<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>IVAA-AKSARA</title>
	<atom:link href="http://ivaa-aksara.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ivaa-aksara.org</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 13:28:52 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kuliah Umum III</title>
		<link>http://ivaa-aksara.org/2009/11/08/kuliah-umum-iii/</link>
		<comments>http://ivaa-aksara.org/2009/11/08/kuliah-umum-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 18:21:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[agenda aksara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivaa-aksara.org/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Hari, tanggal: Minggu, 22 November 2009
Waktu: 16.00 - 20.00 WIB
Tempat: Arslonga (Ruang Seni), Jl. Mantrigawen Lor No.11 Yogyakarta
Pemateri, topik:
Sesi I. 16.00 - 17.30 WIB, Eko Prawoto (Arsitek, Dosen, Perupa). &#8220;Arsitektur &#38; Seni:Konstruksi Seni Luar Ruang&#8221;
Sesi II. 18.30-20.00 WIB, Bambang &#8220;Toko&#8221; Witjaksono (Perupa, Dosen). &#8220;Proses Pengkaryaan Seni: Bukan Komikus Bukan Pelukis.&#8221;
Moderator: Grace Samboh
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Hari, tanggal: Minggu, 22 November 2009<br />
Waktu: 16.00 - 20.00 WIB<br />
Tempat: Arslonga (Ruang Seni), Jl. Mantrigawen Lor No.11 Yogyakarta<br />
Pemateri, topik:<br />
Sesi I. 16.00 - 17.30 WIB, Eko Prawoto (Arsitek, Dosen, Perupa). &#8220;Arsitektur &amp; Seni:Konstruksi Seni Luar Ruang&#8221;<br />
Sesi II. 18.30-20.00 WIB, Bambang &#8220;Toko&#8221; Witjaksono (Perupa, Dosen). &#8220;Proses Pengkaryaan Seni: Bukan Komikus Bukan Pelukis.&#8221;<br />
Moderator: Grace Samboh</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivaa-aksara.org/2009/11/08/kuliah-umum-iii/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Saroni-RealEstetik [POLISI TIDUR]</title>
		<link>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/saroni-realestetik-polisi-tidur/</link>
		<comments>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/saroni-realestetik-polisi-tidur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 10:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Karya teman aksara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivaa-aksara.org/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[Begitu keluar rumah aku dihambat oleh beberapa gundukan warna hitam putih, orang-orang biasa menyebut polisi tidur. Polisi tidur itu sebenarnya aku ikut membuatnya bersama penduduk kampung sangkal,sewon,bantul. Atas nama sosialisasi dengan warga ( aku ngontrak di kampug itu ) istriku menyarankan untuk ikut kerja bakti hari minggu.
Dalam proses pembutan, hanya beberapa saja yang kerja lainnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/saroni.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-399" title="saroni" src="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/saroni.jpg" alt="saroni" width="188" height="200" /></a>Begitu keluar rumah aku dihambat oleh beberapa gundukan warna hitam putih, orang-orang biasa menyebut polisi tidur. Polisi tidur itu sebenarnya aku ikut membuatnya bersama penduduk kampung sangkal,sewon,bantul. Atas nama sosialisasi dengan warga ( aku ngontrak di kampug itu ) istriku menyarankan untuk ikut kerja bakti hari minggu.<br />
Dalam proses pembutan, hanya beberapa saja yang kerja lainnya hanya setor muka sambil ngobrol sana sini. Dari obrolan itulah aku tahu motivasi pembuatan polisi tidur ternyata tidak sama antaara orang satu dengan orang lainnya. Satu hal yang sama adalah mereka ingin menghambat laju kuda mesin, sebuah perlawanan ala penduduk kampung atas modernitas. Industrialisasi yang terus merangsek kampung agaknya belum sepenuhnya</p>
<p>- Usaha untuk membuat pengendara lebih santun<br />
- Usaha untuk menjaga keselematan warga.<br />
- Untuk cari ‘objekan’ atau ‘proyek’..utk polisi tidur<br />
- Untuk mencari suatu kegiatan untuk memperkuat keklaurgaan.</p>
<p>Beberapa rambu-rambu bahkan bisa sangat ekstrem, misalnya NGEBUT BENJUT, PEMULUNG DILARANG MASUK, JENAZAH DILARANG MASUK GANG INI dan sebagainya.<br />
Rambu-rambu yang diniatkan untuk mengajari orang lebih santun aku rasa kurang efektif bahkan bisa berdampak sangat buruk, jika disampaikan dengan teks atau visual yang tidak bijak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/saroni-realestetik-polisi-tidur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>RIES Diary</title>
		<link>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/ries-diary/</link>
		<comments>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/ries-diary/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 10:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Karya teman aksara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivaa-aksara.org/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[

Suasana kamar mandi umum langsung tercetak di kepala. Warna dinding kelam, penerangan sedang cenderung gelap hanya cukup untuk membedakan mana dinding mana benda porselen tempat tadah sasaran buang hajat.   Bau pesing menguar menusuk hidung. Coret moret di dinding mengepung urinoir  yang tangguh menerima tembakan buangan para pengunjung yang entah berapa orang saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;">
<a href="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/ries1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-382" title="ries1" src="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/ries1.jpg" alt="ries1" width="158" height="200" /></a><br />
Suasana kamar mandi umum langsung tercetak di kepala. Warna dinding kelam, penerangan sedang cenderung gelap hanya cukup untuk membedakan mana dinding mana benda porselen tempat tadah sasaran buang hajat.   Bau pesing menguar menusuk hidung. Coret moret di dinding mengepung urinoir  yang tangguh menerima tembakan buangan para pengunjung yang entah berapa orang saja yang ingat untuk menggelontor material buangannya. Polusi mata dan hidung menyesakkan persepsi. “Syarat Sejarah”, sebuah judul yang sumir.  Sejarah disyaratkan dengan pembuangan hajat yang harus tetapi tidak pernah dianggap serius<!-- Salah satu yang menarik dari lukisan tersbut buat saya adalah tulisan ‘katakan ini jelek’ dan ‘sale’ . Mbak Ries punya catatan untuk itu?  -->.</p>
<p>SYARAT SEJARAH<br />
ANDRES BUSRIANTO<br />
150 X 100 CM<br />
AOC<br />
2008</p>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Ries 190309</p>
