Meta - THE ART OF TAWUR KESANGA

Tgl: 25 maret 2009                             Nyepi 1931 Saka

Sore hari menjelang Maghrib, saya dan tiga orang teman dari Duta Wacana Photographie Club (DWPh) mendatangi sebuah Pura di daerah Baguntapan untuk memotret. Di Pura tersebut akan diadakan ritual Nyepi, Tawur Kesanga, yaitu sehari sebelum Nyepi diadakan upacara Buta Yadnya. Pada uapcara ini para umat Hindu membuat ogoh-ogoh, patung raksasa yang terbuat dari bambu, yang nantinya diusung dengan arak-arakan diiringi dengan tetabuhan dan bunyi-bunyian dan pada akhirnya dibakar. Hal ini dimaksudkan untik mengusir roh-roh jahat

Pada saat saya dan teman-teman tiba di Pura, suasana sudah ramai dengan banyak orang, entah itu warga sekitar Pura, wisatawan asing, fotografer dan wartawan;dan tentunya umat Hindu yang akan mengikuti ritual ini. Terlihat di depan halaman Pura ada dua ogoh-ogoh yang sudah siap diarak. Dan tiga ogoh-ogoh lainnya terlihat di halaman Pura menunggu untuk dipasang bambu-bambu penyangganya. Saya terkagum-kagum dengan ogoh-ogoh itu; ogoh-ogoh itu berbentuk menyerupai iblis dengan polesan warna-warna yang menarik dan artistic. Yang paling menarik perhatian saya adalah ogoh-ogoh buatan KMHD ISI. Bentuk ogoh-ogohnya sangat artistic daripada ogoh-ogoh yang lainnya, mereka membuat 2 bentuk menyerupai iblis, yang satu berdiri dan yang satunya berdiri dengan kedua lengannya (seperti salto). Kalau dilihat-lihat, bentuk ogoh-ogoh KMHD ISI sangat aneh dibanding keempat ogoh-ogoh lainnya. Badan ke dua iblis dibalut dengan warna kuning dan di bagian bawah si iblis itu disinari semacam lampu, menjadikan ogoh-ogoh itu berkesan mengerikan. Wajah si iblis pun tampak hidup dengan taringnya yang menyeringai dan rambut panjangnya yang berwarna kelabu.

Tampak di halaman Pura saya melihat beberapa umat Hindu masih mengerjakan penyangga ogoh-ogoh yang akan diarak. Saya pun mengampirinya dan sesekali memotret mereka yang sedang bekerja sambil bercanda dan berbincang dengan logat Bali yang kental. Mereka mengenakan baju semacam kemeja hitam dan sarung dan tutup kepala khas Bali bagi umat pria; dan bagi umat wanita mengenakan kebaya, kain jarik dan semacam selendang yang diikatkan ke pinggangnya, dan di kupingnya disematkan pula bunga kamboja.

Setelah persiapan usai,Pandita Hindu pun mendoakan kelima ogoh-ogoh yang akan diarak. Sang Pandita mengenakan baju putih dan sarung putih dengan tutup kepala khas Bali. Terlihat jenggot kelabu di dagu sang Pandita, menandakan umur beliau telah lanjut dan orang yang dihormati. Dengan khusyuk sang Pandita menggumamkan serangkaian doa-doa seraya memercikkan air suci di dalam benda seperti mangkuk kecil terbuat dari kuningan. Para umat yang lain pun terlihat bersembahyang di Pura ikut mendoakan ogoh-ogoh yang segera diarak.

Sekitar 15menit berdoa, ogoh-ogoh segera dipersiapkan di jalan. Ogoh-ogoh ditempatkan sesuai dengan urutan nomor yang dipasang. Barisan paling depan adalah anak-anak yang membawa obor sebagai penerang jalan; mereka juga yang memimpin barisan arak-arakan. Saya dan teman-teman juga mengikuti arak-arakan tersebut. Saya berjalan agak cepat supaya bisa mendahului arak-arakan dan mendapat momen yang bagus untuk difoto. Banyaknya warga kampung yang memadati jalan untuk melihat dan umat Hindu yang mengikuti  arak-arakan membuat saya agak sulit untuk memotret peristiwa tersebut. Dan saya pun, segera mencari tempat yang agak tinggi supaya dapat mengambil gambar.

Suara-suara tetabuhan dan umat yang bersorak-sorai membuat jalan kampung tersebut semakin ramai. Setelah kira-kira 100 meter dari Pura, ogoh-ogoh pun digilir satu per satu untuk di digoyang-goyangkan dan diputar-putar dengan diiringi tetabuhan yang riuh ramai, para umat yang membawa ogoh-ogoh bersorak sorai seraya ogoh-ogoh diputar-putar sambil diperciki air oleh umat Hindu yang lain. Sesekali, ada juga yang beratraksi, menyemburkan api obor. Lalu saya dengan sigap, memotret adegan tersebut. Hal itu dilakukan berkali-kali selama arak-arakan berlangsung di sepanjang rute yang telah ditentukan. Saya dan teman-teman tidak mengikuti arak-arakan sampai selesai, tetapi langsung menuju ke Pura tempat berakhirnya arak-arakan, menunggu ritual Tawur selanjutnya, yaitu pembakaran ogoh-ogoh di halaman Pura. Ternyata sudah banyak orang di sana yang ingin melihat pembakaran ogoh-ogoh.

Selang beberapa menit, ogoh-ogoh pun tiba di halaman Pura dan siap untuk dibakar. Saya dan seorang teman menunggu di barisan paling depan, satu persatu ogoh-ogoh datang dan dirusak dan diletakkan di tempat yang sudah disediakan. Api pun segera dinyalakan, tak lama kemudian api sudah membubung tinggi. Rasa panas menyengat di kulit wajah saya; hanya satu, dua kali jepret, setelah itu saya menyingkir agak jauh, karena tak tahan oleh panasnya api. Tiba-tiba setetes air turun di kulit lengan saya, pertanda hujan turun. Beberapa detik kemudian hujan turun dengan lebatnya, saya dan teman-teman berteduh sembari melihat api yang masih berkobar-kobar melalap semua ogoh-ogoh yang usai diarak, menandakan roh-roh jahat telah terusir.

 

Comments

No comments so far.

Leave a Reply

 
(will not be published)
 
 
Comment