melayu itu gini. Kalau saya baca ya, orang Melayu itu punya watak, kalau di tempat saya, masyarakat yang narsis hampir sama dengan orang India. Jadi, dia itu nggak terlalu ambisius dan cenderung pasif. Itu hampir sama antar Kalimantan itu. Tapi, kalau dia diganggu, itu menjadi ekplosif sekali. Luar biasa. Bisa 2 kali lipat dari pada orang yang lain. Jadi, itu makanya, potensi konfliknya itu diam gitu, tetapi, kalau meledak, itu luar biasa.

Gita : orang Indonesia-nya buat apa?

Joko : orang Indonesia-nya menjadi perekat karena orang Indonesia itu lebih toleran. Mereka lebih lentur gitu lho.

Nuning : tapi kita di mana-mana tidak pernah jadi masalah. Iya, imigran Indonesia itu nggak pernah jadi masalah. Di Eropa atau di Asia itu nggak pernah jadi masalah.

Joko : karena dia lentur sekali. Orang Indonesia itu, kalau di luar, lentur sekali.

Gita : Mbak, nggak kesulitan ya, Mbak, membaca deskripsi makanan ini lho. Akhirnya, aku cuma thak baca, terus langsung nyari ininya.

Nuning : aku pengen tahu pengalaman-pengalaman kesulitan membaca itu lho.

Ipang : aku membaca yang di sini itu paling bisa nangkap ketika dia cerita soal makanan. Misalnya Kantonis masaknya begini, begini. Aku malah bisa banget membayangkan rasanya kayak gini.

Gita : habis aku untuk membayangkan mendeskripsikan rasa itu susah.

Nuning : atau kamu sulit membayangkan kenapa itu ditampilkan terus hubungannya dengan gagasan Chua Ben Huat itu gimana?

Gita : enggak. Itu kan ketemu di belakang. Dia nyimpulin. Berarti itu kan, makanan orang Cina di Singapura itu nggak akan disadari oleh itu. Aku baca detailnya ini makanan ini, rasanya gini. Apa sih rasanya? Kalau kita membayangkan rasanya, benar-benar kayak mendeskripsikan rasanya, menurutku, dia agak sotoy (sok tahu, not) sih. Mbok, ada gambarnya.

Nuning : aku sih sudah makan semuanya, kecuali makanan peranakan itu.

Gita : mungkin, aku sudah makan semuanya ya, Mbak, tapi makanan ini, terus aku yang mana ya.

Nuning : tapi kesulitan memahami ini nggak sih yang kayak Ipang tadi bilang, term-term yang dipakai itu lho. Kan memang Chua Ben Huat itu latar belakangnya social budaya. Jadi, dia banyak pakai term-term yang mungkin hanya dikenal di studi itu: Sosiologi, mungkin filsafat juga yang ada rembesan-rembesannya ke situ, tapi mungkin Psikologi enggak. Ada kayak gitu, nggak, sih?

Rifki M : kreolisasi.

Nuning : yang gitu, gitu. Kreolisasi. Gitu, gitu ya? (pada Ipang, not)

Gita : aku sih, sebenarnya, kreolisasi nggak ngerti. Maksudnya, kalau aku baca, itu kan ada kamus di sebelah. Terus, kalau ada yang nggak ngerti, langsung nyari biar nggak bethe. Terus, kalau nggak ketemu, tetap ketemu poinnya gitu dari satu paragraph. Ini permasalahan bahasa atau permasalahan apa sih, Mbak?

Nuning : itu, menurutku, ada persoalan bahasa, tapi ada persoalan konsep juga. Itu benar juga. Persoalan ketidakmengertian term itu masuk akal juga. Kayak codification. Yang kayak gitu, gitu. Itu kan, mungkin, hanya dipahami oleh orang-orang yang dari latar belakang sosial budaya gitu: anthropologi, sosiologi, komunikasi, mungkin filsafat, dan teman-temannya. Sastra juga ada sedikit-sedikit.

Ipang : mungkin, yang paling dekat itu psikologi sosial dan aku agak lemah di situ.

Gita : Mbak, ini pertanyaan penelitiannya apa?

Nuning : si Chua Ben Huat di tulisan yang itu?