<p><a href="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/ries2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-383" title="ries2" src="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/ries2.jpg" alt="ries2" width="276" height="300" /></a></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;">Sapuan warna putih melingkari mata di wajah bocah lelaki, menorehkan bosan.  Lima jari kiri sibuk menggaruk-garuk mencari sibuk dan jeda dari tebaran huruf kapital yang menderas dari lancip bibir merah si perempuan yang pasti adalah ibunya. Lingkar putih sekeliling mata bergaris tipis tajam sang ibu menyiratkan sebal dan marah.  Nyinyir yang sarat sayang, ditandai piring dan cangkir mengepul, hangat.  Figur innocent yang diusung Palguna, tidak gagal bercerita tentang marah, sayang, teriakan dan bosan.</p>
<p>YELLING</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">I MADE ARYA PALGUNA</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">140 X 130 CM</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">AOC</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">2008</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Ries 200309<br />
<a href="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/ries3.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-384" title="ries3" src="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/ries3.jpg" alt="ries3" width="200" height="200" /></a></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">Siapa bilang lembut dan kuat tidak bisa dipadukan?  Sapuan Kow Leong Kiang yang lembut bisa mendaraskan karakter kuat Ateng<!-- Siapa itu Ateng? -->. Pose yang dipaksakan lembut dengan mengigit mawar merah muda tidak <span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%;">mengurangi kuat karakter jantan</span><!-- Ini kalimat yang agak aneh. ..” tidak mengurangi kuatnya karakter jantan pada sosok Ateng..’ begitu maksudnya?  -->.  Liris yang tersirat bukan kewanitaan tetapi lebih pada jenaka.  Kepekaan menangkap setiap gurat wajah dipaparkan dalam sapuan warna halus menghasilkan karakter kuat yang terpancar dari mata.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Ries 210309</p>
<p><a href="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/ries4.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-385" title="ries4" src="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/ries4.jpg" alt="ries4" width="200" height="123" /></a></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Seperti membaca komik, karya Greg Sindana menyembunyikan banyak detail yang semakin diperhatikan semakin membuat penasaran. Seperti menuangkan sebuah ensiklopedia ilmu pasti dalam selembar kertas, maka pasti ada banyak hal-hal kecil yang terselip dibalik bentuk lain yang meskipun kecil tapi sangat menarik.  <span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%;">Filosofi penggunaan kertas sebagai pemujaan pada ilmu pengetahuan sangat menarik disimak sebagai usaha untuk bermain petak umpet dengan ingatan</span><!-- Saya kurang faham kalimat ini, maaf.  --><span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%;">.</span> Manusia mendewakan kertas karena kertas bisa dipakai menyimpan banyak cerita, sejarah dan pengetahuan dan jeleknya kertas juga membuat otak bebal karena malas mengingat.  Pemujaan yang membebaskan dan pemujaan yang menyesatkan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">AN ACADEMIC LIAR</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">GREG SINDANA</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">100 X 70 CM</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">MIX MEDIA ON PAPER</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">2009</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">Ries 220309</p>
<p><a href="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/ries5.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-386" title="ries5" src="http://ivaa-aksara.org/wp-content/uploads/ries5.jpg" alt="ries5" width="300" height="172" /></a></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%;">Budaya klasik pemujaan pada phallus</span><!-- Apakah pemujaan pada phallus menjadi khas ‘budaya klasik’? apa sebenarnya ‘budaya klasik’ itu?  --> dan dominasi <span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%;">lingga yang gila kualifikasi superlatif</span><!-- Saya tidak terlalu faham kalimat ini.. --> digambarkan gamblang tanpa tedeng aling-aling.  Warna berani digoreskan berani tanpa ragu.  Kesan kuat, keras dan cepat ditampakkan dengan visualisasi roda dan garis tegas.  Bagi sebagian orang nama Widodo dengan Djiancuk Foundationnya menyuarakan porno dan perlawanan pada kesantunan.  Bagi sebagian orang lain ekspresi lingga dan yoni telanjang diterima sebagai jujur tanpa basa-basi.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p>4WD</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">WIDODO</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">150 X 120 CM</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">AOC</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">2009</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">Ries 230309</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/ries-diary/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Monika - tentang Warung Kopi “Nongko Doyong” ARIGATOGOZAIMASU</title>
		<link>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/monika-tentang-warung-kopi-%e2%80%9cnongko-doyong%e2%80%9d-arigatogozaimasu/</link>
		<comments>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/monika-tentang-warung-kopi-%e2%80%9cnongko-doyong%e2%80%9d-arigatogozaimasu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 09:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Karya teman aksara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivaa-aksara.org/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[berkisar 25-26 Maret 2009
sekitar Condong Catur
