Diary Linda - 01 April 2009
Lokasi: Bis Transjogja
Siang itu matahari bersinar cerah. Gerah sekali hari ini, pikirku. Tapi aku sudah berencana ke Malioboro mencari barang titipan seorang kerabat. Dari kos-kosan yang terletak di sebuah sudut di daerah Papringan, aku berjalan kaki menuju Jalan Solo. Aku menyusuri jalan setapak di pekarangan rumah tetangga yang menghubungkan tempat kos dengan jalan raya. Menyusuri jalanan yang cukup ramai siang itu, sampailah aku di Jalan Solo, tepatnya halte bis di depan Gedung Mandalabakti Wanitatama. Setelah menyerahkan uang tiga ribu rupiah, aku mendapat sebuah kartu yang kemudian kumasukkan ke sebuah mesin di pintu masuk.
Di halte itu ada beberapa orang yang juga menanti bis yang sama. Aku duduk di salah satu sudut halte. Sembari menunggu bis aku mengamati kendaraan yang lalu-lalang di sekitar Jalan Solo. Sejurus kemudian, bis yang aku tunggu telah tiba. Seperti biasa, kondektur bis meminta para penumpang yang akan naik untuk memberikan kesempatan pada penumpang yang akan turun terlebih dahulu. Akhirnya tibalah giliranku untuk masuk.
Ternyata bis dipadati oleh para penumpang. Selain tempat duduk tiada yang bersisa, ruangan bis telah dipenuhi para penumpang yang berdiri. Aku pun bergeser ke dalam, memberi ruang untuk penumpang lain yang sama-sama berdiri. Baru kali ini aku naik bis Transjogja yang sepadat itu. Udara di dalam bis jadi agak sumpek.
Aku baru menyadari sesuatu ketika bis hendak merapat ke halte berikutnya. Sang kondektur, yang adalah seorang perempuan, menyilakan para penumpang yang hendak turun di Halte LPP untuk bersiap-siap. Bukan hanya itu, ia juga memperingatkan para penumpang untuk memeriksa kembali barang bawaannya. Sekiranya ada barang yang hilang, penumpang diharapkan untuk segera melapor agar hal tersebut bisa ditindaklanjuti oleh petugas Transjogja di halte berikutnya. Baru kali ini saya mendengar seorang kondektur berbicara serinci itu. Dan ini belum pernah juga terpikirkan oleh saya sebelumnya.
Ketika hendak merapat di halte berikutnya, yakni Halte Rumah Sakit Bethesda, sang kondektur menyebutkan secara rinci bahwa para penumpang yang hendak menuju tujuan A bisa berganti bis nomor X, sementara yang mau ke tujuan B bisa berganti bis nomor Y. Bukan itu saja, ia juga menyebutkan detail lain yang jarang saya dengar dari kondektur lainnya, seperti ucapan terima kasih telah melakukan perjalanan dengan bis Transjogja. Dan yang terpenting ialah bagaimana ia mengatakan hal-hal tersebut. Ia mengucapkannya dengan penuh percaya diri sembari menatap ke arah penumpang, tanpa peduli mereka menghiraukannya atau tidak. Ia tetap berbicara dengan kelembutan, namun penuh ketegasan.
Perjalanan saya dengan bis Transjogja hari itu terasa berbeda dengan yang sudah-sudah. Saya mungkin sudah lupa wajah kondektur perempuan itu. Saya bahkan tak sempat melihat namanya ketika saya turun. Tapi saya tidak akan pernah melupakan keramahannya, sikap santunnya sebagai kondektur yang baik, rasa percaya dirinya meskipun orang-orang mungkin tidak memperhatikannya karena ia ‘hanya’ seorang kondektur. Saya lalu berpikir betapa bahagianya menyaksikan seorang perempuan—yang berkiprah di ruang publik dengan profesinya sebagai kondektur di tengah lingkungan yang sangat maskulin—bisa tampil penuh percaya diri, menjadi sosok yang ‘berbeda’ dan membawa inspirasi bagi mereka di sekitarnya.