Linda : yang mana sih? Yang Mac Donald? Kan dia mau menguji.

Nuning : yang “Food, Ethnicity…”

Linda : mau memperlihatkan bahwa nggak ada makanan yang… Maksudnya, dia sedang menguji ketidakmungkinan esensialisasi di dalam representasi tentang makanan etnis yang dia bilang.

Nuning : karena dia kan intinya, bukan di kesimpulan, tapi di bagian sebelum kesimpulan itu dia, sebenarnya, mau bilang bahwa keaslian itu, sebenarnya, hanya dibayangkan. Jadi, makanan yang asli itu dibayangkan sama seperti kita membayangkan keaslian sebuah etnis gitu lho. Misalnya kan orang sering bilang ini Melayu. Ngelihat dari wajahnya aja untuk konteks Malaysia dan Singapura. Padahal, yang dia bilang Melayu itu mungkin di bawahnya itu kan bukan Melayu, tapi, mungkin, keturunan Jawa, apa, mungkin miks.

Gita : kalau aku, membayangkan kalimatnya itu lho, Mbak, karena kan kita mau belajar membuat pertanyaan penelitian. Kupikir kemarin yang maksudnya pertanyaan itu mencari tahu pertanyaan penelitiannya seperti apa.

Nuning : oh, bukan.

Gita : tapi aku nggak pernah ketemu gitu kata yang bagus itu: bagaimana, apakah, atau…? Kayak kamu tahu ini jawabannya, tapi pertanyaan besarnya itu aku nggak bisa gitu nyusunnya.

Nuning : mungkin, ini kan bagian dari buku. Jadi, pertanyaan penelitian dia itu ada di bab-bab awal, tapi, menurutku sih, dia sedang, intinya, dia sedang... Ini kan bukunya tentang budaya konsumsi di Singapura. Jadi, dia berusaha mendekatinya itu dengan banyak hal. Misalnya lewat Mac Donald. Kan Singapura itu sangat genjar dengan turisme kan. Iya, sama dengan Malaysia dan yang dijual mereka berdua itu kan ya makanan yang itu dibawa dari etnis yang berbeda-beda. Kan pembentu. Itu kan mereka sangat bangga dengan itu, bahwa mereka adalah Negara yang multietnis, sangat beragam. Nah, dia ingin menunjukkan betapa palsunya itu, permukaan. Kan dia bilang bahwa analisa yang seperti ini tuh, aku lupa di tulisan yang ini atau yang di “Singapurean Ingesting Mac Donald”, yang dia bilang bahwa orang seharusnya tidak berpikir terlalu sederhana. Kayak misalnya oke makanan peranakan itu benar-benar perpaduan yang sempurna antara Cina dan Melayu atau misalnya makanan Cina itu, ya udah ini Cina. Padahal, kalau di dalamnya kan, kalau ditelusuri secara mendalam, itu sangat kompleks. Itu, sebenarnya, aku cukup heran kenapa dia nggak memasukkan Lombart ya di situ karena di buku Lombart yang “Nusa Jawa Silang Budaya” itu, yang aku pernah bilang, itu memang, kalau aku, sangat kagum dengan buku itu karena itu proyek sejarah yang sangat ambisius, menurutku. Dia ngomong sejarah bahan itu lho. Bahkan sampai bahan pun itu kan, sebenarnya, bahan dan alat makanan, dan tehnik memasak. Kalau tehnik, ini Chua membahas sedikit. Ada turunan-turunan tehnik memasak yang nggak bisa ditipu gitu. Misalnya ini masakannya Melayu, tapi sebenarnya tehnik memasaknya sebenarnya Cina. Lombart kan sampai membahas bahan. Itu udah nggak ada yang asli sebenarnya, udah nggak berhak ngomong asli, tapi dia nggak nggak ada referensi tentang Lombart sama sekali. Terus, yang tulisan yang kedua, yang “Singaporean Ingesting Mac Donald”. Nah, ini sebenarnya agak cocok untuk tulisanmu itu lho (pada Rifki M, not). Komentarku, tulisannya Rifki di sini. Aku heran, kok tulisanmu, menurutku, ada kamu agak salah persepsi menangkap gagasannya Chua Ben Huat karena karena yang menurutku justru ditekankan oleh Chua di tulisannya yang Singaporean itu adalah bahwa tidak ada yang seragam. Ini ceritanya dia membahas, misalnya, Mac Donald, Mac Donalisasi, dan dia di situ ngomong tentang keseragaman, terus ngomong tentang globalisasi, Amerikanisasi. Kayak gitu. Itu kan, sebenarny, konsep yang diyakini banyak orang kan globalisasi itu menimbulkan seragam dan itu pembunuhan ke budaya local, tapi yang dia tunjukkan kan justru enggak. Itu ada banyak patahan-patahan di situ. Ada banyak respon-respon budaya yang justru bertentang dengan itu yang di sini menarik karena ditunjukkan baik oleh Mac Donald sendiri maupun oleh Singapura sendiri. Misalnya: Mac Donald itu terus-menerus melakukan pelokalan produk makanannya. Semua produk fast food kan melakukan itu. Nah, terus yang Singapura sendiri juga, untuk konteks Singapura menurutku ini agak masuk akal, karena menurut Chua kan Mac Donald ini cocok karena dia itu nilai-nilai yang ditawarkan itu, kalau yang ini lho, Mac Donald itu menawarkan pengorganisasian makanan yang rapi, mulai dari sistem produksi, distribusi, terus pembeliannya. Semua rapi, teratur, terkontrol. Dan itu kan, sebenarnya, nilai-nilai yang ditinggikan oleh wacana industry. Nah, ini tuh cocok dengan ide-ide atau gagasannya Pemerintah Singapura tentang kemajuan karena mereka kan memang