Tadi malam sekitar sembilan lewat, hampir setengah sepuluh. Saya dan tiga teman berangkat ke warung kopi kenalan satu teman saya ini, untuk diskusi tentang hari Sabtu besok. Diskusi tentang kami yang mau nebeng tempat jualan takoyaki – makanan khas jepang dari adonan tepung yang digoreng dalam cetakan bulat kecil-kecil, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>berkisar 25-26 Maret 2009</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">sekitar Condong Catur</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify">Tadi malam sekitar sembilan lewat, hampir setengah sepuluh. Saya dan tiga teman berangkat ke warung kopi kenalan satu teman saya ini, untuk diskusi tentang hari Sabtu besok. Diskusi tentang kami yang mau <em>nebeng</em> tempat jualan <em>takoyaki</em> – makanan khas jepang dari adonan tepung yang digoreng dalam cetakan bulat kecil-kecil, di atasnya ditabur ikan kering atau <em>katsuoboushi</em> yang bakal bergoyang di atas <em>takoyaki</em> yang panas -  kami jualan untuk cari dana acara himpunan mahasiswa jurusan bulan depan.</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify">Belum juga melewati beringin di Condong Catur, rintik hujan turun. Kami menepikan motor dan memutuskan <em>hajar bleh</em>! Untuk terus jalan, menerabas hujan. Teryata agak jauh dari warkop ini dari beringin tadi. Di sebuah tikungan jalan, bangunan dari bambu di atas tanah yang lebih rendah dari ketinggian jalan raya. – saya jadi teringat bentuk empang alias kolam ikan di pedesaan, mungkin tanah warkop ini tadinya kolam ikan? –</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"><span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;">Ada sekitar lima bilik di tepi area yang bentuknya agak lingkaran ini. Di tepi yang menghadap jalan raya, bilik paling besar tempat kasir, dapur dan layar untuk proyeksi LCD – layar ini ramai ditonton saat ada “bola”, mungkin –. Beberapa makanan ringan ditata di gerobak - yang mirip angkringan - di depan kasir. Kami memilih salah satu bilik di tepi area, selain karena ingin tempat yang sedikit </span><em><span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;">private</span></em><span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;">, kami juga tidak berniat memandangi layar putih kosong di bilik paling besar itu. Sampai di bilik ke tiga dari arah toilet, kami melepas sandal di atas tanah dan naik dua anak tangga bambu ke dalam bilik kecil. Memesan makanan dan minuman, lalu tiba-tiba hujan</span>. <span style="color: #ff0000;"> </span></p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify">“Ratih, Mas Untung mana?”</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify">“Barusan udah ku sms, tapi belom dibales. <em>Sek yo</em>.”</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify">Kami berjanji ketemu Mas Untung, pemilik warkop “Nongko Doyong” ini, yang katanya pernah ke Jepang dan akan memperistri <em>Nihonjin</em> alias orang jepang. Ratih inilah yang kenal dengan mas Untung, katannya jam 9 akan menuju kemari, tapi hujan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify">Bercerita macam-macam kami sambil menunggu kedatangan Mas Untung. Gosip di lingkungan anak-anak se-jurusan, pengalaman beberapa kali revisi proposl acara jurusan ini, sampai memutuskan ingin jualan di sebelah mana, padahal Mas Untung belum juga datang.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify">Sampai di jam 11 <em>handphone </em>Ratih berbunyi, sms dari Mas Untung.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"><em>Sori Dek,aku ketiduran, masih ujan, mau nunggu atau pulang dulu?</em></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify">Kira-kira begitu maksud smsnya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify">Akhirnya kami menunggu sampai jam satu pagi untuk pulang, berharap hujan reda. <em>Bill</em> diantar, Saya membaca <em>bill </em> ini dengan cahaya yang lumayan redup. Di bagian atas sebelah kiri, ada logo cangkir kopi bertuliskan “ND” dengan tiga kepulan asap, di bawahnya tertulis “Kedai Kopi Nongko Doyong”. Sebelah kanan atas, ada tulisan G – 3 -ini kode meja kali ya-. <span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;">Di bawahnya, rincian harga dan menu yang sudah dipesan. Akhirnya mata saya tertuju di sudut kiri bawah, ada tulisan ARIGATOGOZAIMASU. – imaji saya berkata, wah hebat ya warkop ini bisa berterima kasih sesuai background setiap pelanggan, jangan-jangan kalau saya datang dengan teman sastra perancis, akan ada kata “merci”, Hehehe – Lalu kami pulang setelah membayar</span><em><span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"> bill</span></em><span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;">. Tanpa bertemu Mas Untung.</span> <span style="color: #ff0000;"> (Nah ini memang menarik, bisa diselidiki lebih lanjut dengan bagaimana , warung kopi, atau kafe, mencoba mengadopsi idiom-idiom bahasa dan tema visual tertentu berhubungan dengan identitas cultural tertentu; etnis, bangsa, dll..) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify">(<span style="color: #ff0000;">Mungkin yang bisa diperdalam dari tulisan ini adalah mengenai semakin manjamurnya “Warung Kopi’ di Jogja. Dalam konteks ‘budaya visual’, kita bisa mengamati bagaimana warung tersebut di tata dan di hias. Tapi bagiku, ada yang lebih menarik lagi, yaitu mengenai praktik ‘nongkrong’, apakah orang yang nongkrong itu ‘melihat’ atau ‘dilihat’? atau dua-duanya? Apa yang mereka ‘lihat’? bagaimana mereka memposisikan dirinya pada yang ‘melihat’? Bandingkan dengan praktik ‘nyoren’ atau ‘ngabuburit’. Ketika orang duduk-duduk di pinggir jalan, atau di depan rumah,  bahkan di pinggir rel kereta apai (st.lempuyangan di bawah jembatan laying) ‘menunggu waktu sore’ . Bandingkan dengan tulisan James Siegel di Solo in New Order, tentang praktek ‘Nyoren’ atau Siegel menulisnya (dan ini kurang tepat) sebagai ‘sore’. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/monika-tentang-warung-kopi-%e2%80%9cnongko-doyong%e2%80%9d-arigatogozaimasu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Monika - Tentang (aroma/bau/wangi/harum)</title>
		<link>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/monika-tentang-aromabauwangiharum/</link>
		<comments>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/monika-tentang-aromabauwangiharum/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 09:51:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Karya teman aksara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivaa-aksara.org/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[Tentang (aroma/bau/wangi/harum)
berkisar Rabu, 1 April 2009
sekitar kamar kost
Hari ini saya tidak lama nongkrong di WC. Rupanya serat sayuran tidak cukup melancarkan pencernaan. Sembelit ini membuat saya tidak nyaman, meskipun (aroma/bau/wangi/harum) WC seringkali membuat hidung saya sama tidak nyamannya.
Bisa bantu saya memilih kata yang tepat untuk  mengasosiasikan WC?
