Monika - tentang Warung Kopi “Nongko Doyong” ARIGATOGOZAIMASU

berkisar 25-26 Maret 2009

sekitar Condong Catur

Tadi malam sekitar sembilan lewat, hampir setengah sepuluh. Saya dan tiga teman berangkat ke warung kopi kenalan satu teman saya ini, untuk diskusi tentang hari Sabtu besok. Diskusi tentang kami yang mau nebeng tempat jualan takoyaki – makanan khas jepang dari adonan tepung yang digoreng dalam cetakan bulat kecil-kecil, di atasnya ditabur ikan kering atau katsuoboushi yang bakal bergoyang di atas takoyaki yang panas - kami jualan untuk cari dana acara himpunan mahasiswa jurusan bulan depan.

Belum juga melewati beringin di Condong Catur, rintik hujan turun. Kami menepikan motor dan memutuskan hajar bleh! Untuk terus jalan, menerabas hujan. Teryata agak jauh dari warkop ini dari beringin tadi. Di sebuah tikungan jalan, bangunan dari bambu di atas tanah yang lebih rendah dari ketinggian jalan raya. – saya jadi teringat bentuk empang alias kolam ikan di pedesaan, mungkin tanah warkop ini tadinya kolam ikan? –

Ada sekitar lima bilik di tepi area yang bentuknya agak lingkaran ini. Di tepi yang menghadap jalan raya, bilik paling besar tempat kasir, dapur dan layar untuk proyeksi LCD – layar ini ramai ditonton saat ada “bola”, mungkin –. Beberapa makanan ringan ditata di gerobak - yang mirip angkringan - di depan kasir. Kami memilih salah satu bilik di tepi area, selain karena ingin tempat yang sedikit private, kami juga tidak berniat memandangi layar putih kosong di bilik paling besar itu. Sampai di bilik ke tiga dari arah toilet, kami melepas sandal di atas tanah dan naik dua anak tangga bambu ke dalam bilik kecil. Memesan makanan dan minuman, lalu tiba-tiba hujan.

“Ratih, Mas Untung mana?”

“Barusan udah ku sms, tapi belom dibales. Sek yo.”

Kami berjanji ketemu Mas Untung, pemilik warkop “Nongko Doyong” ini, yang katanya pernah ke Jepang dan akan memperistri Nihonjin alias orang jepang. Ratih inilah yang kenal dengan mas Untung, katannya jam 9 akan menuju kemari, tapi hujan.

Bercerita macam-macam kami sambil menunggu kedatangan Mas Untung. Gosip di lingkungan anak-anak se-jurusan, pengalaman beberapa kali revisi proposl acara jurusan ini, sampai memutuskan ingin jualan di sebelah mana, padahal Mas Untung belum juga datang.

Sampai di jam 11 handphone Ratih berbunyi, sms dari Mas Untung.

Sori Dek,aku ketiduran, masih ujan, mau nunggu atau pulang dulu?

Kira-kira begitu maksud smsnya.

Akhirnya kami menunggu sampai jam satu pagi untuk pulang, berharap hujan reda. Bill diantar, Saya membaca bill ini dengan cahaya yang lumayan redup. Di bagian atas sebelah kiri, ada logo cangkir kopi bertuliskan “ND” dengan tiga kepulan asap, di bawahnya tertulis “Kedai Kopi Nongko Doyong”. Sebelah kanan atas, ada tulisan G – 3 -ini kode meja kali ya-. Di bawahnya, rincian harga dan menu yang sudah dipesan. Akhirnya mata saya tertuju di sudut kiri bawah, ada tulisan ARIGATOGOZAIMASU. – imaji saya berkata, wah hebat ya warkop ini bisa berterima kasih sesuai background setiap pelanggan, jangan-jangan kalau saya datang dengan teman sastra perancis, akan ada kata “merci”, Hehehe – Lalu kami pulang setelah membayar bill. Tanpa bertemu Mas Untung. (Nah ini memang menarik, bisa diselidiki lebih lanjut dengan bagaimana , warung kopi, atau kafe, mencoba mengadopsi idiom-idiom bahasa dan tema visual tertentu berhubungan dengan identitas cultural tertentu; etnis, bangsa, dll..)

(Mungkin yang bisa diperdalam dari tulisan ini adalah mengenai semakin manjamurnya “Warung Kopi’ di Jogja. Dalam konteks ‘budaya visual’, kita bisa mengamati bagaimana warung tersebut di tata dan di hias. Tapi bagiku, ada yang lebih menarik lagi, yaitu mengenai praktik ‘nongkrong’, apakah orang yang nongkrong itu ‘melihat’ atau ‘dilihat’? atau dua-duanya? Apa yang mereka ‘lihat’? bagaimana mereka memposisikan dirinya pada yang ‘melihat’? Bandingkan dengan praktik ‘nyoren’ atau ‘ngabuburit’. Ketika orang duduk-duduk di pinggir jalan, atau di depan rumah, bahkan di pinggir rel kereta apai (st.lempuyangan di bawah jembatan laying) ‘menunggu waktu sore’ . Bandingkan dengan tulisan James Siegel di Solo in New Order, tentang praktek ‘Nyoren’ atau Siegel menulisnya (dan ini kurang tepat) sebagai ‘sore’.

 

Comments

No comments so far.

Leave a Reply

 
(will not be published)
 
 
Comment