Linda : disiplin dan tertib.

Nuning : iya. Nilai-nilai itu mereka anggap sebagai nilai-nilai yang harus diambil supaya lebih maju, menang dalam kompetisi itu lho. Kalau kamu nonton film-filmnya yang kayak “I’m Not Stupid”. Coba deh cari. Itu jelas menunjukkan betapa tersiksanya, misalnya, anak-anak Singapura ketika sekolah karena mereka dipaksa untuk, pokoknya matematika, Bahasa Inggris. Cara untuk maju itu mereka punya plot sendiri. Harus disiplin. Masuk sekolah itu bukan yang berbasis komunitas, tapi sistem rangking, nilai kayak gitu. Nah, cocok seperti itu dan aku di sini ngomong dia itu cocok dengan kebutuhannya pasar utamanya Mac Donald kalau di sini dia ngomong anak muda karena kan butuh tempat nongkrong dan memang Mac Donald di situ jadi tempat nongkrong yang menyenangkan, tempat belajar yang ramah. Itu bisa dianggap pelepasan yang menarik untuk kultur Singapura kan membosankan baik kota yang bersih, rapi, orang-orang nggak boleh melakukan hal yang kesalahan-kesalahan yang sepele kayak meludah, nggak boleh merokok di jalan, sangat teratur.

Linda : steril, Mbak.

Nuning : ya, benar. Itu kata yang tepat. Nah, di sana itu Mac Donald menawarkan yang lain. Di situ kan ada usaha untuk membuatnya jadi beda di tingkat local sendiri. Nah, dengan demikian, di sini poin bahwa mengkonsumsi Mac Donald itu sama dengan Amerikanisasi itu gagal karena kalau di Singapura yang terjadi nggak seperti itu memang. Jadi, sebenarnya, menurutku, dia menawarkan cara pendekatan. Kita berhati-hati melihat asumsi bahwa fastfood itu masuk ke sini berarti Amerikanisasi karena yang terjadi sebenarnya enggak.

Linda : yang ini ya, Mbak, apropriasi.

Nuning : iya, apropriasi.

Linda : sesuai kepentingan orang yang menggunakan.

Nuning : iya, meskipun ada kepentingan bisnis ya. Pasti gitu.