Empat kata di atas menggambarkan hal yang sama dicium [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tentang (aroma/bau/wangi/harum)<br />
berkisar Rabu, 1 April 2009<br />
sekitar kamar kost</p>
<p>Hari ini saya tidak lama nongkrong di WC. Rupanya serat sayuran tidak cukup melancarkan pencernaan. Sembelit ini membuat saya tidak nyaman, meskipun (aroma/bau/wangi/harum) WC seringkali membuat hidung saya sama tidak nyamannya.<br />
Bisa bantu saya memilih kata yang tepat untuk  mengasosiasikan WC?<br />
Empat kata di atas menggambarkan hal yang sama dicium hidung. Tapi kadang dengan rasa yang berbeda. Meskipun tidak semua WC memiliki (aroma/bau/wangi/harum) yang tidak sedap, jarang ada yang menyebut, “harumnya WC”.</p>
<p>Saya jadi ingat pernah membaca harian kompas beberapa waktu lalu tentang (aroma/bau/wangi/harum) menyengat di sekitar Malioboro. Satu penyebabnya adalah jumlah WC umum yang terbatas. Lima titik WC umum disekitar Malioboro hampir semua tutup pada malam hari. Kata seorang yang sering nongkrong – ini maksudnya berkumpul – di Malioboro malam hari, dia terpaksa mepet ke tembok yang sepi saat sudah kebelet, ya itu, WC nya sudah tutup. Kemudian di siang harinya, saat panas membuat genangan air menguap, (aroma/bau/wangi/harum) apa yang mungkin tercium?</p>
<p>Sesudah ingatan saya kembali dari memori Malioboro itu, lagi-lagi saya ingat sesuatu. Sebuah kotak warna putih yang dititipkan teman di kamar saya. Isinya tester parfum. Teman saya ini sedang usaha refill parfum dengan harga lima ribu rupiah per 1 ml.- yang saya tahu, sekarang banyak outlet refill parfum dengan merk terkenal, harganya lebih murah dibanding parfum yang dijual di mall dan lewat katalog -    Wah, lagi-lagi tentang (aroma/bau/wangi/harum). Ia bilang parfum itu refleksi ciri khas dan karakter. Nah, di kamar saya ada tiga botol parfum kosong bekas pakai dengan merk berbeda. Apakah saya berganti ciri khas dan karakter tiga kali? Atau mungkin ciri khas dapat diganti dengan cara mengganti parfum? seperti melakukan penyamaran? hehehe.</p>
<p>Saya ciumi tester itu satu-satu, ada yang menyengat, lembut, agak tajam, maskulin, feminin, untuk yang dua terakhir saya hanya membacanya dari label tester. Efek yang saya rasakan ketika menciumnya juga lain-lain, ada yang membuat saya mengerjapkan mata, mengerutkan dahi, mencoba mencium bergantian satu dan yang lain karena merasa mirip, ada pula yang membuat saya, “haatchu…!”. Mungkin efek-efek ini juga dipakai untuk acuan meramu aromatherapi ?<br />
(belum selesai dan masih akan saya lanjutkan)….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/monika-tentang-aromabauwangiharum/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meita - Unpredictable Theme</title>
		<link>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/meita-unpredictable-theme/</link>
		<comments>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/meita-unpredictable-theme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 09:44:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Karya teman aksara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivaa-aksara.org/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Tgl: 21 Maret 2009
Pada tanggal ini, saya mendatangi sebuah pembukaan pameran lukisan yang bertajuk UNPREDICTABLE CONCEPT: HUMAN, SCIENCE, SPIRITUALITY di ruang Kepodang lt.2, Penerbit dan Percetakan Kanisius. Saya dating satu jam lebih awal dari jam yang tertera di posternya yaitu jam 4 sore. Saya sebenarnya dimintai tolong untuk mendokumentasikan acara ini dan karya-karya greg yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tgl: 21 Maret 2009</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Pada tanggal ini, saya mendatangi sebuah pembukaan pameran lukisan yang bertajuk UNPREDICTABLE CONCEPT: HUMAN, SCIENCE, SPIRITUALITY di ruang Kepodang lt.2, Penerbit dan Percetakan Kanisius. Saya dating satu jam lebih awal dari jam yang tertera di posternya yaitu jam 4 sore. Saya sebenarnya dimintai tolong untuk mendokumentasikan acara ini dan karya-karya greg yang dipamerkan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Sembari menunggu acara pembukaannya berlangsung, saya pun melihat2 lukisan-lukisan yang dipamerkan di dalam ruang kepodang, Kanisius. Di ruangan itu banyak terdapat lukisan-lukisan yang digantung di panel-panel yang sudah disediakan. Kesemua lukisan itu berwarna cerah atau colorful, yang memang merupakan konsep pamerannya. Karya-karya lukisan ini didominasi oleh gambar2 objek semacam manusia dan bnda serta gambar potret wajah teman-teman si perupa. <span style="background: #ffff00 none repeat scroll 0% 0%;">Sekilas lukisan-lukisan itu seperti dicorat coret sesuka hatinya seperti lukisan anak kecil tetapi sebenarnya mengandung makna yang dalam</span>. <span style="color: #ff0000;">(Apa makna-nya?) </span>Si perupa menorehkan berbagai macam media lukis/gambar ke dalam kertas; seperti crayon, pensil warna, cat air, spidol, pena hitam, dll. Bagaikan anak-anak yang suka brmain-main dengan sesuatu yang disenanginya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Hal itu seperti yang dikutip dalam lukisan yang terpampang di panel yang paling depan, “Homo Ludens, manusia adalah makhluk yang bermain…” kira-kira begitulah kutipannya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Para pengunjung juga disuguhi lagu anak-anak yang ceria saat menikmati lukisan-lukisan tersebut.<span style="color: #ff0000;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Mari bermain!</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="color: #ff0000;">(bagaimana reaksi pengunjungnya? Adakah pengunjung anak-anak di sana? Bagaimana reaksi mereka? bisa diperdalam tentang konsep ‘bermain’ itu sendiri. Apa artinya ‘bermain’ di sini? Apa bedanya dengan ‘main-main’? he..he..cuma cari-cari </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="color: #ff0000;">‘Bermain’ jadi bermakna, terutama bagi orang dewasa, ketika dihadapkan dengan ‘bekerja’…melukisa itu ‘bermain’ atau ‘bekerja’? atau ‘bekerja sambil bermain?’ atau ‘bermain sambil bekerja?’ </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="color: #ff0000;">He..he..he saya cuma mau cari-cari malasalah …</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p>22 Maret 2009</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Kemeriahan Melasti</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Hari ini adalah hari berburu objek untuk difoto. Pukul 1.30 di pantai Parangkusumo sedang diadakan upacara Melasti, ritual hari Raya Nyepi umat Hindu. Setahu saya Melasti itu labuhan sesaji, lebih lanjutnya saya kurang tahu. Di psisir pantai itu sudah tersedia dua deret meja panjang yang dibalut dengan kain berwarna kuning;dari jauh meja itu terlihat sangat cantik dan anggun dengan berbgai macam sesajian yang diletakkan umat-umat Hindu di atasnya untuk dilabuh. Saya pun trgoda untuk mngambil gambarnya. Meja-meja dngan sesajian itu tampak seperti sebuah lukisan yang kaya akan warna-warna yang harmonis; kuning keemasan, merah, hijau tua, hijau muda, brlatarkan air laut nan biru dngan awan yyang cerah.saya pun segera menorehkan sajian warna-warna harmonis tadi ke dalam film fujicolor proplus 100 dngan kamera SLR analog yang saya bawa.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Meja-meja yang anggun tadi, sangat meriah dngn adanya umat-umat Hindu yang bersembahyang di depannya. Semuanya bersembahyang dengan khidmat, mengikuti ucapan-ucapan doa sang pendeta. Saya pun takjub melihatnya, suasana pun menjadi hening, kecuali bunyi desiran ombak dan angin; lantunan doa-doa dan suara shutter kamera-kamera yang saling beradu seperti berlomba-lomba ingin segera menangkap kekhidmatan upacara Melasti ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/meita-unpredictable-theme/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meita - Membaca Film Shottas</title>
		<link>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/meita-membaca-film-shottas/</link>
		<comments>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/meita-membaca-film-shottas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 09:42:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Karya teman aksara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivaa-aksara.org/?p=371</guid>
		<description><![CDATA[Tgl 6 April 2009
Shottas adalah sebuah film dari sutradara Cess Silvera, yang diperankan oleh Kimany Marley, salah satu putra penyanyi Reggae legendaris Jamaika, Bob Marley. Film yang bersetingkan di Kingston, Jamaika ini menggambarkan kehidupan para Gangster yang sarat akan kekerasan, seperti baku tembak atau hantam antar geng,  Karakter Biggs yang diperankan oleh Kimany Marley [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID">Tgl 6 April 2009</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"><span lang="id-ID">Sho</span>ttas adalah sebuah film dari sutradara Cess Silvera, yang diperankan oleh Kimany Marley, salah satu putra penyanyi Reggae legendaris Jamaika, Bob Marley. Film yang bersetingkan di Kingston, Jamaika ini menggambarkan kehidupan para Gangster yang sarat akan kekerasan, seperti baku tembak atau hantam antar geng,  Karakter Biggs yang diperankan oleh Kimany Marley adalah seorang gangster di Jamaika. Tumbuh dan besar di kehidupan jalanan yang keras di daerah Kingston bersama sahabat karibnya Wayne, yang menjadikan  mereka gangster. Sewaktu remaja Biggs dan Wayne merampok uang dari seorang sopir truk lalu menembaknya. Uang itu mereka pergunakan untuk membeli visa ke Amerika Serikat. Setelah bertahun-tahun menjadi gangster di Miami, Wayne akhirnya dideportasi, lalu setahun kemudian menyusul Biggs. Di Kingston, Jamaika mereka melakukan aktivitas yang sama, melakukan tindakan kriminal, bisnis narkoba, dsb. Sampai pada akhirnya, mereka berkasus dengan seorang politikus dan polisi di sana, dan mereka pun kembali ke Miami. Di Miami mereka pun menjalani kehidupan yang penuh dengan ancaman.</p>
<p><span lang="id-ID"><br />
Alur cerita film ini sebenarnya tidak terlalu bagus, sebagian besar hanya berisi adegan kekerasan, bunyi senapan yang mendominasi isi film; sinematografi yang pas-pasan—seperti hanya menggunakan kamera film yang kurang memadai—</span><span lang="id-ID">; acting para actor dan aktris yang pas-pasan; dan backsound aneh yang ada hampir di setiap adegan, membuat saya terganggu. Tetapi, ada beberapa alasan yang membuat saya melihat film ini, yaitu soundtracknya, logat jamaika para actor dan aktrisnya.</span></p>
<p>Shottas yang memang dalam bahasa Jamaika berarti gangster ini<span lang="id-ID">*, menurut saya film ini menunjukkan identitas orang Jamaika pada umumnya dengan logatnya yang sangat kental; dengan rambut gimbalnya/ rasta serta musik-musik reggae yang khas yang mendominasi tiap adegan dalam film ini. Hal ini juga yang menginspirasi musisi-musisi maupun pecinta reggae di seluruh dunia menggunakan atribut2 rasta. Dan mungkin juga menggunakan bahasa Inggris berlogat ala Jamaika. Bahasa ini merupakan campuran dari bahasa Inggris dengan bahasa Afrika dan sedikit bahasa Perancis. Karena merupakan bahasa campuran, bahasa dan logat ini pun sukar dimengerti oleh saya dan teman saya yang sudah menonton film ini. Percampuran bahsa ini, menurut saya, dikarenakan Jamaika adalah negara bekas jajahan bangsa Eropa. Hal-hal semacam itu, menurut saya, ikonik, karena ketika musik reggae dikenal di seluruh dunia, atribut-atribut semacam itu menjadi identitas tersendiri oleh para penggemarnya ataupun pengikutnya. Jadi, musik reggae identik dengan rambut gimbal/rasta, marijuana, atribut-atribut berwarna merah, kuning hijau, dan tentunya Bob Marley.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US">*wikipedia.org</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/meita-membaca-film-shottas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meta - THE ART OF TAWUR KESANGA</title>
		<link>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/metta-the-art-of-tawur-kesanga/</link>
