Meita - Membaca Film Shottas

Tgl 6 April 2009

Shottas adalah sebuah film dari sutradara Cess Silvera, yang diperankan oleh Kimany Marley, salah satu putra penyanyi Reggae legendaris Jamaika, Bob Marley. Film yang bersetingkan di Kingston, Jamaika ini menggambarkan kehidupan para Gangster yang sarat akan kekerasan, seperti baku tembak atau hantam antar geng, Karakter Biggs yang diperankan oleh Kimany Marley adalah seorang gangster di Jamaika. Tumbuh dan besar di kehidupan jalanan yang keras di daerah Kingston bersama sahabat karibnya Wayne, yang menjadikan mereka gangster. Sewaktu remaja Biggs dan Wayne merampok uang dari seorang sopir truk lalu menembaknya. Uang itu mereka pergunakan untuk membeli visa ke Amerika Serikat. Setelah bertahun-tahun menjadi gangster di Miami, Wayne akhirnya dideportasi, lalu setahun kemudian menyusul Biggs. Di Kingston, Jamaika mereka melakukan aktivitas yang sama, melakukan tindakan kriminal, bisnis narkoba, dsb. Sampai pada akhirnya, mereka berkasus dengan seorang politikus dan polisi di sana, dan mereka pun kembali ke Miami. Di Miami mereka pun menjalani kehidupan yang penuh dengan ancaman.


Alur cerita film ini sebenarnya tidak terlalu bagus, sebagian besar hanya berisi adegan kekerasan, bunyi senapan yang mendominasi isi film; sinematografi yang pas-pasan—seperti hanya menggunakan kamera film yang kurang memadai—
; acting para actor dan aktris yang pas-pasan; dan backsound aneh yang ada hampir di setiap adegan, membuat saya terganggu. Tetapi, ada beberapa alasan yang membuat saya melihat film ini, yaitu soundtracknya, logat jamaika para actor dan aktrisnya.

Shottas yang memang dalam bahasa Jamaika berarti gangster ini*, menurut saya film ini menunjukkan identitas orang Jamaika pada umumnya dengan logatnya yang sangat kental; dengan rambut gimbalnya/ rasta serta musik-musik reggae yang khas yang mendominasi tiap adegan dalam film ini. Hal ini juga yang menginspirasi musisi-musisi maupun pecinta reggae di seluruh dunia menggunakan atribut2 rasta. Dan mungkin juga menggunakan bahasa Inggris berlogat ala Jamaika. Bahasa ini merupakan campuran dari bahasa Inggris dengan bahasa Afrika dan sedikit bahasa Perancis. Karena merupakan bahasa campuran, bahasa dan logat ini pun sukar dimengerti oleh saya dan teman saya yang sudah menonton film ini. Percampuran bahsa ini, menurut saya, dikarenakan Jamaika adalah negara bekas jajahan bangsa Eropa. Hal-hal semacam itu, menurut saya, ikonik, karena ketika musik reggae dikenal di seluruh dunia, atribut-atribut semacam itu menjadi identitas tersendiri oleh para penggemarnya ataupun pengikutnya. Jadi, musik reggae identik dengan rambut gimbal/rasta, marijuana, atribut-atribut berwarna merah, kuning hijau, dan tentunya Bob Marley.

*wikipedia.org

 

Comments

No comments so far.

Leave a Reply

 
(will not be published)
 
 
Comment