Rifki : kenapa aku menulis ini? Karena saya menganggap si penulisnya itu… Ya, aku cukup, pertama membaca ini, tertarik kalimat awalnya memang. Menarik, ada budaya pinggiran dan ada budaya pop. Lalu, setelah membacanya, tiba-tiba ditarik, misalnya ada yang local dan ada sesuatu yang dari luar datang, terus diambil contoh di Perancis. Di Perancis, misalnya, Mac Donald diproteksi, nggak boleh datang. Terus, di Singapura bagaimana? Karena pemerintah polanya efisiensi dan macam-macam, itu agak cocok. Tapi, kemudian, itu saya anggap, itu menjadi sesuatu yang seragam. Bayangan saya tentang negosiasi budaya yang kemudian memunculkan pinggiran dan local itu nggak ada karena Mac Donald datang ke sana juga musti mengalah, pembahasan saya, dengan yang local itu, misalnya nasi dan segala macam itu. Dibayangkan di sini Amerika membawa ideology Amerikanisasi gitu sehingga yang ada adalah menang atau kalah soal pertaruhan itu bukan menghasilkan proyek budaya baru yang kemudian ada budaya peri-peri.

Nuning : tapi gini. Dia itu ngomong peri-peri dan pusat di tulisannya itu, sebenarnya, bukan mengarah ke budaya pinggir dan popular, tapi, sebenarnya, dia mengarah ke posisi konstelasi besar negara di dunia, ada yang pusat dan ada yang pinggiran. Memang itu. Dan dalam hal ini, itu kan… Coba bayangkan dunia itu ada Negara-negara yang diangap sebagai produsen utama produk kebudayaan. Kan memang ada. Amerika salah satunya. Memang mereka yang punya sumber daya yang luar biasa dan selalu jadi produsen utama. Memang bukan satu-satunya karena kita pun mengenal produk-produk budaya yang lain tho, dari Jepang, dari Korea, dan sebagainya; tapi mereka memang yang utama. Nah, Indonesia atau Singapura, meskipun Singapura itu maju, itu kan berada di pinggiran dalam konteks itu. Nah, sementara yang berlaku di sistem besar dunia ini itu kan memang kapitalisme. Artinya, di situ tuh ada lembaga-lembaga besar yang memang mengatur semuanya, UN, WTO. Kan memang itu. Nah, ini memang, Mac Donald itu, itu masuk dalam kerangka yang besar itu tadi, sebenarnya. Ini kan makanya dia ngomong, Chua Ben Hod itu ngomong, untuk menjadi warga dunia yang baik, apalagi karena Singapura itu kan memang dia mempunyai konsep bahwa Negara itu harus industry maju dan sebagainya, dia itu harus merangkul semua nilai-nilai, produk-produk budaya yang masuk dari asing. Kalau di Indonesia, misalnya tahun ’70-an, investasi asing tuh harus diterima seluas-luasnya. Itu kan ideology pembangunan yang utama itu kayak gitu. Nah, ini Mac Donald itu juga masuk di situ. Nah itu, bagi sebagian yang lain, itu kan menimbulkan ketakutan adanya, “Wah, ini berarti akan hancur potensi”, kalau mereka berpikir Asia dan Barat, Asia yang akan hancur oleh Barat. Jadi, Mac Donald itu dianggap sebagai perwakilan dari Barat. Nah, sementara yang terjadi kan enggak. Jadi, dua-duanya itu sama-sama menggunakan untuk kepentingan yang berbeda, menurutku. Mac Donald memang menyerap nilai-nilai local meskipun dia menyerapnya itu untuk menang juga, sebenarnya, untuk kepentingan ekonomi yang lebih besar dan memang itu harus dilakukan oleh semua hal sekarang. Menyerap nilai-nilai local itu harus. Kalau enggak, nggak bisa menang. Nah, sementara yang local itu sebenarnya yang terjadi bukan resistensi juga. Yang terjadi itu baik dalam selera atau apa itu saling menggunakan sesuai takarannya. Kan ini ada cerita, kalai bagi orang-orang yang sudah terpelajar, misalnya yang sudah tinggal lama, yang sudah tidak asing dengan makanan ini, ini tuh kayak makanan selingan aja. Kayak tawaran lain di sela-sela makanan Asia yang selama ini dia konsumsi. Berarti, orang-orang tidak bisa sederhana mengatakan bahwa mengkonsumsi burger itu Barat, berarti kamu sudah westernise. Nggak kayak gitu juga. Mungkin, kita hanya ingin mencoba.