		<comments>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/metta-the-art-of-tawur-kesanga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 09:38:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Karya teman aksara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivaa-aksara.org/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[Tgl: 25 maret 2009                             Nyepi 1931 Saka
Sore hari menjelang Maghrib, saya dan tiga orang teman dari Duta Wacana Photographie Club (DWPh) mendatangi sebuah Pura di daerah Baguntapan untuk memotret. Di Pura tersebut akan diadakan ritual Nyepi, Tawur Kesanga, yaitu sehari sebelum Nyepi diadakan upacara Buta Yadnya. Pada uapcara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tgl: 25 maret 2009                             Nyepi 1931 Saka</p>
<p>Sore hari menjelang Maghrib, saya dan tiga orang teman dari Duta Wacana Photographie Club (DWPh) mendatangi sebuah Pura di daerah Baguntapan untuk memotret. Di Pura tersebut akan diadakan ritual Nyepi, Tawur Kesanga, yaitu sehari sebelum Nyepi diadakan upacara Buta Yadnya. Pada uapcara ini para umat Hindu membuat ogoh-ogoh, patung raksasa yang terbuat dari bambu, yang nantinya diusung dengan arak-arakan diiringi dengan tetabuhan dan bunyi-bunyian dan pada akhirnya dibakar. Hal ini dimaksudkan untik mengusir roh-roh jahat</p>
<p>Pada saat saya dan teman-teman tiba di Pura, suasana sudah ramai dengan banyak orang, entah itu warga sekitar Pura, wisatawan asing, fotografer dan wartawan;dan tentunya umat Hindu yang akan mengikuti ritual ini. Terlihat di depan halaman Pura ada dua ogoh-ogoh yang sudah siap diarak. Dan tiga ogoh-ogoh lainnya terlihat di halaman Pura menunggu untuk dipasang bambu-bambu penyangganya. Saya terkagum-kagum dengan ogoh-ogoh itu; ogoh-ogoh itu berbentuk menyerupai iblis dengan polesan warna-warna yang menarik dan artistic. Yang paling menarik perhatian saya adalah ogoh-ogoh buatan KMHD ISI. Bentuk ogoh-ogohnya sangat artistic daripada ogoh-ogoh yang lainnya, mereka membuat 2 bentuk menyerupai iblis, yang satu berdiri dan yang satunya berdiri dengan kedua lengannya (seperti salto). Kalau dilihat-lihat, bentuk ogoh-ogoh KMHD ISI sangat aneh dibanding keempat ogoh-ogoh lainnya. Badan ke dua iblis dibalut dengan warna kuning dan di bagian bawah si iblis itu disinari semacam lampu, menjadikan ogoh-ogoh itu berkesan mengerikan. Wajah si iblis pun tampak hidup dengan taringnya yang menyeringai dan rambut panjangnya yang berwarna kelabu.</p>
<p>Tampak di halaman Pura saya melihat beberapa umat Hindu masih mengerjakan penyangga ogoh-ogoh yang akan diarak. Saya pun mengampirinya dan sesekali memotret mereka yang sedang bekerja sambil bercanda dan berbincang dengan logat Bali yang kental. Mereka mengenakan baju semacam kemeja hitam dan sarung dan tutup kepala khas Bali bagi umat pria; dan bagi umat wanita mengenakan kebaya, kain jarik dan semacam selendang yang diikatkan ke pinggangnya, dan di kupingnya disematkan pula bunga kamboja.</p>
<p>Setelah persiapan usai,Pandita Hindu pun mendoakan kelima ogoh-ogoh yang akan diarak. Sang Pandita mengenakan baju putih dan sarung putih dengan tutup kepala khas Bali. Terlihat jenggot kelabu di dagu sang Pandita, menandakan umur beliau telah lanjut dan orang yang dihormati. Dengan khusyuk sang Pandita menggumamkan serangkaian doa-doa seraya memercikkan air suci di dalam benda seperti mangkuk kecil terbuat dari kuningan. Para umat yang lain pun terlihat bersembahyang di Pura ikut mendoakan ogoh-ogoh yang segera diarak.</p>
<p>Sekitar 15menit berdoa, ogoh-ogoh segera dipersiapkan di jalan. Ogoh-ogoh ditempatkan sesuai dengan urutan nomor yang dipasang. Barisan paling depan adalah anak-anak yang membawa obor sebagai penerang jalan; mereka juga yang memimpin barisan arak-arakan. Saya dan teman-teman juga mengikuti arak-arakan tersebut. Saya berjalan agak cepat supaya bisa mendahului arak-arakan dan mendapat momen yang bagus untuk difoto. Banyaknya warga kampung yang memadati jalan untuk melihat dan umat Hindu yang mengikuti  arak-arakan membuat saya agak sulit untuk memotret peristiwa tersebut. Dan saya pun, segera mencari tempat yang agak tinggi supaya dapat mengambil gambar.</p>
<p>Suara-suara tetabuhan dan umat yang bersorak-sorai membuat jalan kampung tersebut semakin ramai. Setelah kira-kira 100 meter dari Pura, ogoh-ogoh pun digilir satu per satu untuk di digoyang-goyangkan dan diputar-putar dengan diiringi tetabuhan yang riuh ramai, para umat yang membawa ogoh-ogoh bersorak sorai seraya ogoh-ogoh diputar-putar sambil diperciki air oleh umat Hindu yang lain. Sesekali, ada juga yang beratraksi, menyemburkan api obor. Lalu saya dengan sigap, memotret adegan tersebut. Hal itu dilakukan berkali-kali selama arak-arakan berlangsung di sepanjang rute yang telah ditentukan. Saya dan teman-teman tidak mengikuti arak-arakan sampai selesai, tetapi langsung menuju ke Pura tempat berakhirnya arak-arakan, menunggu ritual Tawur selanjutnya, yaitu pembakaran ogoh-ogoh di halaman Pura. Ternyata sudah banyak orang di sana yang ingin melihat pembakaran ogoh-ogoh.</p>
<p>Selang beberapa menit, ogoh-ogoh pun tiba di halaman Pura dan siap untuk dibakar. Saya dan seorang teman menunggu di barisan paling depan, satu persatu ogoh-ogoh datang dan dirusak dan diletakkan di tempat yang sudah disediakan. Api pun segera dinyalakan, tak lama kemudian api sudah membubung tinggi. Rasa panas menyengat di kulit wajah saya; hanya satu, dua kali jepret, setelah itu saya menyingkir agak jauh, karena tak tahan oleh panasnya api. Tiba-tiba setetes air turun di kulit lengan saya, pertanda hujan turun. Beberapa detik kemudian hujan turun dengan lebatnya, saya dan teman-teman berteduh sembari melihat api yang masih berkobar-kobar melalap semua ogoh-ogoh yang usai diarak, menandakan roh-roh jahat telah terusir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/metta-the-art-of-tawur-kesanga/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>IIen - Petik</title>
		<link>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/iien-petik/</link>
