Meita - Unpredictable Theme
Tgl: 21 Maret 2009
Pada tanggal ini, saya mendatangi sebuah pembukaan pameran lukisan yang bertajuk UNPREDICTABLE CONCEPT: HUMAN, SCIENCE, SPIRITUALITY di ruang Kepodang lt.2, Penerbit dan Percetakan Kanisius. Saya dating satu jam lebih awal dari jam yang tertera di posternya yaitu jam 4 sore. Saya sebenarnya dimintai tolong untuk mendokumentasikan acara ini dan karya-karya greg yang dipamerkan.
Sembari menunggu acara pembukaannya berlangsung, saya pun melihat2 lukisan-lukisan yang dipamerkan di dalam ruang kepodang, Kanisius. Di ruangan itu banyak terdapat lukisan-lukisan yang digantung di panel-panel yang sudah disediakan. Kesemua lukisan itu berwarna cerah atau colorful, yang memang merupakan konsep pamerannya. Karya-karya lukisan ini didominasi oleh gambar2 objek semacam manusia dan bnda serta gambar potret wajah teman-teman si perupa. Sekilas lukisan-lukisan itu seperti dicorat coret sesuka hatinya seperti lukisan anak kecil tetapi sebenarnya mengandung makna yang dalam. (Apa makna-nya?) Si perupa menorehkan berbagai macam media lukis/gambar ke dalam kertas; seperti crayon, pensil warna, cat air, spidol, pena hitam, dll. Bagaikan anak-anak yang suka brmain-main dengan sesuatu yang disenanginya.
Hal itu seperti yang dikutip dalam lukisan yang terpampang di panel yang paling depan, “Homo Ludens, manusia adalah makhluk yang bermain…” kira-kira begitulah kutipannya.
Para pengunjung juga disuguhi lagu anak-anak yang ceria saat menikmati lukisan-lukisan tersebut.
Mari bermain!
(bagaimana reaksi pengunjungnya? Adakah pengunjung anak-anak di sana? Bagaimana reaksi mereka? bisa diperdalam tentang konsep ‘bermain’ itu sendiri. Apa artinya ‘bermain’ di sini? Apa bedanya dengan ‘main-main’? he..he..cuma cari-cari
‘Bermain’ jadi bermakna, terutama bagi orang dewasa, ketika dihadapkan dengan ‘bekerja’…melukisa itu ‘bermain’ atau ‘bekerja’? atau ‘bekerja sambil bermain?’ atau ‘bermain sambil bekerja?’
He..he..he saya cuma mau cari-cari malasalah …
22 Maret 2009
Kemeriahan Melasti
Hari ini adalah hari berburu objek untuk difoto. Pukul 1.30 di pantai Parangkusumo sedang diadakan upacara Melasti, ritual hari Raya Nyepi umat Hindu. Setahu saya Melasti itu labuhan sesaji, lebih lanjutnya saya kurang tahu. Di psisir pantai itu sudah tersedia dua deret meja panjang yang dibalut dengan kain berwarna kuning;dari jauh meja itu terlihat sangat cantik dan anggun dengan berbgai macam sesajian yang diletakkan umat-umat Hindu di atasnya untuk dilabuh. Saya pun trgoda untuk mngambil gambarnya. Meja-meja dngan sesajian itu tampak seperti sebuah lukisan yang kaya akan warna-warna yang harmonis; kuning keemasan, merah, hijau tua, hijau muda, brlatarkan air laut nan biru dngan awan yyang cerah.saya pun segera menorehkan sajian warna-warna harmonis tadi ke dalam film fujicolor proplus 100 dngan kamera SLR analog yang saya bawa.
Meja-meja yang anggun tadi, sangat meriah dngn adanya umat-umat Hindu yang bersembahyang di depannya. Semuanya bersembahyang dengan khidmat, mengikuti ucapan-ucapan doa sang pendeta. Saya pun takjub melihatnya, suasana pun menjadi hening, kecuali bunyi desiran ombak dan angin; lantunan doa-doa dan suara shutter kamera-kamera yang saling beradu seperti berlomba-lomba ingin segera menangkap kekhidmatan upacara Melasti ini.