Joko : rekreatif ya.

Nuning : iya. Itu memang, nilai-nilai kesenangan atau pleasure, rekreatif itu, harus dimunculkan, harus dipertimbangkan untuk menganalisa yang seperti ini. Nah, kan kayak gitu, sebenarnya, maunya dia. Dia ingin menunjukkan itu. Tips masih untuk Rifki, coba usahakan tulisanmu bahasanya lebih formal sedikit. Aku juga nggak punya konsep yang terlalu kaku tentang yang formal dan enggak ya, tapi yang resmi. Latihan.

Ipang : kalau aku, sesuai tulisannya. Karena ini esai, aku yang gini, lebih nyantai. Kalau makalah, aku biasa.

Ferial : ini aneh. Menulis formal itu kayak momok. Jadi, kayaknya, kalau nulis formal itu jadi sulit menuangkan yang ada di pikiran. Aneh lho.

Nuning : makanya, tadi aku bilang kan, oke membaca itu satu hal dan membaca teks itu memang butuh latihan, tapi, untuk menuliskan, aku pengen tahu juga itu kesulitannya kayak apa. Aku sebenarnya ingin menunjukkan, aku mencoba ya, di halaman 2 itu yang paragraph terakhi. Ini latihan yang aku harapkan teman-teman mencoba. Kalau me-review dua artikel gitu, aku tuh sudah memilih tulisan yang cocok, yang kayaknya satu sama lain ada hubungannya, aku pengen berlatih untuk mencoba menghubungkan antara keduanya, seaneh apa pun itu. Coba dicari dan itu dinalar. Pikiranmu itu kayaknya dia ngomong apa ya antara keduanya. Itu penting banget untuk nulis skripsi bab 2 atau apa. Coba dihubungkan sekuat tenaga. Karena dulu aku pernah dikasih tahu dosenku, bikin pertanyaan gitu, seaneh apa pun itu, misalnya bikin hubungan itu, itu harus diusahakan dikerjakan. Mungkin, memang nggak terlalu berhubungan secara langsung ya, tapi coba dia sebenarnya ngomong apa sih, kedua penulis ini ngomong apa. Yang satu ngomong dalam, misalnya, aspek yang apa. Yang ini aspek yang apa. Terus, kayaknya kamu menemukan. Harus dicari gitu. Harus berpikir keras. Makanya aku bilang seaneh apa pun dicoba.

Ipang : kupikir mekso.

Nuning : nggak, justru, mungkin kalau kita benar-benar membaca itu, yang kayaknya maksa itu nggak muncul sih karena, aku yakin, ada hal yang sama yang dibicarakan. Kalau di sini kan, hubungan antara makanan di masyarakat, tapi dia berusaha mendekati lewat hal yang beda-beda. Terus, pertanyaan juga kayak gitu. Apa pun pertanyaan yang muncul itu harus dipaksa dikeluarkan. Aku sebenarnya sudah berusaha untuk, ini tuh aku berusaha memaksa diri untuk, memunculkan ini. Mencoba merumitkan diri dengan gagasannya Chua Ben Huat. Misalnya, aku sempat terpikir, misalnya di Belanda dan di Perancis. Itu kan model-model kayak memasukkan Mac Donald ke konteks lokal itu kan minim. Setahuku, kalau di sana, ya utuh gitu sesuai konsep aslinya. Nah, itu kan, menurutku, menarik. Kenapa dia hanya melakukan di sini, di Asia lah paling nggak yang kutahu? Terus, kalau di Indonesia, kalau Chua Beng Huat kan mengatakan mungkin karena konteksnya Singapura sudah sangat maju, Negara kecil yang makmur dan nggak aneh dengan nilai-nilai itu. Tapi kalau di Indonesia itu, kenapa itu jadi gengsi, menurutku, karena, yang kayak pertanyaanku di sini, mungkin tawaran nilai-nilainya itu justru menarik. Orang itu butuh dan senang untuk mengalami itu. Itu bagi kita itu modern.

Linda : keren.

Nuning : karena itu keren. Makan yang antri, terus pakai ini. Itu kan keren. Aku berusaha membayangkan bahwa mungkin itu.