		<comments>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/iien-petik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 09:27:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Karya teman aksara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivaa-aksara.org/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[Petik” jumat 20 maret 2009
Pagi ini sekitar pukul 11.00, aku telah berada di sentra industri keramik Tunas Asri yang berada di daerah Sonosewu, di tempat inilah aku dapat membakar &#38; mengglasir (memberi warna) karya keramikku, maklumlah aku belum mempunyai studio permanent guna menunjangku dalam berkarya. Peralatan yang dibutuhkan untuk keperluan pembuatan keramik jika di lengkapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Petik” jumat 20 maret 2009</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify">Pagi ini sekitar pukul 11.00, aku telah berada di sentra industri keramik Tunas Asri yang berada di daerah Sonosewu, di tempat inilah aku dapat membakar &amp; mengglasir (memberi warna) karya keramikku, maklumlah aku belum mempunyai studio permanent guna menunjangku dalam berkarya. Peralatan yang dibutuhkan untuk keperluan pembuatan keramik jika di lengkapi cukup menguras kocek, mulai dari mengontrak tempat, mesin penggiling tanah, mesin putar, bahan-bahan glasir, sampai open pembakaran dengan menggunakan bahan bakar gas.</p>
<p>Seperti biasa aku langsung menuju wilayah tempat dimana aku biasa bekerja, disana ada beberapa orang ibu-ibu yang mungkin usianya tidak berbeda jauh dariku sedang asyik bekerja sambil terus berbicara, topic yang dibahas hari ini tidak jauh berbeda dari hari sebelumnya, hangatnya gosip infotaiment tentang Dewi persik yang nikah siri dengan Aldi Taher, Syekh puji yang menikahi anak usia 12 tahun sedang  membangun penjara nikah siri, kematian tragis  artis senior, sinetron Marvel, Cinta Fitri sampai dengan kondisi rumah tangga merekapun tak segan-segan mereka ungkapkan. Mereka saling bersahutan dan saling menimpali, aku sesekali tertawa mendengar mereka berdiskusi.. lucu, memang kedengarannya tapi aku sungguh menikmati moment ini, karena banyak pengalaman hidup yang bisa kudapat dari mereka.</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Petik” sabtu 21 maret 2009</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify">Tidak  ada hal yang sangat special di hari sabtu ini, seharian aku hanya dirumah, dari pagi aku telah belanja di pasar Rejowinangun, memasak sambal kentang goreng hati dan sayur bayam  bening atas dasar permintaan adekku. Setelah memasak aku mandi dan makan siang bersamanya, alhamdulillah nikmatnya. Memasak menjadi kegiatan pavoritku di waktu senggang, dengan memasak aku bisa menikmati, pedas, asin, manisnya masakanku sendiri, namun sesekali aku juga mengundang temanku untuk makan ditempatku, mereka bisa memberi penilain pada masakku, ya walaupun sering terlalu pedas atau asin, tapi aku sungguh sangat menikmati hobiku ini.</p>
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify">
<p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify">Di malam hari setelah makan malam aku memang berniat untuk melihat pembukaan pameran lukisan Wira Dana di Srisasanti Galeri. Meskipun agak gerimis tapi tidak menjadi masalah bagiku. Setiba disana acara telah dimulai tampak terlihat MC Trio Kirik yang terdiri dari Yuswantoro adi, Bambang Heras dan Samuel Indratma sedang asyik bercuap-cuap..bla..bla..maka acara resmi dibuka. Pameran ini dihadiri cukup banyak penikmat seni dari berbagai kalangan. Tidak begitu lama aku berada disana, karena aku lebih memilih menikmati suguhan musik jazz yang sebagian pemainnya adalah temanku. Dari Srisasanti akupun menyempatkan diri melihat pembukaan pameran Fotografi rector ISI di Jogja Galeri dengan tema …zzZZZzzz..PHOTOGRAPHY.. karya yang dihadirkan terlihat menarik namun  sangat sederhana dekat dengan keseharian kita Pada pameran ini pak Prapto telah berhasil menyuguhkan rekaman kondisi tidur manusia dari mulai bayi, dewasa sampai manula dari berbagai belahan dunia. Aku sungguh menikmati pameran ini, karena tidur bukan sekedar untuk mengorok dan beristirahat akan tetapi tidur mencerminkan dunia yang memang butuh tidur…zz…zz…zzz….selamat tidur!   <span style="color: #ff0000;">(pernyataan ini menarik…bisa dijelaskan lebih jauh?)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Petik” minggu 22 maret 2009</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Mengunjungi teman yang habis melahirkan adalah salah satu kegiatan yang akan aku lakukan di hari minggu ini. Sudah sekitar 2 minggu setelah Lingga (nama temanku) melahirkan, aku rencanakan ini bersama temanku yang lain, namun karena kesibukan masing-masing, maka hari ini lah waktu yang tepat. Bagiku moment ini sangat istimewa karena teman yang akan aku kunjungi adalah temanku waktu di SMP dulu, telah hampir 12 tahun kami tidak bertemu, rasa kangen sangat kental terasa. Tepat pukul 14.00 setelah membeli kado di daerah Jalan Kaliurang, kami meluncur menuju rumah Lingga di daerah Condong Catur, hujan deras cukup menggangu perjalanan kami. Setelah mencari dan bertanya-tanya akhirnya kami menemukan alamat yang dituju. Kami pun saling bersalaman, aku merasa masing-masing dari kami sedang berusaha membuka kenangan lama akan masa SMP. Kondisi si bayi laki-laki yang baru berusia 16 hari, diberi nama Gupta… (aku lupa nama lengkapnya) sangat sehat dan lucu, disaat kami datang Gupta sedang diberi susu tambahan oleh neneknya (ibu Lingga). Tak jauh berbeda, Lingga juga tampak sangat sehat persalinannya dilalui dengan operasi Caesar, karena si otong terlilit tali pusar. Percakapan kami dimulai dengan menanyakan kabar, sekedar basa-basi perkenalan lagi setelah sekian lama, pertanyaan tentang kesibukan masing-masing dan yang sangat seru adalah cerita tentang masa-masa SMP dulu, kami sangat menikmati obrolan ini sampai-sampai tidak terasa hari telah senja. Pertemuan yang sangat berkesan setelah 12 tahun… so sweet…  dan yang menjadi fasilitator pertemuan kami adalah <em>facebook, </em>sungguh sangat berjasa.. <span style="color: #ff0000;">Soal Facebook atau Friendster ini juga menarik untuk didalami..mengenai relasi sosial yang termediasi…banyak orang yang mecncoba membentuk relasi baru secara lintas-batas (Negara, daerah, bahasa, dll)..atau ia lebih seringkali yang paling menyenangkan justru..menggali kembali ‘relasi yang sudah terebtuk sebelumnya di masa lalu’…bagaimana bentuk ‘mediasi’ baru ini merubah relasi yang suadh ada? Bagaimana bentuk tampilan (desain dll) ikut mempengaruhi relasi tersebut..?’