Joko : eksotik.

Nuning : iya, bagi kita itu eksotik. Itu kenapa alasannya jadi tetap punya nilai gengsi yang tinggi.

Gita : kalau misalnya ternyata dugaan itu bener gitu, itu bisa bisa dihubungin sama kemungkinan Mac Donald itu Amerikanisasi, nggak?

Nuning : ya mungkin kalau untuk konteks Indonesia itu iya. Artinya, bukan Amerikanisasi yang nilai-nilai Amerika-nya karena kan di Indonesia juga selalu ada pertentangan yang luar biasa antara Asia, Barat. Wah, kayaknya itu nggak habis-habis, tapi itu lho, gagasan-gagasan, kayak kulturnya itu yang bagi kita tetap menarik. Secara yang ditulis kan kita yang terus-menerus ditunjukkan itu. Mulai dari Pujangga Baru. Itu kan tetap menarik nilai-nilai Barat itu lho. Pintu ke kemajuan. Mulai dari gagasan pendidikan. Menurutku, ini mengikuti garis yang sama itu lho. Kita selalu tertarik, sebenarny, dengan yang kayak gitu. Alamiah gitu lho ketertarikan kita dengan yang Barat. Iya, natural orang Indonesia itu ke sesuatu yang Barat.

Ferial : sebaliknya juga gitu kan?

Nuning : sebaliknya iya sih. Kalau Barat itu, justru mereka itu mengeksotiskan kita dan itu susah sembuhnya.

Ferial : aku pikir, kita juga mengeksotiskan mereka lho.

Nuning : nggak, kita menariknya ke konteks yang lain. Kita itu dalam derajat tertentu punya kemampuan untuk menaikkan itu jadi lentur.

Joko : kayak akulturasi itu ya?

Nuning : iya karena kita selalu punya, bukan nilai-nilai yang ambigu, kayak identitas sendiri itu selalu dicari kalau kita. Ke-Indonesiaan, ini, ini selalu pencarian. Sementara mereka itu kan enggak. Mereka itu yang ada ya, Barat itu definitif memang. Yang lain tuh ya the other, tetap yang lain. Kalau kita itu, pertanyaan identitas itu ada refleksi. Gitu terus dari jaman dulu sampai sekarang.

Linda : tapi mungkin, kalau di Indonesia, kekaguman pada sesuatu yang berasal dari Barat itu mungkin bisa dikaitkan sama residu kolonialisme, mental kita, seperti yang dibilang Bung Karno mental inlander, sangat kagum dan mudah.

Nuning : iya, tapi Bung Karno pun juga menyerap nilai-nilai Barat. Jadi, kupikir, kekaguman ke nilai-nilai Barat itu, sebenarnya, lebih ke hasrat untuk maju, sebenarnya. Itu yang tinggi banget kalau di sini. Nilai-nilai Barat itu memang dipercaya sebagai pintu untuk maju dan salah satunya kan pendidikan. Ya, orang-orang kayak Kartini, sebenarnya, penganut itu. Nah, di sini, kalau ngomong nasionalisme, itu agak bertentangan karena mereka kan nulisnya pakai Belanda, tapi yang diomongkan yang lain. Ngomong tentang nasionalisme gitu. Itu kan agak beda.

Joko : tapi, kalau ngomong tentang kolonialisme ya, sebenarnya, ada persepsi yang salah. Indonesia itu dijajah 350 tahun. Itu keliru. Kita itu berperang 350 tahun. Itu yang benar.

Nuning : tapi mereka memang tidak menjajah di banyak tempat sebanyak itu. Kan mereka pindah-pindah juga. Saling berbagi kan dengan penjajah yang lain.

Joko : Aceh, Imam Bonjol, Diponegoro. Yang Imam Bonjol, Diponegoro itu kan bukan satu jaman. Ini selesai, terus pindah ke sini. Jadi, nggak ada penjajahan 350 tahun.

Nuning : aku sebenarnya pernah ngomong kayak gitu dan diprotes sama dosen Belandaku, “Ya, kita sebenarnya tidak menjajah selama itu.” Maksudnya, ya selama periode itu, tapi hadir di mana-mana.

Linda : dulu itu nggak tersistematisasi karena mereka awalnya kan dagang. Kalau Belanda kan, mengakui kemerdekaan Indonesia tahun 1949.

Nuning : ya, sampai sekarang. Sebenarnya, yang menarik di sini, yang Chua di tulisan yang “Food, Ethnicity, Nation”. Dia bilang pola yang umumnya berlaku, itu kan yang mayoritas ini kan biasanya menyerap habis-habisan yang datang, yang asing; tapi yang terjadi, ini misalnya kalau di tempat di mana misalnya yang Melayu itu yang utama, yang terjadi kan sebaliknya. Kalau konteks masakan peranakan, kan enggak. Cina itu justru yang mengadopsi cara-cara gitu, dikit-dikit gitu. Aku jadi memikirkan tentang masuknya masakan Belanda ke sini. Menurut kalian, kita mengabsorbsinya mereka atau…?

Joko : nggak terlalu.

Nuning : aku awalnya berpikir ini penyerapannya sepihak. Ternyata, salah. Di sana itu mereka sangat tergila-gila dengan Indonesia, tapi untuk kepentingan nostalgia. Jadi, restoran Indonesia itu di mana-mana, warung-warung kecil dan menjual makanan Indonesia. Coba ya Clay Riffers yang novel-novel itu, pasti di situ menemukan Chali Robinson. Chali Robinson itu orang yang mendirikan pasar malam Tong Tong di Den Haag. Itu dari tahun 1930-an apa ya. Itu benar-benar pasar malam yang ide-ide romantic. Semuanya itu makanan yang memuaskan kerinduan mereka sama Indonesia: durian, guling, sate. Semua makanan.

Joko : tapi, kan mereka datang ke sini karena rempah-rempah. Orang Belanda sendiri masakannya nggak enak kalau selera orang Indonesia lho. Ketika mereka ketemu masakan Asia itu lebih kaya rasa. Jadi, mereka tetap tergila-gila.

Ferial : kalau kita di sini makan makanan yang dari sana, Pizza atau apa, kan rasanya disesuaikan sama sini. Gitu sebaliknya, nggak, di Tong-tong?

Nuning : di Tong-tong itu yang jual orang Indonesia.

Ferial : karena nasi Padang di Singapura, rasanya nggak kayak nasi padang di sini. Disesuaikan gitu lho.

Joko : tapi substansinya, aku kira, sama, cuma bedanya mungkin disesuaikan.

Gita : apakah di Singapura itu ada usaha-usaha untuk bikin kayak Mr Burger, yang lokalisasi? Itu menarik.

Nuning : Aku nggak tahu. Kalau di Malaysia, ada burger Ramli. Itu bikinannya Mac Donald, tapi dia mengiklankannya sebagai kampung burger.

Linda : burger yang local itu kayak gimana?

Gita : jadi, kita mengadaptasi masakan Eropa.

Nuning : kayak Monalisa.

Ferial : itu balik lagi ke yang masalah menyerap tadi. Cara kita menyerap itu kan juga tercermin ke jualannya. Nah, kalau yang di sana, yang gerakan mereka itu lho. Maksudnya, makanan sendiri lebih diminati dari pada makanan yang gaya luar. Kalau kita kan, tetap bikin makanan yang gaya luar, tapi masalah harga itu aku pikir.

Nuning : sebenarnya, itu peniruan yang gagal atau apa?

Ipang : aku mulai menemukan beberapa orang yang suka Mr Burger itu karena read on-nya dan itu rasanya beda banget sama yang MacD. Lebih menghargai Mr Burger dari pada Mac D.

Ferial : parah banget. Kadang pengen neliti kayak gorengan. Minyak gorengnya itu berbahaya. Nah, gimana dengan minyak goreng MacD?

Nuning : gimana itu prosesnya mulai dari peniruan sampai ke penciptaan rasa sendiri sampai akhirnya ada orang yang benar-benar suka sama Mr Burger.

Gita : tertariknya, Mr Burger itu tetap dikatakan Amerika atau enggak? Maksudnya, bukan tidak mungkin nanti orang makan roti semua. Sementara budaya kita nggak gitu.