</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Petik” senin 23 maret 2009</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Senin ini aku Cuma dirumah bermain tanah liat sambil menunggu kabar update dari galeri. Ini waktu yang sangat mendesak karena galeriku akan mengikuti Art Fair di Beijing di awal bulan April, sampai saat ini kelengkapan untuk pembuatan catalog masih belum fix…aku jadi serba salah..bingung…ya sebenarnya tinggal menunggu tulisan dari curator yang berjanji memberikan lusa.. aku berharap semoga catalog dapat naik cetak sesuai jadwal…semoga..</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/iien-petik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Diary Linda - 01 April 2009</title>
		<link>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/diary-linda-01-april-2009/</link>
		<comments>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/diary-linda-01-april-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 09:24:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Karya teman aksara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivaa-aksara.org/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi: Bis Transjogja

 Siang itu matahari bersinar cerah. Gerah sekali hari ini, pikirku. Tapi aku sudah berencana ke Malioboro mencari barang titipan seorang kerabat. Dari kos-kosan yang terletak di sebuah sudut di daerah Papringan, aku berjalan kaki menuju Jalan Solo. Aku menyusuri jalan setapak di pekarangan rumah tetangga yang menghubungkan tempat kos dengan jalan raya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family: Trebuchet MS,sans-serif;"><strong>Lokasi: Bis Transjogja</strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family: Trebuchet MS,sans-serif;"><strong> Siang itu matahari bersinar cerah. Gerah sekali hari ini, pikirku. Tapi aku sudah berencana ke Malioboro mencari barang titipan seorang kerabat. Dari kos-kosan yang terletak di sebuah sudut di daerah Papringan, aku berjalan kaki menuju Jalan Solo. Aku menyusuri jalan setapak di pekarangan rumah tetangga yang menghubungkan tempat kos dengan jalan raya. Menyusuri jalanan yang cukup ramai siang itu, sampailah aku di Jalan Solo, tepatnya halte bis di depan Gedung Mandalabakti Wanitatama. Setelah menyerahkan uang tiga ribu rupiah, aku mendapat sebuah kartu yang kemudian kumasukkan ke sebuah mesin di pintu masuk. </strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family: Trebuchet MS,sans-serif;"><strong> Di halte itu ada beberapa orang yang juga menanti bis yang sama. Aku duduk di salah satu sudut halte. Sembari menunggu bis aku mengamati kendaraan yang lalu-lalang di sekitar Jalan Solo. Sejurus kemudian, bis yang aku tunggu telah tiba. Seperti biasa, kondektur bis meminta para penumpang yang akan naik untuk memberikan kesempatan pada penumpang yang akan turun terlebih dahulu. Akhirnya tibalah giliranku untuk masuk. </strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family: Trebuchet MS,sans-serif;"><strong> Ternyata bis dipadati oleh para penumpang. Selain tempat duduk tiada yang bersisa, ruangan bis telah dipenuhi para penumpang yang berdiri. Aku pun bergeser ke dalam, memberi ruang untuk penumpang lain yang sama-sama berdiri. Baru kali ini aku naik bis Transjogja yang sepadat itu. Udara di dalam bis jadi agak sumpek. </strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family: Trebuchet MS,sans-serif;"><strong> Aku baru menyadari sesuatu ketika bis hendak merapat ke halte berikutnya. Sang kondektur, yang adalah seorang perempuan, menyilakan para penumpang yang hendak turun di Halte LPP untuk bersiap-siap. Bukan hanya itu, ia juga memperingatkan para penumpang untuk memeriksa kembali barang bawaannya. Sekiranya ada barang yang hilang, penumpang diharapkan untuk segera melapor agar hal tersebut bisa ditindaklanjuti oleh petugas Transjogja di halte berikutnya. Baru kali ini saya mendengar seorang kondektur berbicara serinci itu. Dan ini belum pernah juga terpikirkan oleh saya sebelumnya. </strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family: Trebuchet MS,sans-serif;"><strong> Ketika hendak merapat di halte berikutnya, yakni Halte Rumah Sakit Bethesda, sang kondektur menyebutkan secara rinci bahwa para penumpang yang hendak menuju tujuan A bisa berganti bis nomor X, sementara yang mau ke tujuan B bisa berganti bis nomor Y. Bukan itu saja, ia juga menyebutkan detail lain yang jarang saya dengar dari kondektur lainnya, seperti ucapan terima kasih telah melakukan perjalanan dengan bis Transjogja. Dan yang terpenting ialah bagaimana ia mengatakan hal-hal tersebut. Ia mengucapkannya dengan penuh percaya diri sembari menatap ke arah penumpang, tanpa peduli mereka menghiraukannya atau tidak. Ia tetap berbicara dengan kelembutan, namun penuh ketegasan. </strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family: Trebuchet MS,sans-serif;"><strong> Perjalanan saya dengan bis Transjogja hari itu terasa berbeda dengan yang sudah-sudah. Saya mungkin sudah lupa wajah kondektur perempuan itu. Saya bahkan tak sempat melihat namanya ketika saya turun. Tapi saya tidak akan pernah melupakan keramahannya, sikap santunnya sebagai kondektur yang baik, rasa percaya dirinya meskipun orang-orang mungkin tidak memperhatikannya karena ia ‘hanya’ seorang kondektur. Saya lalu berpikir betapa bahagianya menyaksikan seorang perempuan—yang berkiprah di ruang publik dengan profesinya sebagai kondektur di tengah lingkungan yang sangat maskulin—bisa tampil penuh percaya diri, menjadi sosok yang ‘berbeda’ dan membawa inspirasi bagi mereka di sekitarnya. </strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivaa-aksara.org/2009/10/14/diary-linda-01-april-2009/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