Nuning : aku cenderung itu peniruan yang memang tidak sempurna, tapi bukan berarti tidak baik. Kayak memang ingin menunjukkan identitas sendiri dengan burgernya yang punya ciri khas sendiri, misalnya Monalisa itu manis, dan akhirnya kan memang dia bisa disukai, ada penggemarnya sendiri, tapi memang awalnya itu peniruan.

Linda : itu mimikri, bukan?

Nuning : kayaknya iya. Itu bisa dimasukkan mimikri. Itu peniruan yang tidak sempurna. Sama kayak kita yang mengecat rambut jadi blonde.

Gita : peniruan yang tidak sempurna itu konotasinya kayak gagal, tapi punya keinginan memang untuk bikin enggak.

Nuning : iya. Nah, itu kan analisa yang terbaru bilang bahwa itu bukan berarti gagal. Bukan berarti bahwa kita inferior terhadap yang kita tiru, tapi bisa jadi kita…

Linda : dengan sadar melakukan itu.

Nuning : dan memang ingin mengacak-acak itu, ingin mengacak-acak yang ditiru itu bahwa kita nggak ingin menyamai kamu, sebenarnya. Kita ingin merusak citramu atau apa semacam itu. Itu masukan buat Chua Ben Huat supaya dia meneliti eksistensi burger-burger local di Singapura. Senin aku nggak masuk.

Ferial : Senin libur.

Nuning : tapi Jumat ngerjainnya tetap yang dua itu aja.

Gita : apa sih? Kemarin aku nggak bisa open. Minggu depan yang dibaca apa?

Hayu : Laksmi.

Nuning : pertemuan yang tanggal 10 itu membahas yang Fedi Hadis dan Budiawan aja. Yang Laksmi diundur aja. Kalian kan punya banyak waktu untuk membaca ini. Yang Laksmi itu disimpan untuk pertemuan terakhir. Nanti, kita sesuai jadwal ini aja.

Ferial : sama kayak yang di-email, cuma bedanya yang Senin besok ditaruh ke yang terakhir.

Nuning : pertemuan 9, tanggal 13, itu selain review, mengumpulkan referensi bagi calon tulisan kalian.

Gita : tulisannya buat tanggal berapa sih, Mbak?

Nuning : tanggal 24.

Ferial : tetap hari Jumat ada klinik konsultasi jam 6 sampai 7. Di situ bisa lebih dalam kan kalian menanyakan tulisan kalian.

Nuning : yang lain diam-diam. Ini kan aku kemarin tugasnya 1-2 halaman. Menurutku, ini oke, tapi terlalu panjang. 750 itu berdua. Jadi, ada 2 bagian. Pertama menjelaskan gagasan. Terus, usahamu untuk membandingkan. Kedua, memunculkan pertanyaan. Minimal 3.

Gita : berarti 1,5 halaman itu gagasannya cuma kesimpulan aja. Nggak perlu jelasin.

Nuning : mungkin dijelasin kenapa tulisan ini muncul.

Gita : latar belakang?

Nuning : iya, nilai penting dari tulisan ini bagimu. Terus, bagaimana penulis sampai ke kesimpulan.

Gita : jadi, alur gagasan ya?

Nuning : iya, tapi kamu harus berefleksi di tulisanmu itu. Harus pakai bahasamu sendiri.

Silvia : aku nulis gitu.

Nuning : kamu terlalu panjang.

Rifki : tulisan refleksi itu gimana?

Nuning : iya, kamu bisa memikirkan hal lain, tapi tetap dengan kerangkanya dia. Oke ya. Kutunggu hari Jumat. Bagi yang belum mengerjakan?

Ipang : tetap ngumpul ya?

Nuning : iya.

Ferial : berarti 3?

Nuning : 2. Yang hari Jumat itu sengaja kupilihkan tema yang besar. Aku pengen ngerti bagaimana teman-teman membaca ini.

Ferial : kalau nggak ngumpulin, tetap nggak tahu.

Nuning : iya.

Kelas selesai jam 21.25 WIB

 

Comments

No comments so far.

Leave a Reply

 
(will not be published)
 
 
Comment